Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Tekanan


__ADS_3

Romeo tersadar, kala mendengar suara tembakan menggelegar didalam Mansion. Dengan cepat melepaskan cengkraman tangannya. Tubuhnya melemah, kemudian merosot ke bawah perlahan dengan posisi lututnya menumpu di lantai. Tatapan matanya kosong lurus ke depan. Tadi, ia hilang kendali sesaat. Sungguh ini pertama kalinya berlaku kasar pada seorang wanita. Ia tak mengerti mengapa tak bisa mengontrol diri. Bagaimana tidak, tekanan yang diberikan Queen, membuatnya frustrasi. Cukup lama dia tak bergeming.


Berbeda dengan Queen sudah tergeletak tak berdaya sambil meraup udara disekitarnya. Dia tengah berbaring di lantai sambil terbatuk-batuk.


"Tuan Muda!" panggil Maximus lagi sambil menyelipkan senapan berlaras pendek di balik jas.


Maximus adalah tangan kanan Lily. Pria berusia matang itu baru saja tiba. Kedatangannya ke Mansion untuk mengambil dokumen penting Kendrick di kamarnya.


Begitu mendengar teriakan Mbok Inah. Maximus bergegas masuk ke dalam. Ia terkesiap melihat Romeo, putra bungsu sang majikan mencekik leher seorang wanita. Tadi, dia sempat terpaku di tempat melihat sorot mata Romeo serupa dengan Daddynya. Leon sang ketua mafia, yang kejam dan culas. Buah tak jatuh dari pohonnya, benak Maximus mengambil kesimpulan.


Maximus melambai-lambaikan tangan di muka Romeo. Kala Romeo termenung seakan berada di dunianya sendiri.


Sementara itu, Mbok Inah sudah pergi ke ruang dapur hendak mengambilkan minuman untuk Tuannya. Karena dia tahu Romeo terkejut dengan tindakannya barusan. Dia nampak iba melihat Romeo akhir-akhir ini lebih banyak melamun jika tak ada istrinya di rumah.


Queen curi-curi pandang sesaat. Wanita itu berniat kabur kala melihat Romeo sudah melanggar janjinya. Seulas senyum licik terpatri jelas. Tanpa banyak mengulur waktu, dia memundurkan perlahan tubuh sambil memperhatikan gelagat Romeo dan Maximus di depan. Saat ada celah dia beranjak lalu berlari cepat ke arah pintu.


"Heh pelakor!" teriak Mbok Inah menyembul dari ruang tengah. Dia sebal dan kesal sebab si biang onar malah kabur. Kedua kakinya hendak mengejar.


"Biarkan saja, Mbok. Kita urus dulu Romeo. Romeo sepertinya syok." Maximus berucap sembari memapah Romeo hendak ke sofa.


"Uncle Max!" Romeo berseru tiba-tiba. Dia baru saja tersadar jika Juliet di luar sana seorang diri. Dengan cepat Romeo mengibas tangan Maximus.


"Aku harus menemukan istriku! Uncle kejar Queen, wanita itu berbahaya!"


"Tapi Tuan-"


Ucapan Maximus terhenti, tatkala Romeo secepat kilat berlari ke luar, meninggalkan Maximus dan Mbok Inah yang tengah berdiri mematung, melihat kepergian Romeo.


***


Hujan di luar semakin bertambah eras. Suara guntur bersahut-sahut di atas pencakar langit. Kilatan cahaya menyambar di atas sana, membuat sebagian manusia tak berani keluar.


Berbeda dengan Romeo, sedari tadi mobil hitamnya membelah jalanan perkotaan. Pria itu frustrasi, sebab chip kalung Hiro ternyata tak terdeteksi.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu. Romeo meraung di dalam mobil sembari memukul setir. Kedua mata pria itu masih berembun walau tak sederas tadi. Kepalanya teramat pening, memikirkan rentetan kejadian yang membuatnya stres dan hilang kendali.


"Argh! Juliet, kau dimana?!"


"Sayang, kembalilah aku merindukanmu!"


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!"


"Argh! Ini semua salah Queen!"


Dadanya terasa sesak, kala melihat Juliet terisak tadi. Sekelabat kejadian berputar-putar dibenaknya.


Flashback on.


Sudut pandang Romeo.


Jurik malam. Aku tak menyangka Juliet adalah wanita pertama yang mencium bibirku ini. Rasanya aku ingin terbang melayang saat bibirku mengecap rasa manis bibirnya. Degup jantungku berdetak cepat, kala aku menyusuri leher jenjangnya.


Dengan cepat aku membawa tubuhnya ke dalam pelukanku. Hangat. Kulabuhkan kecupan di pucuk kepalanya. Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Juliet batinku kala itu. Aku tepis semua gosip beredar yang mengatakan Juliet wanita malam. Karena aku mulai meragu akan desas-desus yang berhembus. Aku juga bersyukur gatal-gatal ditubuhku mulai mereda, berkat Julietku. Ya, dihatiku hanya lah Juliet seorang, sekarang.


Sungguh malam ini adalah malam yang terindah bagi hidupku. Kunang-kunang menjadi saksi kami menggelorakan cintaku. Sejenak aku berpikir, apakah Juliet juga jatuh cinta padaku. Aku berharap dia mencintaiku! Kalaupun dia tidak mencintaiku, akan aku paksa untuk mencintaiku!


Ide jahilku mulai muncul, karena aku akhir-akhir ini sangat menyukai muka manyunnya. Lalu aku lontarkan kata-kata pedas bak bon cabe level 100. Dan menampakan wajah angkuhku, hehe. Walaupun terkesan jahat, lihat bibirnya langsung diam. Dan melihat matanya begitu menggemaskan. Ingin sekali aku cium lagi.


Namun tiba-tiba entah mengapa ekor mataku melihat seseorang di balik pohon. Aku tentu saja penasaran, siapa? Sejak kapan? Aku memberikan perintah pada Juliet agar kembali ke perkemahan. Dia manut tanpa banyak bertanya, lucu sekali mukanya itu.


Setelah melihat kepergian Juliet. Dengan perlahan aku melangkah.


"Siapa itu?" tanyaku.


Queen menyembul dibalik pohon dengan raut wajah yang sulitku artikan. Matanya merah menyala, aku tak perduli lagi. Kalaupun dia ingin membeberkan aksi ciumanku tadi pada teman angkatan. Ya, silahkan biar mereka tahu Juliet milikku.


Cukup lama dia mematung. Tanpa berucap sama sekali. Karena aku malas meladeni, aku hendak pergi. Namun pergerakkan ku terhenti kala dia mulai berkata.

__ADS_1


"Jauhi Juliet! Dia tak pantas untukmu! Hanya aku yang pantas!


Aku tertawa sekaligus terheran-heran. Lalu tersenyum tipis. Tak berniat membalas. Lantas aku berbalik.


"Romeo dengarkan aku! Kalau kau tak menjauhi sepupu bohonganmu itu! Aku akan menyebarkan foto-foto dan video bugilnya di situs khusus dewasa!" teriaknya dari belakang.


Aku memutar tubuhku. "Apa maksudmu?!"


Dengan cepat dia mengeluarkan handphone dan memberikannya padaku.


Mataku membola melihat foto-foto Juliet tanpa busana, terpampang jelas. Bagaimana wanita ini bisa memiliki foto Juliet, pikirku. Jika aku perhatikan semua foto latar belakangnya di dalam kamar di camp.


Si-al! Umpatku, lalu ada dua video Juliet tengah memakai baju dan mandi di sungai! Aku meradang tanpa pikir panjang aku lempar ponsel Queen ke tanah hingga retak.


Tapi wanita dihadapanku ini malah tertawa keras, lalu berkata,"Kau pikir aku bodoh! Semua foto yang kau lihat tadi sudah aku salin. Dan tetap akan ada!"


Jika foto itu tersebar Juliet pasti akan malu, aku pun juga akan naik pitam jika para lelaki melihat lekukan tubuhnya itu. Belum lagi beasiswa Juliet mungkin akan dicabut.


Aku menahan amarah mendengar ucapan Queen. Ingin menampar, ingin menjambak, ingin juga menendang tapi aku tahan. Tak mau hilang kendali, aku berlalu pergi.


Malam hari, aku pun baru menyadari jika gatal-gatal ditubuhku sudah benar-benar menghilang, karena ketika aku ke ruang makan tak sengaja menabrak teman wanita dan tubuhku tidak gatal-gatal. Walaupun belalaiku masih meleyot ketika kencing. Akan tetapi, aku tak peduli lagi dengan kutukan itu.


Esok pagi, pukul 5.30. Aku dikejutkan dengan kiriman foto dari nomor yang tak dikenal. Lagi, dan lagi foto Juliet berjumlah 100 buah. Argh si-al wanita gila, siapa lagi kalau bukan, Queen! Aku pun mengirimkan pesan singkat pada Queen, ingin bertemu di belakang camp.


.


.


.


Bab 51. Jangan Plin Plan


Tas Juliet di situ hilang sesaat 😉

__ADS_1


__ADS_2