Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Jurik Malam - Panik


__ADS_3

Saat ini Hutan Anggora dilanda kebisingan sebab di suatu tempat yang berjarak beratus meter dari kaki gunung, terdengar suara sirine berbunyi sangat nyaring, hingga masuk ke dalam gendang telinga.


Kumpulan manusia menjerit histeris, berlari ke sana kemari tak tentu arah. Mereka sedang di serang oleh Panitia yang berkostum seperti makhluk tak kasat mata seperti kuntilanak, pocong gondal-gundul, suster ngesot, wewe gombel dan sebagainya.


Nampak cahaya berwarna merah mengarah tak beraturan. Menambah suasana semakin bertambah mencekam.


"Stop!" pekik seorang pria berpakaian serba hitam. Seketika kumpulan makhluk halus berhenti menganggu Maba. Mereka berlarian menghampiri pria tersebut.


Kai, Kei dan Reza berhenti menjerit setelah mendengar suara yang tak asing. Mereka segera mengatur ritme pernafasannya, karena tadi ketiga pria itu berlarian dari terkaman kuntilanak dan wewe gombel.


Lalu di mana Romeo? Sedari tadi dia duduk tenang di dalam tenda. Bukannya ketakutan Romeo malah biasa saja. Karena ia tahu makhluk halus itu adalah Panitia. Dia hanya terdiam membisu menyaksikan teman-temannya, menjerit-jerit tak jelas. Setelah dia mendengar suara Kak Miguel, ialah Ketua BEM. Ia bergegas keluar dari tenda.


***


Waktu menunjukkan pukul 12.15 menit. Kini, Maba berkumpul di suatu tempat. Mereka duduk bersila sesuai dengan grup mereka masing-masing. Rasa kantuk masih menjalar di wajah mereka. Hampir sebagian Maba menguap sejenak. Sampai-sampai ada yang terhuyung ke depan menahan rasa kantuknya.


Tak terkecuali Juliet. Ia duduk di depan Romeo. Wanita berambut panjang itu, memeluk tubuhnya sejenak, merasakan angin malam menusuk kulit tipisnya. Juliet setengah sadar, kedua matanya masih menyipit. Kepalanya condong ke depan.


Sedari tadi Romeo memperhatikan Juliet di belakang. Dengan sigap ia mengeser tubuhnya, menahan tubuh Juliet agar tak terjatuh ke depan. Tangan kanannya melingkar di perut Juliet. Tanpa sengaja Juliet menyandarkan kepalanya di dada kokoh Romeo. Kini, keduanya saling menempel.


Tak ada yang melihat satupun, karena? Keduanya berada di barisan paling belakang dan Panitia di depan sana sedang berbicara. Belum lagi cahaya lampu temaram membuat keduanya tak terlihat orang di sekitar. Alam pun sepertinya mendukung Romeo dan Juliet untuk saling menyalurkan sebuah rasa cinta yang mulai tumbuh, walaupun mereka belum menyadarinya.


Detak jantung Romeo berdegup kencang. Tatkala Juliet malah memeluknya dan bergumam-gumam kecil. "Hehe, kau itu sangat menyebalkan Rom," desisnya pelan.


Romeo melirik. 'Hmm, apa dia sedang memimpikan aku?'


"Kenapa kau membuatku menggila, Rom..." Juliet berucap lirih.


Rom, mungkin saja Romi, Romlah, Roki, ya benar. Bisa saja nama orang lain yang dia sebut. Atau bisa jadi nama Sugar Daddynya. Romeo menebak jika Juliet sedang memimpikan seseorang yang bernama depan Rom.


Nafas Romeo mulai memburu. Tatkala membayangkan Juliet bersama seorang pria tengah main kuda-kudaan, lagi dan lagi. Darah Romeo berdesir naik membuat dadanya menjadi panas membara. Ia melirik kembali.


"Seandainya saja kau tak menyebalkan, aku pasti akan menciummu," Juliet bergumam lagi.


Dahi Romeo berkerut. 'Menyebalkan? Mencium? Apa yang dia mimpikan?' Romeo amat penasaran. Bisa-bisanya Juliet memimpikan pria lain, di saat tubuhnya mendekap Romeo.


'Wanita ini harus diberikan hukuman jika pulang dari camping!'


"Yang di belakang?!" Panitia menegur nyaring saat melihat sepasang manusia saling menempel.

__ADS_1


Romeo terkesiap, secepat kilat Romeo melepaskan lilitan tangannya dan memundurkan tubuhnya. Ia dilanda kepanikan kala Panitia mendekat. Sedangkan Juliet tengah mengaduh kesakitan sebab tubuhnya terjatuh ke depan. Ia linglung. Celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Merutuki kebodohannya karena tertidur.


***


Kini, Maba tengah berdiri tegap menghadap Hutan Anggora. Mereka berbaris sesuai nama grup. Panitia berada dihadapan mereka dengan memakai pakaian serba hitam. Tak lupa juga mulut mereka di bungkus masker berwarna hitam pula.


Beberapa menit yang lalu, Panitia mengumumkan bahwa malam ini akan diadakan jurik malam' di dalam Hutan Anggora. Di dalam sana ada lima pos, masing-masing pos ada tantangan tersendiri dan jika berhasil melewati setiap pos akan mendapatkan 2 poin untuk masing-masing grup dan per individu. Katanya Maba akan berjalan bersama satu teman atau sendirian, dan setiap orang dibekali satu senter kecil untuk menerangi langkah kaki mereka menuju pos.


Sontak Maba dilanda kepanikan tatkala mendengar penuturan Panitia. Pasalnya di dalam hutan Anggora sangat gelap, dan suasana semakin mencekam saat mendengar suara longlongan anjing, walau pun mereka tahu, jika suara itu dari speaker tapi tetap saja menyeramkan.


"Aduh, gimana ini," Reza resah dan gelisah. Sebab takut berjalan sendirian ke dalam sana. Ia menoleh ke belakang sejenak. "Kei, takut!"


Kei pun sama paniknya. Sedari tadi, ia melamun. Apa yang tidak diinginkannya pun terjadi. Kei enggan menyahut. Jantungnya cenat-cenut seperti gendang yang sedang ditabuh dengan cepat.


Reza menggerakan badan gemulai. Ia mengerutu di dalam hati saat Kei tak menanggapi perkataannya.


Panitia mengumumkan dua grup yang akan masuk ke pos 1 terlebih dahulu, karena pos tersebut tahap pengenalan. Jadi mereka belum terpisah.


"Grup Manis Manja, dan Grup Keong Racun. Masuk!"


Ketika mendengarkan perintah, kedua grup berbaris rapi. Dengan gontai mereka berjalan memasuki pelataran hutan di pandu oleh dua orang Panitia. Mereka pasrah dengan keadaan, mau bagaimana lagi. Mau protes, tapi apa hak mereka? Karena ini pasti bagian dari Leadership Camping.


Di sepanjang jalan terdapat obor api kecil terta ncap di tanah, menyinari perjalanan mereka ke pos 1. Bunyi retak ranting beradu di tanah karena pijakan kaki Maba. Tak ada yang bersuara, semua diam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Auuuuuuuuuummmm." Suara longlongan anjing kembali terdengar.


"Haaaa, ayam ayam ayam!" Reza keluar dari barisan berlari kencang ke depan menghampiri Juliet dan memeluknya dari belakang.


"Aaa apa yang kau lakukan Za?! Lepaskan aku?!"


Merasakan sesuatu yang berlemak menempel di punggungnya. Juliet amat terkejut pasalnya ia setengah tidur sambil berjalan.


Kedua mata Reza berkaca-kaca. "Haaaaa mami akika takut!"


"Reza! Kembali ke barisan!" Sebagai ketua grup, Romeo menegur Reza. Ia takut jika poin grup akan dikurangi lagi.


Reza seketika bungkam kala melihat pancaran mata Romeo tajam dan dingin seakan ingin memakannya hidup-hidup. Dengan isakan yang lirih, ia terpaksa melangkah ke tempat semula.


Juliet menarik nafas panjang melihat Reza menangis tersedu-sedu. Ia bingung ingin melakukan apa karena memang sekarang ia amat mengantuk. Wanita berwajah manis itu pun tak mempermasalahkan, jurik malam yang diadakan mendadak ini. Ia sudah terbiasa dan tentu saja tidak takut! Untuk apa takut toh hanya keadaan yang gelap kalaupun ada makhluk halus dia akan mengajak duel bila perlu.

__ADS_1


Dari jarak beberapa langkah, Queen menatap penuh arti pada Juliet. Ternyata wanita itu berada di grup Keong Racun. Ia tak melepaskan pandangan matanya pada Juliet sedari tadi. Seulas senyum licik terbit dibibirnya.


Pos 1.


"Kalian sudah tahu kan ini pos berapa!?" tanya Panitia wanita berjilbab hitam. Ia berjalan di depan. Menatap tajam dan mengamati Maba satu-persatu. Walaupun ia memakai masker akan tetapi auranya dapat terlihat di sekitar tubuhnya, terkesan dingin dan tegas.


"Sudah tahu kak!" Maba menjawab serempak.


"Hmm, di pos 1 kalian akan di pecah lagi secara random. Sekarang ambil nomor di dalam kotak ini." Di depan terdapat meja yang di atasnya ada kotak kecil entah apa isinya katanya sih, nomor undian.


"Haaaaa, aku sendirian!" Reza merengek karena ia berjalan sendirian ke masing-masing pos nantinya. Semakin tumpah tangisannya. Sedari tadi, ia sudah meraung-raung pada Panitia tadi agar diberikan teman untuk masuk bersama ke Hutan. Tapi apa, Panitia malah memarahinya. Dan dia juga sudah berpura-pura pingsan, akan tetapi Panitia tak bisa dikelabui. Reza menyerah dan pasrah.


Kai dan Kei menghela nafas kasar walaupun keduanya bersama ke setiap pos. Mereka baru menyadari jika sama-sama penakut. Apalagi, jika sampai bertemu makhluk halus. Membayangkan saja bulu kuduk mereka sudah berdiri.


Lain hal dengan Romeo, ia dilanda kepanikan bukan karena takut. Tapi karena pasangannya adalah Queen.


'Si-al,' Romeo mengumpat di dalam hati. Tadi ia berharap berpasangan bersama Juliet atau sendirian. Karena takut Queen akan memeluknya. Seperti kejadian tempo dulu. Romeo resah dan gelisah. Belum lagi, obat gatal miliknya tak tahu berada di mana. Romeo menggeser tubuhnya ke samping kala Queen mulai menghampirinya. Ia menatap tajam pada Queen.


Sementara itu, Juliet bersikap biasa saja tatkala mendapatkan nomor undian hanya satu angka dan yang pasti dia sendirian. Ia melirik sekilas ke arah Romeo yang terlihat gelisah.


'Dia kenapa?'


Romeo dan Juliet tanpa sengaja bersitatap satu sama lain. Romeo memberikan bahasa isyarat mengatakan bahwa obat gatalnya tidak ada.


Juliet langsung mengerti. Ia tertegun sejenak.


'Aduh, dia kenapa sih ceroboh banget!' Ia tak mungkin melupakan pesan dari ibu mertuanya kemarin, untuk menjaga Romeo' takut jika gatalnya kambuh.


'Semoga saja Queen tidak macam-macam! Kalau tidak, akan aku patahkan lehernya!' Juliet melihat, Queen tengah menatap Romeo penuh damba.


.


.


.


...Like, Koment dan sesajennya kakak² ...


...Jika alurnya lambat atau apa, komentar saja ya. Komentar pedas author terima, agar author lebih baik lagi menulisnya ...

__ADS_1


...Selamat hari jumat untuk kita semua 😘...


__ADS_2