Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Menyebalkan


__ADS_3

Dan hari pun berganti. Setelah kepergian mertuanya ke Los Angeles. Dengan leluasa, Romeo memberikan perintah pada Juliet untuk sementara waktu tinggal di apartment saja. Dan setelah kejadian menyatukan tubuh di Mansion. Romeo lebih banyak menghabiskan waktu bersama Queen. Juliet bingung dengan sikap Romeo seakan menghindarinya.


Ingin bertanya, namun bibirnya kelu. Itu lah yang dirasakan Juliet sewaktu itu. Dengan terpaksa menuruti titah suaminya. Di kampus, Juliet selalu melihat kemesraan Romeo, ia memilih diam. Tak mau menampakkan kecemburuannya.


Selama beberapa hari pula, Reza izin dari kampus. Katanya ada acara keluarga' di villa pribadi di kota XXX. Juliet dilanda kesepian sejenak. Wanita berparas manis itu enggan bertanya lagi, setidaknya dering ponselnya tak pernah hening' karena Reza selalu mengiriminya pesan singkat ataupun videocall.


Di hari sabtu, sepulang dari rumah sakit, menjenguk Gabriel. Juliet gegas kembali ke apartment. Saat ini, di balkon, ia duduk santai di bangku kayu. Juliet tengah melamun. Ditemani dengan secangkir teh chamomile. Di atas meja kecil, hawa panas mengepul ke udara.


Seketika kepalanya menggeleng pelan. "Bosan juga di rumah, Reza juga belum balik. Hmmm, apa aku ke Mall saja ya beli buku, daripada di sini terus, Kan?" Juliet berbicara sendiri' bernegosiasi dengan hati kecilnya.


"Iya, benar. Mending aku ke Mall!" Final Juliet sembari menyambar secangkir teh, dan menyesap perlahan.


Bell berbunyi nyaring. Menghentikan pergerakkan tangan Juliet yang tengah mengikat rambut. Dahinya berkerut hingga tiga lipatan.


"Siapa yang ke sini? Nggak mungkin Romeo kan?"


Mengingat suaminya itu, ia dilanda kerinduan. Rindu pelukannya, rindu suaranya, rindu kehangatan tubuhnya, dan sebuah rasa rindu bercampur rasa sakit' sakit karena harus menahan bongkahan rindu, yang hanya menjadi angan-angannya saja saat ini. Juliet termenung sesaat.


Suara bell lagi. Juliet menggeleng mengusir bayangan wajah Romeo. Kedua tungkai kakinya bergegas ke ruang depan.


"Hai bok!" Reza menggerakan tubuh bagai ulat bulu.


Mulut Juliet mengangga sedikit. Tak percaya Reza dihadapannya. Kedatangan Reza membuat Juliet teramat senang. "Akhirnya kau pulang, Za!" Senyum merekah terukir di wajah Juliet.


Reza memutar bola mata. "You pikir akika bakalan di sana terus!" ketusnya, heran.


Julie terkekeh pelan.


Kedua mata Reza memicing, melihat penampilan Juliet sangat berbeda dan fresh. "Jul, rambut you diikat cantik banget, hihi. Eh you mau jalan?" Reza berkata sambil berputar.


"Iya nih, kebetulan kau datang. Ikut aku ke Mall yuk. Aku mau beli buku Sistem Endokrin untuk bacaan di rumah."


"Yuk mare, sekalian kita nonton bioskop hehe!" Reza tersenyum sumringah. Juliet mengangguk, setuju.


***


Mall Ibiza. Tak butuh waktu lama. Juliet dan Reza telah tiba di pusat perbelanjaan terdekat. Di sepanjang jalan keduanya bercengkrama ria. Melepaskan kerinduan layaknya sahabat sejati. Kehadiran Reza membuat Juliet melupakan sejenak bayangan Romeo. Hari ini, dia akan menyenangkan diri bersama Reza.


Setelah membeli buku di Glamedia. Keduanya membeli cemilan. Sembari menunggu Juliet dan Reza melihat-lihat pernak-pernik di stand kecil.


"Jul, itu bukannya Kai sama Kei!" Reza menunjuk cepat ke arah si Kembar yang juga menyadari keberadaan mereka. Lantas Juliet menoleh, melihat Kai dan Kei berjalan cepat menghampiri mereka.


"Woi, bro!" Kei menyapa Reza sembari menepuk kuat pundaknya.

__ADS_1


Reza mendelikkan mata, lalu menurunkan cepat tangan Kei. "Bro, bra, bro. Nama akika Resa yei!"


"Haha!" Kei malah tertawa keras melihat tingkah Reza semakin nyeleneh.


"Kalian di sini juga rupanya?" Kai menatap lekat Juliet. Sehari tak bertemu. Kai dilanda kerinduan mendalam pada sang pujaan hatinya.


"Iya, barusan kami membeli buku di Glamedia. Kalian sendiri?"


"Tadi, kami ada acara keluarga, makan-makan di lantai tiga."


Juliet membulatkan bibir. Nampak mangut-mangut.


"Habis ini kalian ke mana?" Kai bertanya lagi. Sedari tadi pandangannya tak lepas dari Juliet. Hari ini, Juliet terlihat berbeda. Kaos biru dongker berlengan panjang' menutupi leher, dan celana jeans berwarna hitam tercetak pas di kaki rampingnya. Belum lagi, rambut Juliet di ikat ke belakang. Riasan diwajahnya juga terlihat natural.


'Cantik dan manis.' Dua kata yang diucapkan Kai di dalam hati.


Reza menautkan tangan ke tangan Juliet."Kami mau nonton ke bioskop! Apa urusan you?!" bertanya ketus.


Kai menatap tajam. "Galak amat dah!"


Reza mengerucutkan bibir, lalu melirik Juliet yang hanya tersenyum tipis.


"Kami boleh ikut?" Kai bertanya sembari melirik arloji di pergelangan tangan.


"Boleh. Nggak!" Juliet dan Reza menanggapi berbeda. Lantas Juliet melirik Reza. "Za." Pancaran matanya menyiratkan 'biarkan mereka ikut.


***


Selesai menyantap cemilan di stand. Juliet, Reza, Kai dan Kei bergegas ke lantai empat hendak menonton Film. Film yang akan ditonton akan di mulai tiga puluh menit lagi. Sembari menunggu, mereka membeli popcorn dan beberapa minuman.


"Wih, itu bukannya Romeo sama Queen?" Kei menunjuk dengan mulutnya.


Lantas Juliet menoleh.


Deg.


Hatinya begitu perih, melihat pemandangan di depan. Romeo dan Queen berjalan berduaan sambil berpegangan tangan. Dia memalingkan muka, sakit dan kecewa, namun tanpa dia sadari, keningnya berbentur dengan kening Kai.


"Awh!" Juliet mengaduh kesakitan, tangan kanannya mengusap pelan.


"Maaf, aku tidak sengaja." Kai ikut mengelus kening Juliet sembari meniup-niup.


Juliet berkata, "Kau tidak salah, Kai. Seharusnya aku yang meminta maaf."

__ADS_1


"Aduh, kalian berdua cucok meong deh. Mirip pasangan di drakor-drakor!" Reza berseru nyaring kala Romeo dan Queen berada beberapa langkah dari mereka.


"Cie, cie Kakak sabar donk!" Kei ikut mengompori, melirik penuh arti pada Kai. Dan tak menyadari Romeo dan Queen juga menatap ke arah mereka.


Juliet mengerutkan dahi, sementara pipi Kai bersemu merah menyadari tingkahnya. Seandainya saja Juliet miliknya, mungkin sudah ia rangkul. Membayangkannya saja, Kai sudah dimabuk kepayang.


"Kalian di sini?"


Romeo menghampiri keempat manusia itu. Dia melirik sekilas pada Juliet yang masih mengusap perlahan keningnya. Juliet tak mau menatap Romeo. Jadi, dia menyibukkan diri. Ia sedih, tidak ada kah namanya terukir di ruang hati Romeo. Setelah mereka dua kali berhubungan. Sebegitu benci kah Romeo padanya? Entah lah....


"Mata you buta apa? Iya, di sini lah nggak mungkin di atas atap Mall!" Reza berkata ketus sembari melirik tajam Queen.


"Eh, banci. Ngomong tuh sopan dikit sama pacar aku!" Queen menatap lebih tajam. Lalu melirik Romeo. Sorot matanya seketika berubah."My love, sudah yuk kita masuk saja dulu. Aku malas banget dekat-dekat manusia aneh kayak mereka!"


"Sebentar!" Romeo mendengus kasar. Kemudian melirik Juliet lagi' sedang tertawa bersama Kai. Entah apa yang mereka tertawakan namun sepertinya sangat mengasyikkan.


"Ya, udah sana. Syuh syuh akika juga malas dekat sama ratu ular. Nanti kulit akika bersisik. Iyuh!"


Tangan Queen terkepal, hendak bergerak."Kau!"


"Hei, sudah, sudahlah! Lebih baik kita menonton bersama-sama!" Kei melerai agar tak terjadi pertikaian antara Reza dan Queen.


***


Tiga puluh menit berlalu. Juliet, Reza, Kai, Kei, Romeo dan Queen berjalan memasuki ruang teater.


"Jul, duduk sama aku ya," Kai berkata pelan.


"No! Juliet duduk dekat aku!" Reza menarik lengan Juliet agar duduk di sampingnya.


Kai berdecih. Dan terpaksa duduk bersebelahan bersama Kei. Di samping Kei, Reza menjatuhkan bokong dengan cepat. Juliet geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kai dan Reza. Tanpa dia sadari, Romeo duduk di sampingnya, sementara Queen duduk di kursi ujung.


Suara mbak teater bergema. Semua penonton menatap layar besar di depan. Lampu dimatikan setelah iklan diputar.


Reza menjerit kala layar menyuguhkan wajah boneka A**abelle. Juliet geleng-geleng kepala, melihat ketakutan Reza. Padahal film baru saja diputar. Tanpa sengaja tangannya bersender dipegangan kursi.


Deg.


Juliet membeku, saat jari-jemarinya di genggam erat oleh seseorang. Lantas kepalanya memutar, kedua mata Juliet melebar, melihat Romeo menatap penuh arti padanya sembari mempererat tautan.


Kedua mata Juliet melotot, lalu berkata pelan. "Lepaskan." Namun, Romeo tak mengindahkan perkataan Juliet, ia mempererat jari-jemarinya.


'Maunya apa sih!? Kau egois, Rom!'

__ADS_1


Kini, Juliet dapat melihat Queen bersender di bahu Romeo sambil menatap lurus ke depan. Juliet berusaha melepaskan genggaman tapi tak bisa. Romeo menempelkan tangannya seperti lem.


'Aku ini istrinya, tapi mengapa seperti orang ketiga. Menyebalkan!'


__ADS_2