Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Jurik Malam - Kanker Nenen


__ADS_3

Pos 1.


"Oke, kalian semua sudah tahu kan pasangannya masing-masing, nah yang sendirian bersabar lah. Karena kalian adalah orang yang terpilih...."


Panitia mengedarkan pandangan di depan. Ia mengantung ucapannya di udara. Kedua matanya meneliti grup Manis Manja dan Keong Racun.


Reza mengerutkan dahi kala Panitia tak kembali melanjutkan perkataannya. "Orang yang terpilih, apa kak?" tanyanya penasaran.


Satu alis Panitia terangkat. "Terpilih untuk takut," Ia berkata enteng sambil melipat tangan di dada.


Reza, Kai, Kei dan beberapa Maba membuang nafas kasar. Tidak bisa kah Panitia di depan mengerti akan kegundahan yang membuncah di dalam mereka. Mereka mengerutu di dalam hati, mengumpati Panitia.


Lain dengan Romeo dan Juliet, keduanya bersikap biasa saja. Untuk sejenak keduanya menatap satu sama lain lagi. Sedari tadi Juliet tak melepaskan pandangan matanya. Harap-harap cemas jika Queen nekad untuk memeluk atau berbuat hal-hal aneh pada Romeo, mengingat jika Queen sangat terobsesi pada suami di atas kertasnya itu.


Juliet keheranan mengapa harus Queen yang menjadi pasangan Romeo.


'Kenapa tidak aku saja?!' Alam bawah sadar Juliet berucap tanpa sadar.


'Astaga, apa yang kau pikirkan Juliet.' Ia menggelengkan kepala mengusir pikiran anehnya.


"Sebelum kalian ke pos 2, Kakak akan memberikan kalian beberapa pertanyaan. Jika berhasil menjawab kalian akan mendapatkan poin tambahan, baik yang dari grup atau individu," Panitia berkata cepat, membuat sebagian Maba terpaku di tempat. Mereka belum siap dengan pertanyaan yang akan dilontarkan Panitia sebab rasa kantuk masih menjalar di wajah mereka. Dan rasanya malas sekali memutar otak untuk berpikir.


Panitia menyeringai tipis. "Pertanyaan pertama, sebutkan nama penyakit yang bentuknya bulat dan di dalamnya ada bulatan lagi?"


Maba tergugu, pertanyaan apa itu? Seperti teka-teki saja? Tidak ada kah kisi-kisi yang lebih spesifik lagi.


Otak mereka seketika ngehenk.


Tidak ada petir dan tidak ada hujan. Reza mengangkat satu tangannya. "Kak! Akika mau menjawab!"


Panitia mengangguk.


Dengan muka polosnya. Bibir Reza membuka. "Kanker ***** bukan, Kak." Reza nyengir kuda.


Panitia mendengus. "Gunakan bahasa medis, Reza! Poin grup kalian dikurangi 2!" Wanita itu menahan sebal.


"Hehe." Reza senyam-senyum kecut sambil menunduk kala Romeo menatap tajam padanya. Ia nampak salah tingkah.


"Ayo, cepat! Jawab pertanyaan Kakak! Pakai bahasa medis!"


Sontak Maba terkejut dengan suara teriakan Panitia yang amat nyaring. Begitu pula Reza langsung berucap kata ayam berulang kali. Mereka menelan saliva dengan kasar. Kala teringat jika Wanita di depan amat galak dan bisa saja mengadu pada Ketua BEM. Mereka mendapatkan gosip jika Kak Miguel dan wanita di depan berpacaran, pasalnya selama ospek beberapa hari. Keduanya selalu berjalan berduaan. Ah mengapa harus Kakak ini yang berada di pos 1? Kenapa tidak yang lain saja.


Lain halnya dengan Romeo dan Juliet. Keduanya serempak mengangkat tangan ke atas. "Saya, mau menjawabnya Kak!"

__ADS_1


"Kamu! Cepat jawab!" Panitia menunjuk Juliet. Wanita berjilbab hitam itu melangkah maju mundur cantik di depan.


"Kanker payu-dara, Kak!" sahut Juliet cepat. Ia menatap ke arah Panitia. Berharap jawabannya benar.


"Hmmm, iya' betul. Sekarang cepat jelaskan, apa saja faktor kanker payu-dara?!" Panitia menunjuk Romeo.


Romeo tersentak sebab mata Panitia seperti mak lampir. Ia menarik nafas panjang. Sebelum membuka suara. Otak besar Romeo mulai sibuk.


"Sebenarnya ada banyak faktor kak, faktor yang paling dominan yaitu faktor genetik atau keturunan. Tapi mengingat zaman semakin berkembang, semua orang bisa saja terkena kanker payudara, tanpa terkecuali, karena sekarang gaya hidup manusia kurang sehat, salah satu contohnya dengan makan-makanan cepat saji , minum- minuman yang mengandung alkohol, dan lain-lainnya, Kak." Romeo membuang nafas melihat Panitia menatapnya tajam. Ia menelan saliva pelan. Takut jika jawabannya kurang memuaskan.


"Hmmmm." Panitia menanggapi hanya berdeham. "Pencegahan yang dapat di lakukan agar kanker dapat terdeteksi dengan cepat?!" Panitia menunjuk Kai dengan cepat.


Kai terkesiap, otaknya loading, ibarat kaset rusak. Bibirnya kelu, bingung. 'Aduh mampus aku!'


"Cepat jawab!" sentak Panitia kala Kai hanya terdiam dan tak langsung menjawab pertanyaannya.


"Akika saja Kak!" Reza kembali beraksi, ia mengangkat tangan ala ala Miss Thailand, melambai-lambai.


Panitia mendengus kasar. "Silahkan!"


Ish galak amat sih nih nek lampir, akika kentutin baru tahu rasa!


"Kok malah melamun, ayo cepat jawab! Waktu kita tidak banyak!"


"Iya, iya Kak. Pemeriksaan SADARI kak, kepanjangannya pemeriksaan payu-dara sendiri." Reza menjelaskan menggerakan tubuh secara gemulai dan lentur.


"Hmm." Lagi lagi Panitia berdeham.


Reza memanyunkan bibir melihat respon Panitia.


'Ish, nyebelin banget! Dari tadi hm hm hm hm emang dia pikir dia Nissa Sabyan. Ughh!'


"Pertanyaan terakhir, pemeriksaan SADARI diperuntukkan pada wanita umur berapa?" Nada Panitia datar tak seperti tadi. Kala melihat Kak Miguel menghampiri mereka. Kak Miguel menyapa Wanita di depan dengan kode morse.


"Saya, Kak!" Kali ini Kei mengangkat tangan.


Seketika Romeo harap-harap cemas melihat Kei ingin menjawab. 'Awas saja dia salah menjawab!'


"Silahkan."


'Apa aku mulai dengan hm juga ya,' batin Kei.


"Hmm, wanita yang umurnya di atas 15 tahun, dan yang paling utama wanita yang umur 35 tahun ke atas."

__ADS_1


"Hmmm."


Romeo menarik nafas lega. Lalu tanpa sadar melirik sekilas ke arah Juliet. Ternyata keduanya sama-sama melirik, lalu membuang muka kala ketahuan curi-curi pandang.


.


.


.


"Duh kenapa harus akika sih yang duluan!"


Reza mengarahkan senter ke segala arah. Entah mengapa Kak Miguel malah menyuruhnya duluan berjalan. Sungguh si-al, pikir Reza. Ia menengok ke belakang sesekali, ingin memastikan apakah Kai dan Kei sudah berada di dekatnya. Yah tadi sebelum berjalan ke pos 2. Kedua telinga gajah Reza menguping pembicaraan Kak Miguel. Dan mengatakan Duo Biang Keladi yang selanjutnya akan berjalan ke pos 2.


"Eh, ini benar kan tandanya," Reza bergumam kecil karena ingat pesan dari Kak Miguel untuk berjalan mengikuti tanda panah yang terukir di setiap pohon.


Bulu kuduk Reza berdiri-diri saat angin malam menusuk kulit lehernya. Suasana di dalam hutan amat menyeramkan, belum lagi suara gesekan ranting membuat tubuhnya semakin remang-remang.


Kriet...


"Haa!" Reza terkejut mendengar bunyi patahan ranting pohon, yang ternyata disebabkan oleh injakan kakinya.


"Ihh, nyebelin banget ini ranting! Bisa nggak?! Nggak usah ngagetin!" Reza menunjuk ranting yang tak bernyawa itu. Seakan berbicara pada manusia. Namun ranting hanya terdiam!


.


.


Sementara itu, beberapa meter dari Reza.


"Kak, aku takut!" Kei mendekatkan tubuhnya pada Kai. Meminta perlindungan pada Kakaknya. Di sekitar mereka semuanya gelap.


Kai mendengus kasar, lalu berkata, "Diam lah, Kei! Kalau kau takut! Aku juga takut!" Ia mengarah senter ke depan.


"Kak!"


"Apa?"


"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


.


.

__ADS_1


.


Ayo buk ibuk, anak-anaknya juga diperiksa ya 🤗. Tiap tahun kanker payu-dara semakin meningkat! Yuk cegah sedini mungkin, periksa langsung ke puskesmas kalau merasa ada benjolan aneh di sekitar ***** eh payu-dara 😅


__ADS_2