
"Lepaskan aku!"
Juliet memberontak, mengibas-ibaskan tangan Romeo. Sebisa mungkin ia menahan tubuhnya agar tak di seret. Namun, bukan Romeo namanya jika keinginannya tak terpenuhi. Pria bertubuh atletis itu tetap tak gentar. Kedua matanya berkilat menyala, nafas pria itu teramat memburu. Tangannya masih bertengker di tangan Juliet.
"Romeo! Lepaskan aku! Kau tuli atau apa ha?!"
Juliet meringis kesakitan, sebab Romeo mencengkram kuat pergelangan tangannya. Sebegitu salah kah dirinya tak mengatakan apa pun pada Romeo. Padahal tadi ia sudah meminta izin kepada mertuanya. Apa dia melakukan kesalahan fatal dengan tak memberitahu suami di atas kertasnya itu. Entahlah, dia pun tak pernah melihat sorot mata Romeo yang semarah ini padanya.
'Rom, aku bingung, sebenarnya apa maumu!?' Juliet menerka-nerka di dalam benaknya.
Sedari tadi, suami istri di atas kertas itu, sudah menjadi pusat perhatian, penghuni apartment memandangi mereka dengan tatapan yang tersirat. Sebagian ingin membantu namun rasa takut' ikut campur amat besar. Jadi, mereka hanya menjadi penonton saja.
'Ya ampun, kenapa anak muda-mudi zaman sekarang kalau berkelahi nggak tahu tempat!'
'Pasti cowoknya posesif, jadinya cewek selingkuh!'
'Jangan-jangan ceweknya hamil tapi si cowok nggak mau tanggung jawab!'
'Duh pengen videoin, tapi handphone lowbat!'
Batin penghuni dan pengunjung apartment.
Aksi tarik-menarik masih berlangsung. Bibir Juliet tak berhenti menggerutu, sumpah serapah sudah dilontarkan bertubi-tubi pada Romeo. Namun Romeo tak mengubris sama sekali, ia menatap tajam dan dingin ke dalam bola mata Juliet, sembari menuntun Juliet masuk ke dalam lift.
.
.
.
"Di mana apartmentmu?!"
Romeo bertanya setelah dia melepaskan cengkraman tangannya. Kini, keduanya berada di lantai 22.
Bukannya menjawab pertanyaan, Juliet berlalu pergi meninggalkan Romeo mematung di tempat, namun sedetik kemudian Romeo segera tersadar dan mengekori Juliet dari belakang.
Romeo mendengus. "Oh, jadi di sini. Apartment tempat dirimu berbagi peluh bersama sugar daddymu." Suara pria di sampingnya terdengar mengejek.
Juliet melirik, sembari memutar gagang pintu. "Iya, bisakah kau pulang!"
Kedua netra Romeo melotot tajam. "Kau mengusirku!?"
Juliet enggan menyahut namun langsung masuk ke dalam apartment, secepat kilat tangannya hendak menutup pintu, namun Romeo lebih gesit, ia menahan dengan kakinya dan mendorong kuat pintu, Juliet yang berada di balik pintu terjatuh ke lantai.
"Awh!"
Juliet terhempas ke lantai bersamaan pula bunyi dentuman pintu di tutup kuat.
__ADS_1
Romeo mengunci cepat pintu apartment. Lalu berbalik, menatap tajam pada Juliet sedang bangkit berdiri.
"Aku membencimu, Rom!"
Sebuah kalimat pendek terucap dari bibir Juliet, rasa marah, sesal, dan kecewa bercampur menjadi satu. Semula ia mengira, Romeo bisa bersikap lembut padanya setelah insiden tabrakan bibir, setidaknya berterimakasih karena berkat dirinya gatal-gatal di tubuh Romeo menghilang. Tapi apa, tak ada ucapan terimakasih terlontar dari bibir suaminya itu. Iya, suami di atas kertas itu. Romeo sudah kelewat batas, memperlakukannya semena-mena.
Juliet menarik nafas panjang berusaha menahan sakit yang mendera dibokongnya. "Sebenarnya apa maumu, Rom?" Ia bertanya lagi sebab Romeo hanya berdiri tegap dihadapannya. Tanpa berniat sedikitpun membalas ucapan Juliet barusan.
Romeo mencibir. Lalu berkata, "Di mana saja dia menyentuhmu?"
Dahi Juliet berkerut. "Maksudnya?"
"Wanita murahan sepertimu! Mungkin sudah lupa di sentuh di mana saja!"
Juliet meradang. Nafasnya memburu, desiran aneh kembali membuncah di palung hatinya. Dahulu, jika Romeo menghina dirinya, Juliet biasa saja, tapi mengapa sekarang hatinya begitu perih.
"Iya, aku lupa! Karena sudah banyak pria yang sudah menyentuh tubuhku!" Juliet berteriak lalu mengigit bibir bawah, menahan sesuatu yang keluar dari balik bola matanya.
"Romeo! Lepaskan aku!" raung Juliet kala Romeo berjalan cepat sembari mengangkat tubuhnya seperti karung beras.
"Mari kita lihat seberapa pintar kau memuaskanku ha?!" Suara Romeo dingin dan membuat bulu kuduk Juliet merinding. Sedari tadi Juliet meronta-ronta meminta diturunkan namun Romeo seakan tuli, tak mengindahkan perkataannya.
Pria itu bergegas mencari kamar Juliet, tak butuh waktu lama, ia menemukannya, sangat mudah seperti ada telepati. Kaki kanan Romeo mendobrak pintu kamar Juliet, lalu bergegas masuk, dan melempar kuat tubuh Juliet ke atas kasur.
"Argh!" Juliet memekik kesakitan saat tubuhnya terhempas begitu saja di tempat tidur.
Romeo membuka cepat pakaiannya dan melempar asal. Lalu menindih tubuh Juliet yang hendak bangkit berdiri
Plak.
Tangan kanan Juliet melayang tepat di pipi kanan Romeo. Sedangkan Romeo mendengus kasar, dan kembali menekan tubuh Juliet. "Kenapa kau marah?!" Lalu membuka paksa kain yang menempel di tubuh Juliet.
"Romeo, jangan! Aku mohon jangan Romeo!"
Lolos sudah buliran air mata Juliet di kedua pipi. Ia bingung, bukankah seharusnya Romeo berhak menjamah tubuhnya, mengingat mereka adalah suami istri, tapi bukan begini caranya, terlebih lagi cara Romeo memandang dan menatapnya seakan dia hanyalah pemuas nafsu belaka. Ia menerka-nerka mengapa Romeo amat berang, tak pernah mendengar ucapan "ja**ng" dari bibir Romeo, seingatnya hanya wanita murahan, namun malam ini kata itu membuat dadanya di hujam beribu pedang.
Sementara itu, Romeo seperti orang kesetanan tanpa memperdulikan pukulan ditubuhnya. Ia sibuk melucuti semua pakaian Juliet tanpa tersisa.
Kedua mata Romeo enggan berkedip, saat tak melihat sehelai benangpun menempel di tubuh Juliet. Jakunnya naik dan turun, hasratnya sudah sampai di ubun-ubun.
Tanpa aba-aba, Romeo mendorong tubuhnya memasuki bolu kukus Juliet.
'Arg, kenapa sempit!?'
"Romeo!" Juliet meraung kala sesuatu yang besar melesak masuk ke inti tubuhnya. Rasa perih, dan sakit, bercampur menjadi satu. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei putih itu.
"Ro-"
__ADS_1
Belum sempat, meneruskan perkataan, Romeo membungkam bibir Juliet begitu kasar dan rakus, sembari menautkan jemarinya ke jemari Juliet.
Juliet tersentak, beda, sungguh sebuah ciuman yang teramat berbeda, tidak seperti sewaktu malam itu. Romeo menyerangnya membabi buta. Sorot matanya seperti iblis! Menyiratkan kebencian dan kemarahan yang terpendam.
'Kenapa kau marah?'
'Mengapa kau memperlakukan ku seperti ini?'
'Bukan ini yang aku mau! Bukan!
Juliet semakin terisak, matanya terpejam, baru menyadari telah jatuh cinta pada suami sekaligus musuhnya, teringat jantungnya berdebar jika bersama Romeo, dan sangat cemburu jika Romeo berdekatan dengan seorang wanita. Entah sejak kapan rasa cinta itu hadir dihatinya.
Kini, kulit keduanya saling bergesekan, semula hentakan terdengar pelan, namun semakin lama semakin bertambah cepat. Sampai-sampai nakas di samping tempat tidur berdecit menemani rintihan sakit dari bibir Juliet.
Romeo tak memberinya jeda sedikitpun, pria itu bergerak liar di atas tubuhnya. Pria itu menghisap habis bibir ranum Juliet, hingga Juliet kesusahan bernafas.
'Aku tak menyangka! Kau membuatku kecewa Jul!'
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dua insan manusia masih terlelap di tempat peraduan.
Romeo membuka perlahan matanya, lalu menoleh ke samping, melihat Juliet tertidur pulas membelakanginya. Tatapan mata Romeo sulit diartikan.
"Kau yang membuatku seperti ini." Romeo menggeser tubuh, lalu menyibak rambut panjang Juliet. Kemudian melabuhkan sebuah kecupan di punggung Juliet.
.
.
.
Juliet melenguh sejenak kala merasakan tubuhnya begitu remuk, kelopak matanya terbuka perlahan, objek pertama penglihatannya adalah langit-langit kamar.
Kedua mata Juliet kembali berembun teringat kejadian tadi, suaminya merengut mahkota yang telah lama ia jaga. Seandainya saja Romeo memperlakukannya tidak kasar, mungkin ia akan senang, tapi sikap Romeo di luar dugaan. Membuatnya semakin sedih dan terisak. Dengan sisa tenaga, Juliet merubah posisi tubuhnya, lalu bersender di tempat tidur.
"Shftt..." Juliet meringis pelan, inti tubuhnya benar-benar sakit dan perih. Ia menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri, menelisik keberadaan Romeo. Namun, tak nampak sama sekali.
Juliet tertegun sesaat, melihat cairan susu asin di tepi ranjang menggumpal. Sebegitu hinakah dirinya? Kedua matanya masih bergerak tak tentu arah, sedang mencari sesuatu.
"Di mana noda merahnya?" Juliet bergumam meneliti sprei putih yang sudah tak beraturan bentuknya.
.
__ADS_1
.
.