Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Terpana


__ADS_3

"Kak, masih jauh tempatnya!?" Reza bertanya dengan suara mendayunya.


Panitia menoleh ke belakang. "Nggak jauh lagi kok, nanti kita lewatin air terjun." Lalu beralih menatap ke depan.


Reza yang mendengarkan penuturan Panitia tersenyum sumringah. "Wah, akika nggak sabaran! Yuhu yei!" Dia berkata sambil melompat kecil.


Kei menoleh sekilas. "Eh, endut kepleset ntar!" Ia memperingati sebab jalanan yang mereka lalui masih licin akibat guyuran hujan kemarin.


Reza terkekeh kecil dan tanpa sengaja bersitatap dengan Romeo yang tengah menengok ke belakang sana. Ia amat penasaran, lalu mengikuti arah mata Romeo yang ternyata tertuju pada Juliet. Seulas senyum penuh arti terpatri diwajahnya. "Rom, you kenapa? Suka sama akika ya? Dari tadi lihatin ke belakang terus?!" Reza sengaja berkata nyaring agar Juliet di belakang sana peka.


Romeo bergedik ngeri mendengarkan ucapan Reza. "Hoek, aku masih normal!" Romeo menatap tajam menghunus ke dalam iris bola mata Reza, berharap ia takut.


Tapi Reza malah tertawa keras menanggapi perkataan Romeo. Tiba-tiba lampu di atas kepala Reza menyala terang. Dengan cepat kepalanya memutar ke belakang. "Juliet, ke sini temenin akika dunk! Bantuin akika bawain tas." Reza menampilkan wajah memelas.


Di ujung sana, Juliet yang sedang berbicara bersama Kai. Seketika menoleh ke depan. Ia memicingkan mata, melihat Reza nampak keletihan. "Kai, aku ke depan dulu ya!"


Kai enggan menyahut karena dia ingin lebih lama bersama Juliet. Entah mengapa rasa ingin memiliki Juliet semakin bertambah besar.


Sedari tadi, Kai menanyakan beberapa pertanyaan basa-basi pada Juliet, mengenai penyakit yang sedang merajalela di Indonesia. Tentu saja itu modus, akal-akalan Kai agar lebih lama bersama pujaan hatinya. Juliet pun menjabarkan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Menurut Kai, Juliet adalah wanita cerdas dan mempunyai wawasan yang luas. Sudah lah cantik, manis, dan pintar pula.


Juliet, wanita idaman Kai, sangat pantas untuk dijadikan istri sekaligus ibu dari anak-anaknya. Tadi, sepanjang langkah kaki, Kai berandai-andai Juliet, istrinya. Tapi sayang sekali bahwa Juliet adalah istri Romeo, teman akrabnya.


Untuk sesaat, senyuman Kai memudar kala membayangkan Romeo tengah mencumbu atau menyentuh tubuh Juliet. Akan tetapi, Kai mencoba berpikiran positif, Romeo pasti tidak akan mau menjamah tubuh Juliet, karena seingat Kai, keduanya saling membenci. Perasaan lega membuncah di palung hatinya sejenak.


"Kai," Juliet memanggil lagi, saat Kai malah melamun bukannya membalas perkatannya.


Aku mau bilang jangan ke sana, tapi kan tidak mungkin. Apa hak ku? Lagian, Reza kenapa sih pakai acara capek segala bawain tas! Argh!


Kai mengaruk tengkuk. "Eh i-ya iya." Ia tergagap-gagap. Terpaksa mengiyakan. Bibirnya benar-benar kelu mengucapkan tiga kata itu.


Juliet tersenyum tipis. "Bye, aku ke sana ya." Ia berlalu pergi, berlarian kecil menghampiri Reza yang sedari tadi memanggil-manggil namanya.


"Ih, lama amat sih! Pegel nih!" Reza merajuk, memanyunkan bibir bawahnya ke depan.


Juliet memutar bola mata malas. "Sudah, mana tasmu!" Ia tak mau berdebat dengan Reza yang bisa membuatnya pusing tujuh keliling. Lebih baik dia diam dan mengalah.


Reza memindahkan satu buah tasnya ke tangan Juliet.


"Nih, you di sini aja jangan ke belakang lagi ntar ada yang cemburu!"

__ADS_1


Dahi Juliet berkerut hingga tiga lipatan. "Maksudnya?"


"Ah sudahlah, lupakan. Kei ke sini!" Tangannya melambai-lambai mengisyaratkan agar Kei segera mendekat.


Mendengar namanya di sebut. Kei berbalik lalu menghampiri. "Ada apa?"


"You di belakang akika ya. Biarin Juliet di depan takut dia pingsan, kalau angkat tas akika."


Reza memberikan bahasa isyarat pada Kei. Tanpa banyak bantah, Kei menurut. Karena memang benar tas Reza lumayan banyak dan berat untuk ukuran wanita. Ia sebenarnya ingin membantu akan tetapi barang bawaannya juga banyak sama seperti Reza. Ia di ambang dilema, karena semua tim harus saling berkerjasama tanpa membedakan gender, mengingat ini adalah latihan kepemimpinan.


Juliet geleng-geleng kepala melihat tingkah Reza. Masih sempat-sempatnya meliuk-liukkan tubuh saat berbicara.


Jadi, sekarang posisinya, Juliet berada di belakang Romeo. Juliet baru saja menyadari jika pria yang dihindarinya sejak semalam berada di depan.


Duh, kenapa jantung aku deg deg an. Juliet jadi teringat pelukan hangat Romeo semalam, yang membuat dadanya berdebar-debar tak karuan.


Romeo menengok lagi ke belakang. Matanya bertubrukkan langsung pada Juliet. Tanpa sadar ia tersenyum sumringah hingga menampakkan gigi ginsulnya.


Deg.


Juliet membeku di tempat. Semburat rona merah terlihat jelas dipipinya. Ia memalingkan muka melihat pepohonan menjulang tinggi di sisi kanan. Berusaha menetralisir perasaan aneh yang mulai merasukinya lagi.


Rom, jangan tersenyum. Aku tidak suka! jeritnya meronta-ronta, berharap Romeo berhenti menebarkan senyuman lagi.


Rasa apakah itu, rasa membara jika Juliet berdekatan dengan lawan jenis, rasa sakit jika melihat Juliet menangis. Romeo di buat pening pada rasa itu. Sebuah rasa yang amat asing, tapi bisa membuatnya menggila dan tak mampu mengontrol tubuhnya. Sejak semalam ia selalu membayangkan wajah Juliet.


Romeo beralih menatap ke depan. Setidaknya dia lega, Juliet sudah berada di dekatnya. Tapi, sejak kapan? Entahlah, masa bodoh, yang terpenting Juliet ada di belakangnya, berjalan sendirian. Hanya sendirian!


Ekor mata Juliet melihat Romeo di posisi semula. Ia beralih menatap ke depan. Punggung Romeo menjadi objek pandangan matanya.


Kalau di pikir-pikir, Romeo tinggi ya. Lalu badannya juga bagus, apalagi perut sixpacknya. Juliet tengah mengamati postur badan Romeo.


Aaaaaa apa yang kau pikirkan Juliet!? Juliet meracau di dalam benak. Ia geleng-geleng kepala mengusir pikiran nakalnya. Pipinya kembali merah merona.


***


Grup Manis Manja dan seorang Panitia berjalan menuju tempat tujuan. Sambil melangkah mereka mengagumi pemandangan Hutan Anggora yang nampak indah.


Sudah sepuluh menit berlalu, mereka masuk lagi ke dalam hutan. Melewati jalan setapak' lurus ke depan. Semakin ke dalam terdengar suara gemercik air bersamaan pula, suara burung-burung saling bersahut-sahutan.

__ADS_1



"Wah bagus banget air terjunnya." Langkah kaki Reza terhenti, terpana sesaat akan kemegahan air terjun. Begitu pula dengan Romeo, Juliet, dan Maba yang lainnya.


"Ayo, ayo cepat!" Panitia mengingatkan agar mereka kembali bergerak.


Maba mengangguk, lalu berjalan lagi mengikuti langkah kaki Panitia.


Apa di dekat air terjun ini, air permintaannya? Romeo bertanya di dalam hati. Ia teringat perkataan Kei tempo lalu tentang informasi air permintaan yang bisa mengabulkan permohonan. Jadi, Romeo ingin meneguk air permintaan dan memohon agar kutukan belalai tunduknya musnah. Ia akan berusaha walaupun tidak tahu hasil akhirnya nanti.



Maba menyipitkan mata melihat pemandangan di depan. Satu tangan mereka terangkat ke atas. Matahari bersinar terang benderang, masuk ke dalam pupil mata mereka. Tungkai kaki mereka terhenti menatap penuh kagum akan mahakarya Sang Pencipta.


"Oke, kalian dari sini berjalan sendirian di pimpin Romeo. Kalian akan bertemu kakak di bawah. Lurus saja ikuti tangga ini. Kakak lewat jalan yang berbeda. Ingat Leadership Camping sudah di mulai! Jadi, berkerjasama lah bersama tim. Mengerti?" Panitia berkata nyaring sembari melangkah ke luar jalur tangga.


"Paham Kak!" sahut mereka serempak.


Panitia mengangguk. Lalu berlalu pergi meninggalkan Maba.


"Ayo kita jalan!" Romeo melirik, mengedarkan pandangan pada teman-temannya. Mereka mengangguk paham.


Romeo berjalan di depan, Juliet mengekorinya dari belakng.


Namun tiba-tiba...


Dugh.


"Haaaa lihat! Ada naga putih terbang di atas!" Reza berseru nyaring sembari menunjuk ke atas sana.


Sontak Kai, Kei dan teman-temannya melihat ke arah yang di tunjuk Reza.


Lain halnya, dengan Romeo dan Juliet, kini keduanya berbaring di atas rerumputan, saling bersitatap satu sama lain. Juliet berada di samping tubuh Romeo. Beberapa detik yang lalu, entah mengapa kaki Juliet tersandung. Tubuhnya pun hilang keseimbangan dan condong ke depan. Akibatnya ia menabrak tubuh Romeo.


Romeo tersentak kaget saat sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, ia jatuh tertelungkup dan secepat kilat berbalik, langsung menatap Juliet yang tengah mengaduh kesakitan. Tak ada satupun yang melihat kejadian barusan terkecuali.... Reza xixixi siapa lagi pelaku utamanya kalau bukan Reza. Ialah yang menyandung kaki Juliet tadi.


"Kau tidak apa-apa?" Romeo bertanya sambil mengusap perlahan kepala Juliet.


Deg.

__ADS_1


Kedua mata Juliet terkunci, sesaat terpana dengan ketampanan Romeo. Ia membuang mukanya ke samping.


Aaaa, jangan melihatku seperti itu Rom! jerit Juliet di dalam hati. Kala Romeo menatap lekat padanya, sangat lekat. Sampai-sampai ia tak mampu menatap balik.


__ADS_2