Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Sanubariku' Menginginkanmu


__ADS_3

Juliet berusaha mengibas-ibaskan tangan Romeo, tapi tidak bisa, seperti lem saja. Tangannya serasa perih kala Romeo semakin mengeratkan cengkraman. "Shhfttt, sakit!"


Melihat raut wajah Juliet, Romeo segera melonggarkan sedikit cengkraman tangannya.


"Rom, please! Sakit!" Suara Juliet terdengar memelas.


Romeo tak mengubris, ia malah mengangkat tubuh Juliet, menaruhnya di bahu seperti karung beras.


"Romeo!" raung Juliet' memukul-mukul belakang punggung Romeo.


Romeo tuli. Ia berjalan cepat menuju lift mewah di sisi kanan ruang tengah. Dan masuk ke dalam kotak besar itu, lalu menekan angka tiga.


Seketika kedua tangan Juliet berhenti. "Aku baru tahu kalau ada lift." gumamnya pelan tapi bisa di dengar oleh Romeo. Ia terpana sesaat dengan lift mewah yang memanjakan matanya. "Eh aku kan sedang marah!" Juliet baru saja teringat aksi pemberontakannya.


"Lepaskan aku! Romeo!" raung Juliet kembali sembari meninju punggung Romeo.


Romeo hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Juliet.


***


Brak.


Romeo menutup kasar pintu kamar. Juliet masih berada di atas bahunya. Juliet terlonjak kaget mendengar pintu di tutup dengan sangat kuat.


Romeo berjalan cepat mendekat ke tempat tidur dan melemparkan tubuh Juliet di atas kasur, Juliet kembali memekik.


"Romeo! Aku membencimu! Aku membencimu! Aku membencimu!" jerit Juliet dengan posisi terlentang.

__ADS_1


Lantas Romeo segera menindih tubuh Juliet, ia menyambar kedua tangan Juliet, mencengkram pergelangan tangan dan meletakkan kedua tangan Juliet di atas kepala.


"Apa ya-ng mau kau laku-kan?" Juliet tergagap. Ia di landa kepanikan. Saat ini tubuh keduanya saling bersentuhan tanpa ruang sedikitpun. Juliet dapat merasakan hembusan nafas Romeo menerpa kulit wajahnya.


Suasana hening!


Romeo menatap datar kedua bola mata Juliet yang bergerak tak tentu arah.


Juliet bingung, menunggu balasan dari Romeo. Ia paling tak suka situasi saat ini. Lebih baik Romeo marah padanya, mengumpat padanya, dan membentaknya. Tapi apa sekarang? Romeo hanya terdiam membisu. Juliet dapat mendengar degup jantung Romeo dan dirinya saling berdetak kencang. Dan Juliet dapat merasakan pula di bawah sana, cacing besar alaska mulai berdiri tegak.


"Rom," panggil Juliet pelan memberanikan diri. "Lepaskan aku! Aku mohon. Sudah kita jangan berdebat." Juliet berusaha menenangkan, agar Romeo tak kembali berang.


Romeo tidak beraksi. Tanpa aba-aba, tangan kanannya mencengkram kedua pipi Juliet. Sedangkan tangan kirinya masih menahan tangan Juliet.


Juliet melebarkan kedua mata, kala melihat tatapan Romeo menghunus ke dalam bola matanya layaknya sebilah pedang.


Dahi Juliet berkerut. "Aku tidak mengerti," ucap Juliet meringis kesakitan. Pipinya serasa perih.


"Oh, pasti kau lupa? Karena banyak pria yang mencium bibirmu, Kan?" Romeo menatap hina.


Juliet meradang lalu mengigit tangan Romeo, secara bersamaan pula cengkraman tangan Romeo pun terlepas.


Plak.


Juliet menampar keras pipi kanan Romeo. Nafasnya memburu, Romeo merendahkannya. Dia benci tatapan yang dilayangkan padanya.


Romeo menyentuh pipi sejenak, dan menggerakkan rahangnya yang nyeri seraya menyeka tetesan darah di ujung bibirnya. Dia menatap kembali dua bola mata hitam legam itu.

__ADS_1


"Kenapa kau marah?" Romeo menyeringai tipis.


"Aku membencimu!" teriak Juliet, rahangnya semakin mengeras, dan kedua tangan Juliet terkepal kuat.


"Kau tahu! Kau sudah menginjak-injak harga diriku! Seharusnya aku yang marah?!" Romeo menatap dingin.


Juliet terkejut, tak pernah ia melihat Romeo semarah ini. Tatapan Romeo begitu dingin dan tajam, sampai-sampai suhu di dalam ruangan pun ikut dingin seperti bongkahan es salju. Ia terdiam sejenak.


Detik kemudian.


Secepat kilat Romeo menjatuhkan tubuh di samping Juliet. Juliet menjerit kala Romeo mengubah posisi badannya menyamping dan sekarang Romeo memeluknya dari belakang.


"Rom, ap-a ya-ng ka-u lak-ukan?" Juliet bertanya dengan terbata-bata, ia was-was berusaha memberontak tapi tak bisa, tubuhnya di kunci.


.


.


.


bersambung


😛


Pembaca kecewa : Yah!


Author : Tertawa jahat, hahahahhahahahahha

__ADS_1


__ADS_2