Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Remuk


__ADS_3

Juliet mematung di tempat tatkala mendengar Kai mengatakan "Pemilik hatiku"


Ha, aku tidak salah dengar, Kan? Apa mungkin Kai sedang berakting. Juliet berucap di dalam hati. Dahinya berkerut, berusaha mencerna perkataan yang di lontarkan Kai.


Romeo mencengkeram kerah baju Kai. "Apa maksudmu?!" Kedua matanya membulat seketika. Jantungnya bagaikan di hujam sebilah belati. Sesuatu yang kasat mata meremas jantungnya.


"Kau tuli atau apa? Pemilik hatiku?!" Kai berusaha meredam amarahnya agar tak mudah tersulut emosi. Sebab sekarang ia dapat melihat teman-temannya melihat mereka.


"Stop! Jangan berkelahi! Apa kah kalian tidak malu?" Bagaikan petugas keamanan Kei segera memisahkan Romeo dan Kai agar tak berkelahi. Ia mendorong perlahan tubuh keduanya. Ia baru saja terbangun dari mimpinya dan begitu turun dari bus mendapati Romeo dan Kai berseteru. Dia tak tahu penyebab keduanya beradu mulut tapi yang jelas Juliet pasti adalah akar permasalahannya, Kei menebak sebab Juliet berada di dekat mereka.


Romeo dan Kai mendengus kasar kala Kei melerai mereka.

__ADS_1


Kobaran api di hati Romeo masih menyala. Ia beralih menatap Juliet' sedari tadi hanya terdiam membisu, Juliet sedang melamun. Kedua bola mata Romeo menatap tajam dan dingin pada Juliet. Merasa di perhatikan' Juliet menatap balik. Untuk sesaat keduanya saling beradu pandang. Keduanya berbicara melalui mata ke mata. Tanpa aba-aba Juliet beralih menatap Kai. Ia menyambar tangan Kai.


"Kai, ayo kita ke sana saja! Tidak usah kita hiraukan orang aneh ini! Iya memang benar, aku pemilik hatimu!"


Juliet berucap cepat membuat nafas Romeo dan Kai tercekat. Tapi beda artian jika Kei tertegun karena bahagia sebab tak percaya apa yang baru saja ia dengar, pujaan hatinya mengiyakan perkataannya. Padahal ia mau menyadarkan Romeo bahwa Juliet hanya istri di atas kertasnya.


Lain halnya dengan Romeo, dadanya cenat-cenut, nyeri perih, seperti di tikam pedang berulang kali. Romeo semakin melebarkan mata. Nafasnya sesak! Darahnya berdesir naik ke dalam otak seperti ingin meledak.


"Hei kalian, kenapa? Akika baru aja bangun tidur!" seloroh Reza menggerakkan tubuh dengan gemulai. Ia baru saja tiba. Pria bertubuh gempal itu kebingungan saat tidak ada satupun yang menyahut. Keempat manusia di depan Reza sibuk sendiri dengan pemikiran yang berkecamuk di dalam otak mereka.


"Hei!" sahut Reza lagi sembari menepuk pundak Juliet.

__ADS_1


Seketika Juliet beralih menatap Reza. "Apa?" Juliet bertanya ketus. Tidak bisakah Reza membaca situasi sekarang. Juliet menarik nafas panjang merutuki ketidakpekaan Reza.


"Ih galak amat sih?! Eh you kok pegang-pegang tangan Kai. Ya ampun kalian pacaran ya!" Bukannya melontarkan pertanyaan, Reza malah membuat suasana semakin mencekam.


Juliet menghentak-hentakkan kaki ke tanah. "Ya ampun Za, kalau kau bukan temanku. Udah aku benamkan ke lumpur lapindo!" Ia mencak-mencak sendiri di dalam hati. Menahan sabar.


"Astaga, Juliet dan Kei pacaran!" Si ratu halu datang tiba-tiba membuat suasana semakin panas. Siapa lagi kalau bukan Queen. Ia sengaja mengadu domba, selagi ada kesempatan dalam kesempitan. Begitu lah otak licik Queen berkerja, memperhatikan dari jauh, dan beraksi di waktu yang tepat.


"Bukan urusanmu!" Juliet menarik paksa Kai agar segera menjauh. Kai menurut patuh bagai anak itik.


Romeo mematung di tempat menatap nanar kepergian Juliet dan Kai.

__ADS_1


Ada apa dengan jantungku ini? Dan kenapa juga sesak seperti ini?! Kau kan sudah tahu Rom kalau Kai menyukai Juliet. Mengapa kau marah, biarkan saja! Dia temanmu!" Romeo menyentuh dada sebelah kirinya.


__ADS_2