Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Perih


__ADS_3

Sudah empat hari mahasiswa dan mahasiswi melaksanakan kegiatan Leadership Camping. Dan akhirnya hari ini mereka akan kembali ke Kota Jakarta.


Setelah insiden jurik malam, rasa sesal di relung hati Juliet amat besar, bagaimana tidak. Selepas tabrakan bibir, Romeo mengatakan padanya, bahwa terpaksa mencumbu Juliet karena ingin menghilangkan rasa gatal ditubuhnya.


Juliet pun bingung mengapa dirinya, berang. Bukan kah dia tahu hanya dijadikan pion untuk memusnahkan kutukan, lantas apa yang dia harapkan? Perkataan Romeo malam itu menari-nari di dalam benak Juliet.


"Dengar ya Jul, aku menciummu itu terpaksa, karena harus menghilangkan gatal-gatal ditubuhku, bukan berarti aku menyukaimu. Bibirmu itu sudah dijamah orang lain! Sebenarnya aku ingin muntah tadi, tapi mau bagaimana lagi! Seharusnya kau itu bersyukur karena menjadi orang pertama yang mengecup bibir seksiku ini!" Romeo berkata begitu angkuh.


Juliet tak membalas ucapan Romeo. Dia hanya terdiam membisu, menyelami isi pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya.


Akan tetapi saat mendengar penuturan Romeo, seketika rasa perih membuncah di palung hatinya. Sebuah rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


'Apa aku sudah jatuh cinta padanya?' Juliet menggeleng cepat. 'Tidak, tidak mungkin, kau harus tahu diri Juliet. Setelah satu tahun kau akan bercerai, lagi pula apa yang kau harapkan? Sadarlah Jul! Romeo itu musuhmu! Ingat musuhmu!"


"Hai, Jul!" Reza menepuk kuat pundak Juliet dari belakang.


Juliet tersentak. Lalu berbalik. "Kau mau membuatku mati di tempat?!" Juliet menatap tajam.


"Ish, habisnya you dari tadi ngelamun, ngelamunin apa sih? Soal penyerangan you sama Panitia pas jurik malam ya?"


Reza sangat penasaran, kala mendapatkan kabar burung bahwa sewaktu jurik malam, Juliet menyerang Panitia karena sebuah kesalahpahaman, Juliet mengira Panitia ingin berbuat tidak senonoh padanya. Reza tentu saja tidak langsung menelan mentah-mentah kabar tersebut.


Reza berinisiatif menanyakan gosip yang beredar pada Juliet. Juliet pun menceritakan kronologi sebenarnya apa adanya. Tentu saja Reza lebih mempercayai Juliet daripada Panitia jurusan farmasi itu, yang katanya seorang playboy cap kadal.


"Hmm."


Juliet hanya berdeham, dia malas membahas sesuatu yang membuatnya bertambah kesal. Saat ini reputasi beasiswanya dipertaruhkan, Juliet tak habis pikir, ternyata Panitia itu sangat lah licik dan pintar dalam memutar balikkan fakta. Ingin rasanya Juliet melampiaskan kemarahannya, dengan menendang cacing bermata satu milik Panitia itu sekarang juga. Akan tetapi, Juliet tak mau bertindak gegabah.


"Jul, sabar ya, akika percaya sama you, nanti kita jelaskan ke pihak kampus, serahin sama akika!"


Reza memegang pundak Juliet berusaha menyemangatinya.


Juliet hanya mengangguk, lalu menghela nafas kasar. Dan tanpa sengaja kedua matanya melirik Romeo di ujung sana tengah bersama ciwi-ciwi. Setelah insiden malam itu pula, Romeo tak lagi mengalami gatal-gatal jika dekat perempuan. Jadi, sekarang Romeo selalu dikelilingi ciwi-ciwi, bukankah seharusnya Juliet senang gatal-gatal di tubuh Romeo menghilang, tapi mengapa hatinya membara.


"Jul! Ayo lihatin siapa?!" Reza menggoda, mengikuti arah mata Juliet yang tertuju pada Romeo.


Juliet memalingkan muka, lagi dan lagi, dadanya terasa sesak, seakan dihimpit batu besar kala melihat Romeo dan Queen berinteraksi satu sama lain. Ia terheran-heran, bukan kah sewaktu jurik malam Romeo mengatakan Queen melakukan hal tak senonoh padanya. Lalu mengapa mereka begitu dekat?


"Aku lagi melihat monyet memanjat pohon," Juliet berkilah sembari menyambar tas ranselnya di atas tanah.


Reza enggan menanggapi namun mengedipkan mata centilnya berkali-kali. "You lihatin Romeo kan, nggak usah bohong! You cemburu ya?"


Dahi Juliet berkerut. "Cemburu?" Lalu kedua matanya mendelik. "Cih, memangnya dia siapa, hanya suami di atas kertas. Untuk apa aku cemburu?! Biarkan saja aku tidak akan jatuh cinta padanya!"

__ADS_1


"Ih hati-hati ya, entar jilat ludah sendiri. Udah yuk kita naik ke bus, sebentar lagi kita pulang, akika nggak sabar pulang terus nyemplung di bak mandi!"


Juliet mendengus kasar, sembari geleng-geleng kepala. "Terserah! Kita naik bus 2 saja!"


"Ha, loh kok nggak naik bus 1?" Reza kebingungan, mengapa Juliet memilih bus nomor 2, bukannya kemarin mereka berangkat menggunakan bus nomor 1.


"Nggak! Ayo cepat!" Juliet menarik tangan Reza, lalu berjalan cepat menuju bus 02. Bagaikan anak itik Reza pasrah walaupun dahinya semakin berkerut hingga tiga lipatan.


"Tapi, Jul nanti kita kena marah Kak Miguel!


"Tenang, aku sudah meminta izin padanya tadi," Juliet berkata sambil menuntun Reza menaiki bus.


**


Sore harinya. Rombongan bus telah tiba di pelataran kampus.


'Juliet di mana ya?'


Romeo baru saja keluar dari dalam bus. Ia kebingungan sedari tadi tak melihat batang hidung Juliet. Kepala Romeo bergerak ke kanan dan ke kiri, menelisik keberadaan Juliet. Lalu lalang teman-temanya membuat dirinya kesulitan mencari Juliet.


"Rom! Kok belum pulang?" Kai bertanya sambil menyimpan ponselnya di saku sweater.


"Hm, lagi nungguin Juliet. Kau tahu kan pasti Mommy akan memarahiku kalau menantu kesayangannya tidak pulang bersamaku," Romeo berkata pelan.


"Juliet tak mengirimmu pesan?"


"Bagaimana?"


Romeo menggeleng cepat menandakan tak ada pesan singkat dari Juliet.


"Memangnya Juliet ada mengirimmu pesan?" tanya Romeo menyelidik.


"Saat di dalam bus, aku bingung mengapa dia tak kelihatan. Jadi, aku mengirimi dia pesan dan menanyakan keberadaannya, Juliet mengatakan dia berada di bus 2 bersama Reza. Kak Miguel menyuruh mereka di bus itu."


'Ada apa dengan Juliet, semenjak malam itu dia selalu menghindariku," Romeo bertanya di dalam hati.


.


.


.


"Maafkan aku, Za merepotkanmu."

__ADS_1


Tadi, Juliet dan Reza meminta supir bus 02, berhenti di portal depan kampus, bermaksud memberhentikan taksi secepat mungkin. Kini, Juliet dan Reza berada di taksi menuju rumah sakit tempat Gabriel di rawat inap, ia amat merindukan adik kecilnya itu. Walaupun saat ini rasa letih masih menderanya. Juliet tak peduli sama sekali, ia ingin segera bertemu Gabriel.


"Tidak apa-apa Jul, akika juga kangen sama Gabriel. Kak Bimo juga barusan chat aku, dia ada di rumah sakit." Reza melirik ke samping.


"Benarkah?"


Reza mengangguk.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Juliet baru saja tiba di apartmentnya. Dia baru saja pulang dari rumah sakit. Kedua tungkainya melangkah cepat ke dalam bangunan elit itu.


Baru saja sepuluh langkah, ayunan kakinya terhenti sebab dari arah belakang ada seseorang yang mencengkram tangannya.


"Awh!" Juliet berbalik. Kedua matanya melebar dengan sempurna, melihat sosok yang ia sangat hindari. Siapa lagi kalau bukan Romeo.


"Lepaskan tanganku!" Juliet berseru, sembari mengibaskan tangan Romeo dengan kasar.


Romeo mengetatkan rahangnya dan kedua matanya terlihat berkilat menyala. Entah mengapa ia mulai tersulut emosi sebab Juliet berbohong dan tak mengabarinya sama sekali. Ia tidak langsung pulang ke mansion, melainkan menuju Lexus apartment hendak menemui Juliet. Karena yakin istri diatas kertasnya itu pasti pulang ke apartment.


Begitu sampai di sana, ia bertanya pada resepsionis apartment, apakah melihat Juliet memasuki apartment. Resepsionis mengatakan belum melihat kedatangan Juliet.


Romeo mendesah pelan lalu menghilangkan gengsinya dengan menghubungi Juliet, akan tetapi nomor yang di tuju ternyata tidak aktif. Alhasil ia terpaksa menunggu kedatangan Juliet di loby apartment. Namun, dadanya kembali panas melihat Juliet baru saja turun dari sebuah mobil seorang pria, yang pernah ia temui di rumah sakit dan cafe. Juliet lagi-lagi berbohong padanya!


"Kau dari mana ha?!"


Juliet mendelikkan mata, lalu melipat tangan di dada. "Bukan urusanmu!"


"Tentu saja itu urusanku! Aku suamimu!"


Suara Romeo terdengar meninggi.


"Cih, hanya suami di atas kertas!" Juliet juga tak mau kalah.


Romeo naik pitam, tanpa aba-aba menyambar cepat tangan Juliet, dan mencengkram tangan Juliet dengan sangat kuat.


"Kau harus diberikan pelajaran!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2