Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Mati Kau Iblis!


__ADS_3

Flashback On.


Apartment Lexus. Juliet merasakan sakit di inti tubuhnya kala benda panjang dan padat memaksa masuk ke dalam bolu kukusnya. Dia baru saja menyadari benih-benih cinta telah tumbuh dihatinya dan sudah terukir satu nama yaitu Romeo.


Perih, dan sakit bercampur menjadi satu, kala Romeo meninggalkan dirinya seorang diri tanpa pesan sedikitpun. Juliet begitu bingung, melihat sprei putihnya tak ada noda merah sama sekali. Bukankah seharusnya ada bercak darah, setidaknya sedikit ataupun setetes. Lalu dimana noda merahnya? Tak mau menerka-nerka sesuatu yang tidak pasti. Esok harinya Juliet pergi ke rumah sakit hendak memeriksakan diri ke Dokter Obygn.


Juliet pun menjelaskan kegundahannya pada Dokter. Sewaktu itu Dokter nampak mangut-mangut mendengarkan dengan seksama tanpa menyela. Setelah mendengarkan keluhan Juliet. Dokter melakukan pemeriksaan sejenak pada bolu kukus Juliet. Tak butuh lama, pemeriksaan selesai, lalu keduanya duduk saling berhadapan.


"Dok, bagaimana? Saya heran saja, kenapa pertama kali berhubungan badan, nggak ada keluar darah sama sekali ya, apa selaput dara saya ada masalah?" tanyanya kala itu dengan guratan kebingungan.


Dokter wanita berkaca mata itu menarik nafas pelan. Lalu bibirnya mulai membuka.


"Begini, Bu. Tidak semua wanita pertama kali berhubungan badan akan keluar darah. Selaput dara setiap wanita mempunyai bentuk dan fleksibilitas yang berbeda-beda. Sebagian kecil populasi wanita di Indonesia, ada pula yang memang tidak memiliki selaput dara sama sekali."


Juliet mangut-mangut, Dokter kembali melanjutkan penjelasan.


"Sebenarnya ada banyak faktor mengapa di saat malam pertama tidak ada bercak darah yang keluar. Beberapa diantaranya, selaput dara kelewat elastis. Bisa jadi selaput daranya robek pada saat Ibu melahirkan nanti. Sebelum menikah, mungkin Ibu pernah melakukan serangkaian tes kesehatan di organ intimnya. Lalu penggunaan tampon ketika menstruasi juga bisa jadi pemicu, secara tidak sadar bisa membuat selaput dara robek loh, nah akhirnya saat berhubungan badan tidak berdarah sama sekali. Kemudian bisa juga karena bercak darahnya ada tapi sedikit sekali, karena sedikit, jadinya tidak bisa terlihat oleh mata."


Juliet menarik nafas lagi mendengarkan penuturan Dokter, dia mulai mengerti.


Dokter terkekeh pelan agar suasana diruangan tak tegang. Ia dapat memahami kegundahan Juliet, Dokter menilai Juliet masih muda dan baru saja menghadapi situasi yang aneh menurutnya.


"Kebanyakan wanita mengira kalau selaput dara yang robek saat malam pertama akan mengeluarkan banyak darah. Namun pada umumnya darah yang keluar sedikit tidak seperti yang Ibu bayangkan.


"Tapi saya check di sprei tidak ada sama sekali, Dok." Juliet teringat sebelum pergi ke rumah sakit dia membolak-balik sprei memeriksa kembali.


Dokter mengangguk pelan. "Sebelumnya apakah Ibu pernah melakukan kegiatan ekstrim? Seperti bermain sepeda, berkuda, terjatuh, atau pernah menjadi atlet beladiri?"


Juliet nampak berpikir sejenak.


"Iya, pernah, Dok. Saya pernah ikut lomba Muay Thai satu tahun yang lalu." Juliet berusaha mengingat-ingat gerakannya kala itu.


'Astaga, jangan bilang pas aku latihan waktu itu, akibat terlalu bersemangat malah selaput daraku robek.' Juliet menerka-nerka di dalam benaknya.


Flashback Off.


"Juliet." panggilnya pelan, Reza sudah mendengarkan semua penjelasan Juliet. Ia bingung harus berkata apa. Karena sejatinya dia hanya lah setengah pria, setengah wanita. Di atas wanita, di bawah pria. Lihat saja burung pipitnya masih ada di bawah sana walaupun kecil.


"Hm, jadi begitu lah." Juliet menyambar milkshake di atas meja, dan menenguk pelan, membasahi bibirnya yang kering karena sedari tadi menjelaskan pada Reza.


"Tapi ya Jul, akika kesal sama you! Seharusnya you kasi tahu Romeo. Siapa tahu saja dia mengira you memang wanita malam, padahal kan nggak! You bodoh amat sih!


"Kalaupun aku kasi tahu. Memangnya perasaan Romeo ke aku bakalan berubah? Dia aja benci sama aku, cinta saja nggak!"


Reza mendelikkan mata sembari bangkit berdiri.


"Astaganaga bonar! Maka dari itu you seharusnya kasi tahu dia, sejujur-jujurnya. Bukannya malah diam aja! Emang you pikir dia tahu ha?! Ngak kan?"


Juliet menggeleng sambil melihat Reza seakan ingin memakannya.


"Siapa tahu aja dia salah paham, mengira you memang wanita malam karena darah perawan you nggak keluar! Dengar ya Jul! Bisa jadi dia udah cinta sama you tapi dia kecewa, ternyata gosip yang beredar mengatakan you wanita malam memang benar!"


Juliet tertegun.


"Iya juga ya, kok aku bodoh sih," gumamnya pelan tapi Reza dapat mendengar.


"Iya! You memang bodoh! Nah sekarang you laminating aja tu kertas, terus dipajang di mansion biar dilihatin sama Romeo. Atau bila perlu you teriak-teriak pake toa keliling kampus "Romeo aku masih perawan, aku masih perawan!" Reza mendengus kasar.

__ADS_1


Juliet merutuki kedunguannya. Kepalanya toleh kanan, toleh kiri, baru saja menyadari, sekarang keduanya menjadi pusat perhatian orang di cafe. Semua mata tertuju pada mereka, sebagian melonggo, sebagian geleng-geleng kepala. Juliet nyengir, sedangkan Reza menghempaskan bokong di bangku. Pria gemulai itu tak perduli menjadi tontonan pengunjung cafe.


Kini, suasana di cafe sudah tak seperti tadi. Reza dan Juliet masih berbincang-bincang.


"Hari ini aku akan kasi tahu Romeo semuanya."


"Oke! Awas aja you nggak lakuin apa yang akika suruh! Akika benamkan ke lumpur lapindo!" gertak Reza sambil menyambar dessert cake coklat.


Juliet mengangguk sembari meneguk milkshake lagi.


'Semoga saja perasaan Romeo berubah setelah tahu aku sebenarnya masih perawan.'


***


Malam menyapa. Langit nampak mendung. Sejak pukul empat sore. Juliet sudah berada di Mansion. Tadi, pulang bersantai di cafe. Dia dan Reza mengunjungi Gabriel lagi di rumah sakit. Perasaan Juliet begitu nelangsa setelah mendengarkan penjelasan Dokter yang mengatakan kondisi Gabriel semakin melemah. Kendatipun telah dilakukan prosedur cuci darah namun organ dalam Gabriel ternyata mengalami penurunan. Juliet resah dan gelisah memikirkan sang adik.


Kini, Juliet berdiri di balkon sembari menunggu kedatangan Romeo. Kedua matanya tak henti-hentinya menoleh ke bawah, ingin melihat apakah Romeo sudah tiba atau belum. Sesuai rencana tadi siang, ia hendak berkata jujur pada Sang suami mengenai darah perawannya yang memang tidak ada.


Cukup lama wanita berambut panjang itu menunggu. Dia menghela nafas berat, lalu berbalik hendak berjalan memasuki kamar. Namun, telinganya menangkap bunyi deru mobil masuk ke pelataran Mansion. Lantas tubuhnya memutar. Senyuman mengembang dibibirnya, melihat kendaraan milik Romeo sudah di area parkiran.


Tanpa pikir panjang ia berjalan cepat ke lantai satu sambil membawa selembar kertas. Dengan langkah riang dia menuruni tangga demi tangga. Langkahnya terhenti kala Romeo berjalan hendak ke atas sambil menundukkan kepala.


"Rom!" panggil Juliet sambil memutar tubuh, saat Romeo malah melewatinya saja. Dengan gontai Romeo hendak menapaki tangga, dia belum menyadari kehadiran Juliet disekitarnya.


"Romeo!" panggil Juliet lagi. Samar-samar suara wanita yang Romeo kenali masuk ke gendang telinganya. Ia menggeleng pelan lalu berbalik.


Matanya melebar. "Juliet," Romeo berucap pelan melihat Juliet dihadapannya. "Ada apa?"


Julier tersenyum tipis. "Romeo ada yang ingin aku bicarakan!"


"Nanti saja Jul, pulanglah!" Kedua bola mata Romeo tak berani menatap kedalam mata Juliet.


"Tapi-"


"Romeo aku masih perawan! Aku bukan lah wanita malam seperti yang kau pikirkan! Kau tahu, aku memiliki Kakak yang menggantikanku menjadi pemuas nafsu pria. Asal kau tahu, darah perawanku memang tidak ada! Aku sudah memeriksakannya ke rumah sakit setelah kita malam pertama! Kau yang pertama menyentuh tubuhku! Aku mencintaimu Rom!" potong Juliet cepat dengan menggebu-gebu sembari menyodorkan kertas yang merupakan hasil pemeriksaan di rumah sakit.


Romeo menatap datar Juliet, lalu menyambar kertas dihadapannya. Kedua matanya mengamati dan membaca dengan seksama. Namun tiba-tiba kertas tersebut malah dirobek Romeo. Dahi Juliet berkerut kuat melihat Romeo merobek kertas, dia terheran-heran.


"Walaupun kau masih perawan. Aku tidak perduli, karena aku tidak mencintaimu. Aku hanya mencintai Queen."


Duarr.


Suara guntur menggelegar terdengar di luar sana!


Sama seperti suasana hati Juliet saat ini. Wanita itu mematung di tempat. Ia terkejut kala mendengar perkataan Romeo barusan. Apa? Dia tidak salah dengarkan! Romeo tidak mencintainya?


Dada Juliet serasa diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata mendengar pernyataan Romeo. Kedua matanya menatap dalam mata Romeo, mencoba memahami ucapan suaminya barusan. Nampak kedua bola mata Juliet sudah berkaca-kaca. Sedangkan Romeo hanya menatap Juliet sejenak. Lalu menundukkan kepalanya lagi.


Hening sesaat!


Sampai-sampai suara dentingan jarum jam kayu klasik di sudut ruangan terdengar kuat.


Duar. Suara guntur lagi diluar, disusul suara air hujan menerpa genteng Mansion.


Kedua mata Juliet sudah menganak sungai. Buliran air jatuh perlahan dari pelupuk matanya.


"Tapi aku-"

__ADS_1


Prok..prok..prok. Bunyi tepukan tangan.


"Wah, wah berani sekali kau mengungkapkan cinta pada pacarku, hahaha!" Terdengar suara wanita yang tak asing di belakang. Lantas Juliet memutar tubuhnya.


Kedua bola matanya membola. "Queen," Juliet berucap pelan.


"Asal kau tahu, Romeo hanya mencintaiku! Bukan dirimu! Sekalipun kau masih perawan, dia tidak akan pernah mencintaimu!"


Juliet tak mengubris ucapan Queen namun matanya malah melihat Mbok Inah dan Hiro berjarak beberapa meter darinya.


Tadi, Mbok Inah dan Hiro baru saja lewat ruangan depan hendak ke ruangan lain. Namun tanpa sengaja Mbok Inah malah mendengar semua perbincangan mereka barusan. Ia nampak iba. Hiro hanya menjulurkan lidahnya sambil menatap penuh arti pada Juliet. Seakan memahami situasi saat ini.


Juliet beralih menatap Romeo, yang masih menundukkan wajahnya. Wanita itu terisak pelan.


"Pergi sana kau ja-lang!" teriak Queen, menatap tajam.


Juliet tak menghiraukan ucapan Queen. Dia masih menatap Romeo yang berdiri mematung. Jantungnya teramat sakit ternyata Romeo tak menaruh hati sama sekali padanya. Juliet masih ingin melihat wajah Romeo walaupun sekilas karena Romeo tengah menunduk. Dia akan merindukan semua tentang Romeo. Wanita itu ingin berlari memeluk Romeo sekarang jua. Tapi anggota tubuhnya tak bergerak sama sekali, tak selaras dengan keinginan hatinya.


"Maaf, kalau aku begitu lancang menaruh hati padamu," ucapnya tiba-tiba. Suara Juliet terdengar bergetar lalu berbalik cepat. Kedua kakinya berlari ke arah pintu dan melewati tubuh Mbok Inah dan Hiro.


"Hahaha!" Queen malah tertawa terbahak-bahak.


"Hiro! Kejar Juliet!" jerit Romeo tiba-tiba. Kedua kuping Hiro melebar seketika, lalu kaki munggilnya berayun cepat ke luar mansion menuruti perintah Romeo.


Queen naik pitam. Dia berjalan cepat menghampiri Romeo. "Kenapa kau menyuruh anjing si-alanmu itu mengejar sepupu bohonganmu itu ha?!"


Tangan Romeo terkepal kuat. Menahan amarah yang membuncah di palung hatinya dari tadi. Kedua bola mata Romeo merah menyala. Sorot matanya bagaikan iblis' siap menjemput ajal! Romeo tak berniat mengubris perkataan Queen barusan.


Tanpa aba-aba Romeo mencekik leher Queen dengan satu tangan hingga Queen kesusahan bernafas. Kaki Queen sudah terangkat sedikit, sambil tangannya menyentuh tangan Romeo meminta dilepaskan. Nafasnya tercekat. Wajah Queen nampak merah padam.


Sementara itu, Mbok Inah sudah panik luar biasa. Sedari tadi dia berteriak histeris meminta Romeo melepaskan Queen.


"Kau tidak pantas mengatakan Juliet ***-***! Karena kau lah ja-lang yang sesungguhnya! Mati saja kau! Argh!! Gara-gara kau Julietku tersakiti. Semua gara-gara kau!!!" Lolos sudah buliran air mata yang ditahannya sedari tadi. Pria itu menangis tanpa menurunkan cengkraman tangannya. Dia menatap tajam Queen dengan deraian air mata di kedua pipinya.


"Ro-... Lep...."


Romeo semakin mencengkram kuat leher Queen. Kala Queen mulai membuka suara.


"Mati kau wanita gila!!!"


"Den Romeo sadar! Turunkan wanita itu! Turunkan dia, Den. Duh gusti!" Mbok Inah meminta sembari tubuhnya bergerak ke sana kemari. Dia teramat panik. Mbok Inah juga berteriak meminta tolong, walaupun dia tahu saat ini, asisten rumah yang lain sedang pulang kampung.


"Diam!!!" Romeo membentak tanpa menatap Mbok Inah. "Mati kau iblis!" desisnya pelan.


"Berhenti! Tuan muda!" Langkah kaki seseorang terdengar mendekat.


"Argh! Kau menyakiti Julietku! Julietku!" raung Romeo tak menghiraukan suara itu. Dia semakin menggila! Kaki Queen sudah terangkat tinggi.


"Tuan muda! Turunkan wanita itu!"


Dor.


...****************...


Sebagian pembaca mungkin sudah tahu informasi di bab ini. Semoga kita sebagai orangtua mengedukasinya nggak hanya ke anak gadis saja ya. Anak laki-laki juga harus! Ini paling penting.


Kisah nyata disekitar author, perihal nggak ada darah pas malam pertama kena talak sama suaminya. Nyesek nggak tuh, kasihan Ibunya sedih banget anak perempuan satu-satunya kena talak baru aja kemarin nikah. Tapi alhamdulillah, sekarang anaknya udah nikah lagi sama duda juga.

__ADS_1


Btw kalau belum tahu bentuk tampon, di bawah ini ya gambarnya. Biasanya tampon dipakai sama atlet renang kalau lagi menstruasi, tapi sekarang zaman semakin modern. Siapa saja bisa pakai, kalau author mah udah tuir sukanya pakai pembalut. Walaupun ada tampon dan menstrual cup.



__ADS_2