Romeo Dan Wanita Malam

Romeo Dan Wanita Malam
Katakan Dengan Lantang


__ADS_3

Di rumah kaca, terdapat banyak tanaman hidup, pohon-pohon kecil yang menjulang dan berbagai macam bunga menghiasi rumah tersebut.


"Indahnya!" desisnya mengedarkan pandangan disekitar.





Romeo kembali tersenyum, melihat reaksi Juliet."Ayo kita ke sana! Aku kedinginan! Kita harus saling menghangatkan tubuh!" Pria bertubuh atletis itu menyambar cepat tangan Juliet. Juliet pun pasrah karena sekarang ia benar-benar terkesima dengan pemandangan di depan.


Masuk ke dalam lagi. Juliet berdecak kagum. Terdapat kolam renang kecil di sisi kiri. Di sisi kanan gazebo mini berdiri kokoh. Di setiap bagian tiang dihiasi dedaunan yang merambat dan terdapat air mancur pula di tengah-tengah. Di sebelah kanan dan kiri, bunga besar dan kecil terpampang jelas. Sedari tadi, kedua bola mata Juliet enggan berkedip.


"Sayang, buka bajumu!" tutur Romeo tatkala tiba di dekat gazebo. Di sisi kanan gazebo ada lantai kayu berukuran sedang.


"Ha? Ke-na-pa?" Juliet tergugu. Detak jantungnya mulai tak normal. Pikiran Juliet melayang-layang.


"Jangan banyak bertanya sayang, aku tak mau kau sakit!" Romeo membuka cepat kain yang melekat di tubuhnya kemudian melempar asal. Kini, Romeo hanya memakai kain berbentuk segitiga.


Juliet memalingkan muka. Rona merah menghiasi kedua pipinya. Dia masih malu, walaupun sudah pernah melihat tubuh sang suami tapi selalu saja ia dilanda kegugupan. Dia terpesona dengan tubuh Romeo yang menggoda iman.


"Sayang, ayo cepat!" Romeo segera membuka retsleting dress malam Juliet dari belakang. Saat melihat Juliet tak kunjung bergerak.


Juliet membeku di tempat. Anggota tubuhnya seketika kaku. Dia menutup cepat gunungnya kala Romeo membuka pula kain kaca matanya. Muka Juliet sudah memerah seperti kepiting rebus.


Tanpa aba-aba Romeo mengangkat Juliet ala bridal style. Dan merebahkan Juliet di atas lantai kayu.


"Rom, aku-"

__ADS_1


"Shftt!" Romeo menaruh jari telunjuknya di bibir Juliet. Sembari satu tangannya terulur menyambar selimut yang tergeletak di lantai, lalu menutup tubuh sang istri.


Karena kedinginan, Juliet ling-lung. Dahinya berkerut, mengapa ada selimut kecil di sini. Apa memang di rumah kaca selalu ada. Juliet mempererat kain yang menempel ditubuhnya.


"Aku dingin sayang!"Romeo membaringkan diri di samping Juliet. Lalu melingkarkan tangan di perut istrinya.


Juliet menelan saliva dengan kasar kala desiran hangat mengalun lembut dikulitnya. Pikiran Juliet melayang-layang entah kemana. Dan kedua matanya menatap ke atas atap rumah kaca. Air hujan masih menetes bersamaan dengan suara guntur kilat. Dia bingung ingin berbuat apa kala Romeo hanya diam saja sambil mengelus pelan pipinya. Ekor matanya dapat melihat Romeo tengah menatapnya dari samping.


Hening sesaat!


"Sayang," panggil Romeo di telinga Juliet.


"I i-ya." Juliet dapat merasakan hembusan nafas dingin dari nafas Romeo.


"Aku ingin makan."


"Ha? Makan tapi ka-"


"Aku ingin memakanmu!" Romeo menyeringai tipis setelah melepaskan pagutan.


Juliet tak membalas ucapan Romeo. Hanya menatapnya penuh damba. Romeo kembali melabuhkan kecupan di bibir Juliet sembari menurunkan tangan Juliet yang sedari tadi bertengker di dua bola basket.


Nafas keduanya memulai memburu. Romeo mengecup kening Juliet, lalu kembali memagut dengan membuka cepat kain bawah Juliet dan kain miliknya. Juliet melenguh kala Romeo mulai membenamkan kepala di dadanya. Bersamaan pula benda padat di bawah sana berdiri tegap dan sudah siap untuk masuk ke dalam gua. Cukup lama Romeo bermain di area favoritnya.


"Sayang, aku mencintaimu!" Romeo mendorong pusakanya dan mulai bergerak pelan sembari menyatukan jemarinya ke jemari Juliet.


"Aku juga mencintaimu!" Juliet mendesah pelan. Sensasi nikmat menjalar ditubuhnya.


Semula pelan namun lama kelamaan hentakan Romeo semakin cepat dan dalam. Juliet nampak kewalahan, lalu bibirnya mulai membuka.

__ADS_1


"Romeo pelan-pelan!"


"Katakan, sayang, aku mencintaimu! Maka aku akan pelan." Punggung Romeo bergerak naik dan turun dengan cepat.


"Ah h Romeo!" Kedua mata Juliet terpejam lalu berkata,"Sayang, aku mencintaimu!" teriak Juliet.


Bukannya pelan, Romeo malah memacu dengan cepat. Juliet sudah berulang kali memekik. "Sayang, aku mencintaimu!" Meminta Romeo untuk lebih pelan. Namun Romeo tak mengindahkan perkataan Juliet. Tubuh istrinya begitu candu baginya.


Derasnya hujan membuat Romeo tak henti bergerak. Dia benar-benar lapar dan hidangan malam ini adalah istrinya.


Air mancur kecil bersenandung pelan, menemani keduanya bermain kuda. Suara kodok dan jangkring bersahut-sahutan seperti berbincang kala tak sengaja melihat dua insan manusia tenag dimabuk asmara.


Begitu pula sepasang kupu-kupu berwarna merah hitam keluar dari tempat persembunyian, terbang di atas tubuh keduanya. Kemudian kupu-kupu itu saling menempel seperti Romeo dan Juliet yang sedari tadi tak berhenti mendesah dan mengerang nyaring.


Sudah berbagai macam gaya yang dilakukan Romeo. Gaya kupu-kupu terbang, gaya kangguru, gaya doggy doggy, dan terakhir gaya cicak menempel di dinding.


***


Di sisi lain.


"Argh! Romeo hanya milikku!"


Queen meradang sambil menggengam sebilah pisau. Nafasnya memburu. Aura hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Kedua mata melotot, lurus ke dinding. Matanya terpaku pada satu titik di depan sana.


Seekor kucing anggora baru saja naik ke atas meja belajarnya. Matanya menoleh, dan tanpa aba-aba dia menyambar kucing berwarna putih itu, kemudian menusuk kucing dengan membabi buta sebanyak sepuluh kali. Percikkan darah menerpa wajahnya. Raungan suara kucing memenuhi ruangan bercahaya temaram itu.


Satu menit berlalu, hening sesaat.


"Hahahahaha!" Seketika tawa Queen menggelegar setelah tubuh kucing hancur tak berbentuk lagi. Ia menatap kosong hewan munggil itu.

__ADS_1


"Kau harus mati Juliet!!!" jeritnya, dengan pancaran mata merah menyala.


"Hahaha!" Kembali ia tertawa nyaring.


__ADS_2