
Mauren nyaris saja melempar ponsel Rivandra ketika ia tak bisa membukanya tanpa kode yang entah kapan Rivandra buat, seingatnya suaminya itu tidak pernah mengunci ponselnya, bahkan semenjak mereka pacaran dulu. Puas memaki dalam hati suaminya yang sedang tertidur pulas, Mauren melangkahkan kakinya menuju balkon kamar sambil menjinjing tas kain berisi wine pemberian Adrian, hanya minuman itu yang bisa menenangkannya sekarang.
Mauren frutasi, akan lebih mudah baginya jika mengetahui siapa selingkuhan Rivandra, dengan begitu ia tahu apa yang harus ia perbaiki untuk mendapatkan suaminya kembali, tapi ia seperti cemburu pada sosok tak kasat mata, bagaimana cara ia mencari tahu siapa pelakor dalam rumah tangganya, karena berdasarkan penyelidikannya dunia Rivandra hanya seputar rumah sakit dan rumah, ia tak pernah pergi kemana pun lagi belakangan ini, lantas bagaimana dan kapan perselingkuhan itu terjadi?
Penat memikirkan rumah tangganya, Mauren lebih memilih untuk membuka botol dan menenggak minumannya.
...****************...
...“Mauren” suara bariton Rivandra samar terdengar di telinga Mauren, ia malas sekali membuka matanya, pusing dan sakit kepala melandanya sekarang...
...“Mauren, bangun” kali ini bukan hanya suara, tapi sentuhan suaminya terasa di pipinya, hangat. ...
...Mauren mengerjap - ngerjapkan matanya yang buram, samar terlihat wajah suaminya, susah payah ia beringsut duduk dengan kepala yang terasa bak di godam...
...“Kamu mabuk?” Tanya Rivandra khawatir, bukannya menjawab Mauren malah memburu memeluk Rivandra...
...“Rivan, jangan tinggalin aku! aku ga mau kehilangan kamu! aku sayang banget sama kamu!” ucap Mauren sambil terisak, bukan hanya terisak ia menangis sesenggukan ...
...“Maksud kamu apa Mauren?” Tanya Rivandra bingung...
...“Aku tau kamu punya perempuan lain Rivandra, aku tau! Aku mohon Rivan tinggalin dia, kembali lagi sama aku” ucap Mauren diikuti tangisan sedu sedan ...
Deg..
Rivandra seketika lemas, jantungnya berdebar kencang. Bagaimana Mauren tahu tentang hatinya yang telah terbagi? Dan apa dia sudah tahu kalau wanita itu adalah Areta?
...“Rivan, aku akan maafin perselingkuhan kamu, aku cuma minta kamu balik lagi sama aku, tinggalin perempuan itu Rivan, aku mohon” isak tangis Mauren semakin keras nyaris meraung - raung, mengeluarkan sakit yang bercokol di batinnya...
Rivandra tergugu, ia tak pernah melihat Mauren menangis sebelumnya, hatinya tak tega. Tangan yang tadinya diam tak menyentuh kini ia pakai untuk membalas pelukan Mauren
...“Udah jangan nangis lagi, saya ga kemana - mana, saya ga akan ninggalin kamu” ucap Rivandra, rambut Mauren yang acak - acakan ia elus lembut, ciuman pun ia daratkan di pucuk kepalanya...
...“Tinggalin perempuan itu Rivan, aku mohon” pinta Mauren memelas...
Rivandra menghela berat napasnya
...“Ga ada perempuan lain” ucap Rivandra, ia tak mungkin mengakui kalau ada istri yang lain di kehidupannya, bagaimana pun ia sangat mencintai Mauren meskipun Areta sudah mulai punya tempat di hatinya...
Mauren mendongak, matanya yang merah dan sembab menatap Rivandra mencari - cari kebohongan disana
...“Kamu ga bohong kan?” Tanya Mauren penuh harap...
Rivandra menggeleng pelan
...“Ga ada perempuan lain” suara Rivandra gemetaran, sungguh ia tak tega melihat Mauren...
...“Aku lebih baik mati dibanding kehilangan kamu Rivan!” Tandas Mauren...
...“Kamu ga boleh ngomong gitu, ga ada perempuan lain selain kamu Mauren” tutur Rivandra, dekapannya makin erat pada istrinya itu...
...“Janji?” Tohok Mauren...
Deg..
Rivandra tak serta merta bisa berjanji pada Mauren, karena kalau sudah berjanji ia tak mungkin mengingkarinya, tapi bagaimana dengan Areta? Ia harus bertanggung jawab pada istri pertamanya dan anak dalam kandungannya, dan tak mungkin ia menceritakan pada Areta tentang janjinya pada Mauren, ia tak mau kalau sampai Ibu dari anaknya itu sedih dan stress di masa kehamilannya
...“Rivan” Mauren menangkup wajah Rivandra, menatap lekat - lekat netra hitam suaminya, “Janji sama aku!” Titahnya...
...“Iya” ucap Rivandra berat, suaranya bergetar...
...“Terima kasih sayang” ucap Mauren bahagia...
__ADS_1
...****************...
Jika Mauren sedang bahagia, maka Areta sebaliknya. Siang ini hatinya terbakar cemburu melihat bagaimana Mauren dan Rivandra yang berinteraksi mesra selama makan siang, belum lagi tadi pagi keduanya tidak ikut sarapan dan meminta pembantu untuk mengantarkan sarapannya ke kamar, wanita hamil itu uring - uringan membayangkan apa yang mereka lakukan selama di kamar sepanjang pagi.
Pantas saja tak ada pesan mesra yang dikirimkan pagi ini seperti biasa, Rivandra seolah larut dengan kebersamaannya bersama Mauren
...“Syukurlah Mauren sama Rivandra udah mesra lagi ya, Mama sempet khawatir Pa pas ngeliat Rivandra cuek sama Mauren beberapa hari kemarin” ucap Anna pada Julian...
...“Mama ga usah khawatir, paling kemarin cuma lagi marahan, ini buktinya hari ini mereka ga keluar - keluar kamar, keluar cuma buat makan bareng aja kan, udah lah jangan apa - apa dibikin pusing” sahut Julian...
...“Aih, semoga kita segera punya cucu ya Pa, Mama ga sabar pengen gendong anaknya Rivandra” tutur Anna, tanpa Anna tahu obrolannya dengan Julian membuat hati Areta berdarah - darah, Areta yang saat itu sedang mengambil obat Oma tak sengaja mencuri dengar pembicaraan keduanya. ...
Dengan tergesa, Areta memacu langkah menuju kamarnya, malam ini juga ia harus bertemu Rivandra, Areta tak mau menderita sendirian tanpa tahu apa yang terjadi. Tiba di kamarnya Areta sigap meraih ponselnya, nekad memang karena ia mengirimkan pesan pada Rivandra pada saat ia sedang bersama Mauren.
Beberapa pesan sudah Areta kirimkan, sayang ponsel Rivandra tak juga aktif, Areta makin dongkol, ia tak mengerti kenapa Rivandra tiba - tiba berubah sikap dan lebih memilih bersama Mauren, padahal kemarin hubungan mereka masih baik - baik saja dan Rivandra pun sudah berjanji, Areta menarik napasnya dalam - dalam, mencoba membuang semua pikiran negatifnya tentang Rivandra, harapannya semoga malam ini ia bisa mendapatkan penjelasan.
Tapi harapan tinggal harapan, pria itu tak juga mengaktifkan ponselnya hingga malam hari, untuk bicara langsung pun tak mungkin karena Mauren lengket tak terlepas dari gandengan Rivandra, bahkan ketika makan malam tiba, meja makan sudah seperti medan perang untuk Areta, sedih dan amarah bercampur jadi satu melihat Mauren yang menyuapi Rivandra dengan telaten
...“Rivandra ga bisa makan sendiri apa?” Tanya Rossy, ia tak tega melihat wajah Areta yang menggelap sendu, sementara Rivandra sesekali menatap Areta, tak berani lama karena Mauren intens menyuapinya...
...“Hehehe.. maklum lagi kasmaran lagi Kak” ucap Mauren malu - malu, Rossy hanya bisa mendengus kesal...
...“Norak!” Sinis Oma Mieke...
...“Mama, biarlah” ucap Anna tak enak pada Mauren, Julian sigap meraih tangan istrinya, mengkode agar bungkam, tak ingin drama terjadi saat makan, meladeni omongan Oma sama saja dengan membuat acara santap mereka menjadi ajang debat...
...“Saya makan sendiri aja Mauren” ucap Rivandra tak nyaman, tangannya terulur meraih sendok yang dipegang Mauren...
...”ih ga apa - apa sayang, kan kita udah janji untuk lebih romantis lagi” rengek Mauren manja...
Orang tua mana yang tak senang melihat anak dan menantunya mesra, Anna sampai beberapa kali ikut senyum - senyum melihat Mauren yang sibuk memanjakan Rivandra
...“Mama seneng banget kalian bisa romantis kayak dulu lagi, sempet khawatir pas beberapa hari kalian perang dingin, sama - sama sibuk, masa suami istri begitu, kapan punya anaknya coba?!” cerocos Anna...
sementara Areta tenang menarik napasnya melegakan dada yang sesak, tak boleh ada yang tahu betapa sakit hatinya sekarang
...“Bisa dong Kak, nanti aku ajarin masakan apa pun yang di request Kak Rivandra, biar Kak Rivandra makin sayang sama Kak Mauren” tandas Areta, senyumnya mengembang...
...“Astaga” gumam Rossy pelan, setelah Rivandra kini ia yang memijit pelipisnya ngilu membayangkan bagaimana perasaan Areta sekarang...
...“Nah bagus itu Areta, tolong bantu Mauren ya, heemm.. coba aja kalau kamu jadi sama Kenzo, pasti seneng banget dia sama Mamanya dapet menantu yang jago masak, tapi ya sudah lah” ucap Anna...
...“Ma sudah lah, itu kan keputusan Areta” tutur Julian...
...“Iya iya, sudah lah” ketus Anna, masih kesal sepertinya...
...“Ahahaha.. maaf ya Tante, Om, tolong do’akan saja semoga Areta dapet jodoh yang lebih baik di banding Kenzo” ucap Areta ringan...
Jleb..
Hati Rivandra bak di sayat, sakit tak berdarah
...“Bisa gila aku” gumam Rossy bermonolog lagi, ia pusing dengan drama rumah tangga gelap Rivandra ...
...“Kalau perlu nanti Tante yang carikan Areta! kamu sukanya yang seperti apa?” Tanya Anna antusias...
...“Ma, sudah biar Areta cari sendiri” ucap Julian...
...“Mama cuma pengen Areta dapet calon yang baik, Pa.. atau mau ga Tante kenalin sama orang kepercayaannya Om Julian di kantor?” ...
Julian menghela napasnya, “Mama” tekannya lagi
__ADS_1
...“Iya iya sudah” setelah itu Anna bungkam...
...“Do’akan dia dapat suami yang ga nyakitin hatinya, itu saja sudah cukup” tandas Oma...
Glek..
Kini hati Rivandra serasa ditonjok, tepat sasaran di ulu hatinya, Omanya itu kalau bicara selalu tanpa filter meskipun omongannya hampir selalu benar
...“Oma udah kenyang Areta, anter Oma ke kamar aja, males liat orang yang terlalu bucin begitu” ucap Oma, masih sinis ...
Mauren hanya mesam mesem, sudah kebal sepertinya terhadap omongan pedas Oma Mieke
Areta bangkit dari duduknya, “Permisi semuanya” ucap Areta ramah sambil mendorong kursi roda Oma beranjak dari situ. Rivandra menatap nanar punggung Areta yang berrjalan menjauh perasaan bersalah menggelayut di hatinya sekarang, malam ini ia akan menemui Areta untuk menjelaskan semuanya.
...****************...
“Trek Trek” Areta menekan saklar lampu dapur, seketika dapur yang gelap gulita menjadi terang benderang, langkah Areta gontai menuju kursi, duduk sebentar disana sambil mengucek matanya yang sudah mengantuk, kalau saja perutnya tidak lapar tentu ia sudah bergulung dengan selimut sekarang
...“Makan apa ya?” Gumamnya bermonolog, ia hening sebentar menimbang makanan yang ingin ia makan, setelah itu ia bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari penyimpanan, lagi - lagi pilihannya jatuh pada sebungkus mi instan, ia kemudian segera menuju kompor dan mulai memasak, tak sabar karena perutnya sudah sulit diajak kompromi...
Air liur Areta nyaris menetes mencium aroma mi yang baru saja matang di mangkuknya
...“Lagi masak apa Areta?” Suara Anna yang lembut itu itu mengagetkan Areta, hampir saja ia berteriak, Areta sampai mengelus - elus dadanya...
...“M - maaf Tante, Areta lagi masak mi” jawab Areta kikuk...
...“Wangi banget, Tante mau dong” ucap Anna...
Areta melongo
...“Tante mau makan mi?” ...
...“Ya mau, sambil ngobrol - ngobrol sama kamu” ...
...“Ah iya, sebentar Areta masakin dulu Tante” sahut Areta, tangannya gemetaran, baru pertama kali ini ia berduaan dengan Anna, mertua gelapnya....
Tak lama Areta menyajikan mi untuk Anna, ia lalu meraih mi miliknya yang sudah mengembang, tak apalah.. sebenarnya ia sudah tak selera, berduaan dengan Sarah membuatnya gugup luar biasa
...“Areta, Tante mau minta tolong sama kamu” ucap Anna, tatapannya lembut dan meneduhkan...
...“Boleh Tante, apa yang bisa Areta bantu?” Tanya Areta, Anna sudah sangat baik padanya, tak mungkin kalau Areta sampai tak membantunya...
...“Kamu kan deket sama Mauren, bisa ga kalau kamu ngomong sama dia untuk berhenti syuting, kalau Tante yang ngomong langsung takutnya dia tersinggung, bukan apa - apa Areta Tante udah pengen cepet - cepet gendong cucu dari Mauren sama Rivandra”...
Jika badannya teriris pisau tajam mungkin tidak akan sesakit hati Areta sekarang, astaga.. bagaimana dia bisa lupa diri kalau ia hanya selevel dengan para pelayan di rumah itu, bagaimana ia bisa berharap bisa menjadi menantu dari Nyonya besar di depannya, sangat mustahil. Hanya Mauren menantu mereka, tak ada satu pun yang kurang dari Mauren untuk menjadi menantu mereka. Sedangkan ia, berstatus menantu karena kecelakaan, anaknya pun datang bukan karena diharapkan, Areta merasa sangat miris pada hidupnya sekarang, teramat miris.
...“Gimana Areta, bisa?” Tanya Anna lagi...
Areta mengangguk lemah
...“Saya akan coba Tante” ucapnya...
...“Terima kasih ya Areta, ngomong sama Maurennya kalau pas Rivandra praktek aja, kalau pas dia di rumah kita jangan sampai ganggu mereka, biarin mereka romantis - romantisan dulu, kalau perlu ga usah pada keluar kamar” ucap Anna bersemangat, wajahnya berseri bahagia...
...“Iya Tante” ucap Areta, jangan tanya hatinya bagaimana, ia hancur berkeping - keping, air matanya nyaris keluar menangisi kebodohannya yang berharap menjadi istri dan menantu yang diakui, nyatanya itu tak mungkin....
Selesai bersantap, Anna kembali ke kamarnya, sementara Areta membereskan bekas makan mereka dengan perasaan yang hancur lebur. Setelah selesai, Areta beranjak menuju kamarnya dengan gontai. Sayang, begitu hendak menuju kamar hatinya kembali remuk redam, Rivandra dan Mauren tengah berciuman mesra. Rivandra yang saat itu hendak menuju kamar Areta terpaksa harus mengurungkan niatnya karena Mauren ternyata mengikutinya, merasa rumah sudah sepi Mauren agresif mencium Rivandra tepat saat Areta hendak menuju kamarnya, langkah Areta tak terhenti, namun terasa melayang, pandangannya buram, telinganya berdenging, hatinya ngilu.
...“Eh maaf Areta, kirain ga ada orang” ucap Mauren kikuk melihat Areta yang lewat di depan mereka, sementara Rivandra pucat pasi...
...“Ga apa - apa Kak, aku pura - pura ga lihat kok.. hehehe” ucap Areta sambil menutup matanya dengan kedua tangannya, mata yang merembes basah entah sejak kapan....
__ADS_1
“Blam” Areta menutup pintu kamarnya, “klek” lalu ia menguncinya, tak sanggup menahan sesak di dadanya Areta beringsut membaringkan diri kasurnya, memejamkan matanya yang berkunang - kunang dan basah.