
Sepanjang perjalanan hati Anna tak karuan, ia sangat menyesali kebodohannya, tentang semua ucapannya pada seluruh keluarganya terutama Areta, bagaimana ia bisa menghadapi keluarganya sekarang? Anna jelas belum siap untuk bertemu anggota keluarganya, yang tadinya mobil menuju ke rumah ia minta sopir untuk merubah arah menuju ke hotel, ia butuh menenangkan diri dulu sebentar sebelum nanti ia menghadapi keluarganya untuk meminta maaf, terutama pada Areta.
Di tempat lain, April baru saja sampai di kediaman Julian, April yang sudah bekerja selama bertahun - tahun pada Julian senagai salah satu orang kepercayaan Julian itu diminta untuk mengantarkan berkas yang akan Julian bawa keluar kota
...“Ini berkasnya Om” ucap April pada Julian yang sudah bersiap hendak menuju bandara ...
...“Oh iya, terima kasih.. semua data yang saya minta sudah ada disini kan?” Tanya Julian sambil membuka - buka lembar per lembar dokumen yang April bawa...
...“Sudah semua Om” sahut April mantap, Julian mengangguk - angguk, senyum puas terbit di wajahnya, semakin hari April berhasil menunjukkan dirinya sebagai orang yang bisa diandalkan, pekerjaannya selalu memuaskan dan nyaris tanpa cela...
Saat Julian masih memindai dokumen, kepala April celingukan menjelajahi seluruh rumah mencari keberadaan Areta, sahabat yang begitu ia rindukan. Kesibukannya yang teramat di kantor Julian membuat keduanya tidak sempat bertemu, ditambah ada yang April ingin ceritakan pada sahabat sejatinya itu
...“Maaf Om, apa Areta ada di rumah?” Tanya April sungkan, meskipun Julian sudah menganggap April sebagai keluarganya tapi tetap saja pria kharismatik itu adalah bos besarnya di kantor...
...“Areta lagi main sama Lily di taman belakang, kamu langsung kesana aja Pril, kebetulan Om mau minta tolong sama kamu untuk ngobrol sama Areta, sepertinya dia lagi butuh tempat buat cerita” sahut Julian...
April mengerutkan keningnya, kali pertama Julian memberinya perintah diluar urusan pekerjaan, kalau sampai Julian meminta tolong padanya apa ada sesuatu yang sedang terjadi pada Areta? Batin April
...“Baik Om, kalau begitu saya permisi masuk ke dalam” ujar April, Julian mengangguk mengiyakan ...
April tak perlu lagi mencari - cari dimana taman belakang, ia sudah hapal betul denah rumah mewah Julian itu, ia sudah sering kali masuk kesana, baik untuk urusan pekerjaan maupun untuk menemui Areta dan Lily
Senyum April sumringah tatkala melihat Lily yang tengah berlari kecil kesana kemari, sementara Areta dan seorang pengasuhnya tampak kepayahan mengekori Lily, anak perempuan cantik itu memang aktif luar biasa, gen dari Rivandra.
...“Ta!” Panggil April pada sahabatnya, Areta menoleh pada April, senyum Areta lebar melihat kedatangan April, setengah berlari ia memburu sahabatnya, lalu memeluknya erat melepaskan kerinduannya...
...“Kamu kemana aja? Aku pikir kamu udah lupa jalan ke rumah ini, Pril!” Seloroh Areta...
...“Ahahaha.. maafkan aku yang sibuk nguli ya Ta! bukannya lupa tapi aku bener - bener ga ada waktu, belakangan kerjaan di kantor Papa mertua kamu sedang banyak - banyaknya” sahut April, wanita tomboy yang kini feminin itu lalu gerak cepat menghampiri Lily, membawanya dalam gendongan...
...“Keponakan cantik Tante nih, hemmmmm wangi banget, bikin tambah gemes!” Ucap April sambil menduselkan wajahnya ke perut Lily, anak kecil cantik itu sontak tertawa geli, setelah itu April malah jadi lupa pada Areta, ia sibuk bermain dengan Lily, Areta kalem menunggunya, sesekali tawa Areta pecah saat April bertingkah konyol demi membuat Lily tertawa...
Puas bermain dengan putri kecil Areta, April ingat kembali pada tujuan awalnya ingin menemui Areta, rasa penasarannya kembali muncul, khawatir pun ada kalau sahabatnya itu sedang mengalami masalah. Areta seolah tahu kalau ada yang ingin April bicarakan, ia kemudian memerintahkan pengasuh Lily untuk membawa Lily ke kamarnya.
Kini hanya tinggal mereka berdua duduk bersisian di depan hamparan kebun bunga mawar milik Oma
...“Kak Rivandra udah berangkat ke rumah sakit?” Tanya April membuka pembicaraan mereka...
...“Udah Pril, tadi barengan sama Mas Pandu” jawab Areta...
...“Ta, sebenarnya ada yang mau aku ceritain, bukan cerita sih tepatnya aku mau minta pendapat” tutur April...
...Areta menoleh pada April, mendapati wajah serius April, Areta urung menggoda sahabatnya itu, “ngomong aja Pril, ada apa?” Tanya Areta dengan ekspresi yang berubah serius juga...
...April menggaruk tak gatal kepalanya, “ya bukan masalah besar sih, hanya aja aku ragu Ta, takut nyesel!” Sahut April...
...“Bagus kalau kamu takut nyesel duluan, artinya kamu hati - hati Pril, ini masalah kerjaan ya?” Tanya Areta...
...April menggeleng, “bukan Ta, ini masalah perasaan dan masa depan” sahut April ...
...“Mas Raja?” Todong Areta, ia memang mengetahui jika April berhubungan dengan adik dari Pandu itu...
...April mengangguk pelan, senyumnya terbit, “kemarin Mas Raja ngelamar aku Ta, dia minta aku jadi istrinya” ...
...Mata Areta membola, senyum lebar penuh antusias menghiasi wajahnya, “serius Pril? Terus terus gimana? Kamu terima atau gimana?” Cecar Areta tak sabaran...
...“Kalau aku udah ngambil keputusan, aku ga bakalan minta pendapat kamu lagi dong Ta!” Tandas April, Areta tergelak melihat sahabatnya sewot dengan bibir manyun ...
...“Apa yang bikin kamu ragu April?” Tanya Areta...
April hening sejenak, ia lalu melayangkan pandangannya pada hamparan bunga mawar yang sedang bermekaran, tatapannya kemudian menerawang, bersamaan dengan itu Julian melangkahkan kaki ke halaman belakang untuk menemui April untuk mempertanyakan data di dokumen yang ia bawa, namun langkahnya terhenti ketika melihat kedua sahabat itu tampak sedang serius, tak seperti biasanya yang penuh canda dan tawa, Julian lebih memilih untuk menunggu sebentar dibalik tembok pembatas
...“Aku ragu karena aku merasa ga pantes buat Mas Raja Ta, terlalu jauh berbeda” ucap April, “dia ibarat di langit, aku di bumi bagian pelosok, kasta dan level kami berbeda” tambah April lirih ...
...Areta menggenggam tangan sahabatnya itu, ia paham betul apa yang gadis itu rasakan, “Seandainya kondisinya sedang tak seperti ini, aku pasti akan bilang sama kamu kalau kamu ga perlu mikirin perbedaan kasta si miskin dan si kaya, pendidikan, latar belakang, atau apa pun itu, tapi nyatanya hari ini aku sadar betul kalau perbedaan itu nyata adanya” tutur Areta, wajahnya kini tertunduk menyembunyikan kubangan bening yang mulai menghiasi matanya...
__ADS_1
April menoleh pada sahabatnya itu dengan pandangan menelisik, sedang Julian di belakang mereka mulai penasaran dengan maksud omongan menantunya barusan
...“Ada apa Ta? Apa kamu lagi ada masalah? Kamu lagi berantem sama Kak Rivan?” Selidik April...
...Areta menggeleng pelan, “Kak Rivan sangat baik Pril, sangat baik! Bukan dia masalahnya, tapi aku masalahnya” sahut Areta kini air matanya lolos sudah, Areta mengusap kasar air matanya meskipun air mata baru kembali mengaliri pipinya...
April mengerutkan keningnya, melihat sahabatnya menangis jelas ia semakin ingin tahu apa yang terjadi, ia kesampingkan dulu masalah dirinya untuk fokus pada Areta
...“Ta, kamu kenapa?” Tanya April dengan suara gemetaran, terenyuh melihat Areta yang sepertinya kembali terluka...
...“Mungkin orang - orang seperti kita harusnya tidak masuk ke dalam kehidupan orang - orang kaya seperti ini Pril, harusnya kita sadar diri bahwa bagaimana pun kita kaum bawah yang tak punya tempat diantara mereka - mereka si kaya” sahut Areta sendu, “Pagi ini Mama Anna menyadarkanku Pril, kalau aku si miskin bin yatim piatu tak pantas buat anaknya yang sempurna” tutur Areta lagi, meski senyum terbit di bibirnya yang bergetar tapi air matanya lolos lagi...
...“Memangnya Tante Anna ngomong apa Ta?” Tanya April, tangannya mengelus - elus rambut Areta berharap agar mengurangi lara Areta, meskipun air matanya pun kini ikut tumpah...
Mungkin karena tak kuasa lagi menahan luka, Areta pelan tapi pasti menceritakan pada April semua masalah yang menyangkut Laura, hingga omongan Anna tadi pagi padanya
Air mata April banjir sudah, tak ia sangka dalam kurun waktu absennya ia menemui Areta, sahabatnya itu sedang dilanda masalah, April pikir Areta baik - baik saja dan bahagia dengan kehidupannya yang sempurna
...“Itu makanya aku ga bisa berpendapat apa - apa soal lamaran Mas Raja sama kamu Pril, di satu sisi aku ingin meyakinkan kamu untuk menerima pinangan kakak angkatku itu, tapi disisi lain aku khawatir kamu akan mengalami hal yang sama, meskipun aku tahu Mama Amel dan Papa Radit adalah orang yang baik, tapi tetap saja aku khawatir Pril” tutur Areta panjang lebar...
...April mengangguk mengerti, “lantas apa yang akan kamu lakukan sekarang Ta?”...
...Areta menghela napasnya, “Kak Rivan ngajak pindah ke rumah kami sendiri Ta” sahut Areta lesu...
...“Bagus dong Ta, jadi kalian bisa berumah tangga dengan tenang!” Tutur April antusias...
...Areta menggeleng, “aku ga mau misahin Kak Rivan dengan keluarganya Pril, dari dulu Mama Anna dan Papa Julian selalu bilang kalau Kak Rivan ga boleh keluar dari rumah ini, aku ga mau kalau Kak Rivan sampai melawan orang tuanya sendiri Pril, kasian mereka”...
...April agak kesal sih pada Areta, karena setelah diberi luka oleh Anna ia masih saja memikirkan mertuanya itu, tapi memprovokasi Areta sekarang bukanlah hal yang bijak, “tapi gimana dengan perasaan kamu Ta?” ...
Areta hanya menjawab pertanyaan April dengan senyum, senyum berbalut luka
Julian yang masih setia mendengar pembicaraan keduanya, segera masuk lagi ke dalam rumah, ia lalu merogoh saku jasnya untuk meraih ponselnya disana, ia lalu menghubungi asistennya untuk membatalkan acaranya diluar kota, ada hal yang jauh lebih penting yang harus ia lakukan sekarang
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anna menghirup napas dalam - dalam lalu mengeluarkannya pelan untuk mengusir kegugupannya, perlahan tapi pasti ia turun dari mobilnya lalu berjalan pelan masuk ke dalam rumah dengan perasaan tak karuan, tapi ia harus memberanikan diri untuk menghadapi dan meminta maaf pada seluruh anggota keluarganya, sungguh ia sangat menyesali perbuatannya.
Anna melayangkan pandangan ke sekeliling rumah yang teramat sepi, tak seperti biasanya, meskipun sebagian orang berangkat untuk melaksanakan aktifitasnya masing - masing tapi biasanya masih ada suara senandung Oma, atau tawa renyah dan celotehan Lily, tapi sekarang rumah itu bak kuburan heningnya
...Tak lama Bi Jum tergupuh datang dengan wajah bingung, “Loh, Nyonya kok pulang lagi? Apa ada yang ketinggalan?” Tanya Bi Jum...
Giliran Anna yang bingung, “ini saya baru pulang Bi” sahut Anna
...Kening Bi Jum semakin tertekuk, “Oh Nyonya ga ikut Tuan Julian dan rombongan ya?” Tanya Bi Jum...
...Anna terhenyak kaget, “Apa Tuan pergi Bi? Rombongan? Maksdunya rombongan siapa Bi?” Cecar Anna dengan mata membola...
...“Iya Tuan Julian pergi Nya, sama semuanya, sama Tuan Rivandra, Nyonya Areta, Nyonya Rossy, Tuan Pandu, Nyonya besar Oma, Nona princess Lily, sama satu pengasuh dan tiga pembantu, pake tiga mobil yang besar - besar, Nya! Bawa barang - barang banyak juga kok! Emangnya Nyonya ga tau?” Cerocos Bi Jum...
Anna terbelalak kaget, pergi kemana suaminya itu? Dan kenapa membawa banyak sekali orang plus barang? Kenapa juga Julian tak memberitahunya? Astaga, apa benar omongan Oma? Apa ia memang ditinggal sendiri?
Tanpa basa basi dan setengah berlari Anna menuju ke kamarnya, Bi Jum yang masih bingung setia mengekori di belakangnya, Anna menerobos kamarnya lalu langsung menuju walk in closet, lutut Anna gemetaran saat melihat koper Julian dan banyak baju tak ada di tempatnya, belum puas memastikan, Anna lalu berjalan cepat menuju kamar cucunya, di kamar Lily pun sama, koper dan banyak baju Lily sudah tak lagi di tempatnya. Anna tak patah arang, ia lalu merogoh ponsel di dalam tasnya untuk mencoba menghubungi Julian, sayang suaminya itu tak juga menjawab panggilannya, Anna lalu beralih menghubungi Rivandra, hal yang sama pun terjadi Rivandra tak menjawab panggilannya, begitu pun dengan anggota keluarga yang lain
Badan Anna lemas sudah, ia limbung terduduk di lantai, Bi Jum langsung memburunya, “ya Allah Gusti, Nya… Nyonya kenapa?” Tanya Bi Jum panik, Bi Jum lalu membantu majikannya itu untuk duduk di sofa
...“Semua ninggalin saya Bi! Semua ninggalin saya!” Ujar Anna sambil terisak, “suami, anak, menantu, cucu, mertua, semuanya ninggalin saya karena kebodohan saya Bi!” Tambah Anna lagi kini tangisnya sesenggukan ...
Bi Jum tak mampu berucap, ia hanya mampu mengipasi majikannya itu agar bisa tetap sadar
...“Saya menyesal Bi, saya menyesal telah membela ular dan malah menyerang keluarga saya sendiri, terutama Areta!” Lirih Anna lagi ...
...“Yang sabar, Nya!” Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Bi Jum karena ia pun tak mengetahui duduk perkaranya, yang ia tahu hanya tadi tiba - tiba Julian mengerahkan para pembantu untuk membantu semua anggota keluarga mengemasi barang - barang mereka, Rivandra dan Pandu bahkan diminta Julian untuk pulang dari rumah sakit segera...
Anna belum menyerah, dengan sisa tenaga yang ia miliki ia menghubungi asisten Julian, berharap bisa menemukan jejak keberadaan Julian dan keluarganya, tapi Anna lagi - lagi harus kecewa karena sang asisten pun tak mengetahui keberadaan Julian. Semakin frustasi aja Anna, ia kini terduduk lemas dengan air mata yang terus saja mengalir, di dampingi oleh Bi Jum yang mendampinginya dengan setia.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu menjelang sore ketika Bi Jum membangunkan dengan lembut Anna yang terpejam di sofa, Bi Jum terenyuh melihat Anna yang tertidur dengan memeluk selimut kecil milik Lily
...“Ada apa Bi? Apa Tuan Julian udah pulang?” Tanya Anna begitu terbangun dari tidurnya...
Bi Jum menggeleng pelan, “bukan Tuan Nyonya, tapi Pak Sam, sopir Tuan yang datang, katanya disuruh jemput Nyonya” sahut Bi Jum, Anna sontak kaget namun senyum kemudian merekah karena artinya ia bisa bertemu dengan Julian lagi, mungkin juga dengan anggota keluarganya yang lain
...“Suruh tunggu sebentar Bi, saya siap - siap dulu” sahut Anna antusias, Bi Jum mengangguk senang, ikut bahagia melihat Anna yang kembali bersemangat...
**
Perjalanan menuju tempat dimana Julian berada sekarang ternyata cukup jauh, sudah dua jam Anna duduk tak sabaran di kursi penumpang, beberapa kali ia bertanya pada Pak Sam kemana tujuan mereka, tapi Pak Sam tak juga membuka mulut.
Anna terbelalak melihat dimana ternyata Julian berada ketika mereka sampai, sebuah resort di tepi pantai lengkap dengan lapangan golf yang terbentang luas. Begitu turun dari mobil Anna langsung saja menyusuri halaman resort, kepalanya celingukan mencari keberadaan sang suami dengan jantung berdebar, sebelum Anna memastikan melihat Julian dengan mata kepalanya sendiri, Anna masih khawatir.
Senyum Anna merekah ketika melihat suaminya tengah duduk di samping Oma Mieke keduanya sedang menikmati matahari tenggelam di balkon resort, Anna setengah berlari memburu suaminya
...“Papa! Papa! Pa, Maafin Mama Pak, tolong jangan tinggalin Mama” ucap Anna sambil mendekap suaminya yang bangkit berdiri ketika melihat Anna...
Julian menahan tawanya mendapati istrinya yang panik, Oma pun sama, puas melihat ketakutan di wajah Anna, sesekali Anna memang harus diberi pelajaran atas keras kepalanya yang akut
...“Mama kenapa sih?” Tanya Julian sambil mengurai pelukannya, pura - pura tak mengerti...
...“Pa, Mama emang bodoh, Mama keras kepala! Ternyata bener omongan Papa, omongan Oma dan anak - anak kita, Anggun ternyata memang ular Pa! Dia dan anaknya menipu Mama, selama puluhan tahun dia benci sama Mama Pa!” Tutur Anna sambil terisak...
Julian tersenyum lega karena istrinya akhirnya sadar juga, ia lalu mendudukkan istrinya di kursi sebelah Oma, begitu duduk Anna langsung menoleh pada mertuanya itu, tangannya refleks mencium tangan mertuanya dengan khidmat
...“Maafin saya Oma, maaf karena saya ga percaya peringatan dari Oma!” Tutur Anna lirih, Oma dengan lembut mengelus rambut menantunya...
...“Sudahlah Anna, yang penting kamu sudah tahu siapa Anggun sesungguhnya” ucap Oma bijak...
...“Lihatlah kesana Ma!” Tunjuk Julian pada Anna, ia memperlihatkan Rivandra dan Areta yang sedang berjalan bergandengan di tepi pantai, sedang Rossy dan Pandu sedang asyik bermain ombak kecil dengan Lily...
...“Papa semakin hari semakin sadar kalau Rivandra dan Areta tulus saling mencintai, mereka saling memuja dan mengasihi, terutama Rivandra. Papa ga bisa bayangin akan seperti apa Rivandra jika sampai ditinggal lagi oleh Areta, mungkin bisa - bisa dia jadi gila!” Tutur Julian...
...Anna kaget mendengar penuturan Julian, “kok Papa ngomong gitu? Jangan ngomong gitu Pa, pamali!” Sewot Anna...
...“Mungkin itu akan terjadi kalau Mama seperti tadi pagi pada Areta! Tadi siang Papa ga sengaja mendengar pembicaraan Areta dan April, omongan Mama membuat Areta merasa ga pantas buat Rivandra, yang membuat Papa sedih adalah Areta menangis Ma, mertua macam apa kita yang membuat menantunya menangis?” Tutur Julian sendu...
Anna tertunduk dalam menyadari kesalahannya, perasaan bersalahnya pada Areta semakin membuncah, ia tanpa sadar menyakiti hati menantunya
...“Jangan anggap dia menantu Anna, angggap dia anakmu sendiri! Inget Anna, ga selamanya kita hidup di dunia ini, pada saat kita pergi nanti, kita akan menitipkan anak - anak kita pada menantu kita, mereka yang akan mendampingi anak - anak kita sepanjang sisa hidup mereka, itu juga yang aku lakukan padamu, aku sayangi kamu sebagai anak bukan menantu, karena aku tau kalau kamu mencintai dan menyayangi Julian” tutur Oma...
Anna belum berani mendongak, ia masih tertunduk, sumpah demi apa pun ia sangat menyesali ucapannya pada Areta tadi pagi
...“Sama seperti Rivandra, dulu banyak yang mendekatiku agar aku menjodohkan Julian dengan anak mereka, dari mulai kalangan pejabat sampai artis - artis, temen - temen konglomerat Papanya Julian juga gencar menawarkan anaknya, tapi aku tetap pada keputusanku untuk mendukung hubungan kalian, meskipun jadinya aku banyak kehilangan teman dan relasi, aku tak peduli!” Cerocos Oma...
...Anna mendongak menatap mertuanya, “saya sangat menyesal Oma, kenapa saya ga bisa memperlakukan Areta sebagaimana Oma memperlakukan saya, padahal Areta anak yang baik dan penurut” ujar Anna berderai air mata...
...“Minta maaflah padanya, dan berjanjilah dalam hatimu untuk tidak lagi menyakiti hatinya!” Titah Oma, Anna mengangguk menyanggupi...
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam ketika Rivandra, Areta, Rossy, Pandu dengan mengemban Lily memutuskan untuk kembali ke resort, namun hati Areta menciut ketika melihat Anna dari kejauhan, langkahnya sudah tak seringan tadi, bahkan saat sampai di resort Areta lebih memilih untuk menyembunyikan dirinya dibalik punggung tegap Rivandra
Menyadari ketakutan Areta padanya, hati Anna mencelos, benar kata Julian mertua seperti apa dia hingga menantunya pun takut untuk bertemu dengannya?
...Anna sontak bangkit berdiri dan menghampiri Areta, ia lalu meraih tangan menantunya itu dan menarik Areta ke dalam pelukannya, “Maafin Mama sayang, Mama ga bermaksud menyakiti hati kamu, maafin kebodohan Mama, Mama benar - benar menyesal”...
Rivandra dan Rossy saling pandang dengan kening mengkerut, tapi saat melihat senyum di wajah Julian dan Oma ia mengerti apa yang terjadi
...Areta sih masih bingung, entah apa yang terjadi pada Anna, tapi itu tak penting baginya, permintaan maaf Anna dan penyesalannya membuat hati Areta lega, Areta membalas pelukan mertuanya, “Iya Ma, Areta juga minta maaf karena belum bisa jadi menantu yang baik” sahutnya...
...Anna melepas pelukannya, “siapa bilang? Justru kamu sudah menunjukkan sisi terbaik seorang menantu! Tunggu, kamu bukan menantu, kamu putri Mama, salah satu kesayangan Mama” ucap Anna yang membuat senyum terbit di wajah Areta...
Lembayung senja di tepi pantai melengkapi kebahagiaan keluarga Julian, apalagi setelah itu mereka menghabiskan waktu dengan menggelar acara barbeque, sebenarnya kepergian rombongan ke resort tanpa memberi tahu Anna itu semua adalah rencana Julian, setelah mendengar percakapan April dan Areta ia kesal bukan main pada istrinya, ia lalu menyusun rencana seolah - seolah mereka semua meninggalkan Anna, Julian bahkan melarang semuanya untuk mengangkat telepon atau membalas pesan dari Anna, padahal Julian hanya ingin mengajak semuanya berlibur dari ketegangan yang beberapa hari ini terjadi, umpan Julian ternyata berhasil, kini Anna menyadari betul kesalahannya, wajah Julian kini dipenuhi senyum bahagia melihat canda tawa keluarganya.
__ADS_1