Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Usaha Fabian dan Mauren


__ADS_3

Fabian melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, seharian ini terasa begitu menyiksa, tak ada satu pun materi rapat yang masuk ke otaknya, alhasil ia membubarkan rapat sebelum waktunya karena pikirannya terus saja berkelana pada Areta.


Entah dimana wanita itu sekarang, sampai saat ini ia tak bisa menghubungi Areta, sepertinya nomer ponselnya sudah di blokir oleh wanita itu, terakhir yang ia dengar dari Mauren bahwa Areta diminta mengurus cabang perusahaan Rossy, tapi dimana alamatnya Mauren pun tak tahu


...“Payah bener kamu Mauren” gumamnya gemas pada adiknya, entah pada siapa ia harus bertanya dimana Areta sekarang, pada Rossy maupun Rivandra jelas tak mungkin, terlalu jelas terlihat niatnya....


...“Aaarrggghhhhhh!” Teriak Fabian frustasi sambil melempar tumpukan kertas di depannya, punggungnya lalu ia sandarkan di kursi kerjanya, tangannya menyugar rambutnya yang klimis...


Tak mau menyerah Fabian lalu memutar otaknya, Areta memang pribadi tertutup tapi pasti ia memiliki teman paling tidak semasa ia kuliah dulu. Fabian lalu meraih ponselnya, jarinya bergerak tak sabar mengetik pesan pada beberapa orang sekaligus, juniornya di kampus dulu. Fabian memang populer di kampusnya, tak sulit buatnya untuk meminta tolong pada para junior yang mengidolakannya.


Fabian menunggu dengan tak sabar balasan untuk pesannya, jarinya mengetuk - ngetuk meja dengan mata yang tak lepas dari ponselnya, saat ponselnya itu berbunyi beberapa kali tanda pesan masuk, ia sigap membuka aplikasi perpesanan, senyumnya lalu terbit


...“Oh nama temennya itu April” gumam Fabian sumringah...


...****************...


April menyesap lattenya dengan tak tenang, kepalanya celingukan mencari sosok yang meminta April untuk bertemu di cafe dekat kantornya.


...“Dia yang maksa, dia yang telat.. untung ganteng” gumam April bermonolog...


Tak lama sosok yang April tunggu datang, kedatangan pria jangkung itu menarik perhatian para pengunjung cafe, selain wajah dan badannya yang di atas rata - rata, penampilan Fabian lengkap dengan setelan jas dan dasi khas eksekutif muda


April, si tomboi melambaikan tangannya pada Fabian yang masih celingukan mencari sosok April yang belum pernah ia temui sebelumnya, saat melihat lambaian tangan April, Fabian berjalan mendekat


“April?” Tanya Fabian sambil tersenyum


...“Beuh, pantes aja si Areta naksir Kak Fabian dari kecil, ternyata dari deket makin keliatan gantengnya” gumam April pelan, April berdiri lalu mengulurkan tangannya...


...“April, Kak” ucap April...


...Fabian menyambut uluran tangan April, “Fabian” sahutnya, kedua orang itu kemudian mendudukkan diri...


...“Kak Fabian mau nanyain soal Areta ya?” Todong April tanpa basa basi, memang pasti itu tujuannya, untuk apa coba seorang Fabian sampai ngotot ingin menemuinya...


...“Kamu tahu dimana Areta?” Tanya Fabian tanpa basa basi...


April hening, ia sudah berjanji pada Areta untuk tak memberi tahukan dimana ia sekarang pada siapa pun, terutama Fabian. Melihat kebingungan di wajah April, Fabian yakin bahwa wanita di depannya itu tahu lebih banyak dari yang ia pikirkan


...“Apa kamu tahu kalau Areta hamil?” Tanya Fabian lagi, penuh selidik...


Deg..


April terbelalak kaget, astaga.. darimana pria di depannya itu tahu rahasia Areta? Batin April. April salah tingkah, latte yang tadi hanya di sesap kini ia tenggak hingga nyaris tandas, terlihat sekali gugupnya


...“April, bisa tolong kamu cerita apa yang terjadi pada Areta?” Tanya Fabian lagi, “percaya sama saya April, saya ga punya niat jelek pada Areta, justru saya ingin mengeluarkannya dari masalah yang sedang dia hadapi, saya sayang sama Areta, April” tambah Fabian, mencoba untuk meyakinkan April...


April makin bimbang, kalau minta persetujuan Areta dulu sudah pasti Areta akan menolak mentah - mentah tawaran bantuan dari Fabian, tapi di sisi lain mungkin Fabian punya jalan keluar yang lebih baik darinya selain mengajak Areta kabur


April mengusap - usap wajahnya frustasi,


...“Kak Fabian kemana aja? Kenapa Kak Fabian ga bawa kabur Areta yang jauh dari dulu? Kalau dari dulu Kak Fabian bawa pergi Areta, dia ga akan terlibat dalam masalah gede kayak gini Kak! Apa Kak Fabian ga tau kalau Areta suka banget sama Kak Fabian dari dia kecil?” Cerocos April...


Pandangan mata Fabian yang tadinya mengintimidasi kini berubah penuh sesal

__ADS_1


...“Apa yang terjadi sama Areta, April?” Tanya Fabian lagi, fokus pada keingin tahuannya tentang Areta...


April masih ragu, keberaniannya turun naik


...“Aaaahhhh sudahlah!” Pekik April pusing sambil menggebrak meja, beberapa pengunjung menoleh penasaran pada asal keributan, setelah itu mereka sibuk kembali pada urusannya masing - masing. ...


April menarik napasnya..


...“Beberapa bulan lalu Areta dipaksa nikah sama warga karena difitnah mesum pas dia lagi sembunyi dari begal sama seorang cowok Kak” tutur April...


Fabian tercekat kaget, “jadi Areta udah nikah?” Tanyanya, ia sungguh tak bisa percaya apa yang ia bisa dengar


April mengangguk, “parahnya cowok itu juga punya istri yang lain, tapi yang paling mengerikan Areta diperkosa sama cowok sialan itu saat dia dibawah pengaruh obat perangsang, Kak” jelas April, matanya sudah merah hendak menangis.


Sedangkan Fabian, meskipun ia sudah menduga bahwa kehamilan Areta karena pemerkosaan, tapi mendengarnya secara langsung dari April membuat hati Fabian menggelap, tangannya terkepal memendam murka pada laki - laki bejat yang sudah menikahi dan menodai Areta


...“Dan sekarang Areta terjebak dengan pernikahan yang mengerikan Kak, dia dan anaknya disembunyikan oleh suaminya sendiri” tambah April...


...“Siapa laki - laki berengsek itu, April?” Cecar Fabian ...


April menggeleng, untuk yang satu itu jelas ia tak bisa cerita, karena dengan menceritakan bahwa Rivandra lah pelakunya pada Fabian, sudah pasti nanti ujung - ujungnya Areta yang akan jadi korban.


...“Maaf Kak, aku cuma bisa cerita itu aja, selebihnya aku udah terikat janji pada Areta untuk ga cerita sama siapa - siapa, yang pasti kalau memang Kak Fabian sayang sama Areta, Kak Fabian pikirkan dulu baik - baik kondisi Areta, kalau Kak Fabian sudah yakin untuk membawa dia pergi jauh, tugas Kakak untuk meyakinkan Areta, nanti aku bantu mempertemukan Kakak dan Areta” tawar April...


Fabian memang tak puas dengan jawaban April, tapi paling tidak kini ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Areta, mengenai siapa laki - laki yang telah menghancurkan hidup Areta, jelas ia akan mencari tahu, laki - laki berengsek seperti itu harus diberi pelajaran, tapi tujuan utamanya sekarang adalah untuk mendapatkan Areta dan mengeluarkannya dari kemelut yang sedang membelenggu.


...****************...


...“Mbok Jum, udah selesai belum?” Tanya Anna pada Mbok Jum yang masih sibukmengulek bumbu rujak ...


...“Bentar lagi Nya, tinggal bumbu rujaknya yang belum” sahut Mbok Jum, “lagian makanan sebanyak ini mau dibawa kemana toh Nya?” Tanya Mbok Jum penasaran...


...“Buat menantu temen saya yang lagi hamil muda Mbok Jum” sahut Anna asal, senyumnya tak lepas, Mbok Jum cuma ber ‘oh’ ria, setelah itu lanjut mengulek bumbu rujaknya...


Mauren yang baru saja turun dari kamarnya menghampiri mertuanya itu, matanya memandangi jejeran wadah - wadah berisi berbagai macam makanan


...“Mama ada arisan?” Tanya Mauren pada Anna, Anna terhenyak melihat Mauren lalu berubah gugup, tangannya buru - buru memasukkan wadah - wadah makanan itu ke dalam kantung kain...


...“Mama mau jenguk menantu temen Mama, dia lagi hamil muda” sahut Anna tanpa menatap Mauren, “Mbok Jum, buruan!” Tambah Anna tak sabaran dan salah tingkah...


Mendengar jawaban mertuanya wajah Mauren berubah sendu, ia tahu mertuanya itu begitu mengharapkan seorang cucu, bahkan hanya menjenguk menantu temannya yang sedang hamil pun Anna sebegitu senangnya, apalagi kalau menantunya sendiri yang hamil, batin Mauren


Tangan Mauren terulur meraih tangan mertuanya dan menggenggamnya, setelah kejadian pertengkaran pertamanya dan Rivandra beberapa hari yang lalu, Mauren memang gencar mendekati mertuanya itu sesuai dengan arahan Mama dan Papanya.


...“Mauren minta maaf ya karena belum bisa memberikan Mama cucu, tapi Mauren janji Mauren akan berusaha lebih maksimal lagi buat ngasih Mama cucu” ucap Mauren, Anna menoleh pada menantunya, sebelah tangannya menangkup wajah Mauren...


...“Yang sabar aja sayang, jangan terlalu dipaksakan ya, puas - puasin aja dulu sama masa muda kalian, lagian karir kamu lagi bagus - bagusnya kan? Udah ya, Mama pergi dulu” ucap Anna tergesa, sambil beranjak dari situ diekori beberapa orang pembantu yang tangannya penuh membawa kantung - kantung berisi makanan...


Mauren mengerutkan keningnya, tak biasanya Anna bicara seperti itu kalau masalah cucu, selama ini Anna lah yang paling ngotot agar Rivandra dan Mauren segera punya anak, Anna sampai meminta bantuan Areta untuk membujuknya agar berhenti syuting dengan harapan Mauren bisa fokus pada program kehamilannya, apa Mama Anna sudah menyerah membujuknya untuk segera memberikan cucu? Tidak, itu tidak boleh terjadi, ia harus segera bisa memberikan keluarga itu penerus, agar ikatannya dengan Rivandra dan keluarga itu semakin kuat, batin Mauren.


...“Rivan, hari ini kamu ada jadwal operasi ga?” Tanya Mauren pada suaminya yang sedang memasang dasi, Rivandra sudah rapi dan tampan, siap untuk melaksanakan pekerjaannya di rumah sakit, semenjak terbongkarnya status ia dan Areta oleh orang tuanya, beban besarnya seolah terangkat, ia lebih bersemangat menjalani hari setiap mengingat ada anak dan dua orang istri yang harus dinafkahinya....


...“Hari ini tindakan operasi diambil alih sama dokter bedah yang lain, saya cuma mau menghadiri beberapa rapat, kenapa?” Tanya Rivandra...

__ADS_1


Mauren mendekati suaminya, wajahnya memanja dengan senyum menggoda, tangannya sibuk membetul - betulkan dasi Rivandra


...“Aku boleh ikut ke rumah sakit ga?” Rengek Mauren...


...“Heeemm, tumben” sahut Rivandra sambil membelai - belai rambut istrinya...


...“Nanti dari rumah sakit kita ke dokter kandungan ya, aku dapet referensi dari temen artisku, katanya ada dokter kandungan yang bagus, banyak yang udah berhasil hamil ngikutin programnya” rayu Mauren...


Rivandra menimbang sebentar, sebenarnya ia berencana untuk menemui Areta dan anaknya, rindu sudah kembali melandanya setelah kemarin ia absen mengunjungi Areta, tapi melihat wajah Mauren yang memelas ia tak sampai hati untuk menolak


...“Oke” sahut Rivandra sambil meraih Mauren dalam pelukannya, sialnya meskipun Mauren yang kini ia dekap tapi otaknya dikuasai nama Areta, seperti tato, nama itu begitu sulit dihilangkan. ...


...****************...


Kedatangan Rivandra dan sang istri ke rumah sakit sudah pasti menyita perhatian, para staf dan pengunjung rumah sakit sibuk meminta foto pada sang artis sekaligus Nyonya pemilik rumah sakit, afeksi keduanya menjadi topik hangat pagi itu, satu kata yang terucap dari bibir setiap orang “serasi”, prianya tampan, dokter bedah handal, dan keluarga konglomerat, sedang wanitanya cantik, artis terkenal, dan adik dari pengusaha tampan yang kini sedang naik daun.


Mauren setia menunggu suaminya yang sibuk memimpin beberapa rapat, kali pertama ia datang ke rumah sakit milik suaminya itu, rasa bangga menyelimuti hatinya, tapi kekhawatiran juga tak bisa ia kesampingkan melihat antusiasme para perawat dan dokter perempuan ketika melihat Rivandra, kalau tau kondisinya seperti itu sudah dari dulu Mauren datang ke kantor suaminya, jiwanya yang posesif dan pencemburu tak akan mengizinkannya untuk tetap tenang sementara banyak penggoda disana, mulai hari itu ia memutuskan untuk sesering mungkin ikut suaminya bekerja.


Hari sudah beranjak sore ketika Rivandra dan Mauren sampai di klinik kandungan yang dituju, mereka masuk tanpa mengantri karena Mauren sudah membuat janji terlebih dahulu, semuanya mulus hingga Mauren dan Rivandra masuk ke ruangan dokter kandungan yang tak lain adalah dokter Kartini, dokter kandungan Areta


Glek..


Rivandra menelan ludahnya ketika bertatap muka dengan dokter Kartini, meskipun dokter Kartini bertingkah wajar sesuai kode etik kedokteran, tapi tetap saja Rivandra khawatir jika suatu saat dokter Kartini tanpa sadar menceritakan tentang Areta, tapi semoga saja tidak.


Dokter Kartini memindai hasil USG rahim Mauren di depannya


...“Ibu Mauren bisa ikut perawat saya untuk tensi darah dan tes lainnya di ruangan sebelah?” Titah dokter Kartini, Mauren mengangguk lalu mengikuti perawat yang memimpin jalannya di depan...


Sepeninggal Mauren dan perawat, Rivandra berdehem memecah keheningan antara dirinya dan dokter Kartini


...“Maaf dokter, mengenai Areta..” tutur Rivandra ragu, tak mampu melanjutkan...


Dokter Kartini yang tengah sibuk menulis pada secarik kertas mendongak


...“Saya mengerti dokter, dokter tenang saja saya ga akan melanggar kode etik kedokteran dengan menyebarkan masalah pribadi pasien saya” tutur dokter Kartini, paham akan kekhawatiran Rivandra, Rivandra menghela napasnya lega...


...“Lagipula saya paham kenapa dokter nikah lagi dengan Bu Areta, kemungkinan Bu Mauren untuk hamil itu memang sangat kecil dok” tutur dokter Kartini...


Deg..


Rivandra terpartri di tempatnya, ia begitu kaget mendengar penuturan dokter Kartini


...“Maaf apa dokter belum tau soal ini? Apa ini pemeriksaan pertama Bu Mauren?” Tanya dokter Kartini sesaat setelah ia melihat wajah terkejut Rivandra ...


Rivandra mengangguk pelan


...“Maaf, saya pikir ini bukan pertama kalinya pemeriksaan dilakukan” tutur dokter Kartini, “dok, saya turut prihatin karena menurut hasil pemeriksaan saya, prosedur aborsi yang pernah dilakukan oleh Bu Mauren dulu menyebabkan infeksi rahim, sehingga kemungkinan Bu Mauren untuk hamil sangat kecil” tambah dokter Kartini...


Rivandra masih mematung, belum hilang kekagetannya tadi, kini ia bak disambar petir


Mauren pernah aborsi? Bagaimana mungkin? Kegilaan apa ini? Batin Rivandra yang merasakan dunianya seketika runtuh


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2