Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Akhir Kecurangan


__ADS_3

Seisi rumah Julian heboh dan panik pagi ini, Mimi yang mengawali huru hara ketika ia berteriak sambil berlari - lari memanggil Anna dan Rossy, Mimi baru saja mengetuk pintu kamar Rivandra dan Mauren untuk membereskan hasil kekacauan yang Mauren buat tadi malam, ternyata pintu tak terkunci dan sedikit terbuka, dengan takut - takut Mimi membuka perlahan pintu kamar itu karena tak juga mendapat sahutan dari Tuan dan Nyonya empunya kamar, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Mauren yang tergolek tak berdaya dengan tangan yang bersimbah darah,


Mendengar teriakan Mimi, anggota keluarga yang masih ada di rumah gupuh menghampiri Mimi yang terduduk lemas di lantai ruang tengah, Mimi dengan bibir gemetaran menyampaikan berita yang membuat Anna, Rossy, dan para pembantu terhenyak kaget. Anna dengan tergesa naik menuju kamar Mauren, sementara Rossy sigap memakai ponselnya untuk menghubungi Rivandra


Tak lama seorang dokter dan dua orang perawat yang sepertinya ditugaskan oleh Rivandra datang, dokter bernama Pandu itu segera memeriksa kondisi Mauren, sementara dua orang perawat sibuk membersihkan luka di tangan Mauren, sedang Rivandra tak juga muncul meskipun Anna terus saja menghubungi dan mengiriminya pesan agar segera pulang


Melihat kamar Mauren yang seperti kapal pecah, Bi Jum, Mimi dan beberapa orang pembantu yang lain dengan cepat membersihkan serpihan beling dan barang - barang yang berserakan di lantai, sesekali mereka mencuri lihat kondisi Mauren yang masih juga belum sadarkan diri


...“Rose, apa adikmu belum datang juga? Mama udah hubungi dia puluhan kali tapi ga satu pun yang dia respon, apa sih yang dia pikirkan? Apa dia ga khawatir kalau Mauren sampai kenapa - kenapa?” Cerocos Anna panik...


...“Sudah lah Ma, kalau sampai Rivandra mengutus orang lain artinya dia memang ga bisa datang langsung atau dia punya pertimbangan lain Ma, Rivandra itu pinter dan ga pernah ngambil langkah sembarangan, sekarang yang penting Mauren sudah diatasi, kita tunggu aja hasil pemeriksaan dokter Pandu” tutur Rossy menenangkan Mamanya yang sebentar - sebentar duduk lalu berdiri gelisah...


...“Mama lama - lama bisa stress Rossy, rumah ini bener - bener ga pernah tenang, baru beberapa hari yang lalu Mama kehilangan cucu, terus Areta pergi, tadi malem Mauren ngamuk lagi, dan paginya dia mau bunuh diri. Ya Tuhan salah apa Mama nyampe dapet cobaan kayak gini” tutur Anna frustasi...


Rossy menatap prihatin Ibunya yang kelihatan putus asa, bagaimana tidak, mungkin bermimpi pun Anna tak pernah mendapati berbagai macam kekacauan yang terjadi di rumahnya belakangan ini.


Tak lama dokter Pandu keluar dari kamar Mauren, Anna dan Rossy tergesa menghampiri dokter tampan berkaca mata itu


...“Gimana keadaannya dok?” Tanya Anna cemas...


Dokter Pandu menghela pelan napasnya dan membenarkan posisi kacamatanya


...”Syukurlah luka sayatan tidak sampai ke pembuluh darah utama, lukanya juga ga terlalu dalam jadi hanya luka sayatan di permukaan saja” ...


Giliran Anna yang menghembuskan lega napasnya


...“Itu kan masalah lukanya dok, kalau masalah kejiwaannya gimana? Kok bisa - bisanya dia mau bunuh diri! Menurut dokter apa dia ada kelainan jiwa atau gimana?” Sewot Rossy...


...“Huussss Rose!” Anna memperingatkan, Anna tak enak pada dokter Pandu yang mungkin tak nyaman dengan pertanyaan Rossy, tapi tanpa di duga dokter itu menatap Rossy dengan tenangnya, ada tatapan kagum dan damba pada wajah cantik Rossy juga disana, Rossy yang tadinya marah - marah jadi salah tingkah dibuatnya...


Dokter Pandu berdehem, menetralisir debaran jantungnya yang tak karuan


...“Begini, untuk apa motivasi Nyonya Mauren melakukan percobaan bunuh diri, bisa dikonsultasikan dengan psikolog atau nanti sesuai arahan dokter Rivandra saja” tutur dokter Pandu...


Anna mengangguk mengerti


...“Mauren! Ya Tuhan, Mauren anakku!” Susan yang baru saja datang berteriak dengan histerisnya, wajahnya merah dan basah karena air mata...


...“Besan apa yang terjadi ini?” Cecar Dani pada Anna...


...Anna menghela berat napasnya, entah keributan apalagi yang akan terjadi...


...”Ayo masuk saja” ucap Anna sambil memimpin masuk ke kamar Mauren...


Jeritan histeris kembali terdengar ketika Susan melihat kondisi anaknya yang masih terlelap dengan sebelah pergelangan tangan yang dibalut perban


Susan memburu mendekati anaknya


...”Astaga Mauren, malang sekali nasibmu Nak” ratap Susan sambil terisak...


Dani menatap pilu anaknya, lalu menjatuhkan pandangannya pada Anna


...”Bagaimana ini bisa terjadi besan? Dan dimana Nak Rivandra? Apa dalam situasi seperti ini dia ga pulang menemui istrinya?” Cecar Dani pada Anna...


...“Mungkin sebentar lagi Pak Dani” tutur Anna tak nyaman...


...“Pa, ini gimana Pa? Kasian anak kita Pa!” Susan masih saja histeris meratapi Mauren...


Tak lama Julian datang, hampir bersamaan dengan kedatangan Rivandra. Wajah Julian tampak tak senang, jengah dengan kemelut yang selalu merundung keluarganya, sementara Rivandra tampak tenang - tenang saja, Rivandra berbincang sebentar dengan dokter Pandu sebelum kemudian ia bergabung di kamar Mauren


Melihat Julian, Dani tak melewatkan kesempatan, ia langsung mendekati Dani dengan wajah sendu


...“Besan, kami tau anak kami punya kekurangan, karena musibah yang menimpanya di masa lalu, dia tak bisa memberikan keturunan, tapi melihatnya seperti ini apa besan tega? Tolong kebijaksanaannya besan” tutur Dani...


Julian terdiam, entah enggan menanggapi atau tak mengerti maksud Julian, namun Anna yang berdiri disamping Julian yang mengerutkan keningnya


...“Maksudnya apa Pak Dani?” Tanya Anna...


...”Kami mendengar dari Mauren bahwa keluarga disini menyalahkan Mauren atas peristiwa keguguran yang menimpa Areta, sehingga Mauren disudutkan, bahkan Nak Rivandra sudah mengancam akan menceraikan” tutur Dani, wajahnya ia buat semendung mungkin...


Deg..


Julian dan Anna terkesiap, Rossy tak kalah kagetnya, sementara Rivandra mengeraskan rahangnya, kini ia mengerti skenario apa yang tengah Mauren buat, dan semua ini tak lepas dari campur tangan orang tuanya, ya dia yakin sekarang kalau orang tua Mauren mengetahui kebenarannya dan sekarang mereka tengah bersusah payah untuk membereskan dan menutupi semua kecurangan Mauren


...“Pak Dani, hal yang wajar kalau kami mempertanyakan apa yang terjadi pada Mauren ketika peristiwa keguguran itu, karena Mauren memang ada di tempat kejadian” tandas Anna ...


...“Saya mengerti besan, tapi percayalah Mauren tak mungkin punya niat untuk mencelakai Areta apalagi sampai ingin menggugurkan kandungan Areta, Mauren juga menginginkan anak itu untuk ia asuh bersama Nak Rivandra” ucap Dani tak mau kalah, Rivandra ingin sekali tertawa melihat bagaimana Dani berjuang memutar balikan fakta...


Susan mengusap air matanya


...“Bukannya kalian sendiri yang bilang kalau ga mempermasalahkan kekurangan Mauren, ga apa - apa kalau ga ada anak di pernikahan Mauren dan Rivandra, tapi ketika musibah keguguran terjadi kenapa Mauren yang disalahkan? bahkan sampai akan diceraikan! lihatlah dia sekarang, dia sampai mau bunuh diri!" ucap Susan, tangisnya kembali pecah, menyempurnakan drama mereka untuk memutar balikan fakta seolah Mauren yang terluka...


Dada Anna bergemuruh penuh amarah mendengar ucapan Susan

__ADS_1


...“Loh apa salah kami kalau Mauren mengambil jalan pintas seperti ini? Bahkan kami pun sudah tak mengungkit lagi, hanya Mauren saja yang bertingkah berlebihan dengan membuat keributan tiap malam” sengit Anna...


Mauren yang sebenarnya sudah tersadar dari obat penenang yang diberikan oleh dokter Pandu hanya diam mendengarkan dengan mata yang tetap ia pejamkan


Di saat adu argumen terjadi di lantai dua, Fabian yang juga ikut datang ke rumah itu setelah mendengar kabar tentang Mauren, justru melangkah menuju kamar Oma Mieke


...“Kau disini cucu Oma yang tampan?” Tanya Oma Mieke pada Fabian ketika melihat pria itu di ambang pintu kamarnya, pria itu merekahkan senyumnya lalu mendekati Oma Mieke dan mencium punggung tangannya...


...“Apa kamu ga menemui adikmu itu?” Tanya Oma...


Fabian mendengus


...”Sudah banyak orang yang menemani Mauren Oma” tuturnya, Fabian lalu mendudukkan dirinya di kursi samping Oma Mieke...


...“Apa kamu sudah mendengar kabar apa pun tentang Areta?” Tanya Oma penuh harap, tapi pria itu menggeleng pelan, wajahnya sendu...


...Oma menatap wajah sedih Fabian “Kamu mencintai Areta?” Tanya Oma, Fabian mengangguk mantap...


Oma menghela napasnya


...”Percayalah, seandainya Rivandra tak mencintai Areta dan begitu pun sebaliknya, Oma pasti mendukungmu untuk bersama Areta, kamu sudah Oma anggap sebagai cucu Oma sendiri, Oma sayang sama kamu karena menurut Oma diantara keluarga kamu cuma kamu yang waras” jelas Oma pada Fabian...


...Fabian terkekeh “Itu makanya saya ingin memberikan hadiah ini pada Oma” tuturnya sambil menyodorkan ponsel pada Oma Mieke, Oma mengerutkan keningnya...


...“Aih Oma sudah tua Fabian, Oma ga perlu ponsel terbaru seperti itu, ponsel Oma masih bagus kalau cuma untuk berkirim pesan dan menggosip bersama teman - teman Oma” ...


Fabian tersenyum, pria itu lalu memainkan jarinya di atas layar ponsel tersebut, setelah itu memperdengarkan rekaman pembicaraan keluarganya yang ia ambil tempo hari


Oma tak mengerti awalnya, tapi setelah mendengar dengan seksama Oma Mieke terhenyak, mulutnya sampai menganga


...“Astaga Fabian, apa ini pembicaraan antara orang tuamu dan Mauren?” Tanya Oma tak percaya, ia tak terkejut dengan kenyataan bahwa Mauren punya affair dengan Dave, itu ia sudah tahu, tapi yang membuat Oma terkejut ternyata orang tua Mauren pun mengetahuinya dan menutupi faktanya...


...“Saya malu karena harus jadi bagian dari keluarga berengsek itu Oma, saya hanya memikirkan Oma dan Areta ketika mendengar pembicaraan mereka, saya ga bisa terima cara mereka merendahkan Areta, dan saya ga bisa terima bagaimana mereka menipu Oma, Tante Anna dan Om Julian, makanya saya antarkan ini untuk Oma” tutur Fabian ...


Oma mengelus surai Fabian


...”Terima kasih” ucap Oma tulus...


...Fabian mengangguk, “Hanya ini yang saya bisa lakukan untuk Areta, saya terlambat menyelamatkannya dari derita yang berkepanjangan akibat Papa dan Mama karena saya pengecut, saya ga berani membawa dia lari dari rumah karena saya merasa tak bisa hidup tanpa harta orang tua saya, akhirnya dia harus hidup menderita bertahun - tahun, saya menyesal Oma” tutur Fabian sambil memijit pangkal hidungnya, matanya sudah mulai berkaca - kaca...


...“Apa kamu akan mencarinya Fabian?” Tanya Oma, Fabian mengangguk tanpa ragu...


...“Saya ga akan berhenti sampai saya tau dia baik - baik aja Oma, maaf tanpa mengurangi rasa hormat pada Oma, jika bertemu dengan Areta nanti, saya akan tetap menawarkan Areta untuk pergi bersama saya kalau memang dia mau” ucap Fabian...


...Fabian tersenyum puas “terima kasih Oma, kalau begitu saya permisi dulu”, pria Itu lalu beranjak dari kamar Oma Mieke, meninggalkan Oma Mieke yang menggenggam erat ponsel berisi bukti kuat untuk memisahkan Rivandra dan Mauren...


...****************...


Julian, Anna, Dani dan Susan kini sedang duduk diluar kamar Mauren dalam suasana canggung menunggu Mauren membuka matanya, sedang Rivandra yang masih berada di dalam kamarnya hanya memandang dingin pada Mauren sambil menyandarkan badannya di dinding kamar dengan tangan bersedekap


...“Bangun Mauren, saya tau kamu sudah sadar dari tadi” tutur Rivandra dingin...


Mauren mengerjap - ngerjapkan matanya, berpura - pura seolah - olah ia baru sadar, ia lalu pelan beringsut duduk


...“Rivan, aku ga mau hidup kalau tanpa kamu Rivan, aku lebih baik mati!” Tutur Mauren histeris ...


Rivandra tertawa begitu puasnya


...”Kamu lupa kalau saya dokter, Mauren? Saya tau seberapa parah luka kamu, dan seberapa besar niat kamu untuk membunuh diri kamu sendiri, kamu hanya menggertak Mauren, ini hanya skenario kamu yang lain” ...


Mauren menggeleng - gelengkan kepalanya, dadanya bergemuruh hebat, entah dengan cara apalagi meluluhkan hati Rivandra sekarang, bahkan skenario bunuh dirinya pun tak mempan


Rivandra maju mendekati Mauren, lalu menyeringai


...”Lakukan sesukamu Mauren, atau perlu saya ajarkan pembuluh darah yang mana yang harus kamu sayat agar akting kamu sempurna?” ...


...”Rivan!” Sentak Mauren histeris, Mauren semakin telak saja...


...“Asal kamu tau Mauren, saya sudah mengurus berkas perceraian kita, saya juga sudah menunjuk pengacara perceraian”...


Deg..


Mata Mauren membelalak, jantungnya nyaris copot, dunia seolah berhenti berputar


...“Jadi kamu santai saja disini, istirahat, pulihkan luka bekas bunuh diri kamu itu sambil menunggu surat panggilan pengadilan yang saya pastikan akan datang ke rumah ini atau ke rumah kamu” tambah Rivandra seolah belum puas menghujamkan belati ke jantung Mauren...


...“Enggak Rivan, enggak! Sampai kapan pun aku ga mau cerai dari kamu! Kamu ga punya alasan buat menceraikan aku Rivan!” Pekik Mauren dengan tangis meraung - raung...


...“Saya punya sejuta alasan untuk menceraikan kamu Mauren, tapi yang paling membuat saya ingin segera menyelesaikan semuanya adalah perselingkuhan kamu dengan Dave Sahid dua tahun yang lalu. Ya, Mauren.. saya sudah tau semuanya” tutur Rivandra dengan senyum puas ...


Belum selesai rasa terkejutnya atas perceraian yang sudah di depan mata, kini dunia Mauren seolah runtuh seketika saat Rivandra dengan gamblang menyebutkan dosanya di masa lalu


Mauren menelan salivanya, ia lalu beringsut duduk dan mendekati Rivandra

__ADS_1


...“Apa yang kamu bicarakan Rivan? Darimana kamu dengar semua omong kosong itu? Itu fitnah!” Pekik Mauren...


...“Terus saja mengelak Mauren, kita liat berapa lama kamu akan bertahan dalam lebohongan kamu, Mauren!” Ucap Rivandra sambil beranjak dari kamarnya, Mauren tak tinggal diam, ia memburu mengejar Rivandra yang terus saja berjalan tanpa mau mendengar Mauren yang memanggil - manggil namanya, langkah Rivandra tak berhenti bahkan ketika kedua orang tuanya dan mertuanya memandangnya dengan penuh tanya, langkah Rivandra pasti menuruni anak tangga turun ke lantai satu, Mauren setengah berlari mengejarnya, kedua orang tua Rivandra dan Mauren pun ikut mengekorinya...


...“Rivandra tunggu! Itu semua fitnah, itu semua bohong!” Pekik Mauren histeris...


Rivandra tak bergeming, ia terus saja melangkah, Rossy dan dokter Pandu yang berada di lantai satu pun tak pelak dibuat penasaran


...“Itu permainan kamu kan Rivan, supaya kamu bisa cerai sama aku dan bebas dengan pelacur itu, benar kan Rivan?” Pekik Mauren dengan jari menunjuk - nunjuk, wajah Mauren sebegitu marah dan takutnya, dengan air mata membasahi pipinya...


Langkah Rivandra terhenti, giginya gemeretak menahan marah


...“Hentikan Mauren! Sudah cukup kamu menutupi semua kebusukan kamu!” Sentak Rivandra...


Atmosfer mencekam kembali menghantui rumah Julian, pertengkaran hebat antara Rivandra dan Mauren di ruang tengah itu menjadi magnet perhatian untuk seisi rumah


...“Kamu membentakku untuk si pelacur itu Rivan? Kamu mencintainya hah? Katakan dengan jelas Rivan, katakan di depan semua orang kalau kamu jatuh hati pada Areta!” Tantang Mauren...


...“Iya Mauren, saya jatuh cinta pada Areta, saya mencintai dia!” Sentak Rivandra...


Mauren mematung tak percaya apa yang ia dengar, begitu pun dengan Susan dan Dani yang terhenyak


Merasa ada celah untuk memutar balikan keadaan, Dani sigap menggunakannya


...“Apa - apaan ini besan? Besan dengar kan barusan? Pantas saja kalau Mauren sampai ingin bunuh diri” sewot Dani...


...“Pak Dani, dengar dulu penjelasan Rivandra, saya kenal anak saya!” Sengit Julian, Dani terdiam, wajahnya berubah pucat pasi, ia sangat khawatir Rivandra akan membuka semuanya, dan tak menutup kemungkinan kalau Rivandra punya bukti...


...“Rivan, Mama tadi denger tentang kebusukan, kebusukan apa Rivan? Apa yang kamu maksud?” Giliran Anna yang angkat bicara, ia sebegitu penasarannya...


Susan, Dani, dan Mauren seolah berhenti bernapas, khawatir apa yang mereka sembunyikan akan terbuka malam ini


...“Ma, Rivandra terlalu percaya kabar bohong Ma, fitnah yang ingin menjatuhkanku!” Sanggah Mauren dengan tangis sesenggukan pada Anna...


...“Diam kamu Mauren! Biarkan Rivan menjelaskan semuanya!” Sentak Rossy yang sama penasarannya dengan Anna, Mauren semakin gemetaran saja...


...“Rossy benar, beberkan semuanya Rivandra!” Titah Oma yang baru saja datang bergabung di ruang penghakiman dosa masa lalu Mauren...


Rivandra menyeringai sambil menatap Mauren yang menunduk


...“Jadi dua tahun yang lalu, bukan pemerkosaan yang dialami Mauren, tapi atas dasar suka sama suka hingga Mauren hamil, karena dia saya lamar dan pasangan selingkuhnya pun sedang menjalani hubungan dengan wanita lain, mereka berdua sepakat untuk membunuh bayi dalam kandungan Mauren”...


Deg..


...“Ha? Gimana bisa Rivan? Ya Tuhan” tutur Anna yang terduduk lemas ...


...Dani dan Susan tak tinggal diam, mereka langsung mendekati Anna dan Julian “Besan, itu semua fitnah, anak kami tidak mungkin melakukan hal sekeji itu” tutur Dani ...


Julian mengeraskan rahangnya dan tak menggubris omongan Dani, ia sibuk menenangkan Anna yang nyaris pingsan


...“Rivan, kamu serius? Kamu yakin Rivan?” Cecar Rossy yang masih tak percaya...


...“Rose, Oma harap kamu kuat setelah mendengarkan ini” ucap Oma sambil memperdengarkan rekaman percakapan yang diserahkan oleh Fabian tadi, kini semua hening dalam diam mendengarkan dan mencerna apa yang ada dalam rekaman itu...


Deg..


Dani dan Susan seketika lemas, badan mereka gemetaran, tamat sudah riwayat mereka kali ini, entah siapa yang merekam pembicaraan mereka hingga bisa jatuh ke tangan Oma Mieke


Rossy bak tersambar petir mendengar nama mantan suaminya disebut, itu artinya Dave menghamili Mauren ketika mereka baru berhubungan asmara? Rossy nyaris saja limbung jatuh, beruntung ada dokter Pandu yang memburunya dan membimbingnya untuk duduk


...Anna semakin drop saja, “Pa, ini gila Pa! Ini menjijikkan, kasian Rivandra Pa!” ucapnya sambil terisak dalam pangkuan Julian...


Tangis Mauren pecah meraung - raung dan semakin menjadi - jadi


...”Itu semua bohong, itu semua rekayasa! Rekaman itu hanya rekayasa agar aku dan Rivandra berpisah, bohong! Fitnah!” ...


Rivandra semakin semangat membuka semua bukti - bukti yang ia miliki, beberapa foto kebersamaan Mauren dan Dave yang berhasil ia kumpulkan beberapa hari ini dari mantan asisten Mauren yang telah dipecat pun ia munculkan, perjuangannya untuk mendapatkan bukti kecurangan Mauren tak sia - sia, ditambah bukti yang dipegang Oma Mieke yang entah dari siapa.


...“Astaga” Julian begitu shocknya begitu melihat foto - foto yang diperlihatkan Rivandra, Rossy lebih lagi ia tak menyangka bahwa adik iparnya sendiri adalah selingkuhan mantan suaminya...


...“Dasar wanita murahan kamu Mauren! Ga tau diri kamu, menjijikan!” Sengit Rossy yang lalu terisak, Anna memburu anaknya itu, memeluk dan menenangkannya...


Sudah terlanjur basah Mauren lebih memilih untun mandi sekalian


...”Maafin aku Rivan, maaf! Itu semua aku lakukan demi kamu, agar aku pantas bersanding dengan kamu!” Tangis Mauren semakin meraung, dunianya hancur seketika...


Julian sudah tak dapat lagi menahan kemarahannya


...“Keluar kalian dari rumah saya, keluar!” Sentaknya membahana...


Dani dan Susan dengan hati dan harga diri yang hancur lebur kemudian melangkah dengan gontai dan tertunduk, menyeret Mauren yang masih saja menangis histeris untuk keluar dari rumah itu


...“Enggak Rivan, tolong Rivan aku ga bisa hidup tanpa kamu Rivan, maafin aku Rivan!” Pekik Mauren, dunia dan langit seolah runtuh seketika dan menimpanya, kenyataan yang ia tutup dengan rapi kini sudah terbuka dengan bukti yang tak mungkin ia sangkal lagi, hidupnya terasa hancur seketika, entah apa yang akan ia lakukan, mendapatkan Rivandra lagi adalah suatu kemustahilan baginya. ...

__ADS_1


__ADS_2