Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Curahan Hati Rivandra


__ADS_3

...“Ma, apa Mama yakin ini yang terbaik?” Tanya Rivandra gusar, bagaimana mungkin Mauren dan Areta berada dalam satu rumah setelah Mauren mengetahui tentang pernikahannya dan Areta, itu pun tanpa minta pertimbangannya dulu, sore ini Anna tiba - tiba meminta Rivandra untuk pulang ke rumah, lalu menggiringnya ke ruang kerja Julian, tempat mereka berbincang sekarang...


Anna berdecak


...“Mama juga ngomong begitu sama Mauren tapi Mauren keukeuh, Aretanya juga ga keberatan, terus Mama mau ngomong apa coba? Astaga kepala Mama mau pecah Rivan gara - gara rumah tangga kamu” tutur Anna sambil memijit kepalanya, Julian sigap membawa kepala istrinya untuk bersandar di bahunya...


...“Tapi saya kepala rumah tangganya Ma, harusnya saya yang memutuskan” protes Rivandra tak terima, bukannya apa tapi pasti akan makin sulit kesempatannya untuk berduaan dengan Areta...


...“Papa dan Mama bukannya ingin ikut campur Rivandra, tapi masalah rumah tangga ini sudah menyangkut banyak orang, kalau tidak hati - hati banyak hati yang akan sakit” tutur Julian...


...“Rivan, Mama ga mau ada kisruh atau ribut - ribut lagi, mengalah lah sedikit! Kamu tau semenjak pernikahan kamu dan Areta terungkap, sikap Mauren berubah Rivan, dia cenderung temperamen sekarang, tadi saja Mbok Jum dia maki - maki padahal hanya karena Mbok Jum telat membuatkannya teh” cerocos Anna, kali ini tangan Julian yang memijit kepalanya...


...“Mama pikir tadinya karena dia frustasi ga bisa punya anak, tapi kayaknya dia marah gara - gara kamu ga pulang lagi tadi malam, Rivan” tambah Anna...


Rivandra mendengus kesal, Mamanya memang baru tahu bagaimana temperamennya Mauren, tapi Rivandra sudah tahu dari dulu, jika marah Mauren tak akan segan merusak atau memecahkan apa pun yang berada di dekatnya, dulu Rivandra selalu bisa memahaminya dan menerimanya atas dasar cinta, cinta yang ia sadari hanya cinta buta


...“Kamu kurang - kuranginlah ya ketemu sama Aretanya, apalagi kalau nanti kalian serumah lagi” titah Anna...


Rivandra bergeming, soal ini jelas ia akan protes keras


...“Ga bisa gitu dong Ma, saya juga berhak atas Areta, begitu pun Areta” Rivandra yang bersikukuh membuat orang tuanya saling pandang, lalu keduanya menatap Rivandra penuh telisik...


...“Apa saya salah jatuh cinta pada istri yang memperhatikan dan tahu apa yang saya butuhkan?” Tanya Rivandra...


Julian menghela napasnya, sedang Anna menegakan duduknya, matanya membulat sempurna


...“Maksud kamu Areta, Rivan?” Tanya Anna...


Rivandra mengangguk mantap


...“Astaga Rivandra, bagaimana bisa? Bukannya kamu dulu cinta mati sama Mauren? Nyampe kamu berkali - kali ngeyakinin Mama dan Papa untuk nikahin Mauren” cerocos Anna...


...“Saya merasa tenang dan nyaman bersama Areta Ma, dia tak menuntut apa pun bahkan setelah dia mengandung anak saya, dia sabar dan memahami apa yang saya inginkan” tutur Rivandra...


Anna mengerti perasaan Rivandra, kalau boleh jujur ia pun sudah terlanjur sayang pada Areta, tapi bagaimana pun sudah ada Mauren di jalan Rivandra, jalan yang semestinya Rivandra tempuh


...“Rivandra kamu punya Mauren, terlepas dari apa pun kekurangannya dia masih istri kamu secara agama dan negara, semua orang juga taunya dia yang istri kamu Rivan!” Sewot Anna lagi, Julian di sampingnya hanya beberapa kali menghela napas, seperti biasa irit bicara namun tetap mencerna setiap omongan yang keluar dari mulut anak dan istrinya...


...“Ini ga ada hubungannya dengan kekurangan Mauren Ma, aku bisa menerima masa lalu dan keterbatasannya yang tidak bisa memberiku anak, tapi perasaanku pada Areta ga ada hubungannya dengan itu semua” tutur Rivandra lagi, wajahnya sendu...


...“Tapi bukannya kalian akan bercerai setelah Areta melahirkan nanti?” Cecar Anna ...


...“Coba saja kalau dia bisa cerai dari saya” tandas Rivandra, mana ia akan rela kehilangan Areta...


...“Rivandra kamu jangan gila! Akan seperti apa nantinya huru hara yang terjadi kalau Mauren dan keluarganya tau” cerocos Anna frustasi...


...“Ma sudah lah” ucap Julian menenangkan, punggung istrinya ia usap usap lembut...


...“Haaaa… ya sudah lah Rivan, terserah kamu aja, selesaikan lah sendiri, yang jelas Mama ga mau huru hara terjadi lagi, apalagi kalau nanti sampai berefek ke Areta, dia lagi hamil, riskan kalau stress” tandas Anna lagi...


...“Malam ini kamu jangan ke rumah Areta dulu ya, Mama ga mau Mauren uring - uringan lagi kayak tadi” tambah Anna...


Rivandra hanya tersenyum tipis, dalam hatinya ia tak janji untuk tak menemui wanitanya


Melihat reaksi anaknya Anna mendengus,


...“Pa udah lah kita tidur aja, Mama pusing ngadepin anak yang keras kepalanya kayak Papa” ucap Anna sambil bangkit dari duduknya, disusul Julian yang ikut bangkit, Julian menepuk - nepuk bahu Rivandra sebelum kemudian mengekori istrinya ...


Rivandra memang tak mendengarkan omongan Mamanya, berbekal alasan ingin berkumpul dengan teman - teman klub motor gedenya pada Mauren, Rivandra melaju menuju rumah yang ia juluki ‘home sweet home’ itu. Sudah hampir jam delapan malam ketika Rivandra memasuki rumah dengan kunci cadangannya, rumah sudah sepi di bagian depan, tapi samar terdengar suara televisi di kamar utama yang dihuni Areta dan dirinya

__ADS_1


Pria itu memulas senyum, langkahnya tergesa menuju kamar mereka, rindu itu sudah tak dapat ditahan lagi, ia merangsek masuk ke kamar tanpa mengetuk


Bukan hanya Areta yang kaget, Bi Parni terlebih lagi, ia sampai memekik tak lupa menyebut sambil mengelus - elus dadanya, jelas kaget karena Rivandra datang tanpa permisi saat mereka tengah menonton film horor, dengan lampu kamar yang sengaja dimatikan, mencekam.


...“Ya Allah Pak, jantung Bibi hampir aja copot Pak” ucap Bi Parni sambil bangkit dari duduknya...


...“Ahahaha.. maaf Bi, saya ga tau kalau Bibi sama Areta lagi nonton film horor” ucap Rivandra sambil tergelak...


...“Ya sudah, Bibi bikinin dulu teh hangat ya” ucap Bi Parni sambil beranjak keluar, seolah mengerti bahwa Rivandra ingin ditinggalkan berdua saja dengan Areta...


Sepeninggal Bi Parni, Areta bangkit dari duduknya, senyumnya sumringah menyambut Rivandra, senada dengannya Rivandra pun memburu Areta dengan wajah berseri, khas orang yang sedang jatuh cinta


...“Tumben pake jaket kulit” ucap Areta sambil memindai suaminya dengan tatapan kagum, memakai baju apa saja Rivandra selalu tampak menawan...


...“Saya bawa motor” sahut Rivandra, Areta mengangguk - angguk, kakinya melangkah makin mendekati Rivandra ...


...“Kangen” ucap Areta sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rivandra, bau khas jaket kulit yang Rivandra pakai menusuk hidungnya ketika wajahnya menempel disana...


Rivandra segera membalas pelukan Areta,


...“Kangen juga” sahut Rivandra...


...“Kirain Kakak ga jadi datang” tutur Areta ...


Rivandra tersenyum, senang karena Areta ternyata menunggu


...“Saya pasti datang nemuin kamu dan anak kita” ucap Rivandra, tangannya tak diam, mengelus - elus punggung Areta memberikan kenyamanan...


...“Aku pasti sedih kalau Kakak ga datang, soalnya ini mungkin malam terakhir kita bisa bebas gini” tutur Areta lagi...


Rivandra merengut


...“Kapan? Kakak pasti udah tau mulai besok aku pindah lagi ke rumah orang tua Kakak” rajuk Areta...


Rivandra mengurai pelukannya, kedua tangannya memegang kedua bahu Areta, matanya fokus menatap iris coklat wanita itu


...“Kalau kamu ga mau, kamu ga usah pindah, nanti saya yang jelaskan pada Mauren” tawar Rivandra...


Areta memeluk Rivandra lagi, makin erat dibanding sebelumnya


...“Kalau ga pindah, nanti Kak Mauren makin yakin kalau aku pelakor, dia sepertinya tau kemana suaminya pergi diam - diam selama ini” tohok Areta...


...“Suami kamu juga” tandas Rivandra sambil menjewer sayang kuping Areta...


...“Aih sakit Kak, udah hati sering disakitin fisik juga iya, aku jadi ragu apa Kakak bener - bener cinta sama aku?” Goda Areta, sambil membenamkan diri dipelukan hangat Rivandra, tak peduli jika kakinya mulai kebas berdiri...


...“Selalu saja mengungkit kesalahan saya” keluh Rivandra ...


...“Ahahaha.. aku juga ga mau, tapi entah kenapa omongan itu selalu keluar, bawaan bayi sepertinya” seloroh Areta, mulai kecanduan menggoda Rivandra ...


...“Sekarang mulai nyalahin anak saya, dasar pendendam akut” ucap Rivandra, meskipun saling adu argumen tapi mereka tetap saling peluk erat...


Hingga ketukan di pintu menyadarkan keduanya, ada Bi Parni di depan pintu kamar yang mungkin sedang mengantarkan teh hangat untuk Rivandra, Areta beranjak membukakan pintu, sementara Rivandra beringsut duduk, tangannya membuka jaket kulit yang ia kenakan, menyisakan kaus putih yang melekat di tubuh atletisnya


...“Klek” suara pintu ditutup kembali, lalu “trek” suara panel lampu yang dihidupkan membuat ruangan yang tadinya temaram seketika terang benderang, Rivandra menoleh pada Areta yang tangannya penuh membawa secangkir teh dan sepiring pisang goreng vanilla, kesukaan Rivandra...


Areta telaten meletakkan teh dan pisang goreng itu diatas meja depan sofa yang diduduki Rivandra. Pria itu tersenyum senang melihat pelayanan Areta


...“Tadi sore aku sudah membuat adonan pisangnya, berjaga - jaga kalau Kakak kesini, jadi Bi Parni tinggal goreng adonannya saja” terang Areta...

__ADS_1


Tak salah semua yang ia katakan pada orang tuanya tadi, bagaimana ia tak jatuh cinta pada Areta yang selalu mementingkannya dan melayaninya sepenuh hati,


...“Terima kasih” ucap Rivandra antusias, tanpa dikomando Rivandra melahap pisang gorengnya, diselingi menyesap tehnya sesekali. ...


...“Kak” panggil Areta...


...“Heeemmm” sahut Rivandra, ia fokus menikmati pisang gorengnya...


...“Kakak bisa nginep disini malem ini?” Tanya Areta malu - malu...


Rivandra menghentikan makannya, lalu menatap Areta, senyumnya terbit


...“Sini” panggil Rivandra sambil menepuk - nepuk pahanya, Areta paham lalu mendekati Rivandra dan beringsut mendudukkan diri di pangkuan prianya itu, tangannya ia lingkarkan di leher Rivandra...


...“Saya memang ga ada niat buat ninggalin kamu malam ini” tutur Rivandra...


...“Terima kasih” ucap Areta senang, senyum menghiasi wajah cantiknya...


...“Sama - sama” sahut Rivandra yang tak kalah senang...


Kedua orang itu lalu saling pandang mendamba, lalu entah siapa yang memulai karena kini mereka saling berpagut lembut dan mesra, mengikuti impuls tangan Rivandra bergerak menyingkap kaus yang dikenakan oleh Areta tanpa melepas pagutannya, mengekspos penutup dada Areta yang berwarna hitam menggoda.


Mereka masih di sofa ketika pagutan yang tadinya lembut berubah liar dan panas, saling meneroboskan lidah dan menyesap. Napas mereka memburu saling menahan hasrat memberikan kesempatan agar pasangannya puas bermain - main dulu, Rivandra mengintenskan aksinya, kini penutup dada Areta entah sudah dimana, sementara si empunya mendongak ke atas sambil menjambak - jambak rambut Rivandra tatkala pria itu memainkan jari dan lidahnya di sekitar dada Areta tanpa ampun, sensual.


Rivandra merengkuh Areta, lalu bangkit sambil membopongnya menuju tempat tidur, keduanya saling tatap ketika perlahan tubuh sexy istrinya itu ia baringkan di tempat tidur. Areta sangat menikmati saat aksi Rivandra di dadanya berlanjut, ia bahkan tak ingat kapan suaminya itu membuka kaus dan celananya sendiri yang ia tahu darahnya berdesir saat melihat tubuh polos suaminya, tak ingin suaminya polos sendirian, Areta mempreteli apa pun yang melekat pada tubuhnya, membiarkan suaminya kalap seolah ingin melahap dirinya


...“Kak, dimulai aja” suara serak Areta membuat Rivandra makin tergoda, ia semangat memposisikan dirinya untuk perlahan memasuki Areta, keduanya melenguh saat berhasil bersatu....


Rivandra bukan hanya memanjakan Areta dengan gerakan pinggulnya, tapi juga dengan bibir yang tanpa henti memagut bibir Areta, tangannya pun ia fungsikan semaksimal mungkin, menjangkau tiap senti tubuh Areta. Hampir setengah jam mereka berpeluh bersama, Areta memeluk punggung Rivandra sambil melenguh saat merasakan pelepasannya, disusul pelepasan Rivandra yang membuat pria itu memekik. Rivandra lalu menggulingkan diri disamping Areta yang terkulai lemas akibat ulahnya, senyum kepuasan terukir di wajah keduanya.


Rivandra menempelkan kepalanya ke kepala Areta


...“Saya mohon jangan berubah” bisik Rivandra di telinga Areta...


Areta tak berucap, ia membawa tangan Rivandra untuk memeluk dirinya, sebelum ia kemudian memejamkan diri di pelukan laki - laki yang ia cintai.


...****************...


Rivandra membuka ponselnya yang terus saja berdering, matanya memicing melihat sinar layar ponsel yang menyilaukan mata, sudah lebih dari pukul sebelas malam ternyata, ia tak sengaja terlelap saat membuai Areta tadi


Nama Mauren muncul di layar ponselnya, Rivandra enggan menjawab, sudah bisa dipastikan akan seberapa murkanya Mauren karena ia belum juga pulang ke rumah, dan memang berencana untuk tak pulang


Di samping Rivandra, Areta yang masih terpejam bergerak gelisah membalik badannya, Rivandra mengelus lembutsurai Areta untuk menenangkan, lalu perlahan memejamkan matanya kembali, tak sampai semenit ia terpejam ketika ponselnya berdering kembali, sedikit kesal Rivandra meraih ponselnya, ia lalu beringsut duduk sepelan mungkin agar tak membangunkan Areta begitu melihat nama Mamanya di layar ponsel


...“Kenapa lagi ini?” Gumam Rivandra, “halo Ma” sapa Rivandra pada Anna ketika menjawab panggilan Ibunya itu...


...“Halo, Rivan, kamu dimana?” Berondong Anna...


...“Kenapa Ma?” Tanya Rivandra, tanpa menjawab pertanyaan Ibunya...


...“Kamu lagi sama Areta ya? Astaga Rivan! Cepat pulang, kamu ga tau kehebohan apa yang Mauren buat gara - gara kamu belum pulang dan ga bisa dihubungi, Mama pusing Rivan!” Cerocos Anna panik...


Rivandra menghela kasar napasnya


...“Iya Ma, saya pulang sekarang” sahut Rivandra jengah sambil mengakhiri pembicaraannya...


...“Disuruh pulang ya?” Tanya Areta yang tiba - tiba sudah terjaga...


Rivandra mengecup dahi Areta” Iya, maaf saya ga bisa nginep” ucap Rivandra

__ADS_1


...“Ga apa - apa, aku ngerti Kak” sahut Areta, pengertian wanita itu lagi - lagi menambah kadar cinta dalam hati Rivandra, ia sungguh tak ingin pulang tapi entah apa yang sedang dilakukan Mauren sekarang sehingga Mamanya sepanik itu memintanya pulang, meski berat akhirnya dia memaksakan dirinya untuk pulang menemui Mauren. ...


__ADS_2