Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Jangan Siksa Saya, Areta!


__ADS_3

Situasi di meja makan siang itu sedikit canggung, keributan yang dilakukan oleh Mauren tadi malam membuat semua orang kurang tidur, terutama Bi Jum dan pembantu yang lain karena Mauren memerintahkan mereka untuk membersihkan kamarnya pada tengah malam buta, situasi semakin tegang karena adanya Areta disana, seperti yang sudah disepakati sebelumnya, siang itu Areta kembali tinggal di rumah Julian atas dasar permintaan Mauren. Sebelum kedatangan Areta, sepulang dari hotel pagi tadi Anna berpesan pada anggota keluarganya yang lain agar tidak terlalu berlebihan dalam memperlakukan Areta untuk menjaga perasaan Mauren, lebih tepatnya agar menantunya itu tak mengamuk lagi.


Namun amanat tinggalah amanat, nyatanya Anna sendiri yang terlihat memanjakan Areta, Anna menyiapkan berbagai macam makanan sehat untuk Areta, tangannya sigap menyendok makanan lalu meletakkannya di piring Areta, piring Areta betul - betul tak dibiarkan kosong olehnya


Sedikit cemburu pasti dirasakan Mauren, tapi ia paham apa pun yang dilakukan mertuanya semata - mata untuk anak Rivandra dalam kandungan Areta, calon anaknya.


...”Makannya nambah ya Areta, kamu harus makan yang banyak, kamu masih kurus, kandungan kamu juga keliatan kecil untuk seusianya” tutur Anna...


Areta mengangguk patuh, tak ingin mendebat


...“Vitamin sama susu hamilnya rutin diminum, kan?” Tanya Rossy ikut nimbrung...


Areta menoleh pada Kakak iparnya itu


...“Iya Kak, rutin dan ga pernah absen” sahut Areta, Rossy mengangguk- angguk senang...


...“Nanti kalau pengen apa - apa ngomong sama Mama atau sama Bi Jum ya, kalau pengen makan sesuatu selagi itu sehat jangan ditahan - tahan ya Areta” tutur Anna, lupa sudah ia akan pesannya agar tak terlalu mencolok memperhatikan Areta depan Mauren...


...“Tuh kan Areta, semuanya sayang sama bayi yang kamu kandung, jadi kamu jangan khawatir pada saat ninggalin anak Rivandra disini nanti, aku sama semua orang disini pasti ngerawat dia dengan baik” tutur Mauren dengan wajah sumringah...


...“Aih liat siapa itu yang ngomong, udah tadi malam bikin rusuh, pagi ini bikin kisruh, benar - benar muka tembok!” Sinis Oma pada Mauren...


...“Maaf Oma, aku bukannya mau bikin kisruh, tapi sekedar mengingatkan Areta saja supaya dia ga ragu buat ninggalin anaknya disini” sanggah Mauren...


Rossy menatap jengah Mauren


...“Apa perlu kamu ngomong gitu sama Areta Mauren?” Sengit Rossy...


Mauren menjatuhkan pandangannya pada Rossy


...“Kak, aku cuma pengen Areta tenang, ga kepikiran gimana nasib anaknya nanti, yang pasti anaknya akan terjamin disini, kehidupannya akan jauh lebih baik dibanding sama Areta” tandas Mauren...


...“Astaga” gumam Oma, tak bisa berkata apa - apa lagi, entah apa yang dilihat Rivandra dari wanita itu selain wajah cantiknya, batin Oma...


Anna menekuk bibirnya, sudah ia duga akan terjadi seperti ini, beruntung tidak ada Julian dan Rivandra sekarang, kalau tidak mungkin situasi akan semakin memanas. Anna sebentar - sebentar melirik ke arah Mauren lalu berganti menoleh pada Areta, makannya tak tenang, lebih banyak minum untuk mengurangi salah tingkahnya, ia tak mengerti jalan pikiran Areta, kenapa Areta sampai menyetujui kepindahannya ke rumah itu lagi, padahal Areta juga pasti tahu bagaimana Mauren akan memperlakukannya.


Jika yang lain merasa tak nyaman dengan omongan Mauren, maka Areta semakin murka, darahnya mendidih mengingat betapa Mauren ingin menyingkirkannya dan mengambil bayinya, jelas Areta tak akan membiarkannya apa pun yang terjadi.


...“Oh ya Areta, sekali lagi aku ingetin, untuk kebaikan bersama tolong jaga jarak sama Rivandra ya, meskipun status kamu istrinya juga, tapi kita semua tau kan kalau itu cuma status, hanya untuk lima bulan lagi kok sampai urusan kalian selesai” ucap Mauren tanpa ragu...


Anna menghela napas bersamaan dengan memijit pelipisnya, sedang Oma dan Rossy sama - sama menggeram, semakin lama Mauren semakin kelewatan, kalau saja Anna tak beramanat untuk memimikirkan perasaan Mauren yang punya kekurangan tentu mereka sudah memarahi Mauren habis - habisan


...“Kak Mauren jangan khawatir, aku pasti akan jaga jarak sama Kak Rivandra, aku tau diri Kak, aku tau statusku apa” sahut Areta, meskipun ia yakin kalau Rivandra lah yang tak akan bisa menjaga jarak darinya...


...****************...


Rivandra memutar - mutar ponselnya di atas meja kerjanya, sesekali ia memindai ponselnya memastikan jika tak ada pesan atau panggilan dari Areta yang terlewat olehnya, sudah dari tadi malam Areta mengabaikan panggilan dan pesannya, membuat kerjanya tak tenang, hatinya resah.


...“Kamu kenapa Areta?” Gumam Rivandra, ia ingin sekali segera menemui Areta, tapi akan lebih sulit buatnya sekarang mengingat Areta sudah tinggal lagi di rumah orang tuanya, Bi Parni yang Rivandra hubungi memberi tahukan kalau Areta sudah dijemput oleh supir Mamanya tadi...


Jika Rivandra sedang gelisah, maka Areta senyum - senyum saja melihat ponselnya yang tak berhenti dihubungi Rivandra, ia sengaja tak menjawab panggilan Rivandra untuk membuat suaminya itu kelimpungan, sama seperti yang pernah dia rasakan dulu, Rivandra membawanya terbang ke awan dengan semua perhatiannya, setelah itu menghempaskannya ke bumi dengan mengacuhkan Areta dan kembali mesra bersama Mauren


...“Rasain” gumam Areta puas ...


Areta membaringkan tubuhnya di ranjang, matanya menatap langit - langit kamar, pikirannya menerawang jauh. Tak lama pintunya diketuk, Areta gontai bangkit dan berjalan menuju pintu, begitu pintunya dibuka di depannya kini Oma tersenyum


...“Oma kesini sendiri?” Tanya Areta sambil celingukan mencari perawat yang baru seminggu dipekerjakan di rumah itu untuk merawat Oma...


...“Oma masih bisa mondar mandir sendiri Areta, tinggal muter roda kursinya, apa susahnya?” Ucap Oma sambil merangsek masuk ke dalam ...


Areta tersenyum, tak lupa ia menutup pintunya, memastikan tak ada siapa pun yang mendengar pembicaraan mereka, Areta tahu betul apa tujuan Oma mendatanginya


...“Bagaimana perkembangan hubungan kamu dan Rivandra?” Tanya Oma, langsung ke inti...


Areta tak langsung menjawab, ia menundukkan kepalanya, wajahnya memerah malu

__ADS_1


...“Semuanya semakin baik Oma, sesuai dengan yang kita rencanakan”’sahut Areta...


Oma mengangguk - angguk senang


...“Apa kamu sudah melayani Rivandra sepenuh hati sesuai dengan perintah Oma?” Tanya Oma lagi ...


Areta kembali mengangguk


...“Kak Rivan kemarin mengungkapkan persaannya Oma”...


...“Bagus, apa kamu merasakan perasaan yang sama dengan apa yang Rivandra rasakan pada kamu, Areta?” Tanya Oma lagi...


Areta mendongak, lalu menunduk kembali, tapi jawaban tak keluar dari mulut Areta, Oma tersenyum paham apa yang Areta rasakan


...“Jadi kamu mau tetap cerai dari Rivandra?” ...


Areta hening sebentar, berpisah dari Rivandra bukan hal yang mudah untuknya, ia pun sangat mencintai laki - laki itu, tapi bertahan dengan Rivandra dalam bayang - bayang Mauren dan keluarganya akan jauh lebih sulit


...“Areta ga mau anak ini nanti hidup tanpa seorang Ayah Oma, tapi bercerai sepertinya menjadi jalan terbaik, bagaimana pun sudah ada Kak Mauren dalam hidup Kak Rivan, bertahan dengan Kak Rivan hanya akan membuat Areta dicap sebagai pelakor seumur hidup, karena sampai kapan pun Kak Rivan tidak mungkin berpisah dari Kak Mauren” tutur Areta panjang lebar...


Oma menghela napasnya


...“Baiklah kalau itu semua udah jadi keputusan kamu, Oma cuma mau minta tolong pastikan semuanya sesuai rencana, nanti Oma dan Rossy akan bantu” tandas Oma Mieke...


...“Baik Oma” tutur Areta patuh...


...****************...


Malam menjelang ketika Rivandra baru saja sampai di rumahnya, kepalanya celingukan mencari Areta di tengah rumah yang sudah sepi


...“Nyari siapa?” Bisik Anna yang tiba - tiba ada di belakang Rivandra, pria itu terhenyak kaget, nyaris berteriak, tangannya sibuk mengelus - elus dadanya yang berdebar kencang...


...“Mama, astaga.. apa ga bisa kalau ga muncul tiba - tiba di belakang gitu?” Tanya Rivandra juga setengah berbisik...


...“Iya Ma, aku nyari Areta” jawab Rivandra jujur...


Mata Anna membulat


...“Astaga Rivandra, apa kamu mau bikin rumah ini kerusuhan lagi?” Hardik Anna setengah berbisik, “kalau Mauren nyampe tau gimana? Jangan gila kamu Rivan!” Sewot Anna...


...“Loh Ma, dia kan istriku, apalagi dia mengandung anakku, dimana letak gilanya seorang suami yang ingin menemui istri dan anaknya?” Sanggah Rivandra...


Anna sudah membuka mulut hendak berucap ketika Areta lewat di depan mereka


...“Malam Tante, Kak Rivan” sapa Areta tak lupa mengangguk sopan, lewat sebentar saja untuk menuju kamarnya setelah tadi dari kamar Rossy...


...“M - malem Areta” sahut Anna terbata, tak menyangka akan berpapasan dengan Areta...


Deg…


Rivandra terkesiap melihat Areta, wanita yang sepanjang hari telah menyiksanya, mata Rivandra mengekori hingga punggung Areta tak terlihat lagi, sumpah demi apa pun ia ingin memburu wanita itu dan memeluknya erat


Anna menatap prihatin anaknya yang jelas sedang jatuh cinta itu, seandainya saja Areta bertemu dengan Rivandra lebih dulu dibanding Mauren tentu tak akan serumit ini jalannya


...“Udah ketemu kan sama Areta, dianya juga udah mau tidur, sana temuin Mauren, jangan bikin kisruh lagi Rivan!” Titah Mamanya, wajah Mamanya penuh kepanikan...


Rivandra menghela napasnya


...“Iya Ma” sahut Rivandra gontai...


...“Ya udah Mama mau tidur dulu” tutur Ann a sambil mengusap punggung anaknya lalu beranjak dari situ...


Demi untuk menghindari gonjang ganjing, akhirnya Rivandra mengalah dan menemui Mauren di kamar mereka, istrinya itu sengaja berdandan cantik dengan memakai baju super sexy untuk menyambut sang suami


...“Sayang, kamu udah pulang?” Tanya Mauren, kakinya tergesa memburu Rivandra lalu mengambil alih tas kerja yang Rivandra bawa ...

__ADS_1


...“Iya, seperti yang kamu lihat” sahut Rivandra santai, pikirannya yang tak santai karena ia sudah tak sabar ingin menemui Areta, ia akan nekad menemui wanita itu malam ini juga....


...“Kamu udah makan?” Tanya Maurenmemberi perhatian pada Rivandra yang tengah mendudukkan dirinya di sofa...


...“Udah, sama dokter - dokter yang lain tadi sambil rapat” sahut Rivandra, tangannya sibuk membuka dasi dan jas yang ia pakai, Mauren sigap mengambil alih dasi dan jas Rivandra...


...“Capek ya?” Tanya Mauren prihatin melihat wajah Rivandra yang sendu, padahal wajah sendu Rivandra karena Areta yang mengacuhkannya...


...“Iya, saya capek banget, ada operasi besar tadi dan pasiennya pendarahan hebat, saya pengen cepet tidur” tutur Rivandra jujur tentang ceritanya, tapi tidak dengan alasannya ...


Mauren merengut, ia lalu memindai dirinya sendiri yang sudah cantik, harapannya malam ini ia akan memperbaiki hubungan mereka dan mereguk asmara hingga pagi, tapi jangankan bercinta pria itu bahkan berjalan dengan lesu ke kamar mandi.


...****************...


Rivandra membuka matanya perlahan, sedikit saja, lebih tepatnya mengintip. Dari hasil pantauannya Mauren sepertinya telah terlelap. Pantas saja, waktu sudah nyaris jam dua malam. Pria itu lalu beringsut bangkit dari tempat tidurnya, ia berjingjit sepelan mungkin hingga keluar kamar, “klek” pintu kamarnya ia tutup super pelan


Rivandra menghembuskan lega napasnya begitu berhasil keluar kamar, ia lalu celingukan memastikan tak ada lagi orang yang berkeliaran di sekitar rumah, langkahnya ia percepat menuju kamar Areta.


Sesampainya di depan pintu kamar Areta, Rivandra mematung sebentar, mengetuk pintu jelas tak mungkin karena ia yakin Areta telah terlelap, akhirnya dengan modal nekad dan sedikit pesimis ia memutar gagang pintunya, dan “klek” pintu itu terbuka


Rivandra tersenyum senang mengetahui bahwa Areta tak mengunci pintunya, ia lalu merangsek masuk ke kamar itu sepelan mungkin tak ingin membangunkan Areta, “klek” ia menutup pintu itu kembali sangat pelan, sepelan langkahnya namun langkahnya terhenti ketika melihat istrinya itu ternyata belum terlelap, kitab suci tengah berada di tangannya, mukena membungkus badannya, Areta sangat cantik.


Rivandra menunggu sebentar dengan perasaan tak karuan ketika memandangi istrinya yang tengah mengaji, hingga istrinya selesai ia masih terpana.


...“Kak” sapa Areta sambil membuka mukenanya lalu membenar - benarkan rambutnya, “Kakak ngapain kesini? Gimana kalau Kak Mauren tau?” Panik Areta...


Tanpa dikomando Rivandra memburu Areta yang masih melantai lalu memeluknya erat


...“Jangan bikin saya gila, Areta!” Tutur Rivandra lirih ...


Areta membalas pelukan Rivandra, tangannya mengelus punggung laki - laki itu


...“Maaf Kak, aku cuma menjalankan apa yang Kak Mauren mau, Kak Mauren berkali - kali bilang untuk jaga jarak sama Kakak di depan semua orang” tutur Areta, sengaja menceritakan kelakuan Mauren...


Rivandra mengurai pelukannya, matanya menatap dalam iris Areta


...“Dia bilang begitu?” Tanya Rivandra, dahinya mengkerut...


...“Iya Kak, sebagai seorang istri yang hanya sebatas status aku pasti menuruti keinginan istri resmi Kakak” ucap Areta lagi...


...“Kamu istri resmi saya juga Areta” tandas Rivandra ...


...“Tanpa buku nikah? Jelas aku kalah Kak” ucap Areta sambil pelan bangkit berdiri...


Rivandra memeluk Areta lagi, sangat erat


...“Saya kangen, Areta” ucap Rivandra ...


...“Baru beberapa jam ga ketemu Kak” sahut Areta...


...“Semenit pun bisa membuat saya gila kalau kamu mengacuhkan saya” tutur Rivandra sambil menciumi Areta...


...“Lalu gimana kalau kita cerai nanti Kak?” Tanya Areta, Rivandra mengurai pelukan mereka...


...“Jangan harap kamu bisa pergi dari saya Areta apalagi kalau dengan membawa anak saya, mulai saat ini saya akan lebih ketat menjaga kamu, saya seperti menangkap rencana kalau kamu mau lari dari saya” tutur Rivandra ...


...“Heeemm, Kak Rivan itu dokter bedah apa detektif? Sok berasumsi!” Tukas Areta, “udah ketemu kan? Kakak balik ke kamar ya, sebelum Kak Mauren sadar kalau Kakak lagi ngelayap” tutur Areta...


...“Jangan harap, saya mau tidur disini aja!” Tandas Rivandra ...


Areta menghela napasnya


...“Ya udah, tapi dua jam aja ya Kak, nyampe jam empat, sebelum ada yang bangun” tutur Areta ...


Rivandra mengangguk, senyumnya merekah, keduanya lalu beringsut naik ke tempat tidur, lalu membaringkan diri mereka disana dengan berpelukan erat, memanfaatkan waktu yang sangat singkat, sungguh indah.

__ADS_1


__ADS_2