Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Mertua


__ADS_3

...“Mama dengar Laura mengundurkan diri dari rumah sakit ya, Rivan?” Tanya Anna pada anaknya saat semua anggota keluarga tengah berkumpul untuk bersantap makan malam, termasuk Rossy dan Pandu...


Mendengar pertanyaan Anna bukan hanya Rivandra dan Pandu yang menoleh pada Anna, Areta pun turut serta, ia memang merasa tak enak pada Anna atas apa yang terjadi mengingat Laura adalah anak dari sahabat dekatnya Anna


...“Iya Ma, Mas Pandu yang menerima surat pengunduran dirinya” sahut Rivandra ...


Wajah Anna seketika berubah masam mendengar jawaban Rivandra, menerima keluhan dari Mamanya Laura tentang bagaimana Laura mendapat serangan bertubi - tubi dari Rossy, Rivandra, dan terakhir Pandu membuatnya tak enak hati pada sahabatnya itu


...“Mama tau Laura salah karena telah memperlakukan Areta dengan tidak baik, tapi apa kalian semua harus menyerangnya habis - habisan seperti itu?” Tanya Anna sambil mengabsen anak dan menantunya satu persatu dengan matanya, terakhir ia menatap Rossy “terutama kamu Rose! Omongan kamu emang ga bisa di saring apa? Emang ga bisa dinasehati baik - baik?” Tanya Anna, sementara Areta menghela napasnya, benar saja dugaan Areta, akan ada reaksi berbeda dari Anna...


...Rossy yang tengah sibuk menyantap makanannya sontak meletakkan sendok dan garpunya sambil menjatuhkan pandangan pada Ibunya itu, “maksud Mama apa? Apa aku masih harus berbaik - baik pada wanita ular yang jelas - jelas meminta Rivandra pada istrinya sendiri?” Sewot Rossy...


...“Mama ngerti Rose, Laura memang salah, sangat salah! tapi harusnya kamu ngomong dulu sama Mama, biar nanti Mama yang menyampaikan pada Mamanya Laura agar menasehati Laura untuk ga berbuat seperti itu lagi!” Tutur Anna...


...“Kelamaan Ma! Orang kayak si Laura itu ga bakal mempan di nasehatin, nungguin dia sadar malah yang ada rumah tangga adikku udah berantakan!” Tandas Rossy...


...“Loh, kenapa mikir rumah tangga Rivandra dan Areta akan berantakan sih Rose? Apa kamu ga percaya sama Rivandra kalau dia ga akan tergoda sama perempuan lain?” Sewot Anna, Julian yang tadinya masih acuh kini mulai menyimak, terusik dengan nada suara istrinya yang mulai meninggi...


Oma yang tadinya masih hening pun mulai menatapi menantunya itu


...“Ma, apa Mama ga tau gara - gara omongan Oma dan Mama tempo hari yang muji - muji Laura depan Areta, Areta nyampe nekad kerja agar suatu hari kalian yang muji prestasi Areta, bukan perempuan lain!” Cerocos Rossy, mulai terpancing emosi...


...Oma terhenyak kaget, “Astaga Areta, apa benar kamu berpikir begitu? Itu alasan kamu kerja kemarin, iya?” Cecar Oma pada Areta yang kini tertunduk lesu...


...Wajah kaget Oma lalu berubah sendu, tatapannya penuh kasih pada Areta, “ya ampun cucu Oma sayang, maaf kalau pujian Oma pada Laura membuat kamu ga nyaman, tapi Oma sama sekali ga bermaksud untuk membandingkan kamu, apalagi menganggap kamu ga berprestasi apa - apa, buat Oma kamu perempuan terbaik untuk Rivandra, dari awal kita ketemu Oma udah yakin akan hal itu!” Tutur Oma, Areta mendongak, senyum leganya terbit...


...“Areta, menurut Mama kamu terlalu berlebihan deh menyikapi masalah ini! Memuji perempuan lain bukan berarti merendahkan kamu Areta, tolong jangan terlalu sensitif apalagi sampai membuat keputusan sembarangan seperti itu!” Tambah Anna, Rivandra yang tadi diam saja menatap tajam pada Ibunya...


...“Mama! Apa yang Areta lakukan sangat wajar, omongan Laura itu memang provokatif ditambah lagi Oma dan Mama memuji - muji Laura di depan Areta, hati perempuan mana yang tidak sakit?! Sengit Julian, kali ini ia yang jarang sekali ikut campur urusan anaknya pun angkat bicara...


...Mendapat kemarahan Julian, Anna semakin kesal, “Pa, Mama tuh ga ada maksud apa - apa muji - muji Laura, Mama cuma mengungkapkan fakta” sanggah Anna...


Areta jelas tak nyaman mendengar perang debat keluarganya di meja makan, apalagi terlihat sekali kalau Anna tak suka atas apa yang terjadi pada Laura

__ADS_1


...“Mama, menurut saya justru apa yang dilakukan oleh Kak Rossy, Mas Pandu, maupun saya itu masih sangat kurang dibanding dengan luka yang digoreskan Laura pada istri saya, sebagai seorang suami saya wajib melindungi perasaan istri saya, apalagi dalam hal ini dia adalah korbannya, jelas saya ga akan tinggal diam, saya yakin Kak Rossy dan Mas Pandu juga berpikir hal yang sama” tutur Rivandra, diamini oleh Rossy dan Pandu yang kompak menggangguk ...


...“Papa setuju Rivandra, jadi suami memang harus seperti itu, melindungi istrinya!” Tandas Julian...


...“Oma bangga sama kamu, Rossy, dan Pandu, kalian sangat menjaga perasaan Areta, memang seperti itulah harusnya keluarga, saling menjaga, saling melindungi, bukan malah membela orang lain apalagi kalau hanya sekedar seorang sahabat” sinis Oma pada Anna, Anna jelas tersinggung, muka masamnya memerah sekarang...


...“Maksudnya Oma nyindir saya?” Sengit Anna...


...“Ya terserah lah mau dibilang nyindir atau apa, tapi kalau sama temen atau sahabat itu jangan totalitas, memangnya ada jaminan sahabat kamu itu bener - bener tulus sama kamu? Jangan - jangan malah emang dia punya niat buat misahin Areta dan Rivandra, sama kayaknya anaknya si Laura” tambah Oma...


...“Mba Anggun ga seperti itu Oma! Dia itu baik, dia tulus, dulu pas masih SMA saat saya sedang kesulitan, Mba Anggunlah satu - satunya orang yang membantu saya, tanpa pamrih, tanpa minta balasan, makanya ketika ada masalah yang menyangkut anaknya, harusnya kita bisa bicarakan baik - baik” sanggah Anna lagi...


Areta menghela napasnya, sungguh ia benar - benar merasa tak enak menjadi penyebab adu sengit di meja makan yang biasanya penuh canda tawa itu


...“Ma, sudah! Papa ga suka Mama membenarkan yang jelas - jelas sudah salah, kalau memang Ibunya Laura merasa kelakuan anaknya itu salah, harusnya dia datang kesini dan minta maaf sama keluarga kita terutama Areta, nah sekarang buktinya apa dia datang kesini? Dia malah ngadu macam - macam kan sama Mama?” Cecar Julian...


Anna mendengus kesal, baru saja ia akan menimpali omongan suaminya ketika seorang pembantu tergupuh menghampirinya mengabarkan kalau Anggun menghubungi Anna lewat telepon rumah, Anna segera bangkit, tanpa pamit langsung beranjak, Julian hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kelakuan istrinya, sedang Areta ditenang - tenangkan suami dan Kakak iparnya


...“Ada apa Ma? Kenapa Mama panik gitu?” Tanya Rossy...


...“Ini yang Mama takutkan kalau semuanya diselesaikan dengan kepala panas, ujung - ujungnya hanya menimbulkan masalah baru!” Sentak Anna...


...“Loh Anna! Ada apa ini? Kenapa bicaramu seperti itu, hah?” Sewot Oma, tak rela cucu kesayangannya mendapat sentakan Anna...


...“Gimana saya ga sewot, Oma? Barusan Mba Anggun mengabarkan kalau Laura mencoba bunuh diri!” Panik Anna...


Semua terhenyak kaget mendengar kabar yang disampaikan oleh Anna, Areta apalagi, mukanya sampai pucat pasi


...“Bunuh diri? Kenapa dia harus bunuh diri segala?” Cecar Oma...


...“Saya mau pergi ke rumah Anggun sekarang, Rivandra kamu ikut Mama kesana, kamu juga Rossy!” Titah Anna, jika Rossy mengangguk setuju maka tidak dengan Rivandra ...


...“Dalam kapasitas apa saya datang kesana Ma?” Tanya Rivandra, membuat Anna mendelik tajam pada Rivandra ...

__ADS_1


...“Dalam kapasitas kamu sebagai seorang dokter, Rivandra!” Sentak Anna, Areta segera mengkode suaminya meminta agar Rivandra menuruti Ibunya, tapi pria tampan itu tak bergeming ...


...“Kalau begitu saya bisa tugaskan dokter Pandu untuk memeriksa kondisi Laura, toh dokter Pandu juga dokter yang handal dan profesional, saya ga perlu turun tangan langsung kecuali sudah ga mampu ditangani dokter Pandu lagi, di rumah sakit juga selalu seperti itu kok” Sanggah Rivandra, Pandu mengangguk menyanggupi, meskipun Rivandra adalah adik iparnya, tapi di dunia profesional Rivandra adalah atasannya langsung...


...Mendengar jawaban Rivandra, Areta menjadi salah tingkah, “Kak, tolong dengerin omongan Mama, ikut aja sama Mama, Kak!” Bisik Areta dengan wajah memelas, ia tak ingin kemarahan Anna bertambah, meskipun telat sudah karena wajah Anna berubah bengis...


...“Kalau gitu Mama berangkat sendiri aja!”Sengit Anna, sambil beranjak dengan tergesa meninggalkan ruang makan...


...Sepeninggal Anna, Areta segera menelisik suaminya, “Kak, kenapa ga nurut sama Mama sih? Kenapa Kak Rivan ga ikut ke rumah Laura?” ...


...Rivandra menoleh pada istrinya, tatapannya sejuk menenangkan, “saya ga mau kamu ngerasa ga nyaman Areta, sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga perasaan kamu! lagian kalau emang kondisi Laura parah dia pasti sudah dilarikan ke rumah sakit, saya yakin Laura hanya pura - pura saja agar membuat Mama merasa bersalah” tutur Rivandra ...


...“Papa sepemikiran sama Rivandra, masa tiba - tiba dia bunuh diri tapi kok ga dilarikan ke rumah sakit? terus lebih konyolnya lagi, Mamanya Laura bukannya menghubungi ambulance, malah menghubungi Mama kamu, itu artinya mereka memang merencanakan itu semua, Mama kalian aja yang ga sadar lagi dikerjain!” Tutur Julian panjang lebar sambil terkekeh, Rossy dan Pandu pun ikut terbahak menertawakan kekonyolan drama Laura dan Ibunya, ini bukan pertama kalinya mereka melihat sandiwara, mereka belajar betul dari Mauren yang dulu sempat pura - pura ingin bunuh diri ketika akan diceraikan oleh Rivandra, kini sejarah seolah berulang, tapi mereka tak akan tertipu untuk kedua kali...


Areta mencerna omongan Julian, rasa khawatir dan bersalahnya sedikit berkurang


...“Udah Areta, tenang aja! Oma pun yakin ini hanya akal - akalan si Laura saja supaya dapet perhatian dari Rivandra sama Anna, biarin aja Anna tau sendiri kalau dia dikerjain sahabat yang begitu dia percaya itu!” Tandas Oma, Areta hanya mengangguk - angguk, ia belum bisa bernapas lega dulu sampai kemarahan Ibu mertuanya mereda...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...“Gimana kondisi Laura, Mba?” Tanya Anna pada saat ia baru saja sampai di kediaman sahabatnya itu, melihat kepanikan Anna Anggun segera memburu memeluknya, lalu menangis terisak di pelukan Anna...


...“Aku harus gimana Mba? Apa salah kalau Laura mencintai Rivandra? Toh dia juga ga berniat merebut Rivandra dari istrinya, tapi lihatlah apa yang dilakukan anak - anak dan menantu Mba pada Laura sampai dia mencoba bunuh diri dengan minum banyak obat tidur, beruntung ada sepupunya yang juga dokter lagi ada disini, jadi bisa segera menyelamatkan Laura, kalau tidak mungkin Laura sekarang udah ga ada Mba!” Tutur Anggun histeris...


...“Maaf ya Mba, maafin anak - anak dan menantuku” tutur Anna ikut terisak, sungguh ia tak tega melihat Laura yang tergolek tak berdaya...


...Anggun mengurai pelukannya, lalu menatap ke arah pintu kamar, saat meyakini tak ada orang lain disana, ia lalu menoleh pada Anna yang kini tengah mengelus - elus lembut rambut Laura, “Mba Anna sendiri? Apa Rivandra ga ikut?” Cecar Anggun...


...Anna menghela kasar napasnya, “maaf Mba, tadi aku udah minta Rivandra untuk ikut supaya bisa memeriksa kondisi Laura, tapi dia malah menugaskan Kakak iparnya untuk datang kesini” sahut Anna tak nyaman...


...Wajah Anggun berubah kesal, “Laura itu ga perlu diperiksa lagi Mba, semua sudah dihandle sama sepupunya! Justru yang diperlukan oleh Laura adalah dukungan, tapi lihatlah, bahkan untuk menjenguk Laura pun Rivandra ga sudi!” Sewot Anggun, Anna semakin tak enak hati dibuatnya, kemarahannya pada Rossy, Pandu, Rivandra, terutama Areta pun memuncak...


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2