
Rivandra tak menyalahkan dokter Kartini, tak juga mengkonfrontasi, ia hanya sekedar menanyakan kenapa sampai dokter Kartini memalsukan hasil diagnosanya, tapi dokter Kartini sangat merasa bersalah sampai berkali - kali minta maaf, tujuan dokter Kartini jelas mulia, ia ingin melindungi anak Rivandra dan Areta dari kemungkinan langkah jahat lain yang bisa diambil Mauren dan keluarganya untuk mencelakai Areta dan anak yang dikandungnya.
Mendengar penjelasan dokter Kartini, dengan legowo Rivandra memaafkannya, tak adil rasanya jika ia menghukum orang yang berniat melindungi anak dan istrinya dari kejahatan Mauren. Yang terpenting untuknya saat ini adalah ia bertemu kembali dengan istri dan anak dalam kandungannya
Pagi sekali Rivandra sudah datang ke kios milik Areta, tak seperti kemarin hari ini ia tampil sebagai Rivandra, tak payah - payah menyamar setelah ia mengetahui kalau Areta pun mencintainya.
Dengan wajah sumringah pria itu mengetuk pintu rumah kontrakan Areta setelah ia melihat kios fotocopynya masih tutup. Pria itu dengan sabar duduk menunggu di kursi teras setelah tiga kali ketukan tak juga ada sahutan dari dalam rumah.
Tak lama pemuda yang ia ingat bernama Bagas gupuh menghampirinya, mungkin kaget karena ada seorang pria yang pagi - pagi sudah nongkrong di depan rumah Areta
...“Maaf, Mas siapa ya?” Tanya Bagas sambil memindai tampilan Rivandra dari ujung kaki hingga ujung kepala...
Rivandra bangkit dari duduknya
...”Saya suaminya Areta, Aretanya dimana ya? Dari tadi saya ketuk pintunya tapi ga ada yang buka juga”...
Bagas terkesiap, tak menyangka jika suami Areta setampan dan segagah itu, apalagi kalau dilihat dari penampilannya jelas pria itu orang kaya
...”Oh Mas ini suaminya Mba Areta yang kerja di Zimbabwe ya?”...
Rivandra gelagapan, “Zimbabwe?”
...“Lah iya kata Mba April suaminya Mba Areta kan kerjanya di Zimbabwe makanya ga pulang - pulang, Mas kapan pulangnya dari sana?” Tanya Bagas lagi penasaran ...
...“Ah iya saya baru nyampe kemarin” jawab Rivandra asal, “Aretanya mana ya?” ...
...“Mba Areta ke rumah sakit Mas tadi shubuh, perutnya sakit, kayaknya mau lahiran, tadi dianter sama Mba April dan Bu RT” jawab Bagas...
Rivandra terkesiap, kalau dalam hitungannya kehamilan Areta bahkan belum masuk sembilan bulan, apa yang terjadi pada Areta?
...”Rumah sakit mana?” Tanya Rivandra panik...
Bagas lalu mengarahkan jalan menuju rumah sakit tempat Areta berada sekarang, Rivandra tak buang waktu lagi, ia segera memacu mobilnya dengan tak sabaran, ingin segera mengetahui kondisi Areta dan bayinya. Sesampainya di rumah sakit, Rivandra dengan cepat menuju poli kebidanan, langkahnya terburu menuju ruangan tempat Areta ditangani setelah mendapat informasi dari bagian administrasi. Beberapa dokter yang mengetahui siapa Rivandra mengangguk atau menyapa dengan sopan, Rivandra merespon singkat, langkahnya terfokus menuju Areta
Rivandra memelankan langkahnya ketika sampai di ruangan tindakan, ia berbicara sebentar dengan dokter kandungan yang berada disitu untuk mengetahui kondisi Areta, ia lalu mendekati April yang setia duduk disamping Areta yang sedang terlelap, April terhenyak kaget begitu melihat Rivandra, lalu bangkit dari duduknya dan meminta Rivandra untuk bicara di luar ruangan
...“Kakak kok bisa disini? Tau kami di Jogja dari siapa Kak? Aduh Kak kalau Areta tau bisa ngajak kabur lagi dia!” Sewot April...
Rivandra menghela napasnya yang terengah
...”panjang ceritanya, kapan - kapan aja saya cerita, kata dokter tadi Areta sudah pembukaan tiga, padahal hamilnya bahkan belum genap sembilan bulan, apa yang terjadi April?” ...
Wajah April berubah sendu
...”Terlalu capek katanya Kak, terus tadi Areta bilang pas malem - malem dia ngangkat kardus isi kertas yang lumayan berat, shubuhnya mengeluh sakit perut, eh ternyata air ketubannya udah pecah Kak” ...
Rivandra terlihat sekali khawatirnya, ketakutannya muncul, ia lalu kembali masuk ke dalam ruangan untuk menemani Areta yang masih terpejam, sedang April memilih untuk pulang dulu membawa baju ganti Areta dan keperluan bayi yang belum sempat dibawanya tadi karena panik.
...****************...
Di kediaman Julian, Rossy yang mendapat kabar dari Rivandra pun tak kalah paniknya
...“Bi Jum, suruh Pak Sam manasin mobil saya, saya mau pergi!” Pekik Rossy sambil sibuk memakai sepatunya, Rivandra memang meminta Rossy untuk membawakan perlengkapan bayi yang sepertinya belum terbeli oleh Areta...
...“Iya Non” sahut Bi Jum yang juga memekik...
Anna yang mendengar teriakan Rossy sigap menghampiri anaknya itu
...”mau kemana kamu sepagi ini, Rose?” Tanya Anna...
Rossy menoleh sebentar pada Anna lalu fokus pada ponselnya
...“mau cari keperluan bayi Ma, oh ya Mama, Papa, sama Oma siap - siap ya, siang ini juga kita berangkat ke Jogja, tiketnya udah diurusin sama asisten Rossy” tutur Rossy...
Anna mengerutkan keningnya
...”Mau ngapain kita ke Jogja Rose? Dadakan banget! Terus buat apa beli perlengkapan bayi segala?” ...
...“Buat temen Rossy yang mau lahiran Ma, udah pokoknya Mama siap - siap aja, Rossy buru - buru” ucap Rossy sambil mengecup singkat pipi Ibunya itu, lalu tergesa memacu langkahnya menuju keluar rumah...
...****************...
Areta menggigit bibir bawahnya ketika perutnya mulai terasa melilit lagi, matanya pelan membuka
...“April, sakit lagi perutnya” rintihnya sambil mencari - cari tangan April, Areta lekas menoleh ketika merasa genggaman pada tangannya berbeda, jelas ini tangan pria, seperti pria yang pernah dikenalnya, tapi entah siapa...
Deg..
Rasa sakit Areta bercampur dengan rasa kagetnya sekarang, wajah Areta berubah - ubah, sebentar bengong sebentar meringis
...”Kak, kok bisa ada disini?” Tanya Areta dengan napas yang terengah...
Rivandra mengecup sayang kening istrinya yang berpeluh
...”larilah ke ujung dunia manapun Areta, saya pasti akan menemukanmu” ucapnya...
__ADS_1
Areta tak terlalu menanggapi, ia sibuk merasakan sakit yang menderanya, mulutnya terbuka mengeluarkan lenguhan karena sakit yang teramat
...”sakit!” Pekiknya, pegangannya pada Rivandra semakin kuat...
Rivandra berteriak memanggil dokter dan perawat yang lalu sigap berdatangan, dokter kandungan lalu meregangkan lagi kaki Areta, memeriksanya dengan teliti
...“Sudah pembukaan empat dok” lapor dokter itu pada Rivandra ...
Rivandra lantas mencium lagi kening Areta saat wanita itu terus mengerang kesakitan
...”Tuh udah pembukaan empat, berjuang ya sayang, yang kuat” tutur Rivandra dengan mata yang berkaca - kaca, tak tega melihat wanita yang dicintainya itu didera kesakitan....
...****************...
Meskipun dengan penuh tanda tanya, nyatanya baik Julian, Anna, maupun Oma manut saja pada perintah Rossy untuk berangkat ke Jogja siang itu juga, Anna semakin bingung saat melihat Rossy yang membawa segambreng baju dan peralatan bayi
...“Hei Rose, ini sebenarnya ada apa di Jogja? Kenapa kami diseret kesini tiba - tiba? apa ini ada hubungannya sama Rivandra atau Pandu, setau Oma bukannya mereka lagi di Jogja buat bakti sosial?” Selidik Oma saat mereka di bandara sesaat sebelum keberangkatan ...
Rossy hanya cengengesan saja, pada dasarnya sulit berbohong pada Oma apalagi pada Julian yang menatapnya penuh curiga sekarang
...“Iya juga, apa ini ada hubungannya sama Rivandra? Astaga apa keperluan bayi itu ada hubungannya sama Rivandra, Rose?” Cecar Anna, pikirannya sudah berlayar kemana - mana, apa Rivandra berhubungan dengan wanita lain selain Mauren dan Areta dan saat ini wanita itu akan melahirkan anaknya? Ya Tuhan.. wajah Anna berubah panik...
Rossy mengusap tengkuknya, bingung untuk menjelaskan, sampai akhirnya panggilan boarding menyelamatkannya dari tatapan Julian yang menuntut penjelasan
Sementara di rumah sakit tempat Areta sedang berjuang untuk melahirkan bayinya, dokter dan perawat sudah mulai panik, pembukaan Areta terhitung lumayan cepat, sepertinya kedatangan Rivandra memberikan Areta seribu kali lipat kekuatan
Dokter menginstruksikan Areta untuk mengatur napasnya, menarik lalu menghembuskan, Areta terus saja mengerang kesakitan, beberapa jam ini terasa sangat menyakitkan untuknya
...“Kak sakit Kak” ucapnya pada Rivandra yang sudah berair mata, tak sampai hati melihat Areta bertarung nyawa...
Pria itu mengeratkan genggamannya, sebelah tangannya mengusap peluh Areta yang membanjir, ingin menenangkan tubuh Areta yang bergerak tak karuan
...”Saya tau Areta, saya tau, kuatlah sayang, kuat” rapal Rivandra pada Areta meskipun ia sendiri yang tak kuat melihat bagaimana Areta sudah kepayahan...
Tak lama napas Areta mulai teratur, sakitnya sudah mulai mereda, menyisakan rasa lemas di sekujur tubuhnya
...“Bu, rileks dulu ya, atur napasnya, sudah mulai pembukaan delapan, kita tunggu perut Ibu mulas lagi nanti sampai pembukaan sepuluh, saat pembukaan sepuluh nanti saya minta Ibu dengerin semua instruksi saya” tutur dokter obgyn itu lagi, ia lalu keluar diikuti para perawat meninggalkan Rivandra dan Areta berdua...
Pria itu telaten mengusap peluh di wajah Areta dengan tisu, lalu menyuapinya minum
...“Kakak ngapain disini?” Tanya Areta pada Rivandra yang kembali getol menyeka ...
...keringat di pelipis Areta...
Rivandra menatap Areta, senyum tersungging di bibirnya, sebelah alisnya naik menggoda Areta
...“Suami? Kak Rivan suami Kak Mauren!” Tandas Areta ...
Rivandra tersenyum lagi, sangat manis
...”Bukannya masih ada yang harus kamu jelaskan dibanding menyangkal bahwa saya suami kamu, Areta?” Ucapnya dengan mata tertuju pada perut buncit Areta...
Areta gelagapan, bagaimana cara ia menjelaskan, menyangkal pun tak mungkin, ia sudah tertangkap basah
...“Maaf Kak, ini yang terbaik! Yang terbaik juga untuk kita kalau Kak Rivan pulang sekarang, aku udah tenang disini Kak, tolong jangan rusak ketenanganku, pulang lah Kak! Jangan ribut lagi sama Kak Mauren karena hal yang sama!” Titah Areta dengan wajah memelas...
Rivandra bersedekap
...“Heemm, terbuat dari apa hati kamu Areta, tega - teganya kamu memisahkan lagi seorang Ayah dari anaknya setelah kamu menyembunyikannya berbulan - bulan?”...
...“Kak tolong lah, pulang lah! Kita sudah ga ada hubungan apa - apa lagi Kak, aku janji nanti setelah bayinya lahir aku kabarin Kakak, sekarang Kakak pulang lah ke istri Kakak, jangan buat keributan lagi di rumah!” Cerocos Areta dengan tenaga yang tersisa...
...“Loh ini saya udah pulang ke istri saya, disini tempat saya, sama istri dan anak saya! Inget Areta, tidak ada kata cerai yang saya ucap, kamu masih istri saya dan tetap akan jadi istri saya satu - satunya” tutur Rivandra sambil mengelus sayang surai Areta...
...“Aduh Kak kegilaan apalagi ini, istri Kakak itu cuma Kak Mauren, sudahlah Kak aku pengen ngelahirin dengan tenang!”Areta pelan membalik badannya memunggungi Rivandra, pria itu maju mendekat lalu memeluk punggung Areta, Areta ingin menepis tapi rasanya tenaganya sudah tak ada lagi...
...“Semua sudah selesai antara saya dan Mauren, sekarang dan sampai kapan pun hanya kamu istri saya satu - satunya”...
Areta yang bergeming membuat Rivandra mengurai pelukannya, wanita itu menoleh sedikit
...”Apa itu maksudnya Kak? Apanya yang udah selesai?” ...
Rivandra menghela napasnya
...”Banyak hal yang terjadi saat kamu pergi, Areta, salah satunya adalah perpisahan saya dengan Mauren” ...
Areta terkesiap
...”Kalian berpisah? Karena aku?” Cecar Areta, demi apa pun ia tak ingin menjadi alasan untuk perpisahan seseorang...
...“Ga ada hubungannya sama kamu Areta, bukan karena kamu!” Tegas Rivandra ...
...“Lantas karena apa Kak? Jangan memberiku informasi setengah setengah disaat aku sedang berjuang melahirkan anak Kakak!” Sewot Areta, Rivandra terkekeh melihat wajah penasaran Areta...
Pria itu lalu meraih tangan Areta dan menciuminya
__ADS_1
...“Karena pengkhianatan, kebohongan yang sudah dia lakukan selama bertahun - tahun” ...
Areta tak merespon lagi, rasa mulas yang hebat kembali melandanya, napas dan keringatnya mulai memburu lagi
...”Kak, sakit banget Kak!” Pekiknya...
Pria itu menggenggam tangan Areta, memberinya kekuatan sebelum ia berteriak memanggil dokter dan perawat kembali
...“Sudah waktunya dok” ucap dokter pada Rivandra setelah memeriksa lagi kondisi Areta...
Pria itu mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya pada Areta yang tengah memekik kesakitan
...”Sayang, berjuanglah untuk dia, bayi kecil yang nanti akan memanggilmu Mama dan memanggilku Papa, bayangkan betapa cantiknya ia nanti, sama seperti kamu” ...
Bisikan Rivandra bagai suntikan adrenalin untuk Areta, wanita itu mengumpulkan napasnya lalu menghembuskan dengan teratur sesuai arahan dokter
...“Kak, ini sakit banget Kak! Aku ga kuat” rintih Areta dengan air mata yang berlinang, kepalanya menggeleng - geleng, nyawanya seolah sedang ditarik pelan dari ubun - ubunnya...
Rivandra merapal do’a - do’a, meminta kekuatan dan keselamatan untuk Areta dan bayinya, tangannya mengusap air matanya sebelum ia memegang wajah Areta
...”lihat saya Areta, lihat wajah pria yang begitu mencintai kamu!” Areta mengikuti titah Rivandra, mengalamatkan netranya pada wajah Rivandra diantara suara dokter yang terus memberikan instruksi untuk mengejan atau menahan...
...“Ada saya disini, ada bayi kita juga nanti, ingat semua perjuangan kamu untuk anak kita, berjuang lagi Areta, ingat kebahagiaan besar saat nanti dia memanggilmu Mama” Rivandra terus saja memberikan Areta motivasi, meskipun hatinya tercabik mendengar rintihan Areta...
...“Ayo Bu, tarik napas, hembuskan perlahan, lalu Ibu dorong sekuat tenaga” titah dokter obgyn itu padanya...
Areta mengulang sesuai instruksi yang sama berulang kali, hingga ia nyaris kehilangan tenaganya, namun anaknya belum juga keluar dari sana
...“Dorong lagi Bu! Jangan lemas dulu, ayo Bu, saya hitung, satu.. dua.. tiga, dorong Bu!” Titah dokter berulang kali...
Areta mengejan sekuat tenaganya, tangannya meremas genggaman Rivandra, giginya beradu menahan sakit yang tak terkira, semua tulangnya terasa dipatahkan bersamaan
...“Bagus Bu, kepalanya sudah mulai terlihat, tarik napas dulu, lepaskan, lalu dorong sekuat tenaga Ibu!” Titah sang dokter...
...“Saya ga bisa dok, saya ga kuat lagi, saya nyerah!” Ucap Areta dengan napas yang terengah, keringat dan air matanya makin bercucuran ...
Rivandra meremas jari Areta
...”Apa kami ga pantas diperjuangkan, Mama? Apa Mama ga ingin melihat Lily tumbuh cantik dengan rambut yang dikepang sama Mama sebelum sekolah nanti?”...
Areta menoleh pada Rivandra, air matanya semakin basah, bisikan itu menguatkan impulsnya, nama Lily yang disebut Rivandra memberi kekuatan baru untuk Areta, nama anak mereka nanti yang mirip dengan nama Almarhumah Ibunya
Genggaman tangan Areta pada Rivandra semakin kuat saja
...“Aku sayang kamu dan Lily, Kak” ucap Areta lirih sebelum ia menarik napasnya, menghembuskan perlahan, lalu mendorong sekuat tenaganya. Suara erangan panjang terdengar, bersamaan dengan suara instruksi yang tak henti henti dari dokter dan perawat, Areta mengerahkan semua tenaganya yang tersisa, tak peduli peluh dan airmata yang makin deras mengucur...
Hempasan tubuh Areta dan napasnya yang terengah bersamaan dengan keluarnya sang bayi, seorang dokter anak sigap membawa bayi itu untuk diperiksa, sesaat ketegangan melanda Rivandra diantara kelegaan, tak lama suara tangis bayi memecah ketakutannya, ciumannya bertubi ia daratkan pada wajah Areta, air mata lega mengalir di pipinya, Rivandra bahkan terisak bahagia sekarang
...”terima kasih sayang, kamu sudah memberikan saya kebahagiaan, terima kasih Mama” ucap Rivandra sambil menempelkan dahinya ke dahi Areta, senyum terpancar di wajahnya yang basah karena air mata...
Rivandra meninggalkan sebentar Areta yang masih ditangani oleh dokter untuk menemui bayi mungilnya, bayi yang sehat dan sempurna, hanya ukuran dan berat badannya yang masih kurang, karena kelahirannya yang prematur.
...****************...
Bahagia terlihat di wajah Rivandra dan Areta, mereka sudah berada di ruang perawatan VVIP sekarang, sang bayi yang telah dibersihkan pun sudah berada bersama mereka, tadi April sudah datang sebentar mengantarkan keperluan Areta dan menemui bayi mungil Areta sambil berurai air mata saking bahagianya, tak lama ia disana, ingin memberikan kesempatan pada Areta dan Rivandra untuk bicara.
Bayi perempuan mungil itu kini dalam gendongan Rivandra setelah Areta selesai menyapihnya, pria itu menatap lekat darah dagingnya sendiri yang berparas cantik, kombinasi antara ia dan Areta, rasa syukur tak lepas dari lisan dan hatinya, dimana ia mendapat dua kebahagiaan sekaligus, bertemu lagi dengan Areta dan menggendong anaknya sendiri
Areta menatap keduanya dengan hati yang menghangat, rasa sakit dan lelahnya terbayar sudah
...“Ditidurin di box bayinya Kak, kalau digendong terus entar bau tangan” ...
...“Saya ga keberatan kalau harus gendong Lily terus” sahut Rivandra, matanya berkaca - kaca sudah, kubangan bening menggelayut di matanya yang berbinar, lalu dalam hitungan detik pecah berderai membasahi pipinya...
...“Tapi kalau nanti Kak Rivan ga ada gimana?” Tanya Areta, pria itu menoleh padanya, kemudian bangkit dan meletakkan bayi mungilnya dengan hati - hati di box bayi, mengusap air matanya sebentar lalu berjalan mendekati pembaringan Areta dan duduk di sebelahnya...
...“Memangnya saya mau kemana? Jangan berharap kalau saya akan akan jauh lagi dari kamu, Areta” tandas Rivandra ...
Areta tak tahu harus menjawab apa, apalagi ketika jemari pria itu menumpuk di tangannya
...“Setelah kamu pulih, kita kembali ke rumah ya, saya ingin kita menikah secara negara juga” ...
Permintaan Rivandra jelas membuat hati Areta berbunga bahagia, hadiah terindah setelah perjuangannya barusan, tapi ia tak mungkin menerimanya begitu saja, ada beberapa hal yang harus ia luruskan dulu soal Mauren
...“Kak, ceritain dulu yang sejelas - sejelasnya soal Kak Mauren dan Kakak” ...
Netra pria itu menelisik
...”Janji dulu Areta, setelah kamu pulih nanti, kita pulang dan menikah lagi!” Titah Rivandra ...
Areta mengangguk pelan, menunduk dengan wajah memerah padam, Rivandra bahagianya ampun - ampunan, matanya berkaca - kaca lagi meskipun senyumnya terukir, entah sudah untuk keberapa kalinya hari ini. Tangan Rivandra terulur menarik pelan dagu Areta, mengadu netra miliknya dan milik wanitanya
...“Terima kasih” ucapnya sambil mengecup bibir Areta...
...“Kak, cerita dulu!” Sewot Areta...
__ADS_1
Pria itu beringsut duduk di tempat tidur tepat di samping Areta, ia lalu menambatkan kepala Areta di dadanya sebelum kemudian ia menceritakan tragedi yang terjadi dalam rumah tangganya bersama Mauren.