
Seperti keinginan Rivandra, mulai esok harinya Areta mengantarkan Rivandra ke rumah sakit hingga masuk ke ruangannya, jangan ditanya bagaimana perlakuan para karyawan di rumah sakit pada Areta sekarang, semua mengangguk hormat full senyuman meskipun ada yang tulus dan ada pula karena terpaksa, tak ada lagi orang yang berani menatap Areta dari ujung kaki sampai ujung kepala atau bisik - bisik, semuanya tunduk patuh pada pemilik baru rumah sakit.
Areta saja sampai terkekeh menyadari kalau dokter - dokter wanita yang biasa memandanginya dengan sinis pun kini berubah seperti kucing manis di depannya, mungkin sekarang mereka yang krisis percaya diri di depan Areta, bagaimana tidak, pagi ini Areta terlihat sangat cantik dalam balutan baju mahalnya, kaki jenjangnya bertengger di atas sepatu high heels, satu tangannya menenteng tas yang harganya tak main - main, dan yang paling mencuri perhatian semua orang adalah satu tangan Areta menggandeng tangan kekar pria tampan yang jadi pujaan wanita - wanita muda bergelar dokter itu, untuk yang sadar diri sih cukup mengelus dada saja, untuk yang tak bisa menerima, sudah bisa dipastikan sekarang sedang kebakaran jenggot
...“Ini sih bukan nganterin namanya, tapi ikut kerja” protes Areta, sudah hampir jam sembilan pagi dan Rivandra tak juga mengizinkannya pulang, pria tampan itu malah menahan Areta di ruangannya, enggan untuk ditinggal pulang...
...Rivandra yang sudah mengenakan jas dokter kebesaranya malah semakin asyik menciumi bibir Areta yang tengah duduk di pangkuannya, “heeemm.. saya semangat kalau ada kamu disini, susah mau ngelepasin buat pulang” ...
...“Nanti sore kan aku jemput lagi sayang, sekarang aku pulang dulu ya, mau ngurusin Lily dulu” ucap Areta sambil membalas kecupan bibir Rivandra, sesekali ia ***** dalam bibir tipis suaminya itu...
...Mendengar Areta hendak pulang, Rivandra benar - benar tak rela, sekalian saja ciumannya ia pindah ke leher Areta, kadang sekedar dikecup sayang, kadang dihisap pelan agar tak meninggalkan bekas, “Bentar lagi” ucapnya...
Areta membiarkan suaminya itu menjelajahi leher jenjangnya, sesekali ia menggigit bibir bawahnya dan refleks meremas rambut klimis Rivandra
...“Ah Kak” desah Areta serak, Rivandra tersenyum puas mendapati istrinya mulai terpancing gairah, Rivandra gerak cepat membopong Areta menuju kamar istirahat di ruangannya sebelum Areta berubah pikirian...
Di ruangan itu suara ******* saling bersahutan, beruntung ruangan Rivandra kedap suara, jika tidak sudah dipastikan semua penghuni rumah sakit bisa mendengar bagaimana lenguhan keduanya, apalagi Rivandra.. beberapa kali ia meneriakan betapa ia memuja istrinya itu, betapa ia menikmati pergumulan keduanya, dan segala kata - kata penuh puja dan puji untuk Areta, mereka lalu larut saling memberi kepuasan, saling menyalurkan cinta dan kasih sayang, Rivandra semangat merajai istrinya menubruki tanpa henti, tak ia hentikan juga serangannya meski peluh sudah membanjiri mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruangan lain Pandu sedang membaca surat pengunduran diri yang diserahkan oleh Laura pagi ini, ia mengerti sih alasan Laura mengundurkan diri, jujur saja ia pun merasa lega karena sosok yang pernah menjadi kerikil dalam rumah tangga adiknya itu tahu diri dan mundur dengan sendirinya
...“Anda sudah yakin untuk mengundurkan diri dari rumah sakit ini?” Tanya Pandu pada Laura yang terduduk kaku di depannya, wajahnya yang pucat tak berekspresi seperti tak ada keinginan lagi untuk melanjutkan hidupnya esok hari...
...“Saya yakin dok” sahut Laura ...
...“Baiklah, saya terima surat pengunduran diri anda, untuk gaji, bonus apresiasi, dan semua fasilitas yang akan diterima oleh karyawan yang mengajukan pengunduran diri akan segera diurus oleh bagian personalia, setelah ini silakan anda temui manager personalia untuk mengurus semuanya” tutur Pandu, ia lalu membubuhkan tanda tangannya sebagai pertanda bahwa ia menyetujui keinginan Laura...
...Laura menggeleng pelan, “saya tidak ingin gaji, bonus, atau apa pun, saya hanya punya satu keinginan” tutur Laura ...
...Pandu mendongak, lalu menatap Laura penuh telisik, “apa itu?” Tanya Pandu...
...“Saya ingin bertemu dengan dokter Rivandra untuk terakhir kali, dok” ucap Laura penuh harap...
...Pandu mendengus, “ga bisa, dokter Rivandra sedang sibuk” tandasnya...
__ADS_1
...“Sibuk? Tapi tadi saya sudah cek jadwal operasi, dan tidak ada tindakan operasi dokter Rivandra pagi ini, dok!” Sanggah Laura bersikukuh...
...“Emang bukan sibuk operasi pasien, tapi sibuk sama istrinya, apa anda lupa kalau mulai hari ini istrinya dokter Rivan akan terlibat dalam pengelolaan rumah sakit?” Tandas Pandu, ia sudah mulai jengah dengan permintaan Laura yang tak masuk akal...
Badan Laura melemas, tangisnya nyaris meluruh, ternyata di hari terakhir ia berada di rumah sakit ini pun ia tak bisa bertemu dengan Rivandra
...“Apa tidak bisa sama sekali dok, meskipun sebentar saja?” Tanya Laura lagi, kubangan bening sudah mulai meluruh mengalir pelan di pipinya...
...Pandu menghempas punggungnya ke sandaran kursi, tatapannya sudah mulai menajam, tangannya ia bawa bersedekap di depan dadanya, “tahan sedikit harga diri anda dokter Laura, ini hari terakhir anda di rumah sakit ini, biarkan orang memiliki kenangan positif tentang anda, jangan mempermalukan diri anda sendiri!” Sengit Pandu, agak meninggi suaranya, kesal yang ia rasa mendapati Laura yang ternyata tak juga sadar diri...
...“Anda tidak tau bagaimana pengorbanan saya selama bertahun - tahun agar bisa dekat dengan dokter Rivandra, semenjak pertemuan kami saat masih remaja dulu, saya sudah meyakini kalau dokter Rivandralah satu - satunya pria untuk saya, semenjak itu saya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, saya mencari tahu semua kegiatan dan kesukaan dokter Rivandra, saat saya tau dokter Rivandra kuliah kedokteran, saya belajar mati - matian agar bisa mengikuti jejaknya, saya bahkan rela melakukan bedah plastik, sedot lemak, bahkan diet mati - matian untuk menyempurnakan penampilan saya!” Tutur Laura mencurahkan isi hatinya, Pandu hening tak ingin menanggapi tapi tak juga ingin menghentikan omongan Laura...
...Laura mengusap sebentar air matanya yang setia mengalir, “saat dokter Rivandra kuliah spesialis bedah di luar negeri saya pun mengikutinya, saat dia menikah dengan artis terkenal saya tak patah arang, saya yakin saya yang terbaik untuk dokter Rivandra, dan saat saya dengar perceraiannya saya semakin yakin kalau dokter Rivandra memang untuk saya, tapi saya tidak memperhitungkan ada perempuan lain yang ternyata mampu mencuri hatinya” lirih Laura...
...Senyum Pandu sinis pada Laura, penuh ejekan, “bukan hanya mencuri hati bahkan dokter Rivandra bucin parah pada istrinya, kalau jadi kamu saya jelas akan mundur dan melupakan dokter Rivandra selupa - lupanya, karena tak mungkin membuat dokter Rivandra memalingkan perhatiannya pada wanita lain dari istrinya” ...
Laura tahu itu, tapi hatinya berkeras enggan menerima, ia sudah mencari tahu tentang Areta, dan tak ada satu pun yang Areta miliki yang tak dimiliki olehnya, bahkan secara kualitas ia jelas lebih baik, itu yang ia tak mengerti bagaimana Rivandra begitu bisa bertekuk lutut pada Areta
...“Kenapa harus Areta?” Gumam Laura refleks, pelan tapi masih mampu di dengar Pandu...
Laura terhenyak mendengar penuturan Pandu, tapi lagi - lagi hatinya tak mau dan tak mampu menerima, “Tapi….”
Brakkk
Omongan Laura terhenti ketika Pandu menggebrak meja tanda ketidak sukaannya
...“Apa anda belum cukup bersikukuh ingin menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Areta, adik saya?” Sentak Pandu...
...Laura kembali terhenyak kaget, “A-adik?” Tanya Laura terbata...
...“Iya, Areta adalah adik saya! Dan sebagai seorang Kakak saya tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke dalam kehidupan rumah tangga adik yang sangat saya sayangi, jadi silakan segera urus pengunduran diri anda ke personalia dan angkat kaki dari rumah sakit ini, saya tidak harus menambah rasa malu anda lagi setelah dipermalukan oleh istri saya tempo hari, bukan?” Sengit Pandu...
Laura tak berani lagi berucap, dengan lutut yang gemetaran ia segera beranjak meninggalkan ruangan Pandu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hari sudah menjelang siang dan nyatanya Areta tetap dikurung di ruangan Rivandra, bahkan nyaris tak bisa beranjak dari samping suaminya itu, bucin Rivandra sudah meningkat kadarnya, ia bisa uring - uringan ketika tak melihat, mendengar suara, atau mendapat kabar dari Areta meski hanya dalam hitungan jam
...“Kasian Mama Anna, jadi repot ketitipan Lily” sungut Areta sesaat setelah mendengar kabar tentang putri kecilnya lewat pesan yang dikirim mertuanya...
...“Mama mana kerepotan sayang, yang ada malah seneng seharian sama Lily, lihat aja bentar lagi paling Mama ngajak Lily ke mall bareng Mama Amel” sahut Rivandra sambil fokus pada layar laptopnya ...
Areta memajukan bibirnya, bersamaan dengan perutnya yang kini keroncongan
...“Kak, laper” ucap Areta manja, mendengar suara manja Areta sontak Rivandra menoleh padanya meninggalkan semua fokus pada pekerjaannya...
...“Mau makan dimana sayang?” Tanya Rivandra...
Areta menggigit bibirnya saat berpikir hendak bersantap dimana mereka
...“Sayang, bibirnya jangan digigit - gigit coba, saya gemas! Apa kamu mau rambut kamu yang baru kering harus basah lagi, heemm?” Goda Rivandra, sambil bertubi menciumi pipi Areta...
...“Boleh, tapi isi perut dulu ya Kak! Aku lemes kalau ga makan dulu, tadi Kak Rivan ganas banget soalnya” sahut Areta yang mengundang tawa suaminya, Rivandra tak menyangka pun jika jawaban Areta akan seperti itu, ia pikir Areta akan menolak, fix mereka memang pasangan mesum dan bucin...
...“Ya udah, buruan makan yuk, mau dimana makannya?” Tanya Rivandra tak sabaran...
...“Di kantin rumah sakit aja ya Kak, aku udah ga kuat laper!” Sahut Areta...
Rivandra mengangguk mengiyakan dengan senyuman yang lebar, segera ia gandeng tangan istrinya untuk menuju kantin tempat para dokter dan karyawan rumah sakit mengisi perutnya, kantin yang disediakan gratis untuk semua pekerja rumah sakit itu sudah ramai dengan disesaki orang dan semua hiruk pikuk kebisingan, namun tiba - tiba semua hening ketika pasangan suami istri itu datang, mengambil kursi di tengah - tengah kantin jelas membuat Areta dan Rivandra semakin menjadi pusat perhatian, tapi mereka tak peduli pun, biar semua orang melihat afeksi kebucinan mereka.
...“Kamu tunggu disini ya, saya ambilin makanan dulu” ucap Rivandra pada Areta, Areta mengangguk cepat, tak kuat lagi dengan pemberontakan yang terjadi di dalam perutnya...
Tak lama Rivandra kembali membawa satu tray berisi makanan dan minuman untuk Areta
...“Loh makanan Kak Rivan mana?” Tanya Areta ...
...“Makannya berdua ya, tapi saya pengen kamu suapin saya” sahut Rivandra, ia lalu duduk di depan Areta, lantas menopang dagu dengan tangannya, matanya berbinar menyaksikan istrinya yang cantik di depannya, terlihat sekali bucinnya Rivandra ...
Areta tak malu - malu saat menyuapkan sesendok makanan pada Rivandra, yang masih punya hati pada dokter tampan itu jelas patah hati, yang sudah ikhlas hanya tersenyum sumir, dan yang paling berdarah - darah hatinya adalah Laura, ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana seorang Rivandra memuja Areta, apalagi ketika Rivandra, pria yang terkenal sangat dingin dan kaku itu dengan sangat lembut mengusap ujung bibir Areta yang terkena noda makanan dengan jarinya, sontak meremuk redamkan hati Laura, benar kata Pandu tak mungkin merebut Rivandra dari Areta.
(Note dari Author: dear all readers, mohon maaf ya jika updatenya lama, dan mohon maaf juga belum bisa respon komentar dan maaf karena updatenya tidak terlalu panjang, berhubung Author baru saja selesai operasi lasik yang tidak memungkinkan untuk memegang gadget lama - lama, soon setelah recovery updatenya akan lebih panjang ya, terima kasih untuk komentar, like, gift, dan votenya 🥰🥰🥰🥰)
__ADS_1