
...“Kamu gimana sih Areta? Kenapa malah janji - janji segala sama Oma? Kamu itu berhak menentukan hidup kamu sendiri!” Sewot April, Areta sampai sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya, suara cempreng temannya itu nyaris memekakkan telinganya...
...“Kamu ga tau sih rasanya ditodong sama orang tua yang lagi kritis sih Pril” tutur Areta lesu...
...“Ah dasar kamunya aja yang ga tegas, mau sampai kapan kamu bertahan dalam pernikahan mengerikan kayak gitu, hah?” Sentak April berapi - api...
...“Ga tau Pril, sampai Kak Rivandra inisiatif jatuhin talak aja kali, soalnya kan aku udah janji sama Oma” sahut Areta lagi semakin lesu meratapi ketidak berdayaannya...
April hening sejenak
...“Halo Pril? Halo?” Diamnya April jelas membuat Areta bingung mengingat temannya itu nyaris tak pernah diam...
...“Sabar sih, bentar lagi mikir!” sungut April, Areta ikut diam menanti hasil pemikiran April, apa pun itu...
...“Ta, kamu ga pengen tegas apa sama Kak Rivandra?” Tanya April...
...“Tegas gimana maksud kamu Pril, itu orang keras kepalanya minta ampun, akalnya juga sejuta, aku bukannya ga pernah tegas Pril minta - minta sama dia buat cerai, tapi ada aja halangannya” cerocos Areta, sekalian mencurahkan kekesalannya pada Rivandra...
...“Bukan itu Areta, maksud aku.. gini.. “ April menjeda omongannya, hening lagi sebentar...
...“Minta Kak Rivandra milih kamu atau Kak Mauren, Areta” tutur April ...
Deg..
Pantas saja April sampai berpikir berkali - kali, ternyata yang akan disampaikannya memang tak waras
...“April cantik…”...
...“Dengerin dulu Ta!” Areta belum tuntas bicara, tapi April langsung memotongnya, berharap Areta mendengarkan sarannya lebih dahulu...
...“Ini tuh kayak di drama - drama kerajaan Korea, Ta.. siapa yang berhasil punya anak dari raja duluan, maka dialah yang berkuasa, jadi harusnya kamu yang dipilih Kak Rivandra dibanding Kak Mauren” jelas Areta...
...“Ahahaha.. dasar korban drakor kamu Pril, terlalu halu! Dalam kehidupan nyata ceritanya ga akan semudah itu April, lagian aku ga tertarik rebutan Kak Rivandra, biarin aja dia buat Kak Mauren Pril” Areta yang tadinya hendak memaki temannya itu justru tergelak mendengar saran konyol April...
...“Kalau gitu untuk apa kamu mertahanin rumah tangga kamu Areta? Sampai kapan kamu jadi istri gelap Kak Rivandra, hah? Cerocos April ...
Areta diam
...“Areta, ayo jawab! Ngapain kamu masih bertahan disitu?” Todong April lagi...
...“Pril, aku ga tega sama Oma, Oma baik banget Pril, aku takut Oma malah ngedrop lagi kalau nyampe denger aku sama Kak Rivandra cerai, Oma udah tua Pril sakit jantung pula, kata dokter Oma ga boleh stress atau denger berita - berita yang ga enak lagi, kalau Oma nyampe kenapa - kenapa gara - gara aku gimana Pril?” argumen Areta...
...“Hadeuuhh.. ribet dah ah, ya udah pokoknya kapan pun kamu siap buat pergi dari situ, kamu ngomong ya Ta, kalau perlu kita kabur yang jauh!” Ucap April sambil menyudahi pembicaraan mereka...
Areta menghembuskan napasnya, bicara dengan April memang butuh energi yang luar biasa, selain napasnya yang ngos - ngosan, perutnya pun jadi keroncongan. Ibu hamil itu kemudian bangkit dari duduknya, awalnya ia melangkah pasti, tapi begitu sampai di depan pintu kamarnya ia ragu untuk keluar, khawatir bertemu dengan laki - laki durjana bernama Rivandra, memang dari pagi tadi Areta menghindarinya ia bahkan memilih sarapan di kamar, ia membuat sarapan untuk dirinya sendiri sepagi mungkin saat Rivandra masih berada di kamarnya, entah di kamar yang mana.
Areta membuka pintu kamarnya sangat pelan, kepalanya menyembul keluar lalu celingukan mengintai sekeliling, ia tak ubahnya seperti maling. Yakin tak ada Rivandra di luar sana, Areta keluar dari kamarnya dan menutup pintunya sepelan mungkin, tak ingin kalau Rivandra tahu ia sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Kaki Areta melangkah secepat mungkin menuju dapur, dari jauh ia bisa melihat Bi Parni yang sedang sibuk berjibaku di depan kompornya, aroma masakannya menggugah selera, makin membuat perut Areta melilit karena lapar.
...“Masak apa Bi?” Tanya Areta pada Bi Parni, Bi Parni menoleh lalu senyumnya mengembang, ramah dan hangat....
...“Eh Bu, ini lagi masak rawon, Ibu udah mau makan sekarang?” Tanya Bi Parni, Areta tersenyum geli, ia belum terbiasa dengan panggilan Ibu yang disematkan padanya oleh Bi Parni dari pertama kali mereka bertemu...
...“Iya Bi, Areta udah laper.. maaf jadi Bibi yang masak, harusnya tadi Areta keluar kamar lebih cepet buat masak” tutur Areta tak enak, ia tak terbiasa dilayani oleh orang lain...
...“Aduh Bu, Ibu ga usah pake masak - masak segala, nanti Bapak marah sama saya, Ibu juga ga usah ngerjain kerjaan rumah kayak tadi pagi ya, saya jadi diomelin sama Bapak tadi Bu” tutur Bi Parni panik...
...“Bapak? Maksudnya Bapaknya siapa Bi?” Tanya Areta tak mengerti...
...“Lah Bapak, suaminya Ibu” sahut Bi Parni, Areta meringis mendengarnya...
...“Aih, malesnya” gumam Areta pelan, mengingat Rivandra mata Areta bergerak memindai sekelilingnya, khawatir jika batang hidung Rivandra tiba - tiba muncul di depannya...
...“Bi, emmhh.. Bapak dimana ya?” Bisik Areta ...
__ADS_1
...“Bapak tadi pagi udah berangkat Bu, kayaknya pas Ibu masih di kamar” jawab Bi Parni, Areta menghela lega napasnya, senyumnya mengembang mengetahui Rivandra tak ada disana...
...”Areta, kamu udah makan?” Tanya Rossy yang baru saja bergabung di dapur...
...“Baru mau makan Kak” sahut Areta sumringah...
...“Kalau udah selesai makan, kamu siap - siap ya” tutur Rossy, kakak iparnya itu lalu duduk di depannya...
Areta mengangguk mengiyakan, fokusnya sekarang pada rawon dan sepiring nasi yang disajikan Bi Parni di depannya
...“Nanti Rivandra jemput kamu, tadi pagi dia ada jadwal operasi, tapi katanya barusan sudah di jalan mau kesini” jelas Rossy, mendengar itu sendok yang sudah di depan mulut Areta turun lagi dan Areta letakkan begitu saja di piringnya...
...“Emangnya aku mau kemana sama Kak Rivandra Kak?” Tanya Areta panik...
...“Periksa kandungan Areta, Kak Rossy udah bikinin janji sama dokter Kartini” sahut Rossy ...
...“Aku berangkatnya sama Kak Rossy aja ya, please Kak” rayu Areta dengan wajah memelas...
...“Aih ga usah pake jurus ngerayu gitu, bukannya Kak Rossy ga mau nganterin kamu, tapi Kakak udah ada janji sama klien siang ini” jawab Rossy...
...“Kalau gitu aku berangkat sendiri aja Kak, aku bisa kok” rengek Areta, tak terbayang kalau ia harus berduaan bersama Rivandra, periksa kehamilan pula ...
...“Ga boleh Areta, masa kamu ke dokter kandungan sendiri sih? Kayak ga punya suami aja, udah nurut aja sama Kakak, kalau si Rivandra macem - macem sama kamu, kamu bilang sama Kakak ya, ntar Kakak hajar dia nyampe kapok!” Tegas Rossy...
Menghadapi Rossy sama saja dengan Rivandra, keras kepala luar biasa
...“Ya udah” ucap Areta pasrah, lanjut menyantap makanannya dengan enggan, sia - sia saja ia bersembunyi di kamarnnya sepanjang pagi ini kalau ujung - ujungnya ia harus bertemu dengan Rivandra lagi...
...****************...
...“Bu, Bapak udah nunggu di ruang tamu” ucap Bi Parni sambil mengetuk pintu kamar Areta...
Akhirnya waktu yang Areta takutkan datang juga, Areta memukul - mukul kasurnya frustasi, entah kenapa semakin ia ingin lari dari Rivandra, semakin mendekat pula laki - laki itu padanya. Gayung tak pernah bersambut untuk mereka, ia pernah menunggu pria itu, mengharapkannya, menginginkannya, namun pria itu malah menghilang, sibuk dengan Mauren, ironis.
...“Bentar lagi saya keluar Bi” pekik Areta lesu, selesu langkahnya menuju keluar kamar...
...“Udah siap?” Tanya Rivandra, Areta hanya mengangguk, malas berucap...
...“Ya udah, yuk” ucap Rivandra, senyum tak lepas dari wajahnya, kali pertama ia mengantar istrinya untuk periksa kandungan, perasaan senang, gugup, bangga semuanya bercampur jadi satu, meskipun sang istri manyun sepanjang perjalanan mereka...
...“Kenapa harus duduk di belakang sih Areta? Saya kan bukan supir kamu” Tanya Rivandra lembut, ia kini hanya bisa memandangi Areta dari kaca tengah spion mobilnya...
...“Kenapa aku harus duduk di depan?” serang Areta...
...“Kan kamu istri saya Areta, normalnya istri itu duduk disamping suaminya” jawab Rivandra...
...“Itu kan kalau pernikahan normal, kita ga normal, terpaksa karena kondisi” tohok Areta...
...“Tapi kan tetep aja status kita suami istri” sahut Rivandra tak mau kalah...
...“Kalau banyak peraturannya, aku turun disini aja Kak, aku bisa naik taksi sendiri” tandas Areta...
Rivandra menghela napasnya
...“Oke oke, kalau kamu maunya duduk disitu, ya udah ga apa - apa” tutur Rivandra mengalah, ia tahu itu bukan ancaman, wajah Areta memperlihatkan keseriusan...
Jadilah sepanjang perjalanan mereka ibarat supir dan majikan, jika biasanya Rivandra yang bersikap dingin dan acuh, kali ini ia yang banyak bersusah payah mencari topik agar mereka bisa bicara, meskipun Areta menimpali sekenanya, hingga mereka sampai ke rumah sakit
...“Jangan lupa pakai topi dan maskernya”ucap Areta sesaat sebelum ia akan turun dari mobil, Rivandra mengerutkan keningnya...
...“Untuk apa?” Tanya Rivandra...
...“Apa Kakak lupa kalau aku cuma istri gelap, anak ini juga anak rahasia, ga boleh ada satu pun yang tahu kalau aku istri Kakak dan anak ini anak Kakak” tandas Areta...
__ADS_1
Jleb..
Hati Rivandra serasa disayat, kenapa sangat menyakitkan mendengar Areta mengucapkan itu, padahal itu adalah kenyataan, sesakit ini juga kah perasaan Areta?
Meskipun tak ingin tapi apa yang Areta tuturkan tadi memang benar, ia harus memakai topi dan masker, mengantisipasi jika ada sesama dokter yang mengenalinya, karena rencananya ia ingin menggandeng istrinya itu, layaknya pasangan bahagia lain yang juga tengah berada disana untuk memeriksakan buah hati mereka, tapi harapan tinggal harapan, jangankan mau di gandeng, Areta justru berjalan cepat di depan Rivandra, enggan berdekatan.
Begitu sampai di ruangan pemeriksaan, dokter Kartini menyambut Areta dan Rivandra dengan ramah
...“Apa ini suaminya Bu Areta?” Tanya dokter Kartini...
...“Iya dok, saya suaminya” jawab Rivandra antusias...
...“Sedang flu ya Pak, makanya pake masker terus?” Goda dokter Kartini, ia penasaran betul bagaimana wajah suami wanita cantik itu...
...“Hehehe.. iya dok, maaf” sahut Rivandra kikuk...
...“Padahal saya pengen banget tau siapa laki - laki beruntung yang jadi suaminya Bu Areta loh Pak, tapi ya sudah lah mungkin nanti saya bisa liat di pemeriksaan selanjutnya ya” tutur dokter Kartini, hidung Rivandra kembang kempis dibuatnya, ia memang beruntung bisa memperistri Areta, meskipun pernikahan mereka karena keterpaksaan...
...“Kita langsung periksa aja ya Bu” tutur dokter Kartini yang lalu menuju tempat tidur pemeriksaan, Areta mengekor, begitu juga dengan Rivandra...
Seorang perawat sigap menyingkap baju atasan Areta yang telah terbaring
...“Bapak bisa tolong pegang perut Bu Areta?” Tanya dokter Kartini...
...“Buat apa dok? Emang harus?” Protes Areta, sementara Rivandra sigap maju tanpa malu, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut Areta, ...
Glek…
Rivandra menelan ludahnya tatkala kulit bertemu kulit, dibawah pengawasan mata tajam Areta
...“Elus - elus pelan ya Pak, saya biasanya minta suami pasien saya untuk melakukan itu, agar sang Ibu dan bayi rileks” tutur dokter Kartini memberi penjelasan pada Areta, tangan Rivandra bergerak pelan, mengelus perut Areta, mengalirkan ketenangan untuk istri dan anaknya, hangat. ...
...“Ahahaha.. sudah Pak, jangan lama - lama, nanti aja dilanjutin di rumah” goda dokter Kartini lagi, Rivandra tersenyum malu - malu, sedang Areta mendengus kesal...
Perawat yang tadi kemudian mengoleskan gel dingin di sekitar perut Areta sebelum dokter Kartini menggunakan alat USG untuk memeriksa janinnya
...“Nah itu janinnya” ucap dokter Kartini...
Deg…
Hati Rivandra serasa dipeluk, hangat dan bahagia melihat gambar janin yang mulai terbentuk itu di layar monitor USG, seindah inilah ternyata perasaan menjadi seorang Ayah, mata Rivandra sampai berkaca - kaca, bahagianya tak terhingga
...“Janinnya sehat ya, perkembangannya juga bagus” ucap dokter Kartini lagi...
...“Kapan Ibu dan Bapak terakhir berhubungan suami istri?” Tanya dokter Kartini lagi...
...“Sudah lama enggak dok!” jawab Rivandra secepat kilat seolah mencurahkan keluh kesahnya tanpa ragu - ragu, membuat dokter Kartini dan seorang perawat disitu menahan tawa, sementara sudah bisa dipastikan Areta menggeram menahan marah...
...“Dasar mesum” gumam Areta pelan...
...“Ahahaha.. hubungan suami istri tetap boleh kok Bapak dan Ibu, justru bagus supaya mengurangi tekanan darah Bu Areta, soalnya tekanan darahnya tinggi, sepertinya Bu Areta stress berat ya?” Tanya dokter Kartini...
...“Jangan stress - stress ya Bu, bahaya buat kandungan Ibu” ucap dokter Kartini lagi pada Areta, Areta hanya tersenyum jelas sulit buatnya untuk tidak stress mengingat situasinya sekarang...
...“Dan tolong dibantu istrinya biar happy terus ya Pak” titah dokter Kartini pada Rivandra, Rivandra mengangguk mantap menyanggupi....
...Hanya sebentar saja mereka berada disana, keduanya keluar dengan perasaan yang berbeda, jika Rivandra merasa sangat bahagia, maka tidak dengan Areta, semakin besar kehamilannya semakin khawatir ia akan nasib anaknya nanti...
** “saya boleh minta hasil USG tadi Areta?” Tanya Rivandra, matanya hanya bisa melihat wajah sendu Areta dari spion tengah mobilnya, karena Areta kembali duduk di kursi penumpang
...“Ga usah” jawab Areta singkat...
...“Tapi itu anak saya Areta, saya mau dokumentasiin semua perkembangan anak saya” tutur Rivandra...
__ADS_1
...“Anak rahasia Kak! inget, cuma anak rahasia, artinya apa pun yang menyangkut anak ini tidak perlu di dokumentasikan, jangan nyampe istri Kak Rivandra atau siapa pun nemuin hasil USG anak ini, dia cuma anak gelap Kakak!” Sengit Areta, hatinya perih mengucap itu semua, sesakit hati Rivandra yang kini tak bergeming, tak mampu berkata apa - apa selain menikmati luka yang kini tertoreh di hatinya...
...****************...