
...“Selamat pagi Oma, hari ini mau sarapan apa?” Tanya Areta lembut pada Oma Mieke...
...“Ya ampun Areta, siapa yang nyuruh kamu untuk bangun dari tempat tidur? Bobo sana, ayo! Oma ga mau liat kamu kelayapan di sekitar rumah sampai kamu sembuh total!” Ucap Oma Mieke, tangannya mendorong - dorong pelan tubuh Areta...
...“Oma, Areta udah sehat kok, lagian kalau tiduran terus Areta jadi pusing Oma” sahut Areta, padahal jangankan sehat matanya saja masih sayu, wajahnya pucat, keringat dingin mengucur deras, lemas sudah pasti, tapi namanya numpang di rumah orang, sebaik apa pun mereka Areta tak akan nyaman tidur atau beristirahat berlama - lama....
...“Areta, kamu ga bisa bohongin Oma, tangan kamu aja masih panas gini, ayolah sayang, istirahat lah” bujuk Oma Mieke lagi...
Areta menyunggingkan senyumnya
...“Oma ga mau diurusin sama Areta lagi ya?” Goda Areta...
...Oma bingung hendak berucap apa, mulut Oma sampai menutup membuka, wanita itu selalu saja bisa membuatnya tak berkutik...
...“Ya sudah lah karena kamu cucu Oma, dan kamunya maksa, terpaksa Oma izinin, tapi dengan catatan kamu ga boleh capek - capek, tugas kamu cuma nemenin Oma, begitu Oma tidur kamu juga harus tidur, mengerti?” Cerocos Oma...
...“Iya siap Oma” sahut Areta, nyatanya pada saat Oma tidur, Areta memburu ke dapur, membantu pekerjaan apa pun yang bisa ia kerjakan disana, meskipun para pembantu menyuruhnya untuk istirahat, Areta enggan, bagaimana ia bisa istirahat sementara yang lain bekerja padahal posisi mereka sama...
...“Mbok Jum liat Areta ga?” Tanya Rossy pada pembantunya yang tengah menyediakan makanan ketika semua anggota keluarga akan sarapan, dan seperti biasa Oma dan Areta absen di meja makan, namun saat Rossy mencarinya di kamar Oma Mieke dan Areta, wanita hamil itu tak ada...
...“Anu Non, Areta lagi bersihin dapur setelah tadi masak sarapan buat Non sekeluarga” tutur Mbok Jum tak enak...
Rossy mendelik tajam pada Mbok Jum, sementara Rivandra seketika lemas, istri gelapnya itu bahkan masih harus beristirahat beberapa hari
...“Areta itu bukannya masih sakit Rivan? Apa kamu ga nyuruh dia istirahat?” Tanya Anna pada Rivandra yang sibuk dengan pemikirannya sendiri...
...“Rivan udah nyuruh Areta istirahat Ma, Kak Rossy dan Mauren juga, tapi Aretanya keras kepala banget!” Tutur Mauren...
...“Gimana dia mau nyaman istirahat kalau Mama kamu dengan tegas bilang kalau dia disini buat kerja, buat balas budi?” Sengit Rossy geram pada Mauren, Rossy lalu bangkit meninggalkan sarapannya...
...“Maafin Rossy ya Mauren, dia emang gampang meledak - ledak” ucap Anna...
...“Ga apa - apa Ma, sikap Mama kemarin emang keterlaluan, Mauren juga kasian sama Areta” tutur Mauren lirih...
...“Kamu emang anak baik Mauren” sahut Anna sambil menggenggam tangan menantunya...
...Dan makin dilema lah Rivandra, tak tega melihat Areta membuatnya semalaman menimbang, awalnya ia bertekad untuk membocorkan semua rahasianya dan Areta pada orang tuanya dan juga Mauren meskipun konsekuensinya nanti kemungkinan besar ia akan kehilangan Mauren, tapi begitu melihat Mauren dan mengingat semua pengorbanannya jujur ia tak sanggup, selain itu ia pun masih sangat mencintai Mauren, akhirnya ia kembali ke titik awal, galau. ...
...****************...
...“Mau balik sekarang ke kamar atau mau kakak jewer dulu?” Sengit Rossy sambil berkacak pinggang pada Areta yang baru saja selesai mencuci piring...
...“Iya Kak, ini mau balik ke kamar” sahut Areta pelan...
...“Ya udah cepetan, setelah ini kamu di periksa Rivandra, sarapan habis itu minum obat!” Cerocos Rossy lagi...
...“Iya Kak, iya” sahut Areta gontai, tak sabar Rossy sigap menggandeng tangan Areta setengah menyeretnya untuk segera ke kamar, sepanjang jalan Rossy ngomel - ngomel tanpa henti, Areta cuma bisa pasrah, apalagi ketika wanita berparas bule itu menyuruhnya untuk berbaring di kasur, dan memanggil Rivandra untuk memeriksanya lagi...
Tak banyak interaksi yang bisa dilakukan oleh Rivandra pada Areta, mengingat ada Mauren disitu, setelah diperiksa Areta diminta untuk istirahat, Areta merasa bisa tenang untuk mengistirahatkan dirinya sebentar mengingat Oma dan Rossy pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin kesehatan Oma, sementara Anna dan Julian berangkat ke luar kota, sedang Mauren dan Rivandra entahlah, Areta sungguh tak ingin peduli. Yang pasti pintu kamarnya ia kunci kembali
__ADS_1
Sekuat apa pun Areta mencoba memejamkan matanya, ia tak bisa terlelap juga, ia ingin sekali bercerita tapi entah dengan siapa, jika dulu Kenzo bisa diajak menjadi teman bicara yang menyenangkan, setelah penolakannya sudah pasti Kenzo akan berubah sikap padanya. April, ya hanya April sahabatnya yang bisa ia ajak bicara, meskipun sudah lama mereka tak pernah bertemu, tapi komunikasi diantara keduanya tetap terjalin, baik April maupun Areta saling mengirim pesan untuk menanyakan kabar satu sama lain.
Areta meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas, semenjak kemarin siang ia belum menyentuh ponselnya itu, mata Areta terbelalak melihat banyaknya panggilan masuk tak terjawab di ponselnya, Fabian lah pelakunya, belum lagi puluhan pesan masuk, yang ia yakini dari orang yang sama
...“Mau apa sih nih orang?” Gumam Areta gemas, jari lentiknya membuka satu per satu pesan dari Fabian...
[Areta saya pengen ketemu], [Areta kita harus ketemu], [Areta angkat telepon saya] rata - rata seperti itu bunyi pesan Fabian, Areta mendengus kesal jangankan untuk ngobrol bahkan untuk membalas pesan dari pria itu pun ia enggan
Baru saja Areta hendak menutup aplikasi perpesanannya, ketika pesan dari Fabian masuk
[saya ke situ sekarang] tulisnya dalam pesan, Areta melongo, keras kepala dan nekadnya pria itu tak berubah sedikit pun, membiarkannya datang ke rumah ini sama saja dengan menegaskan bahwa dia lah penyebab gagalnya pernikahan Fabian, terlebih ada Mauren di rumah sekarang.
...“Fabian stress!!” Pekik Areta sambil memukul mukul kasurnya sendiri, tak ingin membuat masalah baru, jari Areta bergegas mengetik pesan untuk Fabian...
[ketemu di taman kota aja] tulis Areta dalam pesannya
[oke] balas Fabian dalam hitungan detik, sepertinya pria itu memang menunggu balasan pesan dari Areta
Meskipun badan rasanya masih remuk redam, Areta memaksakan dirinya untuk berangkat, dengan memakai hoodie dan celana panjang, wanita itu berjalan tergesa menuju gerbang rumah, lalu berangkat dengan menggunakan taksi online yang dipesannya, Rivandra yang baru saja kembali membeli makanan untuk dirinya, Mauren, dan juga Areta, berbalik arah lagi mengikuti taksi yang ditumpangi Areta, rasa penasaran bercokol di hatinya, kemana istrinya itu akan pergi tanpa seizinnya
Rivandra memarkir mobilnya agak jauh dari tempat Areta berhenti, setelah memastikan Areta tak melihatnya, ia sigap turun menggunakan topi bisbol dan masker medisnya, langkahnya tak jauh dari istrinya itu, hatinya menduga - duga untuk apa Areta ke taman kota yang sepi itu
Deg…
Mata Rivandra membulat sempurna tatkala melihat Fabian yang menyambut Areta dengan wajah sumringah, kakak iparnya itu masih mengenakan setelan jasnya lengkap dengan dasi, baru pulang dari kantornya tampaknya. Tampilan pria itu lebih tampan dan gagah dari terakhir mereka bertemu
...“Sial” gumam Rivandra, giginya gemeretak menahan amarah...
...“Ada apa sih Kak?” Sewot Areta tak bersahabat, Fabian memandangnya lembut dan penuh kasih, tangannya sekilas menyentuh tangan Areta, tapi Areta langsung tepis, tak suka....
...“Badan kamu panas Areta, kamu sakit?” Tanya Fabian khawatir, ia lalu menatap lekat wajah pucat Areta, keringat dingin membasahi pelipisnya...
...“Kak, ada apa? Aku ga bisa lama - lama!” Tandas Areta ...
...“Kita ke rumah sakit ya Areta, wajah kamu pucat banget, badan kamu panas, harusnya kamu ngomong kalau kamu sakit!” Ucap Fabian...
...“Sok perhatian banget” gerutu Rivandra pelan...
...“Dan ngebiarin Kak Fabian datang ke rumah keluarga tempat aku menumpang hidup sekarang gitu? Udah cukup aku dipermalukan sama Tante kemarin Kak” sentak Areta...
Fabian tertunduk, tak sanggup menatap mata Areta yang nyalang
...“Maaf Areta, saya ga ada pada saat kamu lagi butuh untuk dibela, maaf karena membiarkan orang tua saya menghina kamu” tutur Fabian lirih, ia sudah mendengar dari Mauren penghinaan yang dilakukan Ibunya pada Areta...
...“Kenapa Kakak ga jadi nikah sama Aurel Kak, kenapa? Gara - gara Kakak hatiku hancur, harga diriku hancur!” Areta berapi - api meluapkan rasa sakitnya, “aku bisa terima jika Tante menghina aku Kak, aku udah biasa, bahkan dari semua memori masa kecilku hampir semuanya diisi oleh penghinaan Tante, bahasa anak haram, anak tak tahu diri, calon wanita murahan, anak pembawa sial udah jadi makanan hari - hariku Kak, tapi kenapa almarhumah Mama harus dibawa - bawa juga?” Tambahnya lagi, perih, pilu. ...
Deg..
Rivandra terhenyak kaget, matanya berkaca - kaca, tangannya terkepal, ia tak menyangka seberat itu hidup yang harus Areta alami
__ADS_1
...“Areta, maaf” tutur Fabian sesak, air matanya mengalir pelan di pipinya...
...“Kak Fabian kenapa nambah masalahku Kak, hidupku udah berat, kenapa Kakak ga nikah sama Aurel? Kenapa Kak Fabian ga hapus chat kita? Kenapa Kak Fabian biarin Aurel baca chat kita?” Cecar Areta lagi, tumpah ruah semua kekesalannya...
...“Saya ga bisa nikah sama Aurel Areta, saya ga bisa!” Tutur Fabian ...
...“Kenapa, hah?” Sentak Areta...
...“Karena saya pengen nikah sama kamu Areta, susah payah saya mencapai posisi puncak di perusahaan Papa seperti sekarang semua buat kamu” tegas Fabian...
Deg..
Areta mengerutkan keningnya, ia mungkin salah dengar, tak mungkin pria itu ingin menikahinya, mustahil
Sementara Rivandra semakin geram, dadanya bergemuruh hebat
...“Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri dari saya SMA dulu bahwa ketika suatu saya mencapai posisi puncak, saya ga akan ngebiarin siapa pun menghina kamu, termasuk Mama dan Papa” tutur Fabian lagi...
Areta hening, terperangkap pada pikirannya sendiri, apa benar yang dikatakan Fabian? Jika memang iya, berarti selama ini ia tak bertepuk sebelah tangan?
...“Terus kenapa Kakak ga nolak perjodohan sama Aurel? Kakak bahkan ciuman sama dia waktu kita lagi liburan!” Sentak Areta lagi...
“Kamu lihat Areta?” Tanya Fabian kaget
Areta merutuki dirinya yang keceplosan
...“Saya ga bisa berbuat apa - apa selama Papa belum memberikan perusahaannya Areta, dan perjanjiannya Papa akan memberikan perusahannya satu bulan sebelum saya dan Aurel menikah, itu makanya saya terima perjodohannya” tutur Fabian...
Areta lemas sudah, nasib seolah mempermainkannya, dulu ia berjuang keras untuk mendapatkan Fabian tapi Fabian seolah mustahil untuk disentuh, kini Fabian kembali menawarkan surga yang ia dambakan, tapi terlambat
...“Areta, kalau kamu mau saya akan datang ke rumah Om Julian untuk melamar kamu, saya akan membawa kamu pergi dari sana, lalu kita hidup bahagia berdua Areta, hanya kita, tanpa hinaan, tanpa balas budi” tutur Fabian lembut, matanya menatap wajah Areta penuh harap...
Lain halnya dengan wajah Rivandra yang memerah marah, jika saja itu bukan Kakak iparnya sudah pasti ia akan menghajarnya habis - habisan, ia cemburu
...Memang surga yang kini Fabian tawarkan pada Areta, kata - kata Fabian membuatnya melayang, tapi ia terpelanting kembali ke bumi begitu ia ingat kehamilannya, pernikahannya....
...“Ga bisa Kak” ucap Areta lirih, dadanya sesak...
Fabian mengerutkan keningnya tak mengerti
...“Kenapa Areta? Soal Mama sama Papa ya? Saya udah bilang saya ga peduli sama omongan mereka” ucap Fabian...
...“Kakak terlambat!” Tutur Areta lagi...
...“Kak Fabian telat Kak, telat!” Sentak Areta, ia lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Fabian yang tak mengerti maksud Areta, ia mencerna sebentar omongan Areta sebelum kemudian ia sadar Areta sudah jauh darinya...
...“Areta, tunggu!” Fabian mempercepat langkahnya mengejar Areta di depannya dengan setengah berlari, langkah Areta tergesa, berusaha agar Fabian tak bisa mengejarnya, sesekali matanya melihat ke sekeliling berharap ada taksi atau kendaraan umum apa pun yang lewat di depannya, ia sedikit beruntung ketika ada ojek yang mangkal tak jauh darinya. ...
Fabian berhasil mengejar Areta, tapi sayang wanita cantik itu sudah naik ke atas motor ojek, meninggalkan Fabian dengan sejuta pertanyaan.
__ADS_1
Tak jauh dari Fabian, Rivandra melajukan kendaraannya dengan kencang, mengejar ojek yang ditumpangi Areta untuk memastikan istrinya itu selamat sampai di rumah, lebih tepatnya untuk memastikan istrinya itu tak kemana - mana lagi. Ia baru lega setelah melihat Areta turun dari ojek dan masuk ke dalam rumah.
Areta menutup pintu kamar dan menguncinya, badannya, hatinya, dan pikirannya yang lelah membuatnya segera membaringkan diri, melupakan sejenak kemelut hidupnya untuk masuk ke alam mimpi, dunia lain yang mutlak miliknya sendiri.