
Areta memang belum pulih total, ia masih harus istirahat setidaknya untuk beberapa hari lagi, tapi niatnya untuk segera keluar dari rumah itu sudah bulat.
Seluruh anggota keluarga Julian sudah tahu akan niat kepergian Areta, mereka sangat menyayangkan, bahkan membujuk agar Areta tak pergi tapi wanita itu tetap bersikukuh, keluarga itu pun akhirnya menyerah. Meski berat melepaskan wanita malang yang baik hati itu untuk pergi, tapi mereka sadar Areta masih punya impian - impian yang ingin ia kejar, hidup normal yang ingin ia jalani, bukan hanya sebagai istri gelap yang selalu diintimidasi oleh Mauren.
Julian berniat baik memberikannya jumlah uang yang tak sedikit sebagai bekalnya yang bisa ia pergunakan untuk kuliah lagi dan menyambung hidup, ia pun meminta Areta untuk menunjuk rumah yang Areta inginkan untuk ditempati, tapi wanita itu menolak semua dengan dalih sudah tak ada lagi cucu Julian dalam rahimnya jadi tak ada kewajiban yang harus Julian dan keluarganya penuhi, padahal sebenarnya Areta merasa sedikit bersalah pada keluarga itu karena telah membohongi mereka dengan menyembunyikan bayi yang sebenarnya masih ada dalam kandungannya, ia pun tak ingin dianggap memanfaatkan keadaan dan berhutang apa pun lagi pada keluarga itu, hidupnya kini hanya bergantung pada tangannya sendiri dan bayinya sebagai penyemangat hidup.
Areta telah mempersiapkan kepergiannya sore hari ini, baju - bajunya sudah tertata rapi di dalam tas berbahan parasut yang dulu ia bawa pertama kali ke rumah itu, pandangannya mengedar ke sekeliling kamar yang ia tempati selama tinggal di kediaman Julian, kamar yang tak akan pernah ia lihat lagi.
Di ruang tengah, keluarga Rivandra telah berkumpul dalam kebisuan, ternyata melepas Areta tak semudah yang mereka pikirkan, Rossy bahkan sudah terisak dari tadi bagaimana pun ia menyayangi Areta seperti adiknya sendiri, entah bagaimana perasaan Oma yang bahkan enggan keluar kamarnya begitu tahu apa yang terjadi.
Begitu pun yang Areta rasakan, salah satu hal yang sulit untuk Areta lakukan adalah berpisah dengan Oma, wanita berhati malaikat yang menyambutnya dengan sangat baik kali pertama ia datang sebagai orang asing ke rumah itu
Areta mengetuk pelan kamar Oma, menunggu sebentar hingga suster Rina membukakan pintu dan mempersilakannya masuk, Areta melangkahkan kakinya pelan mendekati Oma yang sedang duduk di tempat tidurnya, wajah Oma menyiratkan kesedihan dengan mata yang sembab dan basah
...“Oma” tutur Areta sambil mendudukkan dirinya di samping Oma, Oma meraih tangan Areta menggenggamnya erat...
...“Anak baik, anak cantik, anak kuat” ucap Oma dengan air mata yang mulai merembes lagi meskipun bibirnya melengkungkan senyum...
...“Areta pamit Oma, terima kasih atas semua kebaikan Oma selama ini sama Areta, Oma harus sehat, tolong do’akan Areta semoga Areta bisa sukses dan bisa membalas kebaikan Oma saat kita bertemu lagi nanti” ...
...Air mata kembali mengalir di pipi Oma, “Haruskah selesai dengan cara seperti ini, Areta? Apa kamu tidak bisa memberikan kesempatan kepada cucu Oma yang bodoh itu untuk menyelesaikan semuanya dulu? Bahkan kamu harusnya masih bedrest, kamu belum pulih total Areta”...
Areta menggeleng pelan membuat Oma memejamkan matanya untuk menahan rasa sesak di dada, Oma mengusap air matanya, lalu tangannya terulur meraih sebuah kotak yang berada di atas nakas sebelahnya
...“Kamu ga bisa Oma halangi untuk pergi, tapi kamu ga boleh menolak pemberian Oma ini” ucap Oma lalu membuka kotaknya dan mengeluarkan beberapa perhiasan dari sana, “terima lah” ucapnya serasa menjejalkannya ke tangan Areta...
...“Jangan Oma, Areta sudah terlalu banyak hutang budi sama Oma, Areta ga punya apa - apa untuk membalasnya”...
...“Terima Nak, jangan menolak. Kamu bisa menggunakan ini sebagai bekal hidupmu nanti, Oma tau kamu menolak semua pemberian Julian dan Anna kecuali tiket penerbangan kamu, tapi pastikan kamu menerima pemberian Nenek kamu ini” tuturnya...
Areta menghambur memeluk Oma, wanita baik yang selama ini selalu membela dan melindunginya, mungkin ia boleh sedikit lancang dan menganggap Oma sebagai Neneknya sendiri, paling tidak ia akan merasa memiliki keluarga di dunianya yang hanya sebatang kara. Areta mengurai pelukannya, lalu bangkit perlahan dan beranjak keluar dari kamar Oma dengan sangat berat hati.
Areta berjalan gontai menghampiri keluarga mertuanya yang telah berkumpul, hanya Mauren dan Rivandra yang tak ada disana, semenjak peristiwa di rumah sakit Mauren memilih pulang ke rumah orang tuanya karena tak ingin disalahkan atas apa yang menimpa Areta. Sedang Rivandra, pria itu lebih memilih berada di kantornya dengan perasaan yang hancur lebur, ia tak sanggup melepas kepergian Areta, tapi ia pun tak tahu bagaimana mencegahnya apalagi Areta telah memohon padanya agar ia dilepaskan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik
Rivandra sangat paham, bagaimana hidup Areta yang penuh penderitaan dimulai dari saat Areta kecil menjadi seorang pelayan di rumah Om dan Tantenya sendiri dan berlanjut bahkan sampai ia dewasa, dan bagaimana ia harus kembali menghadapi Om dan Tantenya serta Mauren karena pernikahan gelapnya, lantas bagaimana ia bisa memaksakan keinginannya untuk mempertahankan Areta?
Rivandra pun kini masih berstatus suami Mauren, bukan perkara mudah untuk menceraikannya dalam waktu dekat karena bagaimana pun Mauren memiliki keluarga yang tak akan menerima keputusan Rivandra begitu saja, terlebih belum ada alasan yang lebih kuat untuk menceraikannya, tuduhan pun pasti akan dilayangkan padanya bahwa ia menceraikan Mauren karena kekurangannya tak bisa memberi keturunan dan masa lalu Mauren yang pernah diperkosa
Rivandra menghela napasnya frustasi, dadanya terasa sesak, waktu terus bergulir itu artinya penerbangan Areta hanya sebentar lagi, Areta menginginkannya untuk bertemu terakhir kali, tapi bagaimana Rivandra bisa kuat melepas sebagian jiwanya untuk pergi? Kegelisahan Rivandra juga dirasakan Areta, ia melihat beberapa kali ke arah pintu masuk berharap sosok itu datang. Tapi hingga saat ia akan berangkat Rivandra tak muncul juga, namun itu tak membatalkan niat Areta, kepergiannya tak akan ia tunda.
Julian, Anna, dan Rossy melepas Areta dengan berat. Anna bahkan memilih masuk ke kamarnya dengan tergesa untuk menumpahkan air mata yang ia tahan - tahan di kamarnya, semua sesal kini datang, bagaimana ia melihat tubuh ringkih yang selama tinggal seatap dengannya dan bergelar menantu itu nyaris tak mendapat kebahagiaan.
Areta masuk ke dalam mobil diiringi isak tangis Rossy dan Bi Jum yang mengantarkannya hingga ke depan rumah, lambaian tangan wanita itu menjadi pemisah antara mereka.
...“Mau langsung ke bandara, Non?” Tanya Pak Sam, supir pribadi Julian...
__ADS_1
...“Pak Sam, boleh tolong antar saya ke rumah sakit Kak Rivan dulu?” Tanya Areta...
...“Baik Non” sahut Pak Sam...
Sesampainya di rumah sakit milik Rivandra itu nyatanya Areta tak masuk ke dalam rumah sakit, cukup di tempat parkir saja. Areta berdiri di luar mobil sambil menengadah melihat ke lantai tiga, lantai dimana ruangan Rivandra berada, tak ada keberanian Areta untuk menemui pria yang masih merajai hatinya itu.
...“Aku pamit ya Kak, terima kasih untuk rasa yang pernah Kak Rivan ungkapkan dan berikan, Kak Rivan jaga kesehatan, jangan begadang terus gara - gara kerjaan, jangan bandel Kak, mengalah lah pada Kak Mauren agar hubungan kalian tentram, sama seperti sebelum ada aku” gumam Areta, seolah Rivandra ada di depannya...
...“Maaf aku memisahkan kamu dengan anakmu Kak, aku janji akan membesarkan anak kita dengan sangat baik, membuat nasibnya jauh lebih baik dibanding aku, jangan khawatir, aku tetap akan menceritakan padanya kalau Papanya adalah orang yang paling mencintainya, lihatlah nanti jika ia sudah besar, ia akan mengenangmu bahwa kamu adalah Papa terbaik” setitik air mata menetes jatuh dari pelupuk mata Areta...
...“Kami pamit Kak” ucapnya lagi, lalu kembali masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju meninggalkan tempat itu...
Rivandra semakin gelisah duduknya, ia lalu berdiri, langkahnya pelan menuju kaca besar tempat ia bisa melihat deretan gedung pencakar langit dan lalu lintas kota, netranya memindai mulai dari deretan perkantoran di depannya, hingga ke tempat parkir.
Mobil yang membawa Areta nyatanya tak melaju ke bandara, Areta meminta Pak Sam untuk mengantarkannya ke stasiun kereta, ia tak mungkin terbang ke kota tujuan yang tertera dalam tiket pesawat kelas bisnis itu, ia tak ingin jika suatu hari Rivandra akan mencarinya kesana. Sesampainya di stasiun sebelum turun dari mobil, Areta melepas kalung dan cincin mas kawin yang diberikan oleh Rivandra, lalu memasukkannya ke dalam amplop yang berisi tiket pesawat dan kartu ATM yang pernah Rivandra berikan, ia hanya mengantongi sisa uang nafkah yang pernah Rivandra berikan yang ia rasa cukup untuk melanjutkan kehidupannnya sebentar, ia lalu menitipkan amplop tersebut pada Pak Sam agar diberikan pada Rivandra nanti.
Areta berjalan gontai menyusuri stasiun kereta, ia lalu mendudukkan dirinya di kursi tunggu seraya memikirkan kemana ia akan pergi, sebuah langkah nekad untuk seorang Ibu hamil yang tak punya kerabat atau saudara, tak ada siapa pun yang ia kenal diluar sana, disaat orang - orang lalu lalang di stasiun dengan tujuan masing - masing, hanya ia yang kebingungan tak ada tujuan atau persiapan apa pun, hanya punya semangat dan harapan bahwa Tuhan akan mempermudah segalanya.
...“Kita mau kemana ya Nak?” Gumamnya, Ia lalu bangkit, berjalan mendekati papan info keberangkatan kereta api, netranya memindai satu per satu nama kota yang belum pernah ia datangi sebelumnya, mungkin ia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang asing untuk tempat manapun yang ia kunjungi....
...“Heeemm, gimana kalau kita ke Jogja aja Nak? Mama pernah denger katanya Jogja kotanya bagus, bersih, orangnya ramah - ramah, semoga disana kita ketemunya sama orang - orang baik ya Nak” gumamnya lagi sambil mengelus perutnya, Areta lalu menuju tempat penjualan tiket dengan merapal do’a semoga ini keputusan yang tepat. Setelah tiket dan boarding pas di tangan, ia lalu mencari tempat penjual makanan, perutnya sudah mulai keroncongan, ia harus mengisi asupan untuk dirinya dan anaknya...
...“Areta!” Suara pekikan April membahana, bukan hanya Areta yang menoleh, orang - orang disana pun turut menjatuhkan pandangannya pada April sekarang, Areta memang meminta April untuk menemuinya di stasiun, bertatap muka untuk terakhir kali karena Areta tak tahu kapan mereka akan bertemu kembali...
...“April” sahut Areta sambil melambaikan tangannya...
...Areta mengurai pelukannya, “Kak Fabian tau?” Tanya Areta...
...“Iya, mungkin dari si Mauren monyet itu Ta, Kak Fabian pengen banget ke rumah sakit nemuin kamu, soalnya dia ga bisa nelepon atau chat kamu, katanya diblokir sama kamu” ...
Areta cuma tersenyum, ia memang menutup akses pada pria dalam masa lalunya itu, ia tak ingin berurusan dengan siapa pun yang berada dalam keluarga Om dan Tantenya.
...“Ini kamu kemana Ta, ada siapa disana?” ...
...“Mau ke Jogja Pril, aku ga ada siapa - siapa disana, kamu tau lah aku sebatang kara Pril, aku cuma mencoba peruntungan saja, semoga ada rezeki buat aku sama anakku disana” tutur Areta sambil mengelus perutnya...
...April mengerutkan keningnya, “Bentar - bentar, bukannya kamu keguguran Ta?” ...
...Areta menggeleng, senyum terbit di wajahnya yang cantik, “dia kuat Pril, dia bertahan, mungkin dia tau kalau Ibunya benar - benar akan sendirian kalau dia ga ada” ...
...Netra April berair sudah, “Ya Allah keponakan Tante, kamu hebat sayang, terima kasih udah bertahan demi Mama Nak” ucapnya sambil mengelus perut Areta, “ya udah aku beli dulu tiket kereta ke Jogja ya, kamu tunggu disini Ta” ucap April sambil hendak beranjak tapi Areta meraih tangan April...
...“Pril kamu ga perlu ikut, ga usah kasian sama aku Pril, kamu punya kehidupan disini, ada orang tua kamu, Abang kamu” ...
...“Karena aku punya kehidupan sendiri makanya aku mau ikut kamu, asal kamu tau ya Ta, Papa sama Mama udah cerai beberapa bulan yang lalu, malah udah pada nikah lagi, makanya aku tinggal di apartemen, sementara Abangku sibuk sendiri sama calon bininya, jadi pada hakikatnya aku juga sendiri kayak kamu, udah ah aku mau beli tiket dulu!” Cerocosnya sambil berlari meninggalkan Areta yang masih melongo, April sepertinya memang telah mempersiapkan kepergiannya, ada dua travel bag yang ia bawa serta bersamanya...
__ADS_1
Keduanya kini sudah duduk di dalam kereta yang akan membawa mereka ke tempat tujuan baru, Areta menyamankan duduknya, netranya sesekali menatap keluar jendela
...“Kak Rivan ga tau soal anak ini, Ta?”...
...“Aku ga pengen dia tau Pril, biarlah dia ngelanjutin hidupnya dengan Kak Mauren disana, aku beruntung ketemu dokter Kartini yang baik dan mau nolongin nutupin kehamilanku Pril, aku ga ingin anak ini sampai diasuh sama Kak Mauren, dia jahat Pril, dia sengaja bikin aku jatuh dan hampir keguguran, dia bahkan masih ngatain aku pelakor manja saat aku kesakitan kayak mau mati Pril, jahat banget dia” tutur Areta, April yang sudah terisak merengkuh sahabatnya itu...
...“Kita berjuang bareng ya Ta, seperti pas di kampus dulu, kita mulai semuanya dari nol lagi, aku percaya kamu akan jadi orang besar nantinya” ucap April, “Kasian anak kamu Ta, dia anak dan cucu konglomerat, tapi mungkin nanti hidupnya sama kita ga akan mudah” tuturnya sambil mengelus lagi perut Areta...
...“Aku ga mau nyeret kamu dalam kehidupanku yang serba susah ini Pril, aku ga mau ngerepotin” ucap Areta sendu...
...“Areta, kalau aku di posisi kamu, aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama, udah lah yang penting kita harus udah mulai mikirin disana mau kerja atau usaha apa”...
...“Aku ga mungkin kerja dalam kondisiku yang berbadan dua gini Pril, aku mungkin mau buka usaha, tapi aku belum kepikiran buka usaha apa” ...
...April menimang sebentar, “Yang pasti usahanya yang ga bikin kamu capek, ga boleh warung makan atau apa pun yang ribet - ribet, mungkin kita bisa buka jasa fotocopy dan jual alat - alat tulis Ta, disana kan banyak sekolah dan kampus tuh, nanti aku minta tolong temenku disana untuk nyari tempat yang murah”...
...“Aku ada perhiasan dari Oma Pril, nanti bisa aku jual untuk modal”...
...“Aku juga ada uang hasil penjualan motor sportku, nanti bisa digabung tuh jadi kita bisa beli mesin fotocopy sama prentelan lain yang bisa kita jual”...
...Areta kaget, “Hah? Kamu jual motor kamu? Bukannya dia kayak pacar buat kamu ya yang konon ga akan kamu kemana - manain apa pun yang terjadi?” Goda Areta ...
...“Yeeehhh pake ngeledek lagi, udah usang tuh motor, kayak pacar kalo bosen wajib diganti.. ahahaha” April dan Areta tergelak bersama, sedikit kebahagiaan di antara masa depan yang entah akan bagaimana....
...****************...
Rivandra menyegerakan langkahnya masuk ke Bandara, ia sudah menghubungi pihak otoritas bandara yang dikenalnya agar bisa masuk ke ruang tunggu gate pesawat yang ditumpangi Areta, sekitar empat puluh menit lagi menuju keberangkatan artinya harusnya Areta masih ada disana, hari ini ia memutuskan untuk nekad membawa Areta, bersimpuh dan memohon jika perlu, ia tak bisa kehilangan Areta demi apa pun. Mata lelah Rivandra memindai sekelilingnya dengan putus asa, ia berlari kesana kesini mencari sosok Areta, sayang hingga semua penumpang masuk ke dalam pesawatnya ia tak juga menemukan Areta.
...“Ya Tuhan Areta, kamu dimana?” Gumam Rivandra frustasi, ia mencoba lagi menghubungi Areta lewat ponselnya untuk kesekian kali tapi ternyata tak juga aktif, tak patah arang ia kemudian menghubungi Pak Sam, berharap agar ada keajaiban jika Areta berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali ke rumah...
...“Halo Pak Sam, Areta dimana Pak Sam? Apa dia ga jadi berangkat?” Berondong Rivandra lewat ponselnya dengan napas terengah...
...“Loh jadi Tuan, tapi naik kereta, tadi jadinya minta dianterin ke stasiun kereta api, ini Non Areta juga ada titipan buat Tuan” sahut Pak Sam...
Rivandra begitu shock, “jadi Areta tetap pergi?” Gumamnya lirih. Rivandra tak membuang waktu lagi, ia berlari keluar dari bandara menuju tempat parkir dan melajukan kendaraannya dengan cepat menuju stasiun kereta
Rivandra sudah tak mempedulikan pandangan orang padanya ketika ia berlari kesana kesini di sekitar stasiun untuk mencari Areta, setiap peron ia datangi karena ia tak tahu harus mencari kemana, setiap orang yang perawakannya sama dengan Areta ia sapa, meskipun pada akhirnya ia harus minta maaf karena ternyata bukan sosok yang ia cari.
...“Areta, tolong jangan pergi, saya mohon” ucapnya dengan napas terengah dan air mata yang merembes, ia seperti tersesat diantara orang yang lalu lalang ...
Pak Sam yang menyusul mendapati majikannya itu tengah berdiri di tengah stasiun dengan mata yang awas melihat ke sekelilingnya, wajah Rivandra sudah memerah dan basah, pria itu tak peduli pada orang yang menatapnya bingung, kenapa seorang pria dengan setelan jas rapi dan berwajah tampan itu begitu kelihatan frustasi
Pak Sam tak membuang waktu, setelah ia memberikan amplop titipan Areta pada Rivandra, ia pun ikut mencari Areta, Rivandra semakin hancur ketika melihat isi amplop yang Pak Sam berikan, seolah tak ada kenangan dan bantuan yang ingin Areta terima darinya dan keluarganya, ia mengembalikan mas kawin, ATM, dan bahkan tiket penerbangannya. Rivandra melipat amplop itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana untuk ia berikan lagi pada Areta, kakinya berlari kembali mencari Areta tanpa putus asa.
Sayang, hingga semua kereta telah berangkat dan stasiun mulai sepi, baik Rivandra maupun Pak Sam tak mendapati sosok Areta, Rivandra melemas lalu bersimpuh di lantai stasiun, tangisnya pecah, hatinya hancur berkeping - keping, kini ia sadar Areta bukan ingin pergi untuk sementara seperti sangkaannya, melainkan selamanya
__ADS_1
...“Tolong jangan pergi Areta, tolong” ucapnya dengan sedu sedan, Pak Sam memandang prihatin pria yang tak pernah ia dapati menangis itu, pria paruh baya itu lalu membantu Rivandra yang masih terisak itu untuk bangkit, dan meninggalkan stasiun kereta yang sudah lengang. ...