
Mauren pernah aborsi? Bagaimana mungkin? Kegilaan apa ini? Batin Rivandra yang merasakan dunianya seketika runtuh
...“Bisa tolong rahasiakan hasil diagnosa dokter pada istri saya, dok? Biar nanti saya saja yang menyampaikannya pelan - pelan, saya ga mau kalau sampai istri saya syok ketika mengetahui ini” pinta Rivandra, dokter Kartini mengangguk menyanggupi...
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik pribadi dokter Kartini, Rivandra terdiam, tak sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya, hatinya hancur lebur. Ia terpaksa berbohong pada Mauren dan mengatakan bahwa mereka berdua tak memiliki masalah reproduksi, Rivandra akan menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan kebenarannya sekaligus mengkonfrontasi tentang aborsi yang pernah dilakukan Mauren
Sementara Mauren yang tak mengetahui apa pun hasil diagnosa dokter Kartini berceloteh riang, menceritakan tentang semua program hamil yang mungkin akan mereka tempuh, Rivandra hanya bisa tersenyum miris mendengarnya, ia bisa menerima Mauren yang sudah tak perawan, tapi kalau menerima Mauren yang pernah hamil dan di aborsi, jelas tak mudah buatnya.
Dengan dalih ada jadwal operasi dadakan, Rivandra memilih untuk mengunjungi istri gelapnya, meskipun Mauren merengek ingin ikut tapi Rivandra bersikukuh tak mengizinkannya dengan alasan operasi akan berlangsung sepanjang malam dan kemungkinan besar ia akan menginap di rumah sakit, dengan terpaksa Mauren menuruti kehendak Rivandra.
Rivandra melajukan kendaraannya dengan cepat, ia sudah tak peduli pada suara klakson kendaraan lain yang protes karena didahului atau karena khawatir mobil Rivandra yang ugal - ugalan menyenggol kendaraan mereka, ia ingin segera menuntaskan kegelisahan yang tengah menderanya, entah kenapa ia merasa hanya Areta yang mampu menenangkan gundah gulananya.
Bi Parni membuka pintu yang diketuk Rivandra dengan tak sabaran, waktu baru saja menjelang malam ketika majikannya itu datang
...“Ibu dimana Bi?” Tanya Rivandra pada Bi Parni, mata sendunya lincah memindai sekeliling mencari sosok Areta...
...“Ibu ada di kamarnya Pak, Nyonya Anna baru saja pulang” sahut Bi Parni dengan tambahan informasi...
“Mama kesini tadi?” Tanya Rivandra lagi
...“Iya Pak, dari pagi nemenin Ibu.. tadi juga kayaknya ga mau pulang, tapi disusul sama Tuan Julian” sahut Bi Parni...
Senyum simpul terukir di wajah Rivandra yang tadinya kusut, keinginannya untuk bertemu Areta semakin membuncah, kakinya tergesa menuju kamar utama yang kini dihuni Areta, istri gelapnya.
Rivandra membuka pintu kamar Areta tanpa mengetuk, entah Rivandra harus bersyukur atau merutuki dirinya yang tak mengetuk pintu karena pemandangan yang ia lihat sekarang di depannya, Areta tengah polos tanpa sehelai benang pun, perutnya sedang ia lumuri menggunakan semacam minyak, membuat kulitnya mengkilat, eksotis.
...“Aaaaaaaa” pekik Areta terkaget, “keluar Kak, keluar!” Teriaknya lagi sambil melempar apa pun yang terjangkau tangannya ke arah pintu...
...“Astaga, kenapa dia makin menggoda gitu?” Gumam Rivandra pelan sambil keluar dan menutup kembali pintu kamarnya...
Rivandra menunggu sebentar di depan pintu, memberikan jeda pada Areta untuk berpakaian, setelah dirasa cukup, Rivandra mengetuk pintu kamar Areta, ajaib hanya satu kali ketukan dan pintu kamar itu langsung terbuka
...“Kenapa tadi ga ngetuk pintu dulu, apa di sekolah kedokteran luar negeri sana ga belajar cara ngetuk pintu, hah?” Hardik Areta dengan mata menyalang marah, sesuai dugaan Rivandra, wanita hamil itu pasti murka...
...“Kamu ngapain tadi nyampe ga pake baju sama sekali gitu?” Tanya Rivandra...
...“Aku lagi ngolesin minyak zaitun di perut, biar ga ada strecth marknya kata Tante” sahut Areta sambil melipat tangan di depan dadanya...
__ADS_1
...“Mama, Areta, Mama! Bukan Tante” tandas Rivandra penuh penekanan...
...“Iya iya, Mama! Eh jawab dulu pertanyaanku tadi, apa Kakak lupa caranya ngetuk pintu? Apa karena ini rumah Kakak jadi bisa seenaknya nyelonong masuk, gitu?” Sewot Areta...
...“Maaf” ucap Rivandra tanpa penyesalan, bagaimana pun otaknya kini merekam setiap lekuk tubuh Areta yang sudah lama tak ia lihat...
...“Punya stok maaf berapa banyak sih? Dikit - dikit maaf tapi ga kapok - kapok, heran!” Sungut Areta, sambil masuk kembali ke dalam kamar, Rivandra mengekor dengan sabar...
Areta berbalik seiring dengan matanya yang mendelik, Rivandra menghentikan langkahnya menatap wajah Areta penuh kasih
...“Mau ngapain sih? Kalau ada perlu kita ngobrol di ruang tengah aja, ga usah berduaan di kamar, ga enak!” Sengit Areta...
Telinga Rivandra memang mendengar, tapi hatinya yang sedang tak karuan tak peduli dengan omongan Areta padanya, ia ingin dekat dengan anak dan istrinya, itu saja.
...“Saya boleh megang anak saya?” Tanya Rivandra ...
Areta berdecak kesal,
...“Kalau liatin aja gimana? Ga usah pegang - pegang lah!” Sahut Areta, bola matanya memutar malas...
...“Terus gimana anak kita bisa tau kalau Papanya datang kalau saya cuma liatin aja? Dia butuh dielus dan diajak ngomong” tutur Rivandra...
...“Ya udah.. ya udah, tapi bentar aja” tutur Areta, Rivandra tersenyum senang, tanpa di komando tangannya mendarat di perut Areta...
...“Papa datang Nak” ucap Rivandra, elusannya terasa lembut di perut Areta...
...“Oke Papa, aku udah tau Papa datang, udah ya jangan megang - megang Mama terus” tutur Areta sambil menghalau tangan Rivandra, suaranya ia kecilkan seolah - olah itu suara bayinya...
...“Ya Tuhan Areta, tega banget misahin Ayah sama anaknya sendiri” protes Rivandra...
...“Biasain Kak, setelah anak ini lahir toh kalian akan pisah juga, ga akan ketemu tiap hari” tutur Areta sambil mengelus - elus sayang dan memandangi perutnya...
...“Maksud kamu apa Areta?” Tanya Rivandra, perasaannya mulai tak enak...
...“Atas seiizin Oma kemarin, setelah anak ini lahir, aku pengen kita cerai Kak, aku pengen ngelanjutin hidup sama anak ini, pasti Kakak juga gitu kan? Ngelanjutin hidup sama Kak Mauren, tapi tenang aja Kakak dan keluarga Kakak masih bisa ketemu dia, itu pun kalau Kakak mau” tutur Areta ringan, tapi pukulan berat buat hati Rivandra yang tengah rapuh, kini hatinya porak poranda, hancur berkeping - keping...
...“Dan membuat anak kamu hidup tanpa seorang Ayah, begitu?” Sengit Rivandra, dadanya bergemuruh menahan marah yang terakumulasi...
__ADS_1
...“Ayahnya ada, tapi mereka hidup terpisah, yang pasti populasi anak haram tidak bertambah satu ketika anak ini lahir, karena dia anak dari hasil pernikahan, meskipun hanya pernikahan rahasia” tutur Areta...
Rivandra remuk redam mendengarnya
...“Kamu pikir saya akan biarkan kamu membawa pergi anak saya? Jangan pernah berpikir seperti itu Areta, kamu boleh pergi tapi tanpa membawa dia!” Sengit Rivandra, ketakutannya kehilangan anak menghantui, belum lagi kehilangan Areta, astaga.. apa ga cukup kejutan - kejutan buruk untuknya hari ini...
Areta menggeram marah
...“Dia anakku! apa ga cukup kamu mengambil kehormatanku, menjadikanku istri simpanan, apa ga cukup buatmu Kak?!” Sentak Areta ...
Rivandra masih terpatri berdiri di tempatnya ketika Areta mendudukkan dirinya di kursi dengan napas yang memburu, raut kecewa dan marah sangat terlihat di wajah Areta. Jelas saja, omongan terakhir Rivandra depan orang tuanya masih terngiang, “ada hati yang harus dijaga, oleh karena itu dia tetap harus bersembunyi”, ironis sungguh ironis
Pria yang sedang gusar itu mendekati Areta, duduk di depannya
...“Apa kita ga bisa memberikan kehidupan normal buat anak kita? Ada anak, ada Ibu, ada keluarganya” tutur Rivandra...
...“Ahahaha.. aku bahkan ga tau normal itu seperti apa Kak, stigma yang melekat padaku adalah Areta si anak haram, Areta yang Ibunya hamil diluar nikah, Areta yang ga jelas Bapaknya siapa, dan kini Areta si istri simpanan” tutur Areta sambil tergelak, tapi air mata merembes dari ujung matanya ...
Rivandra hendak mengusap pipi yang kini basah itu, tapi tangan Areta cekatan menepisnya
...“lahir dengan status punya Ayah sudah cukup buat anak ini, dia ga harus sembunyi - sembunyi nantinya karena dia anak rahasia, atau karena Ibunya simpanan, jadi setelah anak ini lahir, kita cerai Kak, biar dia tumbuh dalam asuhanku, dan kalian bisa bertemu kapan pun” tandas Areta sambil bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan kamar ...
Rivandra memejamkan matanya, hari ini terasa gila untuknya, kenyataan tentang Mauren, ancaman kehilangan anaknya, dan dicerai Areta membuat kepalanya terasa pecah, Rivandra bangkit berdiri dengan gontai, sejenak ia melihat refleksi dirinya di cermin besar di depannya, Rivandra memburu ke arah cermin itu dan meninjunya sekuat tenaga
...“Praaang” suara cermin pecah dan berhamburan membuat Areta yang belum jauh dari sana berbalik lalu melangkah tergesa ke kamarnya...
Darah segar yang mengucur di tangan Rivandra membelalakkan mata Areta, Areta bergegas masuk ke kamar mandi, meraih kotak P3K disana, tangannya juga menyambar tisu di atas nakas
...“Apa harus melukai diri Kakak sendiri setelah banyak melukai orang lain?” Sinis Areta sambil menyeka darah yang mengucur pelan dari tangan Rivandra, pria itu diam tak bergeming, bahkan meringis pun tidak...
...“Kakak dokter, pasti lebih tau cara ngobatin tangan Kakak, jadi maaf kalau caraku salah” ucap Areta sambil mengoleskan obat luka, lalu membalutnya dengan perban, sebisanya...
...“Jangan pergi Areta” tutur Rivandra lirih...
...“Ini bener ga sih cara ngiket perbannya?” Gumam Areta, pura - pura tak mendengar ...
...“Areta, ayolah” bujuk Rivandra, ia tahu betul Areta mendengarnya...
__ADS_1
...“Udah beres, aku minta Bi Parni buat bersihin kacanya dulu, Kakak pindah aja dulu ke kamar tamu” ucap Areta, sungguh ia tak ingin mendengar apa pun dari mulut Rivandra lagi...
Rivandra memandangi punggung Areta yang meninggalkannya, hatinya terasa kosong dan hampa, dari Mauren wanita yang sangat ia cintai sudah hampir pasti ia tak akan mungkin punya anak, kini Areta ingin bercerai dan pergi dengan membawa anaknya, dadanya terasa sesak, hatinya kosong dan hampa.