
...“Sip, udah cantik” ucap Rossy setelah memandangi Areta dari ujung kaki sampai ujung kepala...
...“Ngapain harus dandan gini sih Kak?” Protes Areta...
...“Ya karena kamu istrinya Rivandra, meskipun Om dan Tante kamu itu ga tau, jadi nanti kalau mereka udah tau kan Kakak ga malu, karena kamu udah diperlakukan sama kayak Mauren” ucap Rossy...
Areta menyebut - nyebut panik
...“Mit amit Kak, jangan nyampe mereka tau, bisa - bisa Areta dikubur hidup - hidup sama mereka” wajah Areta kentara sekali khawatirnya...
...“Iya iya, udah tenang, tarik napas dalam - dalam, terus hembuskan” instruksi Rossy, Areta patuh mengikuti contoh gerakan yang Rossy berikan...
...“Makasih ya Kak” ucap Areta...
...“Iya sama - sama, udah sana siap - siap di depan, Om sama Tante kamu pasti udah mau nyampe, Oma biar Kak Rossy yang temenin” ucapnya...
Areta menggigit bibir bawahnya yang gemetaran, bukan hal yang mudah untuknya
bertemu dengan Om terutama Tantenya, apalagi nanti ia juga akan semeja dengan Rivandra, memikirkannya saja sudah membuat perutnya mual.
Baru kali pertama setelah pernikahan Mauren dan Rivandra orang tuanya Mauren datang berkunjung ke rumah Rivandra, begitu berita tentang musibah yang menimpa Mauren sampai ke telinga mereka, mereka langsung datang untuk memastikan kondisi anak kesayangan mereka
Saat mereka datang berhubung tepat dengan jam makan siang, sang besan langsung menggiring mereka ke meja makan, para pelayan tergupuh menghidangkan berbagai macam hidangan, selesai dengan hidangan, para pelayan berikutnya sibuk menuangkan air putih ke gelas masing - masing, setelah itu mereka pamit meninggalkan para majikannya yang sedang bercengkrama
...“Ah Areta ayo sini, Om dan Tante kamu sudah datang nih” ucap Anna, tangannya melambai pada Areta yang baru saja datang...
Dani melihat sekilas lalu kemudian sibuk ngobrol kembali dengan Julian, sementara Susan lekat menatap tampilan Areta dari ujung kaki hingga ujung kepala, setelah itu memalingkan muka dan bercengkrama lagi dengan Anna, kalau sudah begitu Areta mana berani mendekat untuk mencium punggung tangan Om dan Tantenya, ia lebih memilih untuk duduk kikuk di kursi paling ujung, sendiri, dan terasing.
...“Saya turut prihatin atas batalnya pernikahan Fabian ya Jeng” ucap Anna prihatin pada Susan...
Bukan hanya Areta yang kaget, Rivandra pun sama, ia belum mendengar kabar itu dari Mauren
...“Itu makanya saya datang kesini Jeng, selain mau jenguk Mauren ada yang ingin saya bicarakan” tutur Susan, sesekali matanya melirik tajam pada Areta ...
__ADS_1
...“Ada apa Jeng?” Tanya Anna penasaran...
...“Jeng tau kenapa Fabian sampai batal nikah sama Aurel? Itu gara - gara Areta!” Sewot Susan, matanya tajam melihat Areta yang melongo kaget...
...“Ma, bukan gara - gara Areta semua, Kak Fabian juga salah” tutur Mauren, Rivandra mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang terjadi dan kenapa Mauren menutupi hal ini darinya...
...“Ini ada apa Jeng? Apa hubungannya?” Tanya Anna, ia semakin penasaran, bahkan Julian dan Dani menghentikan obrolan mereka, kini semua fokus pada satu topik...
...“Aurel nemu chat antara Fabian sama si Areta gitu Jeng, terus ya ampun Jeng.. saya sampai malu sama Aurel begitu tau isi chatnya apa” tutur Susan dramatis...
...“Aduh Jeng, emang apa isinya?” Sewot Anna, Areta yang sudah paham memejamkan matanya, inilah hari penghakimannya. Sementara Rivandra dalam diam memasang telinganya, ia sungguh ingin tahu ...
...“Isinya obrolan tentang ciuman si Areta sama Fabian Jeng, bayangin aja gimana saya ga malu!” Sewotnya lagi...
Anna menghela napasnya, sementara Julian hanya menggeleng pelan, Dani mengelus tangan istrinya tak ingin istrinya meledak - ledak
Bagaimana dengan Areta? Ia pucat pasi, perutnya bergejolak minta isinya dimuntahkan, sementara Rivandra meradang giginya gemeretak, meskipun ia bahkan pernah melihat langsung Areta dan Fabian berciuman, tapi cemburu justru menghinggapinya sekarang.
...“Jadi karena itu kamu menolak dijodohkan sama Kenzo, Areta?” Tanya Anna lembut, Areta tak bergeming ingin sekali ia menjelaskan kalau ia menolak perjodohannya karena ia berbadan dua, hasil perbuatan Rivandra...
Deg..
Areta mematung, hatinya bak disobek, haruskah Mamanya dibawa - bawa? Cukup ia yang disalahkan, yang dipermalukan, cukup.
...“Mama” ucap Mauren, ingin sekali menghentikan ocehan Mamanya, ia tak tega melihat Areta yang kini tertunduk dengan wajah pucat pasi...
...“Karena kita udah keluarga saya mau buka - bukaan aja ya Jeng, Mamanya itu dulu ga bener juga, dia hamil tapi suaminya ga ada, katanya sih nikah siri, tapi mana laki - lakinya dia ga mau nunjukkin! Cerocosnya lagi...
Deg..
Areta mendongak, ia membulatkan matanya, baru kali ini ia mendengar dari Tantenya bahwa ia mungkin hasil pernikahan siri Mamanya, karena yang selama ini ia tahu bahwa ia adalah anak haram, kalau memang betul ia anak hasil pernikahan Mamanya meski siri sekali pun, tentu beban yang selama ini ia tanggung akan hilang.
Anna berdehem, lalu menenggak sedikit minumnya, ia tak tega melihat air muka Areta, bagaimana pun di matanya Areta adalah gadis yang baik
__ADS_1
...“Ma, udah lah” ucap Mauren...
...“Kamu itu selalu aja ngebelain dia dari dulu, hati - hati nanti Rivandra bisa dia embat juga Areta” sengit Susan, mulutnya menyebar bisa membuat siapa pun yang mendengar bergidik ngeri...
Areta memejamkan matanya, satu butir air matanya menetes, mungkin sekarang ia boleh menangis, karena ia sungguh tak kuat
Dani mengkode agar Susan tak kebablasan, bagaimana pun mereka di rumah sang besan, membuat keributan tentu membuat kesan tidak baik
Susan menghela kasar napasnya
...“Tadinya saya udah nyiapin Areta buat jadi asisten Fabian Jeng, ya itung - itung utang balas budi lah ya, kan dari masih bayi tuh kami urus karena wasiat Ayah saya setelah Ibunya meninggal, eh ga taunya dia malah pengen jadi Nyonya Fabian, ya saya ga bisa terima lah, anak haram gitu kok seenaknya aja mau sama anak saya” cerocosnya, matanya tak berhenti mendelik tajam pada Areta yang menatap nanar kursi kosong di depannya, Areta seolah masuk pada dunianya sendiri....
...“Mama, apa ga bisa Mama ngomong baik - baik?” Protes Mauren, sementara Rivandra di sebelahnya sibuk dengan kecemburuan yang tengah melahap hatinya...
...“Iya iya” ucap Susan mengalah pada anaknya, tak enak juga ia pada besannya yang sudah kelihatan tak nyaman...
...“Itu makanya Jeng, saya ga mungkin jadiin si Areta asisten pribadi Fabian lagi, yang ada malah dia godain Fabian terus, udah cukup pernikahan Aurel sama Fabian gagal, jangan nanti gagal terus gara - gara si Areta. Jadi tolong ya Jeng si Areta biar ngurusin Oma aja disini, atau dijadiin apa kek terserah” tuturnya tanpa belas kasih...
Areta tersenyum miris, hidupnya tak ubahnya budak belian, bisa diberikan pada siapa saja, tubuhnya bisa dipakai siapa saja, masa depannya tergantung pada kebaikan dan belas kasih Om dan Tantenya karena harus balas budi yang tak selesai - selesai, belum lagi masa depan pernikahannya, tidak kah Tuhan lebih berbelas kasih jika mengambilnya saja dan menyatukannya dengan Mamanya? Batin Areta
...“Jeng, Areta tentu boleh disini, tapi bukan karena semata - mata buat balas budi atau apa pun itu, Areta itu gadis yang baik, kami semua menyayanginya terutama Oma, jadi jangan khawatir, Areta biar disini sama Oma” tutur Anna bijak, Julian mengangguk setuju. ...
...“Syukurlah, nanti uang gajinya tetep kami bayar kok Jeng seperti biasa” ucap Susan...
Anna tersenyum
...“Tidak perlu Jeng, Areta tidak di gaji, dia disini sebagai anggota keluarga kami, nanti dia akan menerima uang bulanan” tutur Anna bijak...
...“Hati - hati nanti dia ngelunjak Jeng, kayak sekarang tuh pake baju mahal gitu, make upan segala, ganjen! Mimpi ngalahin Aurel yang anak konglomerat, ga tau diri!” Seolah belum puas Susan mengeluarkan semua kebenciannya pada Areta...
...“Ma!” Protes Mauren lagi...
...“Udah - udah Jeng, kita makan aja yuk, ayuk silakan” tutur Anna, tak sanggup mendengar ucapan Susan lagi...
__ADS_1
...“Maaf semuanya, Areta pamit ke dalam duluan ya, maaf Areta belum laper” tutur Areta sambil bangkit dari duduknya dan membungkukan dirinya berkali - kali, Anna memejamkan mata menahan air mata, sungguh ia tak tega melihat badan ringkih itu berjalan terseok dengan kaki gemetaran ...
** Areta memang berjalan, tapi kakinya terasa tak menginjak, ia bahkan tak sadar jika ia kini di taman belakang, kakinya gemetaran, ia meraih sandaran kursi taman, lalu beringsut duduk, di taman itu anginnya semeliwir dari daun - daun pohon rimbun dan berbagai tanaman, burung berkicau, ada yang hinggap di dahan, tak lama terbang tinggi lalu menghilang, seandainya ia bisa begitu, detik itu juga ia pasti akan pergi, sungguh ia ingin lari, tapi ia harus kemana? Ia tak punya sanak saudara, ia tunggal.