
Satu yang Anna pelajari, pernikahan satu suami dua istri jarang sekali tak menimbulkan luka hati, dalam kasus ini justru anaknya lah yang paling terluka, beberapa hari ini Areta terlihat menjauhi Rivandra meskipun Rivandra berusaha untuk mendekatinya dengan berbagai macam cara, Anna bisa melihat bagaimana anaknya itu kelimpungan dijauhi Areta, sehingga Rivandra lebih memilih untuk berangkat ke rumah sakit pagi buta dan pulang menjelang tengah malam
...“Rivandra sudah reservasi sama dokter Kartini, jadi kita ga perlu ngantri, nanti Rivandra langsung nyusul kita kesana ya” tutur Anna, hari ini ia, Rossy, dan Oma memanfaatkan waktu ketika Mauren sedang pulang ke rumah orang tuanya. Bukannya apa, tapi suasana periksa kandungan yang harusnya menyenangkan akan berubah mencekam jika Mauren ikut serta....
Anna menggenggam tangan Areta, mimik wajahnya berubah serius
...“Mama tau kamu lagi ga pengen ketemu Rivandra, tapi bagaimana pun dia Ayah dari anak yang kamu kandung, dia berhak untuk tahu perkembangan anaknya, jadi ga apa - apa ya dia ikut, lagian kamu tau kan Rivandra itu kayak apa kalau sudah pengen sesuatu, susah banget buat dilarang” tutur Anna ...
Areta mengangguk, kalau boleh jujur rindu pun menggelitiknya, seandainya saja ia tak ingat kalau ia sedang menjalankan misi, sudah pasti ia akan segera menemui suaminya itu untuk melepaskan rasa kangennya.
...****************...
...Jadi ada kemungkinan untuk punya anak hanya saja sangat kecil gitu, dok?” Tanya Susan mengulangi pernyataan dokter Kartini tadi...
...“Iya Bu, sangat kecil, saran saya jangan terlalu berharap” ucap dokter Kartini prihatin...
Mauren menunduk lesu, hilang sudah secercah harapan untuk memiliki anak sendiri dari rahimnya
...“Tapi masih bisa dicoba kan dok?” Tanya Dani bersikukuh...
...“Berdo’a saja Pak, semoga ada keajaiban” jawab dokter Kartini bijak...
Susan menggenggam erat tangan Mauren yang berpasrah, sesal kini menyelimuti hati Mauren, seandainya saja ia tidak dengan gampangnya menuruti perintah dengan iming - iming karir cemerlang saat itu, sudah pasti ia tidak harus menerima kenyataan pahit seperti ini
Baru saja Dani, Susan, dan Mauren keluar dari ruangan dokter Kartini ketika mereka bertemu dengan Areta dan keluarga Rivandra
Anna sama terkejutnya dengan Susan ketika bertemu
...“Loh Jeng disini juga?” Tanya Anna pada Susan yang matanya sedang mendelik tajam pada Areta...
...“Iya Jeng, habis dampingin Mauren konsultasi” tutur Susan ramah, wajahnya yang sangar melihat Areta tadi berubah manis ...
Pertemuan tanpa disengaja dengan keluarga Mauren merubah suasana yang tadinya penuh canda tawa menjadi canggung, basa basi yang dilakukan pun benar - benar basa basi
...“Anna, ayo masuk, udah waktunya ini” tutur Oma sambil menunjuk jam di pergelangan tangannya...
...“Jeng, saya masuk dulu ya” ucap Anna sambil menggandeng Areta, kakinya tergesa melangkah seolah ingin segera lepas dari ketidak nyamanan...
Dada Mauren kembang kempis menahan amarah, ia benar - benar merasa tak dianggap oleh keluarga mertuanya itu, tega - teganya mereka membawa Areta untuk periksa kandungan tanpa memberi tahunya dan bahkan ketika ia sedang berada di rumah orang tuanya
...“Besan, apa kami boleh ikut? Toh bagaimana pun anak itu nantinya akan jadi anak Mauren juga, kan?” Tanya Dani...
Anna tercekat, langkahnya terhenti, wajah Anna berubah - ubah, terlihat kebingungan
...“Untuk apa kamu ikut? Kalau cuma mau bikin rusuh saja sebaiknya ga usah, ini klinik bukan rumah kami yang biasa kamu bikin kisruh” sungut Oma...
...“Aduh, Oma jangan salah paham dong, niat kami baik kok Oma, hanya ingin mengetahui kondisi calon anak Mauren dan Rivandra” sanggah Susan...
...“Alah alasan saja, memangnya kamu pikir saya ga tau rencana kalian apa?” Sengit Oma...
...“Oma sudah Oma” ucap Rossy menenangkan Oma yang sudah mulai memanas...
Mauren tak tinggal diam, ia mendekati mertuanya
...“Ma, aku boleh ikut ya?” Tanya Mauren dengan wajah yang memelas...
...“Eehhh” Anna menimang sebentar lalu menjatuhkan pandangannya pada Areta meminta izin, Areta menggangguk menyetujui, Areta tahu pasti meskipun tak diizinkan Mauren akan tetap memaksa masuk, melarangnya hanya akan membuat keributan...
...Anna menghela napas frustasi, “Ya sudah lah” sahut Anna pada Mauren, hatinya merapal do’a semoga tak ada keributan lagi yang akan terjadi...
Beruntung ruangan dokter Kartini cukup luas, rombongan menunggu sementara Areta dan Anna masuk ke ruangan pemeriksaan, tak ada pembicaraan diantara mereka, hening menyergap.
Hingga tak lama suara pintu dibuka, menampilkan Rivandra yang masuk dengan tergesa, tanpa sambutan atau senyuman ramah Mauren bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri suaminya itu
...“Jadi gini kelakuan kamu? Memanjakan istri gelap kamu sementara kamu membiarkan aku di rumah orang tuaku, gitu?” Sengit Mauren...
Rivandra melonggarkan dasinya lalu mengusap peluh dan mengatur napasnya yang ngos - ngosan, setengah berlari ia memburu waktu dari tempat parkir tadi, tak ingin terlambat sedetik pun untuk melihat anak dan istrinya
...“Jangan buat keributan Mauren” sahut Rivandra dingin...
Rossy, dan Oma menghela napasnya, Mauren benar - benar diluar batas, ia tak tahu tempat dan waktu
...“Rivan, cepet masuk, Mama sama Areta udah di dalem” titah Rossy, memecah konflik yang mungkin akan terjadi...
__ADS_1
Rivandra bergerak masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, meninggalkan Mauren yang menggerutu, demi mendinginkan suasana Susan segera menarik anaknya untuk duduk, menunggu hasil pemeriksaan selesai
Di ruang pemeriksaan perbincangan hangat terjadi antara dokter Kartini dan Anna, tepat di sebelah Areta yang sudah berbaring di tempat tidur pemeriksaan, menunggu sebentar hingga Ayah sang jabang bayi datang
...“Nah itu Papanya datang” ucap dokter Kartini begitu melihat Rivandra di ambang pintu...
Rivandra merangsek masuk, netranya menatap Areta yang juga sedang menatapnya, sesaat netra mereka beradu melepas rindu seolah tak ada orang lain disana, hanya mereka berdua.
Adegan tatap - tatapan itu tak lepas dari pantauan Anna, wanita itu menatap prihatin anaknya yang tak berkedip melihat Areta, jelas terlihat Rivandra memang telah berpindah hati, sementara Areta yang di damba Rivandra justru terlihat datar - datar saja
...“Kasian kamu Nak” gumam Anna bermonolog...
...“Dokter Rivandra, seperti biasa sebelum mulai tolong elus - elus perut Bu Areta ya, agar bayi dan Ibunya rileks” ucap dokter Kartini, Rivandra mengangguk patuh, kakinya perlahan mendekati Areta...
Rivandra mematung sebentar menatap wajah Areta, rasa rindunya sangat menyiksa jiwa, ia ingin sekali memeluk dan menciumi istrinya itu jika saja mereka hanya berdua. Perlahan tangan Rivandra terulur menumpu sebentar di atas tangan Areta, membuat dada keduanya bergemuruh tak karuan. Terlalu lama, Areta mengurai pegangan tangan Rivandra, menuntunnya mengelus pelan perut Areta
...“Halo anak Papa” ucap Rivandra pelan, tangannya betah mengelus - elus perut Areta sebelum dokter Kartini memulai pemeriksaannya...
Ketiga orang itu antusias menyaksikan janinnya di monitor mesin USG, dokter Kartini menjelaskan dengan detail ukuran dan letak sang jabang bayi serta hal - hal lain yang menyangkut kandungan Areta. Meski dokter Kartini sudah menjelaskan secara rinci, tapi tetap saja Rivandra masih banyak bertanya, tak ingin ada informasi yang luput darinya.
Setelah cukup jelas, mengingat banyak orang yang menunggu hasil pemeriksaan Areta, dokter Kartini dan ketiganya kembali ke ruang tunggu, menemui anggota keluarga yang masih setia menanti kabar si jabang bayi
...“Selamat ya jenis kelaminnya perempuan dan sangat sehat” tutur dokter Kartini dengan senyum merekah...
Binar bahagia muncul di wajah keluarga Rivandra, Oma menggenggam tangan Areta yang duduk di sampingnya
...“Selamat ya sayang” ucap Oma, senyumnya mengembang...
...“Baby girl Rivan! Selamat ya!” tutur Rossy sumringah sambil menepuk - nepuk bahu adiknya itu, Rivandra nyaris saja meneteskan air mata, bahagianya tak terkira...
...“Ini Papa video call Rivan.. Papa bilang selamat buat baby princessnya” ucap Anna bahagia sambil memperlihatkan layar ponselnya, Julian sang Kakek yang tengah berada di luar negeri tersenyum bangga pada Rivandra...
...Mauren mendelik tajam melihat antusiasme keluarga itu yang terlihat jelas, hatinya mencelos sakit, bahkan ia seolah tak dianggap ada, dan yang paling membuat perih adalah Areta memberikan seorang bayi perempuan, tepat seperti yang diimpikannya, hatinya semakin menyempit, sangat sesak. ...
Bukan hanya Mauren yang hatinya mengkerut, Dani dan Susan tak luput dari rasa cemburu
Dani berdehem, mencari perhatian di tengah atmosfer kebahagiaan
...“Anaknya beneran sehat dok?” Tanya Dani penuh telisik...
...“Maksudnya apa? Apa kurang jelas omongan dokter Kartini tadi?” Kemarahan Oma tersulut...
...“Oma, tenang Oma” ucap Rossy sambil mengusap - usap tangan Oma...
...“Maksud saya gini, saya percaya kalau Nak Rivandra sangat sehat, yang saya sangsikan itu si Areta, apa dia ga punya penyakit bawaan? Ya kan kita ga tau pergaulan Areta seperti apa sebelum dinikahi Nak Rivandra” tutur Dani...
Deg..
Areta refleks menunduk, sesadis - sadisnya seseorang, Areta tak pernah menyangka jika ada orang yang bisa berpikir sekotor itu, apalagi itu adalah Omnya sendiri, tidak ada belas kasih kah Dani padanya?
...“Astaga!” sengit Oma nyaris saja ia melempar ponsel di tangannya pada Dani kalau saja Rossy dan Anna tak menahannya...
Tangan Rivandra terkepal
...“Bisakah Papa menghormati Areta? Bagaimana pun Areta istri saya juga Pa” tandas Rivandra dengan rahang yang mengeras...
Dani mendadak ciut, niat hati ingin menjatuhkan Areta, berharap agar keluarga Rivandra terhasut omongannya, sayang sang menantu malah menjadi tameng Areta
Susan tak luput merutuki Dani atas kecerobohan yang suaminya itu lakukan, kini ekspresi tak bersahabat jelas terlihat di wajah Rivandra dan keluarganya
...“Rivan, kenapa kamu marah? Wajar sajalah kalau Papa bertanya begitu, mana kita tau bagaimana riwayat kesehatan Areta, emangnya kamu tau apa yang dia lakukan sebelum nikah sama kamu?” Sengit Mauren, kecemburuan telah membutakan akal sehatnya...
Anna memijit pelipisnya, yang dia takutkan terjadi juga
Rivandra tersenyum sinis pada Mauren
...“Saya berani bersaksi kalau Areta wanita terhormat” tandas Rivandra...
Deg..
Dada Mauren semakin bergemuruh, kemarahannya makin menjadi - jadi
...“Terus aja belain si Areta!” Sentak Mauren...
__ADS_1
Dokter Kartini terusik, pandangannya menelisik satu per satu orang yang tengah berargumen di depannya, ia baru ingat sekarang, Susan Ibunya Mauren adalah orang yang sama yang pernah membuat kehebohan dan menarik tangan Areta lalu menggeretnya dengan kasar tempo hari dari kliniknya, sedikit banyak ia paham apa yang terjadi dengan Areta, dokter Kartini menatap prihatin Areta yang tengah tertunduk sedih itu
...“Bu Areta sangat sehat, rahimnya sangat mulus, tanpa ada penyakit bawaan apa pun apalagi seperti yang Pak Dani pikirkan, saya yakin dokter Rivandra dan Bu Areta akan memiliki anak yang cantik dan sehat” tandas dokter Kartini...
...“Denger kan? Apa kurang jelas? Bawa kupingmu ke THT sana!” Sentak Oma pada Dani dengan amarah yang berkecamuk di dadanya...
...“Oma, maksud saya ga begitu!” Sanggah Dani, wajahnya memerah gugup...
...“Kamu juga Mauren, udah denger kan? atau masih kurang jelas?” Tanya Rossy ikut emosi...
...“Kak, aku cuma khawatir, apa salah?” Sahut Mauren frustasi, pandangannya lalu beralih ke Rivan, “kamu ngerti maksud baikku kan?” Tanya Mauren pada Rivandra dengan wajah yang memelas...
Jengah dengan semua keributan yang masih terjadi di ruangan dokter Kartini, Areta memilih izin pada dokter Kartini ununtuk ke kamar mandi, bertahan di ruangan itu hanya membuat hatinya sakit. Pembelaan yang di dapat dari Rivandra dan keluarganya pun hanya membuatnya semakin takut, karena Areta tahu Mauren akan semakin mengobarkan bendera perang. Langkah Areta gontai menyusuri koridor klinik, dadanya sesak, pandangannya mulai blur karena air mata yang berkubang, nyaris jatuh karena masih ia tahan - tahan meskipun beberapa detik kemudian bulir bening mengaliri pipinya
Serendah itukah dirinya di mata satu - satunya keluarga yang ia punya? Yang ia titipkan dirinya dari kecil dulu? Yang ia layani sepenuh hati sebagai balas budi?
Berjalan saja tanpa tujuan membawanya ke teras belakang klinik, tak banyak orang disitu, hanya ada beberapa tenda warung makan yang juga masih sepi
Areta memutuskan untuk masuk ke warung mi ayam di depannya, memilih untuk menumpahkan kesedihannya dengan makan semangkuk mi ayam, semoga manjur, harapnya.
Menunggu sebentar setelah memesan, mata Areta membulat melihat semangkuk mi ayam yang masih mengepul di depannya lengkap dengan es jeruk yang ia langsung tenggak, wajahnya berubah sumringah begitu melahap mi ayam yang tiba - tiba ia dambakan
...“Masih aja kayak dulu, kalau sedih pasti larinya ke makanan” ucap Fabian yang tiba - tiba muncul di depannya, entah datang darimana pria tampan yang kini mendudukkan diri dengan santai di depan Areta...
Areta mendongak, menatap Fabian sebentar, lalu lanjut melahap mi ayamnya, baginya sekarang mi ayam lah yang terpenting
...“Ahahaha.. Air matanya dihapus dulu” ucap laki - laki itu sambil mencoba menyeka sisa air mata Areta dengan tisu, Areta refleks memundurkan wajahnya...
...“Aku bisa sendiri, terima kasih Kak” ucap Areta sambil meraih tisu dari tangan Fabian, “aku ga yakin kalau Kakak kebetulan liat aku disini, Kak Fabian ga nguntit kan?” Telisik Areta...
...“Ahahaha… kalau iya kenapa?” Goda Fabian...
...“Kamu kenapa nangis? Gara - gara Papa dan Mama lagi? Kamu ketemu ama mereka disini? Atau gara - gara Mauren? Cecar Fabian...
Areta merengut, belum lagi hilang sedihnya karena omongan Dani dan Mauren, kini ia malah bertemu dengan Fabian, pria yang pernah mematahkan hatinya
...“Saya mau minta tanda tangan Papa, ada dokumen penting yang harus di tanda tangani, tadi saya ga dapet tempat parkir di depan, makanya parkir di belakang, eh ga taunya liat kamu lagi jalan sambil nangis, kalau dipikir - pikir mungkin kita jodoh, Areta” cerocos Fabian, dagunya bertopang, senyum manis menghiasi wajahnya yang tampan...
...“Cari yang lain aja Kak, aku udah punya suami dan punya anak” tandas Areta, lalu lanjut melahap mi ayamnya...
Fabian menekuk wajahnya
...“Ga bisa ke lain hati, udah dari SMA loh saya suka sama kamu, lagian lima bulan lagi kamu cerai kan? Soal anak, saya akan nerima kamu satu paket, plus anak kamu juga” tutur Fabian, wajahnya berseri menatap wanita yang tak berhenti mengunyah di depannya...
...“Aku ga bakalan kuat Kak berhadapan dengan orang tua Kakak, itu sama aja keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa, sama - sama bunuh diri” tandas Areta...
Fabian terkekeh
...“Setelah kamu nikah sama saya nanti, kamu ga perlu ketemu singa, macan, harimau, atau apa pun dan siapa pun yang membuat kamu sedih, kita pergi yang jauh, saya udah mikirin beberapa negara alternatif yang mungkin kamu suka” cerocos Fabian menebar angin surga...
Kunyahan Areta memelan, hatinya menimbang sebentar, ia mencari - cari rasa yang dulu pernah berkobar untuk Fabian, namun sayang justru bayangan Rivandra yang berkelebat, mengubur rasa yang pernah ia punya untuk pria di depannya
...“Sejauh - jauhnya kita kabur, Kakak tetep aja anak Tante Susan dan Om Dani, darah itu lebih kental dibanding air kak, lagian masa iya aku harus nambah gelarku lagi sih? Nih ya, pas kecil aku dijuluki anak haram, sekarang aku dijuluki istri gelap, terus nanti aku dijuluki menantu yang tak dianggap gitu? Miris” sinis Areta...
Fabian mendengus kesal,
...“Terserah lah, yang pasti saya akan tetap berusaha” ucapnya sambil tersenyum penuh percaya diri...
...“Areta! lain kali kalau kamu pergi tolong bilang dulu sama saya ya!” Ucap Rivandra sambil ngos - ngosan, pria itu tiba - tiba saja berdiri di belakang Fabian, peluh membasahi pelipisnya, dasi sudah tak jelas lagi tempatnya, jasnya ia jinjing begitu saja di tangan, wajahnya panik, kentara sekali khawatirnya. Ia mencari Areta kemana - mana tadi, nyaris saja menghubungi polisi khawatir Areta kabur atau malah ada yang menculik, separanoid itu yang ia rasakan, ia tak ingin kehilangan Areta...
...“Makanya lain kali jangan lalai jagain istri” ucap Fabian sambil bangkit dari duduknya, matanya tajam menilik netra Rivandra...
Areta, yang menjadi dambaan keduanya acuh saja, ia kini malah memesan mi ayamnya yang kedua, mi ayam yang mampu membuatnya bahagia, terserah lah kedua pria itu mau berbuat apa, sudah cukup ia terlibat drama hari ini
...”Saya yakin kamu sangat sibuk, jadi ga perlu ikut campur urusan orang lain” tandas Rivandra dengan senyum mencemooh...
Fabian tersenyum sinis
...“Urusan saya jika menyangkut Areta, gini aja Rivan, kalau kamu ga sanggup jagain Areta, biarkan dia pergi sama saya, saya yang akan jagain dia” ...
Bug…
Tanpa basa basi satu tinju mendarat di pipi Fabian
__ADS_1
(Bersambung)