Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Buku Nikah


__ADS_3

Areta memandangi buku nikah yang ia pegang, tak hentinya tersenyum, ia bolak balik halamannya, kembali lagi ke halaman pertama dimana ada fotonya berdampingan dengan foto Rivandra, dulu membayangkannya pun tak pernah, siapalah ia yang berani berharap bersanding dengan seorang Rivandra, tapi sekarang secara agama dan negara ia resmi menjadi Nyonya Rivandra


...“Udah puas liatin buku nikahnya?” Tanya Rivandra sambil memeluk perut Areta dari belakang...


Wanita itu bergeming, wajahnya merengut


...”kenapa meluknya di perut sih Kak? Perutku masih buncit” ...


...Rivandra terkekeh, “Terus kenapa kalau buncit? Saya suka sama kamu apa adanya Areta, apalagi kalau buncitnya karena hamil anak saya, mungkin kamu akan buncit terus, rasanya punya satu anak saja masih kurang” ...


...“Mudah sekali bicara jika tak merasakan rasanya mual dan susah tidur, belum lagi rasa sakitnya saat melahirkan” sungut Areta...


...“Ahahaha.. tenang saja, saya akan menemani kamu di setiap prosesnya, saya akan nyariin kamu mangga atau sate tengah malem buta, saya akan menemani kamu nonton saat kamu ga bisa tidur, saya juga yang akan menemani kamu saat lahiran nanti, entahlah Areta.. membayangkannya saja membuat saya sangat bahagia” pria itu menciumi sayang kepala istrinya...


...“Heemm.. aku bisa apa kalau Kak Rivan udah ngomong gitu, kebahagiaan Kak Rivan dan Lily udah jadi prioritasku sekarang” ...


Hati Rivandra penuh mendengarnya, pria itu makin erat saja merapatkan dadanya pada punggung Areta


...”Sayang sekali saya harus ke Jakarta karena ada beberapa operasi besar, padahal rasanya saya pengen disini aja sama kamu dan Lily” ...


...Areta berbalik, menatap wajah suaminya dengan khawatir “Apa ga apa - apa kalau Kak Rivan ke Jakarta? Bukannya anak buahnya Dave masih nyari Kakak sama Papa?”...


...“Jangan khawatir, saya bisa jaga diri, ada beberapa orang bodyguard juga yang jadi bayangan saya nanti, saya akan segera kembali setelah semua operasinya selesai, oke?” Bibir Rivandra mengecup ujung hidung bangir Areta...


Belum apa - apa perasaan Areta sudah tak tenang, rasanya ia tak ingin melepaskan Rivandra untuk pergi


...”Apa ga ada dokter bedah yang lain Kak? Kita ga tau apa rencana Dave atau Om Dani”...


...“Sayang.. saya ini dokter, saya ga bisa menolak begitu saja pasien yang benar - benar membutuhkan saya, terlebih kondisi pasien - pasien ini sangat buruk, ga semua dokter bedah bisa menanganinya” ...


Areta tak bisa apa - apalagi selain memeluk suaminya itu dengan erat


...”Janji untuk selalu ngabarin aku Kak, aku ga akan bisa tidur kalau belum dapet kabar dari Kakak”...


Rivandra balas memeluknya seerat yang dia bisa, sebelum ia menyadari cairan basah mulai menyerap masuk ke kaus yang dia pakai


...“Astaga Kak, bocor!” Areta panik saat mengurai pelukannya...


...“Apanya yang bocor?” Tanya Rivandra, memindai kausnya lalu menoleh pada baju Areta dan paham darimana kebocoran berasal...


...“Kenapa bisa bocor ASInya? Apa Lily belum minum susu?” Tanya Rivandra, lalu tangannya sibuk membuka kancing baju Areta...


...“Kakak meluknya terlalu erat tadi, ya ampun kenapa Kakak malah bukain baju aku?” ...


Pria itu tak berhenti, semangat mempreteli baju atas istrinya


...”Loh itu baju kamu basah sayang, bukannya harus dibuka?” ...


...“Baju Kak Rivan juga dibuka, basah tuh kena ASI!” Ujar Areta, langkahnya cepat meraih alat pumping...


Tanpa pikir panjang pria itu membuka kausnya, memamerkan dada bidang dan perut sixpacknya, pria itu kini kalap melihat istrinya yang sibuk memompa ASI menggunakan pumping, Areta terlihat sexy dimatanya


...“Mau saya bantuin pumpingnya?” ...


...“Ga usah Kak, Kak Rivan mandi aja, bentar lagi harus berangkat ke bandara kan?” ...


...“Heemm.. baiklah” sahut Rivandra setuju, tapi langkahnya mendekati Areta, “cepatlah selesai puasanya, rasanya berat sekali melihat kamu yang menggoda begini tapi saya ga bisa ngapa - ngapain?” Tangan Rivandra terulur menyentuh pelan dada Areta, membuat badan wanita itu meremang, Tanpa pikir panjang Areta menyelesaikan pompaanya, berdiri lalu menoleh pada Rivandra ...


...“Heeemm.. Kak Rivan kan belum bisa ngapa - ngapain aku, tapi aku bisa kok ngapa - ngapain Kak Rivan!” Langkah Areta kian mendekati Rivandra yang berdiri di samping tempat tidur dengan senyum menggoda...


...Rivandra mengerutkan keningnya, “maksudnya?”...


Satu tangan Areta mendorong pelan badan kekar pria itu hingga ia terjatuh ke tempat tidur


Bruk..


Wanita itu lalu beringsut naik ke tempat tidur dan pelan merayap di atas tubuh Rivandra


...“Astaga sayang, kamu mau ngapain?!” Tanya Rivandra pada Areta yang mulai mempreteli celananya...


...“Sssttt… sudah Kak nikmati aja” desis Areta, menggoda...


...****************...


Selesai dengan aktifitas panas yang diberikan Areta padanya, Rivandra bergegas membersihkan diri dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, sungguh ia tak menyangka jika Areta bisa senakal itu.


Sedang Areta menata napasnya yang terrengah - engah, tak mudah ternyata membuat suaminya itu terpuaskan ketika mereka sedang berpuasa, Areta terkekeh sendiri mengingat bagaimana wajah terkejut Rivandra saat melihat kenakalannya tadi.


Suara ponsel Rivandra yang berbunyi nyaring menyita perhatian Areta, hatinya menduga - duga apa kali ini Mauren lagi yang menghubungi suaminya itu, tangan Areta cepat meraih ponsel Rivandra yang terletak di atas nakas, nomer tak dikenal di layar ponsel Rivandra kembali membuat Areta penasaran, telat mengangkat panggilannya, sebuah pesan masuk dari nomer tadi, Areta sigap membukanya


...[Rivan, bisakah kita bicara?] tulis Mauren dalam pesannya...


Areta mengepalkan tinjunya, entah lari kemana rasa malu dan herga diri Mauren itu, kata talak dan akta cerai juga omongan dari Areta kemarin ternyata tidak juga membuat Mauren berhenti mengharapkan Rivandra. Mata Areta yang tadinya nyalang berubah berbinar ketika ia melihat buku nikah di atas meja, senyum sinisnya tersungging, ia lalu meraih buku nikahnya, masih dengan memegang ponsel Rivandra, ia memotretbuku nikah itu lalu ia kirim pada Mauren


...“Rasain” gumamnya puas, entah apa yang terjadi pada Mauren sekarang karena setelah itu ia tak membalas lagi pesan dari Areta ...


Di tempat lain, Mauren berteriak histeris saat ia menerima pesan dari Rivandra, sebuah foto buku nikah Rivandra dan Areta ia terima lewat pesan itu, entah Rivandra atau Areta yang mengirimkannya tapi Mauren merasa dunianya runtuh kembali


...“Mama! Mama!” Pekik Mauren histeris...


Susan tergupuh datang sambil memegang dada, ia terkejut mendengar teriakan Mauren dari dalam kamarnya, entah apalagi yang terjadi sekarang


...“Mauren, kamu kenapa?!”...


...“Ma, liat Ma, liat! Rivandra udah nikah resmi sama wanita murahan itu Ma!” Histeris Mauren sambil menyodorkan ponselnya pada Susan...


Susan terkaget,


...”Jadi bener dugaan Mama? Mereka bersatu lagi Mauren?”...


Mauren menyugar rambutnya frustasi sambil berjalan mondar mandir dengan gelisah, wajahnya sudah basah karena air mata


...”Aku ga bisa terima Ma! bagaimana dengan mudahnya Areta mengganti posisi aku?”...

__ADS_1


...“Itu salahmu Mauren, kamu yang ga bisa mempertahankan Rivandra di sisi kamu!”...


Mauren mematung lalu mendelik tajam pada Ibunya


...”Mama nyalahin aku? Berani - beraninya Mama nyalahin aku! Itu salah Mama, kenapa Mama bawa - bawa Areta ke rumah Rivandra dulu!” ...


Susan tertampar omongan anaknya


...”Hah! Sudahlah! apa gunanya saling menyalahkan? Mama punya rencana, cepat panggil Adrian kesini, suruh dia bantu kita!” Titah Susan...


...“Rencana apa Ma? Apa rencana itu bisa membuat Rivan kembali sama aku?” Cecar Mauren ...


...“Kamu pikir akan segampang itu membuat Rivandra kembali sama kamu Mauren? Sadarlah!”...


...“Lalu rencana untuk apa Ma, hah? Apa gunanya kalau Rivandra tetap ga bisa balikan sama aku?!”...


...“Apa kamu mau membiarkan Areta menikmati masa - masa bahagianya dengan Rivandra? Pake otak kamu Mauren! Setidaknya jangan membiarkan wanita rendahan itu untuk hidup tenang!” ...


Mauren merenung sebentar dengan napas yang memburu karena kemarahan yang bercokol di hatinya, ia lalu menimang dengan kepala panas tawaran Ibunya. Mamanya benar, ia tak rela jika Areta bahagia dengan pernikahannya sementara dia hancur sendiri, Mauren kemudian mengangguk mantap menyetujui usulan Mamanya.


...****************...


Pagi sekali Rossy sudah sangat murka, bagaimana tidak dari kemarin sore ia tidak mendapat kabar dari Pandu yang sedang tugas di Jakarta, ia pun tak bisa menghubunginya. Rivandra yang kebetulan juga kini tengah berada di Jakarta pun tak melihat atau mendengar kabar dari Pandu karena pria itu tak muncul di rumah sakit untuk menjalankan tugasnya mendampingi Rivandra


...“Rose, apa kamu udah tanyain ke keluarganya Pandu?l”...


...“Udah Oma, tapi ga satu pun yang bales atau jawab panggilan Rossy” sahut Rossy putus asa...


...“Ada apa ini Rose? Kenapa keluarganya juga tiba- tiba ga bisa dihubungi? Aih, membuat khawatir saja!” Tutur Anna...


Rossy hening sebentar, lalu ia teringat pada supir Pandu, satu - satunya orang dalam lingkaran Pandu yang belum ia hubungi, siapa tahu supirnya itu mengetahui keberadaan majikannya


**


Rossy tampak shock begitu selesai menghubungi supirnya Pandu, ia dikabari kalau Pandu mengalami kecelakaan dan saat ini tengah berada di rumah sakit


...”Ada apa Rose?” Tanya Anna yang ikut panik melihat anaknya terduduk lemas...


...“Ma, aku harus berangkat ke Jakarta sekarang juga, Mas Pandu kecelakaan Ma” ...


...“Kecelakaan gimana Rose? Ya Tuhan.. gimana kondisinya?” Tanya Anna panik...


...“Astaga, cobaan apalagi ini?”ucap Oma sambil mengelus - elus dadanya...


...“Rossy berangkat dulu Mama, Oma, mumpung ada jadwal penerbangan 2 jam lagi, nanti Rossy kabarin!” Ucap Rossy sambil tergesa keluar dari rumah untuk menuju bandara...


Selama di perjalanan, Rossy benar - benar tak bisa tenang, ia tak mengerti kenapa Pandu dan keluarganya seolah menutupi tentang musibah kecelakaan yang dialaminya, padahal dalam hitungan bulan mereka akan melangsungkan pernikahan, harusnya tak ada lagi rahasia antara mereka


Sesampainya di rumah sakit tempat Pandu di rawat, Rossy jelas marah melihat kondisi Pandu yang lumayan parah tapi baik Pandu maupun keluarganya tak ada yang mengabarinya, apa yang mareka sembunyikan? terlebih mereka kelihatan sangat terkejut melihat kedatangan Rossy


Pria dengan luka di beberapa bagian tubuhnya itu memaksakan dirinya untuk beringsut duduk menyambut Rossy yang datang dengan napas tersengal, keluarga Pandu yang tengah berada disitu pun menjadi salah tingkah, merasa bersalah karena tak memberi tahu kondisi Pandu pada Rossy, semua itu atas permintaan Pandu, ia tak ingin Rossy khawatir dan datang ke Jakarta untuk menemuinya dalam situasi yang masih genting akibat ancaman yang ditebar oleh Dave, tapi entah Rossy tahu darimana tentang kecelakaannya sehingga wanita cantik itu tiba - tiba muncul disana dengan wajah merah padam


...“Aku salah apa Mas nyampe kamu dan keluarga kamu ga mau ngabarin aku padahal kondisi kamu parah kayak gini?” Cecar Rossy sambil mengabsen semua orang yang ada di ruangan itu satu per satu dengan matanya...


Rossy bingung dengan perkataan Pandu


...”Maksud Mas apa? Apa ini perbuatan Dave?” Tanya Rossy...


Pandu mengangguk pelan


...”Kemarin sore sepulang dari rumah sakit saya dicegat beberapa orang pas di tengah - tengah jalan tkus yang sepi, saya berhasil melawan beberapa orang, satu orang yang kepalanya saya injak mengaku kalau Dave yang menyuruh mereka, sayang beberapa orang suruhan Dave datang lagi, saya langsung kabur, tapi mereka ngejar saya, saking ngebutnya, mobil saya oleng dan nabrak pembatas jalan, untung banyak warga yang datang nolongin jadi orang suruhan Dave ga berani deketin saya”...


Rossy limbung, untung saja adiknya Pandu membantunya untuk duduk di kursi


...“Kamu yakin Mas kalau Dave pelakunya?” Tanya Rossy terbata, ia begitu shocknya mendengar Dave yang semakin menggila bahkan sudah membahayakan nyawa calon suaminya...


...“Saya yakin Rose, tapi saya ga yakin dengan motifnya, kalau dia mencari bukti perselingkuhannya dengan Mauren jelas saya ga punya, asumsi saya dia sudah mengetahui hubungan kita dan dia ga terima”...


Wajah Rossy berubah merah padam, entah apa maunya mantan suaminya itu


...”Kita harus laporkan ke pihak berwajib Mas, ini udah ga bisa dibiarin, apa yang dia lakukan itu tindakan kriminal!” ...


...“Atas dasar bukti apa Rose? Saksi juga ga ada, biarkan saja dulu Rose, yang penting kita harus lebih waspada sekarang!” Pandu meringis sambil memegangi bagian tubuhnya yang luka, “kamu harusnya ga datang Rose, gimana kalau mereka tau kamu kesini sendiri dan kamu diapa - apain?”...


Rossy melenguh resah, ia kemudian berdiri dan duduk di samping Pandu. Keluarga Pandu paham situasi, mereka keluar dari ruangan rawat Pandu, memberikan privasi untuk kedua sejoli


...Rossy meraih tangan Pandu yang menganggur, menggenggamnya lembut “Aku mana bisa tenang kalau ga liat kondisi kamu langsung Mas” ...


Rossy lalu tertunduk, nyalinya ciut mengingat Pandu babak belur begini karena ulah mantan suaminya


...”Maaf Mas, aku ga tau kalau pria berengsek itu bisa sangat nekad begini, aku pikir dia hanya hobby main perempun, ga taunya dia juga punya jiwa preman! aku nyesel banget Mas dulu sempet nikah sama dia, kalau sudah begini jujur aja aku udah ga punya muka untuk tetap maju menjadi menantu orang tua kamu” ...


Pandu mendengus kesal, alis pria itu menukik naik


...”Kenapa kamu bicara begitu Rose, apa kamu sadar kalau memang itu yang Dave mau? Dia sengaja menerorku agar aku menjauhi kamu, memilih meninggalkan kamu karena takut pada ancamannya!”...


Rossy ingin menangis saja, apa Dave tak puas juga menyiksanya? Perselingkuhan dengan sekretarisnya yang Rossy lihat langsung dulu, affairnya dengan Mauren yang adalah adik ipar Rossy sendiri, dan sekarang bahkan Dave tak membiarkan Rossy melanjutkan hidupnya, antara terobsesi pada dirinya atau memang Dave punya gangguan jiwa, entah yang mana


...“Harusnya kita percepat saja pernikahannya Rose, dengan begitu saya akan lebih leluasa melindungi kamu, tadi saya udah ngobrol sama Mama dan Papa, mereka setuju memilih awal bulan depan untuk acara lamaran ke Jogja”...


Blush..


Rona pipi Rossy memerah lagi, kali ini karena hatinya yang berbunga


...“Ini serius Mas? Orang tua kamu setuju bahkan setelah anaknya babak belur gini gara - gara aku?”...


Pandu mengangguk mantap


...”Justru mereka yang berinisiatif begitu, mereka khawatir jika tak disegerakan justru Dave akan mengambil kesempatan untuk macam - macam, Papa ternyata kenal Papanya Dave saat Papa masih aktif menjadi anggota dewan dulu, Papa bilang orang tuanya Dave itu sangat berkuasa, banyak ladang bisnis kotor yang mereka garap dibalik topeng politiknya, tapi mereka rapi menutupnya dengan pencitraan, hanya segelintir orang yang tau siapa mereka sebenarnya termasuk Papa, itu makanya Dave mati - matian mencari bukti perselingkuhannya dengan Mauren, karena kalau sampai terbongkar nama mereka akan hancur”...


...“Itu yang aku bingung, kenapa Papa dan Rivandra ga membuka saja bukti mereka ke media supaya semuanya selesai” keluh Rossy...


...“Rivandra bilang kalau Papa kamu ga mau media mengobrak - abrik kegagalan rumah tangga kedua anaknya, dan lagi bagaimana pun Mauren pernah jadi menantu di rumah itu, Papa kamu ga mau membuka aib Mauren dengan harapan Mauren bisa melanjutkan hidupnya dengan baik”...

__ADS_1


Rossy mendengus frustasi


...“Tapi lihatlah akibatnya Mas, kalau sampau terjadi apa - apa sama kamu, aku sendiri yang akan membeberkan semua bukti tentang kebusukan si Dave itu, aku ga peduli meskipun nanti aku dan Rivandra jadi bahan gosip, atau kehidupan si Mauren yang jadi acak - acakan” ...


...“Heemmm.. kamu gemesin kalau lagi marah gitu” goda pandu...


Rossy menoleh kesal pada Pandu


...”Dih; orang lagi kesel malah digodain!” Tandas Rossy sambil memburu titik geli Pandu untuk menggelitiknya...


...“Aw ampun Rose.. ahahaha, duh ampun Rose.. ampun, sakit!” ucap Pandu yang sebentar- sebentar tertawa lalu meringis...


...****************...


...“Halo anak Papa” sapa Rivandra pada putri kecilnya lewat video call...


...“Halo Papa, Papa kapan pulang? Lily kangen?” Ucap Areta mewakili putrinya yang sedang bergerak - gerak kecil...


Rivandra menatap lekat wajah istri dan anaknya di layar ponselnya


...”Besok Papa pulang ya sayang, heemmm… Papa kangen banget sama Lily”...


“Sama Mamanya enggak?” Protes Areta


...“Ahahaha.. terutama sama Mamanya”...


...“Sebentar Mas, aku tidurin Lily dulu di box bayi” ucap Areta, lalu meletakkan ponselnya di atas kasur, Areta meletakkan Lily dengan sangat hati - hati, membenar - benarkan posisi putri kecilnya yang kini terlelap itu, Areta lalu beranjak ke tempat tidurnya, beringsut naik dan meraih ponselnya lagi...


Terlihat di layar ponselnya suaminya itu tengah sibuk dengan pulpen dan kertas - kertas di depannya, bicara sebentar dengan seseorang, lalu fokus kembali ke layar ponselnya


...“Kak Rivan lagi sibuk?” ...


...“Heemm, lumayan.. setelah selesai operasi dua orang tadi, ternyata saya masih punya tugas buat menanda tangani setumpuk dokumen” keluh Rivandra ...


...“Padahal udah malem Kak, apa ga sebaiknya istirahat dulu terus lanjutin besok kerjaannya?”...


...“Besok saya ingin segera pulang kesana, jadi saya usahakan semua pekerjaan selesai hari ini juga, kamu udah makan? Lily minum ASInya gimana? Banyak?”...


...“Dia ga mau minum ASI dari yang sebelah kiri Kak, jadinya yang kiri bengkak, melimpah ASInya”...


...“Oh ya? Heeemm… tumben Lily malah ga mau dari yang sebelah kiri, coba saya lihat apa masalahnya?” ...


...“Maksudnya Kak?” Tanya Areta tak mengerti...


...“Perlihatkan pada saya kondisi dada sebelah kiri kamu Areta, biar saya bisa tahu apa masalahnya” Titah Rivandra...


Menyadari bahwa suaminya seorang dokter, Areta menuruti titah suaminya, membuka kancing bajunya satu persatu, lalu membuka penutup dada khusus ibu menyusui yang ia pakai


...“Gini Kak” tutur Areta sambil memperlihatkan sebelah kiri dadanya yang membengkak...


Glek..


Rivandra menelan salivanya, kuat kuat ia menahan hasratnya


...“Kalau yang sebelah kanan?” Tawarnya...


...“Yang sebelah kanan ga ada masalah Kak, kenapa harus diliatin?”...


...“Perlihatkan saja Areta! buat perbandingan sama yang sebelah kiri” titah Rivandra lagi...


Areta tak mendebat lagi, kini sibuk membuka penutup dada yang sebelah kanan


...” Tuh ga ada masalah kan?”...


Mata Rivandra berkalang nafsu sudah, fix dia ga bisa konsentrasi kerja lagi kalau seperti ini


...”Areta! Saya ga tahan!” Ujarnya sambil menghembuskan napasnya frustasi, ia mengusap kasar wajahnya yang tampan...


Areta terkekeh puas


...”Makanya cepat pulang!” Goda Areta ...


Rivandra dengan wajahnya yang merah padam tampak tak karuan menahan gejolak hasratnya


...”Selesai operasi besok siang, saya segera pulang”...


...Areta tersenyum puas, “janji?”...


...“Janji, selama saya boleh ikut mengatasi masalah pembengkakan itu” sahut Rivandra ...


...“Astaga, kamu nakal sekali Kak! Ini jatahnya Lily!”...


...“Saya dan Lily bisa bergantian” sahut Rivandra sambil cengengesan ...


...“Areta.. Areta!” Samar suara Anna terdengar panik mengetuk pintu kamar Areta...


...“Iya Ma” pekik Areta, ia lalu kembali ke layar ponselnya ...


...“Mama manggil Kak, udah dulu ya” ucapnya pada Rivandra ...


Pria tampan itu memajukan bibirnya tak terima


...”ya sudah, nanti sebelum tidur saya video call lagi ya”...


...Areta mengangguk dan tersenyum manis sebelum mengakhiri pembicaraan mereka, ia lalu tergesa menuju pintu menemui mertuanya...


...“Ada apa Ma?” Tanya Areta penasaran saat melihat wajah panik mertuanya...


Napas Anna memburu, dadanya turun naik menahan amarah


...”Si Mauren Areta, dia bikin ulah lagi! Kali ini dia udah diluar batas, Mama bener - bener kesel sama dia” cerocos Anna...


...“Kak Mauren ngapain lagi Ma?” Areta sudah mulai sepanik Anna, tapi mertuanya itu tak menjawab, ia malah menggandeng tangan Areta yang kemudian tergupuh mengekorinya hingga ke ruang tengah, disana sudah ada Oma dehgan wajah murka dan para pelayan mereka yang tengah menyaksikan tayangab di televisi besar, Areta terkejut ketika melihat Mauren dan Susan di layar kaca, apalagi yang mereka coba lakukan sekarang?...

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2