Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Kerikil Dalam Rumah Tangga


__ADS_3

Kalau tadinya Areta menggebu - gebu untuk meniti karir pada saat sedang berada di rumah Amel, nyatanya ketika ia pulang ke rumahnya dan melihat Lily yang terlelap hatinya goyah, apa bisa ia tega meninggalkan anaknya?


Areta menghela napasnya, dilema kini melandanya, karir dan anak menjadi pilihan yang sulit baginya, dua - duanya sama - sama penting untuknya sekarang, Areta sedang membelai - belai sayang rambut Lily yang sedang terpejam ketika mertuanya Anna datang


...“Areta, Lily udah tidur kan? Turun ke bawah yuk, kita makan malem bareng, Mama juga udah hubungin Rivandra, bentar lagi dia nyampe katanya” ajak Anna, Areta mengangguk patuh, lalu mengekori Anna untuk turun ke bawah setelah menitipkan Lily pada pengasuhnya...


Di ruang makan, suasana agak berbeda, lebih banyak makanan yang sedang disiapkan oleh para pelayan, seolah hendak ada tamu yang datang, Oma pun sudah ada disana


...“Kita mau kedatangan tamu ya Ma?” Tanya Areta...


...“Ah iya, mau ada Tante Laras sama anaknya Laura makan malem disini, kamu masih inget sama Tante Laras yang Mama ceritain kemarin, kan?” ...


Areta mengangguk lemah, malasnya ia harus bertemu lagi dengan wanita bermuka dua itu lagi, tapi kabur dari acara makan malam ini pun tak mungkin, tentu Anna akan tersinggung


Tak lama tamu yang sangat ditunggu - tunggu Anna itu datang, wanita seumuran Anna yang Areta yakini sebagai Ibunya Laura itu disambut Anna dengan hangat, Anna lalu beralih pada Laura, memeluk dan memuji - muji betapa cantiknya Laura, Oma pun sama ramahnya pada mereka. Anna lalu memanggil Areta, bangga memperkenalkan menantunya pada sahabatnya itu, sejauh ini tak ada reaksi negatif yang ditunjukkan oleh Laura dan Ibunya, Laura bahkan mengakui kalau ia pernah bertemu dengan Areta saat Areta datang ke rumah sakit, Laura pun tak segan memuji - muji Areta, benar - benar wanita bermuka dua


...“Loh ini Nak Rivandranya belum datang?” Tanya Ibunya Laura...


...“Masih di jalan, Jeng.. kena macet katanya, tapi entar lagi nyampe kok” sahut Anna...


...“Dokter Rivandra itu emang luar biasa Ma semangat kerjanya, datang lebih awal dari dokter yang lain, pulang pun selalu yang paling telat dibanding dokter yang lain, pantes aja kalau beliau itu jadi dokter bedah terbaik” terang Laura...


Anna tersenyum puas mendengar pujian Laura tentang anaknya, sementara Areta sudah mulai tak nyaman, Areta tahu betul apa motif Laura mengagung - agungkan Rivandra depan mertuanya, tapi sudah lah untuk sementara Areta tak akan berbuat apa - apa dulu


...“Ah kamu bisa aja Laura, kamu juga hebat banget loh, bisa jadi dokter bedah, malah pernah kerja di rumah sakit luar negeri segala” timpal Anna balas memuji Laura...


...Laura tersipu, sedang Ibunya Laura tersenyum senang dengan sanjungan Anna, “saya sering banget loh Jeng baca tentang kesuksesan dokter Rivandra di artikel - artikel, malah sering dibahas di majalah luar negeri, makanya pas Laura bilang mau kerja di rumah sakit dokter Rivandra agar bisa mengikuti jejaknya saya langsung setuju” tutur Ibunya Laura, tak bosan menyanjung Rivandra ...


Bahkan Ibunya Laura baru selesai berucap ketika seorang pelayan tergupuh menghampiri Areta dan mengabarkan kepulangan Rivandra, seperti yang sudah - sudah, Areta tergesa beranjak menyongsong teras depan untuk menyambut suaminya setelah pamit pada mertua dan tamunya, saat sudah di teras Areta membenar - benarkan rambutnya, lalu memasang senyum terbaik untuk menyambut kepulangan suaminya itu


Senyum Rivandra lebar saat ia turun dari mobil dan mendapati Areta sudah berdiri di teras menunggunya, memang itu keinginan Rivandra, diantar ketika ia hendak berangkat kerja, dan disambut ketika ia pulang


...“Selamat malam sayang” ucap Rivandra begitu sampai di depan Areta, satu kecupan manis ia hadiahkan di kening istrinya...


...“Malem Kak, hemmm.. pulangnya telat banget, apa hari ini sibuk lagi di kantor?” Tanya Areta, sambil mengambil alih tas kerja Rivandra untuk ia bawa...

__ADS_1


...“Maaf, banyak operasi hari ini” jawab Rivandra sambil memeluk hangat Areta, sehangat hatinya sekarang, Areta baginya adalah jelmaan wanita sempurna idamannya, Areta selalu bisa memenuhi keinginannya, kebutuhannya, dan imajinasinya...


...“Mama udah nungguin Kak, soalnya ada Tante Laras sama Laura datang buat makan malam” tutur Areta dengan malas, membuat Rivandra menatapnya penuh selidik...


...“Kamu kenapa? Apa ada masalah?” Tanya Rivandra ...


Areta mendengus, lalu menggeleng pelan, bibirnya manyun, inginnya sih cerita kalau ia mendapat perlakuan tak enak dari Laura, tapi ia tahu betul suaminya itu, ia akan bereaksi keras pada siapa pun yang menyakiti Areta, dan ujung - ujungnya nanti Areta yang akan merasa tidak enak pada Anna, melihat betapa bahagianya Anna tadi ketika bertemu lagi dengan sahabatnya membuat Areta tak tega menghancurkan kebahagiaannya


...“Aku ga apa - apa kok, kita masuk yuk, ga enak udah pada nungguin” ucap Areta sambil menggandeng suaminya untuk masuk, tapi Rivandra tak bergeming, ia malah menarik tangan Areta lalu membawanya ke belakang pilar besar dengan lampu remang - remang, pilar yang membuat mereka terlindung dari pantauan satpam di depan rumah, di belakang pilar itu tanpa basa basi Rivandra ******* bibir istrinya, gemas melihat istrinya yang cantik dan selalu membuatnya terpesona, Rivandra tak memberikan jeda dalam ciuman intensnya bahkan sekedar agar Areta bisa bernapas, alhasil Areta kewalahan, napasnya ngos - ngosan ketika Rivandra mengakhiri ciumannya...


...“Nakal!” Ucap Areta sambil mengusap - usap bibir Rivandra yang terkena noda lipstiknya, pria itu tersenyum, lalu lembut membelai - belai wajah istrinya...


...“Please jangan berubah, tetap seperti ini ya, ada saat saya berangkat dan saat saya pulang kerja” ucap Rivandra ...


Areta tersenyum tipis, dalam hatinya ia mulai menimbang lagi, kalau ia mulai bekerja tentu ia tak akan punya banyak waktu seperti sekarang? Apa ia batalkan saja keinginannya untuk meniti karir?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara makan baru dimulai ketika Rivandra dan Areta mulai bergabung, awalnya sih acara makan - makan itu berjalan lancar, gelak tawa juga sesekali terdengar karena obrolan - obrolan ringan, hingga Ibunya Laura membuka suara


...Rivandra yang sedang fokus pada makanannya pun menoleh pada wanita itu, “sejauh ini hasil pekerjaannya bagus Tante” sahutnya singkat...


Ibunya Laura tersenyum puas mendengar jawaban Rivandra, apalagi Laura, hidungnya kembang kempis


...“Syukurlah, tolong bimbingannya ya dokter Rivan, jangan segan - segan menegur kalau Laura salah” tambah Ibunya Laura lagi antusias...


...“Jeng, jangan suka merendah gitu ah, Laura juga dokter bedah ahli loh, kalau sampai diminta sama rumah sakit besar di Inggris kan berarti bukan dokter bedah sembarangan, Jeng” puji Anna, muka Luara memerah malu sekaligus bangga ...


...“Bener itu, Laura itu berprestasi loh, masih muda, cantik, tapi sudah jadi dokter bedah profesional, semoga Laura bisa semakin memajukan rumah sakit Rivandra ya” tambah Oma membuat Laura semakin tersanjung saja, sesekali Laura melirik ingin pamer pada Areta yang acuh fokus pada makanannya...


...“Oh ya, kalau diperlukan Laura juga bisa mengurus keuangan rumah sakit loh dokter Rivan, jadi dulu Laura juga sempat kuliah jurusan akuntansi bersamaan dengan jurusan kedokteran, saya bilang sama Laura kalau perempuan jaman sekarang itu harus serba bisa, bukan hanya diam di rumah dan mengandalkan pemberian suami” tutur Ibunya Laura panjang lebar...


Rivandra tak terlalu menanggapi, ia hanya tersenyum sekilas lalu fokus lagi pada santapannya


...“Wah, hebat kamu Laura! Bener - bener serba bisa, Tante do’ain semoga kamu tambah sukses deh” puji Anna lagi...

__ADS_1


...“Terima kasih Tante, saya akan berusaha semampu saya agar tidak mengecewakan dokter Rivan” ucap Laura ...


Anna mengangguk - angguk senang, begitu pun dengan Oma dan Ibunya Laura, sedang Rivandra masih sibuk mengisi perutnya yang keroncongan sejak sore hari tadi, lain lagi dengan Areta yang wajahnya menggelap. Mungkin Anna dan Oma tak sadar jika puja dan puji mereka pada Laura justru semakin mengerdilkan hati Areta, apalagi ketika mendengar omongan Ibunya Laura tadi, Areta benar - benar merasa tertampar, dalam diam tekadnya kembali membulat untuk meniti karirnya, membentuk prestasinya agar ia bisa dibanggakan oleh suami dan keluarganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi sekali ketika Areta mendapat kabar dari Amel bahwa Ayah angkatnya memberi posisi sebagai manajer keuangan, mengingat kecerdasan Areta dan prestasi di kampusnya dulu, Areta tentu saja senang, meskipun Areta tetap meminta agar dirinya di tes dulu agar tidak mengecewakan Radit nantinya, Areta jelas antusias karena ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk memulai karirnya


Sekarang tugas Areta adalah untuk meyakinkan suaminya itu agar mengizinkannya untuk bekerja. Areta menarik dalam napasnya lalu menghembuskannya pelan di depan pintu kamarnya, sesaat sebelum ia masuk untuk menemui suaminya itu, Areta melangkah pelan mendekati suaminya yang sedang bersiap untuk berangkat kerja


...“Sayang, ada waktu buat ngomong bentar ga?” Tanya Areta sambil memeluk punggung kekar Rivandra...


Pria itu bereaksi, membalik badannya menghadap Areta, “ada apa sayang? Apa ada masalah?” Tanya Rivandra khawatir


...Areta menggelengkan kepalanya, lalu membawa Rivandra untuk duduk di tempat tidur mereka, “Kak, kalau aku ada permintaan, kira - kira Kak Rivan bisa ngabulin ga?”...


...Rivandra sedikit menarik wajahnya ke belakang, tatapannya penuh selidik, “selama permintaannya bukan untuk menjauhi kamu dan Lily, apa pun itu saya pasti kabulkan, kamu tau itu kan?”...


...Areta tersenyum lega, ia lalu menggenggam tangan suaminya, “kalau gitu Kak Rivan bisa ngizinin aku kerja di kantornya Papa Radit kan?” ...


...Rivandra menarik tangannya pelan dari genggaman Areta, keningnya mengkerut, “kamu mau kerja? Tapi buat apa Areta? Apa uang nafkah dari saya ga cukup? Atau apa kamu jenuh di rumah? ...


“Bukan gitu Kak, aku cuma pengen bantuin Papa Radit, lagian kan Lily udah bisa ditinggal, jam kerjanya juga ga lama kok”


Rivandra merenung sebentar, baru saja tadi ia begitu bersyukur karena punya istri yang selalu ada untuknya, tapi sekarang ia dihadapkan pada kenyataan kalau istrinya pun ingin berkarir, entah apa tujuan Areta, toh mereka tak kekurangan materi justru berlebih, dan lagi selama ini Areta enjoy - enjoy saja berada di rumah


^^^“Kak, gimana?” Tanya Areta penuh harap^^^


Rivandra masih menimbang, sejujurnya ia berat sekali untuk melepas istrinya bekerja, tapi melihat wajah memelas Areta mana tega Rivandra menolaknya


...“Tapi jam kerjanya ga lama kan sayang? Kamu masih akan punya waktu buat saya dan Lily kan?” Tanya Rivandra cemas...


...“Pasti Kak, pokoknya aku berangkat kerja setelah Kak Rivan berangkat, dan aku pulang sebelum Kak Rivan pulang, dan nanti pada saat jam istirahat aku bisa nyempetin nemuin Lily, kantornya Papa Radit kan deket dari sini” sahut Areta meyakinkan...


...Rivandra mengangguk pelan bersamaan dengan helaan napasnya, “ya udah, saya izinin, selama itu bisa bikin kamu happy” ucap Rivandra meski hatinya tak rela...

__ADS_1


Areta senang bukan kepalang, ia sampai melompat kegirangan, baginya izin dari Rivandra adalah kunci untuk membuka pintu kesuksesannya, dan kini semuanya sudah di depan mata, tak akan ada lagi suara sumbang yang mengomentari ketimpangan status atau kualitas Rivandra dan dirinya, akan ia tunjukkan pada semua orang kalau ia pun mampu berprestasi dan pantas untuk bersanding dengan Rivandra.


__ADS_2