
...“Itu anak saya Ma!” Ujar Rivandra yang baru saja datang dan masuk ke rumah, napasnya terengah, terlihat sekali ia tergesa datang, bahkan ia masih memakai seragam bedahnya...
Deg..
Sekarang bukan Mauren saja yang terkejut, Dani dan Susan pun terhenyak kaget mendengar pengakuan Rivandra, terlebih Fabian yang baru saja sampai di rumah itu, terjawab sudah sekarang siapa yang menikahi dan menghamili Areta, tangan Fabian terkepal bersamaan dengan rahangnya yang mengeras, kalau saja itu bukan rumah Rivandra sudah pasti habis Rivandra dipukulinya
...“A-apa maksud kamu Rivan?” Tanya Mauren, demi apa pun ia tak percaya apa yang baru saja ia dengar ...
...“Nak Rivan, apa maksud Nak Rivan?” Tanya Susan sama tak mengertinya dengan Mauren atau Dani yang kini sedang mencari - cari jawaban dari tiap orang di depannya, terutama Areta yang kian tertunduk...
Rivandra berjalan mendekati Mauren, matanya menatap Mauren lekat, mempersilakan wanita itu untuk menelisik kebenaran di dalam matanya, karena yang ia sampaikan adalah kejujuran
...“Anak yang Areta kandung adalah anak saya, Mauren” tutur Rivandra, Mauren menutup mulutnya yang menganga lebar, kepalanya menggeleng - geleng tak percaya, air matanya turun tanpa dikomando, hatinya hancur berkeping - keping, dadanya bergemuruh marah apalagi ketika ia melihat Areta, seketika ia bangkit berjalan tergesa mendekati Areta, ia lalu mengangkat tangannya hendak mendaratkan tamparan di pipi Areta, beruntungRivandra juga ikut memburu ke arah Areta dan menangkis tangan Mauren...
...“Mauren, Areta ga salah!” Sentak Rivandra...
Mata Mauren yang memerah mendelik tajam pada suaminya itu
...“Dia ga salah kata kamu? Dia pelakor Rivandra! dia kan yang ngerayu kamu?” Sengit Mauren pada Rivandra, ia lalu beralih menatap Areta penuh murka “Ini balasan kamu untuk kebaikanku selama ini? Ternyata diam - diam kamu menaruh hati pada Rivandra, iya?! Dasar wanita murahan! Sentak Mauren lagi pada Areta, hilang sudah semua kasih sayangnya pada Areta...
...“Areta bukan wanita murahan Mauren, mereka sudah menikah, bahkan sebelum Rivandra menikahi kamu!” Sengit Rossy sambil bangkit dari duduknya, geram betul ia ketika melihat Areta duduk diam dalam segala penghinaan. Di samping Rossy, Oma menghela kasar napasnya, menepis amarahnya dulu, menunggu waktu yang tepat untuk bicara...
Mauren nyaris saja melorot ke lantai jika Dani tak bangkit dan segera meraihnya, lalu membimbingnya untuk duduk di sampingnya
Wajah Susan semakin memerah marah, ia menatap Areta penuh kebencian, Susan lalu bangkit berdiri merasakan dadanya yang kembang kempis, tak lama ia memburu berjalan mendekati Areta, sama dengan Mauren dia hendak memberikan tamparan pada Areta
...“Mama, jangan!” Kini Fabian yang berteriak lantang menghentikan gerakan tangan Susan, semua orang menoleh pada Fabian, termasuk Areta. ...
...“Kak Fabian” gumamnya, lengkap lah sudah kini derita dan rasa malunya Areta. Fabian lalu berjalan cepat menuju tempat Ibunya berdiri dengan gigi gemeretak, kemarahannya pada Rivandra bersamaan dengan kemarahan pada Mamanya....
...“Jangan pernah sekali pun menyakiti Areta Ma!” tandas Fabian pada Ibunya...
...dengan rahang yang mengeras...
Bibir Susan bergetar hendak berucap, tapi tenggorokannya tercekat, apa - apaan ini, menantunya sudah menikah bahkan akan punya anak dengan Areta, sementara anak laki - lakinya juga membela Areta, gila, ini semua gila! batin Susan. Susan menggeram pada Areta, tapi ia tak bisa berbuat apa - apa, akhirnya ia mendudukkan dirinya kembali di samping Dani
...“Tolong biarkan Rivandra menjelaskan semuanya dulu, jangan ada kata - kata kotor lagi yang terucap, saya tidak mau cucu saya mendengar hal - hal yang tidak baik” tandas Julian...
Dani menjatuhkan pandangannya pada Julian, wajah mereka sarat banyak pertanyaan
...“Jadi besan sudah tau?” Cecar Dani ...
Julian mengangguk
...“Astaga” ucap Dani lalu terduduk lemas, disamping Dani Susan mulai menangis terisak mengenang nasib anaknya yang dipoligami...
...“Rivandra, ceritakan semuanya!” Titah Julian, Rivandra mengangguk lalu mendudukkan dirinya, lisannya mengurai peristiwa demi peristiwa yang menimpanya dan Areta, semua duduk hening dalam diam, menyimak cerita Rivandra, yang belum tahu terhenyak diiringi suara isak tangis Mauren, sementara yang sudah tahu menghela napas, merutuki peristiwa yang membawa kemelut ke dalam rumah mereka...
...“Ceraikan Areta sekarang juga Rivandra, ceraikan!” Sentak Mauren, masih tak terima bahwa Areta adalah madunya...
...“Iya besan, Nak Rivan, jalan terbaik adalah menceraikan Areta, anggap saja ini bencana, dalam hal ini Nak Rivandra ga salah, sekarang bagaimana caranya agar rumah tangga mereka utuh tanpa ada orang ketiga” tandas Dani...
...“Si Areta itu emang murahan, dia sengaja menjerat Rivandra dengan alasan hamil anaknya, padahal dia punya rencana busuk, dia ingin mengganti posisi Mauren!” Sinis Susan ...
...“Mama!” Sentak Fabian, Susan bungkam apalagi ketika melihat semua anggota keluarga Rivandra menatap tajam padanya...
Areta tergugu, tangannya terkepal, tuduhan Susan menyakitinya, tapi Susan bukan untuk dilawan, ia tahu betul watak Susan, paling tidak ada Fabian yang melawan Susan untuknya, terima kasih Kak Fabian, batinnya.
Rivandra tersenyum sinis
...“Mama bilang Areta murahan?” Sinis Rivandra...
Susan tergagap, ia mengalihkan pandangannya, tak sanggup melihat tatapan tajam Rivandra
...“Kalau Areta yang punya anak dalam ikatan pernikahan Mama sebut murahan, lantas bagaimana dengan wanita yang hamil diluar nikah lalu mengaborsi anaknya sendiri?” Sinis Rivandra sambil menyeringai, tatapannya beralih ke Mauren yang saat ini menatapnya dengan penuh tanda tanya...
...“Rivandra, apa maksud kamu? Ada apalagi ini? Jangan nambah - nambah pusing!” Sewot Anna...
__ADS_1
...“Saya janji ga bakalan bikin pusing Ma, tadi saya sudah membongkar semua rahasia saya bersama Areta, saya harap bukan saya saja yang buka - bukaan, tapi Mauren juga harus terbuka kan?” Tandas Rivandra dingin...
Deg..
Mauren mematung, wajahnya yang tadi memerah penuh amarah perlahan berubah pucat pasi, Oma memicingkan matanya, kerutan di keningnya semakin bertambah, tapi kemudian senyum terbit di bibirnya, Oma mengerti kemana arah pembicaraan Rivandra.
...“Nak Rivan, tolong jangan bertele - tele! Memangnya apa yang Mauren sembunyikan?” Tanya Dani tak terima...
...“Jangan melupakan kesalahan yang sudah terjadi dan melemparkan pada Mauren, sudah jelas - jelas kok disini siapa yang salah karena menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain” tambah Susan, matanya tertuju pada Areta...
...“Apa kamu mau jelasin, Mauren?” Tohok Rivandra pada istrinya...
Mauren yang masih berlinang air mata meneguk salivanya
...“Ada apa ini Rivandra?” Tanya Julian tak mengerti, hawa penuh amarah yang tadinya menyelimuti rumah, sekarang berbalut kabut misteri, ada apalagi ini? ...
Setelah menoleh pada Ayahnya sebentar, pandangan Rivandra kini jatuh pada Mauren yang menciut
...“Bisa kamu jelasin Mauren, kenapa kamu nyampe aborsi anak kamu sendiri?” Tanya Rivandra...
Deg..
Tak ada yang tak kaget mendengar ucapan Rivandra, bahkan Areta sampai mendongak, mencari kebenaran di wajah Mauren, ia sama sekali tak percaya jika Mauren bisa melakukan hal sekeji itu, tak mungkin.
...“Nak Rivan, jangan keterlaluan!” Sentak Dani sambil bangkit, dadanya bergemuruh, Susan ikut bangkit memaksakan kakinya yang gemetaran untuk berdiri...
...“Jangan asal tuduh, Nak Rivandra!” Tambah Susan...
Julian memijit pelipisnya, ia tahu betul anaknya itu, Rivandra tak mungkin sampai menuduh orang tanpa bukti, artinya Mauren memang melakukan itu. Julian merangkul Anna, istrinya itu menoleh padanya matanya mempertanyakan apakah omongan Rivandra benar, Julian hanya mengangguk tanpa berucap, Anna lemas sudah.
...“Apa kamu punya bukti atas tuduhan kamu Rivan?” Tanya Fabian, bagaimana pun Mauren adalah adiknya, ia tak akan membiarkan Rivandra menyerang adiknya tanpa bukti...
...“Kita bisa menanyakan kebenarannya pada dokter Kartini, saat saya dan Mauren akan mengikuti program kehamilan, hasil pemeriksaan dokter Kartini menunjukkan bahwa tindakan aborsi yang pernah dilakukan oleh Mauren menyebabkan infeksi pada rahimnya” ...
...“Haaaa!” Pekik Susan nyaris pingsan, Dani memburu istrinya lalu mendudukannya dengan hati - hati...
...“Jelaskan Mauren!” Sentak Fabian pada Mauren, Mauren terhenyak lalu memejamkan matanya, air matanya berjatuhan...
Rivandra menunggu dengan tenang, tangannya bersedekap, tapi matanya menatap Mauren seolah hendak menelan, Rivandra merasa dikhianati dan dibohongi oleh istrinya itu
...“Mauren!” Sentak Fabian lagi...
...“Aku diperkosa Kak! Aku diperkosa dua tahun yang lalu!” Pekik Mauren tangisnya pecah meraung - raung...
...“Ya Tuhan Mauren!” Susan histeris, lalu memburu anaknya, memeluknya erat. Dani terdiam di tempatnya, tak lama ia menangis tersedu, Fabian mendekati Papanya itu mengusap punggungnya untuk menenangkannya...
Anna ikut prihatin pada Mauren, ia bangkit lalu memburu menantunya, menenangkan Mauren dan besannya. Sementara Areta, air matanya jatuh, rasa bersalahnya semakin besar, melihat Areta yang berlinang air mata, Rossy mendekatinya lalu memeluknya lembut.
Jika semua orang merasa prihatin pada Mauren, lain halnya dengan Rivandra, ia bukannya tak percaya pada istrinya, tapi ada sesuatu yang mengganjal, entah apa itu, setali tiga uang dengan Rivandra, Oma Mieke malah mendengus kesal mendengar ucapan Mauren
...“Ga apa - apa sayang, itu sudah masa lalu, Mama mengerti kok kenapa kamu sampai bisa melakukan hal itu, udah lupain aja ya” tutur Anna menenangkan Mauren, “Jeng sudah Jeng” tambahnya berusaha menenangkan Susan yang memeluk Mauren sambil menangis sesenggukan...
...“Sudah Mauren, yang penting suami dan mertua kamu bisa menerima masa lalu kamu, sekarang fokus pada masa depan kalian, segera punya anak!” Tutur Dani dengan suara gemetaran ...
...“Maaf Pa, tapi kemungkinan Mauren untuk punya anak sangat kecil, infeksi setelah aborsi merusak rahim Mauren” tambah Rivandra...
Duaaarrrr…
Kabar buruk ini meluluh lantakkan hati Mauren, bukan hanya dia tapi semua orang yang ada disitu, pupus sudah harapan untuk menimang keturunan Mauren dan Rivandra
...“Ga mungkin Rivan, ga mungkin!” Teriak Mauren tak terima...
...“Sudah Nak, sudah” tutur Anna menenangkan, kini air mata Anna pun ikut jatuh, ia melepas keinginannya untuk punya cucu dari Mauren dan Rivandra...
Julian menghela kasar napasnya,
...“Sekarang semuanya sudah terbuka kan Pak Dani, masing - masing anak kita pernah melakukan kesalahan, saya harap tidak ada lagi yang saling menyerang, mengenai anak - anak, sepenuhnya saya serahkan pada anak - anak, dalam hal ini termasuk Areta” tandas Julian...
__ADS_1
Dani mengernyitkan keningnya
...“Kenapa Areta dibawa - bawa besan?” Cecar Dani tak terima, Susan yang mendengar omongan Julian mengurai pelukannya, ia tergesa melangkah dan mendudukkan dirinya disamping Dani...
...“Areta ga ada hubungannya, dia cukup dicerai aja besan, setelah itu kasih aja dia uang buat pergi jauh - jauh, selesai sudah urusannya dengan Rivandra, bagaimana pun saya ga terima kalau Mauren di poligami” tandas Susan tanpa belas kasih...
...“Ma, bagaimana pun dia istri saya, hormati Areta” tandas Rivandra...
...“Nak Rivan, rayuan apa yang Areta pakai sampai Nak Rivan membelanya mati - matian sekarang? Apa Nak Rivan ga memikirkan perasaan Mauren? Areta itu hanya orang buangan, dia sudah biasa di suruh pergi kesana kesini”...
...“Ma, Areta istri saya!” Sengit Rivandra mengeraskan rahangnya...
...“Cukup!” Pekik Mauren dengan hati hancur berkeping - keping, hati istri mana yang tak sakit mendengar suaminya membela istrinya yang lain, tepat setelah ia mendengar kenyataan pahit bahwa dirinya tak bisa memberikan keturunan, sakit teramat sakit...
...“Mauren sayang, tenang” ucap Anna ketika melihat Mauren yang kalap...
...“Aku ga bisa punya anak Ma, Pa, Areta lah yang bisa memberikan Rivandra keturunan, jadi dia berhak atas Rivandra juga Ma, Pa” tutur Mauren lirih, hatinya bukan tak sakit tapi inilah konsekuensi akan perbuatan kejinya dulu...
Pipi Areta semakin basah karena air mata mendengar ucapan Mauren, rasa bersalahnya kian menggunung.
...“Ga bisa gitu Mauren, kamu bisa ambil anaknya, tapi Areta tetap harus diceraikan” sengit Susan...
...“Betul, si Areta tetap harus keluar dari rumah tangga kamu dan Rivandra, kamu bisa ambil anaknya itung - itung balas budi” tambah Dani berapi - api. Jika tadi Areta pilu karena merasa bersalah pada Mauren, sekarang kemarahan menderu di dadanya, ia tak akan terima jika anaknya nanti diambil dengan dalih balas budi, apa pun yang terjadi ia akan mempertahankan anaknya. ...
Julian sudah hendak marah, Anna yang melihat itu sigap mendekati suaminya
...“Pa, tahan dulu marahnya” gumam Anna pelan, Julian manut ...
Rivandra baru saja hendak berucap ketika Neneknya tiba - tiba tertawa terbahak, semua menoleh pada Oma, apa yang lucu hingga Oma sampai tertawa sekeras itu?
...“Kalian pikir Areta itu apa? Budak? Barang? Apa karena kalian merasa sudah membesarkannya lalu kalian bisa mengatur hidupnya? Membuang dia seenak kalian? Dengar baik - baik, dalam hal ini bukan kalian yang mengatur nasibnya, tapi dia yang mengatur nasib kalian, kalian yang harus meminta belas kasih padanya!” Tandas Oma penuh penekanan...
...“Oma, apa maksud Oma?” Tanya Mauren...
...“Tanpa kalian minta atau suruh dia sudah memutuskan untuk bercerai dengan Rivandra setelah anak mereka lahir, atas dasar belas kasih pada kamu Mauren, juga pada orang tua kamu” tandas Oma...
...“Apa? Cerai? Tapi Ma… “...
...“Julian!” Sentak Oma, protesnya Julian tak berlanjut karena Oma membuatnya bungkam...
...“Oma, saya ga mau… “ ...
...“Rivandra! Biar Areta yang memutuskan!” Sentak Oma, senasib dengan Papanya, belum selesai bicara Oma membuat Rivandra bungkam...
Areta paham omongan Oma, kepalanya yang sudah pegal tertunduk ia tegakkan, hatinya mengumpulkan keberanian, hari ini untuk pertama kalinya ia akan berani membuka suara depan Om dan Tantenya
...“Om, Tante, Kak Mauren.. dari dulu saya selalu dituntut untuk balas budi atas kebaikan yang saya terima dari keluarga kalian, saya sudah berusaha semaksimal yang saya bisa, sepanjang hidup saya mengabdikan diri untuk membalas budi baik Om sekeluarga, kali ini saya akan membalas budi untuk yang terakhir kali” tutur Areta ...
Alis Susan menukik marah, tapi Areta tetap melanjutkan
...“Saya sebagai istri pertama sekaligus Ibu dari anak Kak Rivandra akan mengembalikan suami saya ke pelukan Kak Mauren, sebagai bentuk belas kasih untuk Kak Mauren dan keluarga” tandasnya, wajahnya sedikit mendongak, pertama kali dalam seumur hidupnya ia merasa punya harga diri dan kebanggaan di depan Mauren dan keluarganya, dadanya terasa lega dan lapang...
Susan sudah tak terhitung lagi amarahnya, apalagi Dani, tapi untuk kali ini mereka memang butuh belas kasih Areta, demi putrinya tercinta. Hanya anak mereka Fabian yang bahagia dengan keputusan Areta, wajahnya berseri karena harapannya timbul kembali.
...“Areta apa - apaan, ga boleh Nak kamu ga boleh cerai” gumam Anna sambil menangis di punggung suaminya...
Rivandra jelas murka, ia tak rela ditinggalkan Areta, tapi ia akan membiarkan Areta berbangga di depan Mauren dan keluarganya, biarkan kali ini Mauren dan keluarganya yang merasa berhutang budi pada Areta, untuk urusan membatalkan perceraian akan ia pikirkan nanti.
...“Sudah jelas keputusan Areta?” Tanya Oma pada semua orang yang kini membisu. “Rose, bawa Areta ke kamar Oma, biarkan dia istirahat disana” tambah Oma pada Rossy, Rossy mengangguk patuh lantas membimbing Areta menuju kamar Oma...
...“Sebaiknya kalian pulang, masalah sudah selesai” titah Oma, meskipun ia sendiri bingung entah bagaimana selesainya kemelut itu...
...“Pa, Ma, ayo kita pulang, dan sebaiknya Mauren ikut kita pulang untuk menenangkan diri dulu” ajak Fabian, Dani, Susan, dan Mauren yang masih tergugu manut. Setelah berpamitan sebentar, keluarga itu beranjak keluar dari rumah Julian ...
Kini hanya tinggal Julian, Anna, dan Rivandra yang berada di ruang tamu tempat sidang besar terjadi tadi
...“Papa harap kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik tanpa ada yang merasa tersakiti Rivandra” ujar Julian sambil bangkit dan menepuk - nepuk pundak Rivandra, Anna menyusul mengikuti suaminya...
__ADS_1
...“Mama sebenarnya pengen Areta…. ah sudah lah” ucap Mamanya ambigu, sambil berlalu dari situ, meninggalkan Rivandra yang larut dalam kebingungan, ia masih bertanya - tanya tentang peristiwa pemerkosaan Mauren, di sisi lain ia juga mulai mencari cara agar Areta tak meninggalkannya, ia sungguh tak rela ditinggalkan wanita yang dicintainya. ...