
Hampir dua tahun kemudian..
...“Lily, udah dong lari - larinya, makan dulu ya sayang” Tutur Areta sambil mengekori anaknya yang sibuk berlari - lari kecil di sekitar ruang makan...
Tak lama Julian dan Anna datang, senyum mereka lebar ketika melihat cucu cantik mereka berlari menghampiri mereka, lalu dengan kata - katanya yang belum sempurna Lily minta di gendong sang Kakek, Julian yang sudah rapi dengan setelan jasnya itu lantas berjongkok untuk mengemban Lily
...“Heeemm.. cucu Grandpa pasti lagi dikejar - kejar Mama buat makan ya?” Tanya Julian lembut pada Lily yang berceloteh tak jelas dengan lucunya...
...“Makan yang banyak dong sayang, kasian Mama tuh nyampe ngos ngosan gitu ngejar ngejar Lily” ucap Anna sambil menduselkan wajahnya ke perut Lily, anak cantik itu tertawa geli akibat ulah gemas neneknya...
...“Papa sama Mama udah mau berangkat?” Tanya Areta pada kedua mertuanya...
...“Iya sayang, harus berangkat lebih pagi supaya ga telat, soalnya lokasi rapatnya lumayan jauh” sahut Anna, ia lalu memindai sekeliling ruangannya, “Rivandra belum turun?” ...
...“Belum Ma, tadi masih siap - siap” sahut Areta...
...“Ya udah, bantu suami kamu siap - siap sana, Lily biar sama Papa dan Mama dulu” titah Anna...
Areta hendak membantah, jujur saja ia ingin fokus dulu untuk membuat anaknya mau makan, Areta bahkan tak mempercayakan pengasuhannya pada baby sitter yang sudah disediakan Rivandra, ia lebih senang mengurus segala sesuatu tentang Lily oleh dirinya sendiri, bahkan kadang membuatnya sedikit melupakan Rivandra
...Anna menatapi menantunya yang malah merenung, “Areta, ayo! Nunggu apalagi? Bukan hanya Lily yang butuh perhatian kamu Areta, tapi juga Rivandra”...
Areta mengangguk pelan, lalu dengan tergesa beranjak menuju kamarnya, sesampainya di kamar, Rivandra yang sedang menyimpul dasinya di depan cermin besar terlihat sudah rapi, Areta menerbitkan senyumnya, lalu melangkah mendekati suaminya
...“Kak Rivan lembur lagi?” Tanya Areta pada Rivandra, membuat Rivandra membalik badan, jari lentik Areta mengambil alih menyimpul dasi suaminya...
...“Kemungkinan besar gitu sayang, sedang banyak dokter baru sekarang, saya sama Mas Pandu lagi sibuk - sibuknya orientasi mereka, kamu ga marah kan gara - gara saya lembur terus?” Tanya Rivandra khawatir, tangannya melingkar di pinggang ramping istrinya...
Jari lentik Areta yang terampil menyimpul dasi bersamaan dengan bibirnya yang mengerucut, “aku ga suka tidur sendirian, terus kalau Kak Rivan belum pulang aku keingetan terus, kangen” rajuknya yang seketika membuat suaminya tergelak, gemas melihat pipinya Areta yang menggembung saat ngambek
...”Terus kenapa ga kamu aja yang datang ke rumah sakit? Apa kamu pikir saya ga kangen sama kamu selama saya di rumah sakit?” sahut Rivandra, wajahnya menunduk, memposisikan bibirnya untuk mengecup singkat bibir Areta...
...Areta menaikkan sebelah alisnya, “Emangnya aku boleh datang ke tempat kerja Kak Rivan? gimana kalau aku malah ganggu kerjaan Kak Rivan?”...
...Rivandra membawa Areta ke dalam pelukannya, “percayalah kamu jadi penyemangat buat saya kalau kamu datang ke rumah sakit, lagian selama kita nikah kamu sama sekali ga pernah datang ke kantor saya loh, padahal saya pengen banget pamerin istri cantik saya sama temen - temen disana” ...
...Areta tersipu malu saat kepalanya tenggelam di dada Rivandra, “Oh ya? Jadi Kak Rivan ga malu gitu pamerin aku sama orang rumah sakit?” ...
...Beberapa kecupan Rivandra daratkan di pucuk kepala Areta, “Heemm.. bagaimana saya bisa malu kalau saya punya istri secantik dan sebaik kamu?” ...
...“Ahahahaha.. gombal! Ga perlu ngerayu - rayu lagi Kak, aku udah jadi milik Kak Rivan, seratus persen!” ...
...“Kalau pujian kamu anggap gombalan, siap - siap aja nerima sejuta kegombalan dari saya!” Goda Rivandra ...
...“Terus aku balas kegombalan Kak Rivan dengan apa? Aku ga bisa jurus - jurus gombal gitu soalnya!” sahut Areta...
__ADS_1
Merasa diberi umpan, Rivandra melepas pelukannya, lalu tanpa basa basi membopong Areta, “kamu tau yang saya mau, kan?” Bisik Rivandra
...“Loh loh, bukannya Kak Rivan mau ke kantor? Nanti telat!” Protes Areta...
...“Kantor bisa nunggu” sahut Rivandra sambil tersenyum penuh goda, malah sekarang dengan kecepatan penuh sangat tak sabaran Rivandra mengemban Areta menuju tempat tidur mereka...
...“Nakal!” Bisik Areta, tapi jarinya inisiatif membuka simpulan dasi Rivandra yang ia buat tadi, suaminya tersenyum senang karena gayung bersambut, Areta pun menginginkannya pagi ini. Pria itu pun langsung melancarkan aksi panasnya ketika membaringkan Areta di tempat tidur mereka, lupa sudah ia akan jadwal rapatnya pagi ini, tak akan ia lewatkan tubuh sexy dan mulus Areta demi apa pun...
...****************...
Areta mematut dirinya di depan cermin, sore ini ia berencana untuk mengunjungi suaminya ke rumah sakit, seperti permintaan Rivandra padanya tadi pagi, kebetulan Lily pun sedang diajak pergi oleh nenek dan kakeknya. Puas dengan tampilan dirinya, Areta beranjak menuju kantor suaminya tercinta, tangannya penuh menenteng tas berisi makanan hasil masakannya sendiri
Sesampainya di rumah sakit Rivandra, Areta jelas canggung, seisi rumah sakit ternyata sudah mengenalnya sebagai istri bos besar, anggukan penuh hormat dan sapaan ramah ia dapatkan mulai saat ia baru turun dari mobilnya tadi, bahkan beberapa dokter yang sepertinya sudah senior pun menyapa Areta dengan sopan, beberapa pengunjung rumah sakit dan pasien pun ada yang melirik - lirik pada Areta seolah sudah pernah melihatnya
Awalnya Areta pikir mereka mengenal Areta dari resepsi pernikahannya, atau dari acara TV saat dulu Areta pernah mengadakan konferensi pers, tapi ternyata bukan, bagaimana Areta tak terkenal di rumah sakit jika fotonya dan Rivandra terpampang besar di lobby, foto yang diambil saat mereka resepsi dulu lengkap bersama Lily, Areta sampai melongo tak menyangka jika Rivandra bisa berpikir untuk memajang foto mereka bertiga dengan ukuran super besar, yang pasti menjadi objek perhatian untuk siapa pun yang masuk ke lobby rumah sakit tersebut
Puas menatapi foto keluarga kecilnya dengan wajah sumringah, setelah mendapat bantuan dari resepsionis, Areta mantap melangkahkan diri dengan tergesa menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai tiga, dimana ruangan suaminya berada, Areta ingin segera sampai lalu memeluk suaminya erat - erat menyampaikan terima kasih atas kejutan manis yang ia dapatkan
Sesampainya di lantai tiga, Areta melangkah pelan, wajahnya celingukan mencari petunjuk dimana ruangan suaminya berada, berbeda dengan lantai satu atau lantai dua yang penuh dengan hiruk pikuk orang, lantai tiga ini cenderung sepi, jika dilihat dari papan nama yang tertempel di pintu sudah jelas kalau lantai tiga itu khusus untuk para manajemen rumah sakit.
Areta bernapas lega saat ia mendapati ruangan berpintu besar dengan nama Rivandra yang menempel kokoh di depannya, meskipun pintu besar itu tertutup Areta tahu kalau suaminya berada di ruangan itu dari resepsionis yang ia temui tadi, Areta memang sengaja tak memberitahukan kedatangannya pada Rivandra, niatnya ingin memberi kejutan pada suaminya itu. Sayang kejutan Areta harus buyar saat Rivandra yang justru keluar dari ruangannya
...“Loh Areta, kamu disini?” Tanya Rivandra terkaget tapi bahagianya tak bisa ia sembunyikan, tak malu - malu pun ia langsung memeluk Areta meskipun ada Pandu yang menyapa Areta dengan hangat dan seorang dokter wanita yang sangat cantik yang berdiri di belakangnya...
...Rivandra mengurai pelukannya, “baru datang udah ngomongin pulang, bukannya kesini buat kangen - kangenan ya?” bibir Rivandra maju merajuk...
...“Lily ga ikut, Ta?” Tanya Pandu memecah adegan mesra Rivandra pada Areta...
...“Lily lagi pergi sama Papa Mama, Mas” sahut Areta, ia lalu menjatuhkan pandangannya pada dokter wanita yang menatapinya tanpa jeda, dan Areta harus mengakui kalau dokter itu super cantik, kulitnya seputih pualam, rambutnya panjang terurai, netranya hitam legam, bibirnya merah merekah...
...“Kenalin Ta, ini dokter Laura, dokter bedah baru di rumah sakit ini” ucap Pandu ketika menyadari Areta dan dokter wanita itu tengah saling tatap, sedang Rivandra tak peduli apa pun selain Areta yang kini dalam gandengannya, mata Rivandra fokus menatap wajah cantik Areta, sesekali jarinya membenar - benarkan helai rambut Areta, Rivandra terlihat sekali bucinnya...
...“Halo Nyonya, perkenalkan saya Laura” ucap dokter itu ramah sambil menyodorkan tangannya, Areta sigap membalas uluran tangannya, menjabatnya erat...
...“Areta” sahu Areta sopan, meski terlihat ramah tapi tatapan wanita itu terlihat berbeda bagi Areta...
...“Mas Pandu, bisa tolong lanjutkan rapatnya tanpa saya?” Tanya Rivandra...
...“Eh Kak, ga usah! Aku pulang aja, aku kesini cuma mau nganterin makanan buat Kak Rivan” sahut Areta tak enak hati...
...“Hahaha.. udah Areta ga apa - apa, dibanding Rivandra ikutan rapat tapi malah ga fokus?!” Ucap Pandu tergelak menertawakan kebucinan Rivandra...
...“Tuh, denger kan sayang, udah biarin aja Mas Pandu yang rapat, dia emang seneng banget rapat - rapat gitu!” Ucap Rivandra sambil menggandeng Areta untuk masuk ke dalam ruangannya...
“Blug” Klek” pintu besar itu pun ditutup Rivandra rapat - rapat, tak ingin kebersamaannya dengan Areta terganggu oleh siapa pun, melihat kelakuan adik iparnya tawa Pandu pun semakin menggelegar, sedang Laura hanya tersenyum tipis
__ADS_1
...****************...
Setelah memastikan Lily sudah tertangani dengan baik oleh pengasuhnya dalam pengawasan Anna, Areta bisa santai menemani suaminya yang tak juga mengizinkannya untuk pulang meski waktu sudah beranjak malam, padahal Areta hanya duduk diam di samping sang suami yang sibuk di depan layar laptopnya, sesekali suaminya itu mencuri ciuman Areta, lalu sibuk lagi pada pekerjaannya seolah bibir istrinya itu adalah suplemen yang membuatnya tambah semangat bekerja
Seperti sekarang, Rivandra tengah ******* lagi bibir Areta saat pintu besar itu terdengar di ketuk dari luar, Rivandra enggan berhenti, tapi sayangnya Areta kemudian menyudahi ciumannya
...“Ada yang datang Kak, siapa tau penting” ucap Areta, Rivandra mendengus kesal sebelum kemudian ia mempersilakan orang yang diluar ruangannya untuk masuk. Pintu besar itu perlahan terbuka, wangi parfum mahal menyeruak sebelum sosok Laura muncul dari balik pintu...
...“Selamat malam dok, Nyonya. Maaf mengganggu, ada yang perlu saya tanyakan tentang status pasien yang akan kita operasi besok” ucap Laura...
...“Ah iya, silakan duduk” Titah Rivandra, Laura lalu mendudukkan dirinya di sofa depan meja kerja Rivandra, baru saja Rivandra hendak membuka dokumen tentang pasien yang dimaksud Laura, tiba - tiba ponsel Rivandra berbunyi nyaring, sebuah pesan masuk ke ponselnya ...
...“Sayang, saya tinggal sebentar dulu ya, ada urusan yang harus saya selesaikan dengan Mas Pandu sebentar di lantai bawah” ucap Rivandra pada Areta, istrinya itu mengangguk patuh dengan senyum terukir di bibir yang warna lipstiknya sudah memudar karena perbuatan Rivandra ...
Rivandra lalu menjatuhkan pandangannya pada Laura, “dokter bisa nunggu dulu sebentar disini, nanti akan saya bahas mengenai status pasiennya” tuturnya pada Laura
...“Baik dok” sahut Laura penuh hormat...
Rivandra mengecup sebentar kening Areta sebelum ia tergesa beranjak dari ruangannya, meninggalkan Areta dan Laura berdua
...Laura memindai Areta yang kini sibuk membuka - buka halaman majalah...
...“Nyonya Areta dokter apa ya?” Tanya Laura tiba - tiba, Areta menoleh pada Laura...
...“Saya bukan dokter” sahut Areta singkat tapi berbuah tatapan penuh tanya dari Laura...
...“Anda bukan dokter? Serius anda bukan dokter? Oh atau anda Direktur perusahaan besar ya?” Selidik Laura...
...Areta mulai tak nyaman dengan cecaran Laura, “saya Ibu rumah tangga, maaf maksud pertanyaan dokter apa ya?” ...
...“Ahahaha.. maaf kalau saya lancang, jadi anda hanya Ibu rumah tangga biasa gitu?” Cecar Laura kali ini dengan tatapan penuh cemooh...
...Areta jelas terganggu, dagunya terangkat dengan tatapan tajam menatap Laura, “apa masalahnya jika saya hanya seorang Ibu rumah tangga?” ...
...“Oh maaf maaf, ga salah sih, tapi saya pikir istri seorang dokter Rivandra adalah wanita sempurna dengan karir cemerlang” sahut Laura tanpa filter...
...Wajah Areta memerah, rahangnya mengeras, “maksud anda apa ya?” Tanya Areta, nada suaranya sudah mulai meninggi...
...“Heemm.. pantas saja saya mengerti sekarang, kenapa dokter Rivandra terlihat antusias ketika saya mengajukan diri sebagai partnernya untuk tindakan bedah operasi, malah berhari - hari rapat hingga tengah malam bersama saya, rupanya diam - diam dokter Rivandra mendambakan sosok perempuan hebat yang tak ia dapati dari istrinya” sinis Laura dengan pongahnya...
...Areta terhenyak, “maksud anda, suami saya belakangan ini rapat sampai tengah malam bersama anda begitu?” ...
Laura mengangguk penuh kepuasan mendapati Areta yang mulai seperti kebakaran jenggot, sedang Areta kini sibuk dalam pemikirannya sendiri, apa selama ini itu alasan Rivandra lembur?
Bersambung…
__ADS_1