
...“Oma mau makan di meja makan? Tadi malam kata dokter Adi Oma udah boleh beraktivitas seperti biasa, asal jangan capek - capek” tawar Areta, memang sudah beberapa hari ini kegiatan Oma Mieke hanya seputar tempat tidur...
Oma tak menjawab, matanya masih menatap kosong foto Rivandra dan Rossy yang tergantung di dinding kamarnya, semenjak kejadian ketika Oma drop, Oma tak banyak bicara, lebih banyak diam.. benar - benar tidak seperti Oma.
...“Gimana Oma, pasti pada seneng deh kalau Oma sarapan di meja makan lagi” bujuk Areta ...
...“Ada Mauren?” Tanya Oma tiba - tiba...
...“Ya ada lah Oma” sahut Areta...
Mendengar itu rahang Oma Mieke mengeras
...“Kalau gitu Oma sarapan disini aja” tandas Oma Mieke. Satu lagi yang aneh dari Oma Mieke, semenjak kejadian Oma drop kebencian Oma Mieke pada Mauren semakin menjadi - jadi, Oma bahkan tak mau bertatap muka dengan Mauren atau sekedar menyahut sapaan Mauren...
...“Selamat pagi Oma cantik” sapa Rossy pada Omanya begitu ia masuk, wajah cantik Rossy sumringah melihat Omanya yang sudah semakin membaik...
...“Selamat pagi Rose” sahut Oma Mieke, senyumnya mengembang...
...”Oma udah sarapan Areta?” Tanya Rossy pada Areta, Areta menggeleng...
...“Oh Oma mau sarapan bareng ya di meja makan?” Tanya Rossy antusias, wajah Oma seketika ditekuk, senyumnya hilang...
...“Kalau ada Mauren, Oma ga mau” tandas Oma Mieke, Rossy menoleh pada Areta sambil menaikkan alisnya minta petunjuk, Areta mengangkat bahunya, ia pun tak mengerti Oma kenapa...
...“Areta siapin dulu sarapan buat Oma ya” ucap Areta, lalu melangkah keluar dari kamar Oma menuju dapur...
Sepeninggal Areta, Rossy mendudukkan dirinya di tempat tidur tepat di sebelah Oma Mieke, pandangannya menyelidik
...“Cerita sama Rossy Oma, kenapa Oma bisa sampai drop setelah nerima telepon dari temannya Oma? emangnya temennya Oma cerita apa? Cecar Rossy, sudah beberapa hari ini ia memendam rasa penasarannya ...
Oma menghela napasnya, lalu membenarkan duduknya, dagunya terangkat memperlihatkan sisa keanggunannya di usia senja
...“Kau tau Rose, kadang diam itu lebih baik dibanding mengungkap apa yang benar, karena mungkin itu akan menghancurkan banyak orang” tutur Oma Mieke, kening Rossy jelas saja mengkerut bingung, entah apa maksud omongan Oma...
...“Maksud Oma apa?” Tanya Rossy ...
...“Oma tau, di rumah ini mungkin Oma cuma dianggap orang gila, mantan artis terkenal yang sakit - sakitan dan haus perhatian, jadi ga mudah untuk membuat orang percaya omongan Oma” tutur Oma lagi...
...“Aih Oma yang nganggap Oma orang gila itu siapa?” Tanya Rossy sambil membelai rambut Neneknya itu...
...“Apa kamu lupa Rose, dulu ketika kamu mau nikah dengan mantan suami kamu, satu - satunya orang yang menentang pernikahan kalian adalah Oma, tapi apakah ada yang mendengarkan? Ga ada Rose, bahkan Mama kamu keliatan sekali kesalnya pada Oma karena dianggap tidak mendukung kebahagiaan kamu, padahal Oma ga setuju karena Oma tau busuknya mantan suami kamu yang seorang produser itu” cerocos Oma Mieke lagi...
Mengingat kegagalan rumah tangganya membuat Rossy merengut sedih
...“Dan bener kan apa yang Oma bilang? akhirnya kamu terluka akibat perselingkuhan mantan suami kamu, mulai saat itu Oma belajar untuk menyembunyikan apa pun yang Oma tau sampai Oma dapet bukti yang jelas, sebelum ada bukti Oma akan bungkam” tutur Oma Mieke...
Rossy mendengus, ia merasa belum mendapat jawaban dari pertanyaannya, tapi ia tak mungkin mendesak Oma Mieke dalam kondisi Oma yang masih belum stabil seperti ini
...“Ya udah kalau Oma belum mau cerita, tapi nanti kalau Oma udah siap untuk cerita, jadikan Rossy yang pertama tau ya Oma, Rossy pasti percaya semua omongan Oma kok” ucap Rossy lagi...
...“Iya Rose, nanti ada saatnya Oma akan buka semua” tutur Oma...
...****************...
Rivandra mencium lembut bibir Areta yang manis, **********, menyesapnya penuh nafsu. Areta menyambut serangan di bibirnya, ikut ******* bibir Rivandra, meneroboskan lidahnya untuk saling bertaut, saling memagut.
__ADS_1
Tangan kokoh Rivandra merambat turun, meremas bokong Areta yang sintal, sementara bibirnya melepas pagutan, turun ke leher Areta, menyesap kulit putih leher wanita itu meninggalkan beberapa jejak merah disana, Areta meremang merasakan bibir Rivandra yang makin turun meraja lela, kini sudah sampai di bagian dada, lelaki tampan itu memainkan lidahnya disana, membuat Areta melenguh memohon untuk segera dipuaskan.
Laki - laki itu tenang memposisikan dirinya di depan Areta, menatap wanitanya dengan penuh cinta sebelum memasuki dirinya, lalu tubuhnya turun, mantap masuk diiringi pekikan tertahan mereka berdua. Rivandra tak diam, ia terus menghentak, pinggulnya bergerak cepat tak sabar ingin menciptakan pelepasan Areta dan meraih pelepasannya
...“Kak” racau Areta meraih pelepasannya, merdu di telinga Rivandra...
...“Areta” pekik Rivandra tertahan oleh bibir Areta yang ********** ketika ia mencapai pelepasannya...
** “Rivan, bangun” suara Mauren sayup terdengar, kenapa ada Mauren saat ia bersama Areta?
...“Rivan, bangun! Kamu mimpi apa sih nyampe keringetan gitu?” Suara Mauren makin jelas terdengar...
Rivandra mengerjapkan matanya lalu beringsut duduk, napasnya memburu, keringat memang membasahi dahinya karena mimpi panasnya dengan Areta
...“Astaga” gumam Rivandra sambil mengusap wajahnya, bagaimana ia bisa sampai mimpi basah dengan Areta padahal ia sedang bersama Mauren, kali kedua dalam hidupnya ia mimpi basah setelah yang pertama saat ia awal baligh dulu, bahkan ia tak pernah memimpikan Mauren...
...“Kamu mimpi apa sayang?” Tanya Mauren lagi penasaran...
...“Oh itu, saya cuma mimpi buruk aja Mauren.. salah saya sih harusnya setelah sholat shubuh tadi saya ga tidur lagi” tutur Rivandra terpaksa berbohong, masa iya dia harus memberitahukan mimpi basahnya dengan Areta...
...“Kamu mandi dulu ya sayang, habis itu kita sarapan, udah ditungguin sama yang lain di meja makan” tutur Mauren ...
...“Iya” sahut Rivandra singkat, sementara pikirannya terpusat pada Areta...
Beruntung Mauren memilih untuk sarapan duluan, kalau tidak mungkin Mauren akan menemukan apa yang disembunyikan Rivandra dibawah bed covernya. Selama Rivandra mandi dan bersiap, tak sedetik pun pikirannya lepas dari Areta, wajahnya, tawanya, tubuhnya membuat Rivandra semakin bingung dengan perasaannya, ia merindukan wanita itu meskipun Mauren tengah bersamanya. Jika ditanya apakah ia merasa bersalah terhadap Mauren? Jawabannya jelas iya, tapi ia tak bisa memungkiri perasaannya terhadap Areta.
Pucuk di cinta ulam tiba, saat Rivandra masuk ke ruang makan, matanya tertuju pada sosok cantik Areta yang kini tengah sibuk berbincang dengan Ayahnya
...“Selamat pagi sayang” ucap Anna begitu melihat anak tersayangnya...
Rivandra mendudukkan diri berhadapan dengan Mauren, sementara disampingnya duduk Areta
...“Areta lagi bantuin meriksa laporan keuangan anak perusahaan yang tadi dianterin sama orangnya Papa” jelas Anna pada Rivandra, di rautnya wajah Anna terbit kebanggaan terhadap Areta...
...”Areta emang pinter Ma, dulu pas kuliah dia dijadiin asisten dosen sama dosen akuntansi” tambah Mauren tak kalah bangga...
Ibarat menyiram bensin pada api yang tengah berkobar, keinginan Rivandra untuk menyentuh Areta semakin membesar, kecantikannya, wajah seriusnya saat bicara dengan Julian, cara ia membetulkan rambutnya dengan elegan, Areta benar - benar menggoda. Belum lagi mimpi basahnya tadi yang masih saja menghantuinya.
...“Kamu pinter banget ternyata Areta, sampai bisa nemu kesalahan di laporan keuangannya, gimana kalau kamu kerja di perusahaan Om aja?” Tawar Julian ...
...“Ahahaha.. Areta belum siap Om, masih pengen belajar lagi, mungkin nanti ya Om setelah Areta bisa ngeraih gelar S2” jawab Areta asal, padahal sejujurnya ia tak ingin terlibat jauh dengan keluarga itu, mereka mungkin masih baik pada Areta sekarang, tapi setelah mereka tahu tentang pernikahan dan kehamilan Areta, sudah pasti akan lain ceritanya...
...“Oh jadi kamu mau mau lanjut kuliah S2 Areta? Mau kuliah dimana rencananya? Om bisa fasilitasin kalau kamu memang mau kerja di perusahaan Om nantinya” tutur Julian...
...“Ga perlu Om, biar Areta…” ...
Deg..
Seketika tenggorokan Areta tercekat, jantungnya berdebar, badannya meremang tatkala tangan kekar Rivandra mendarat di pahanya, ingin berteriak tapi tak mungkin, sudah pasti kekacauan terjadi dan ujung - ujungnya kehamilannya terbongkar, akhirnya Areta menenangkan dirinya, menggeser sedikit pahanya berharap agar Rivandra menghentikan aksi gilanya, tapi si pelaku tenang saja makan dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain menjelajahi paha Areta, intens.
Dahi Areta berpeluh menahan sensasi yang diberikan Rivandra, bohong kalau ia tak merasakan apa - apa dari sentuhan Rivandra, bagaimana pun ia adalah seorang perempuan yang sudah menikah, dan laki - laki yang disampingnya sekarang adalah suaminya, mereka pernah mereguk gairah bersama, bedanya sekarang ia membenci sentuhan itu, ia ingin memaki Rivandra jika saja tak ada orang disana, sayang perhatian Julian sedang fokus padanya, ada Anna dan Mauren juga, tak ada pilihan lain selain membiarkan Rivandra bergerilya di bawah sana, sementara ia sibuk berdiskusi dengan Julian, tubuhnya kian meremang merasakan tangan Rivandra yang semakin naik, pria itu benar - benar nekad.
...“Om, maaf Areta nyusulin Kak Rossy dulu buat sarapan ya” Areta memberanikan diri untuk pamit, melepaskan diri dari tangan kekar Rivandra yang menjelajahinya...
...“Oh iya, Rossy belum keliatan ya.. tolong ya Areta” sahut Julian, Areta mengangguk sopan, lalu bangkit dan memacu langkahnya, hatinya lega bisa terbebas dari rabaan Rivandra, sementara hati Rivandra melengos sedih, ibarat pemangsa yang kehilangan korbannya....
__ADS_1
...“Areta!” Panggil Tante Anna tiba - tiba, Areta seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Anna yang tengah menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala...
...“Ya Tante?” Tanya Areta sopan...
...“Kamu gemukan ya?” Tanya Anna ...
Deg…
Areta dan Rivandra menegang, memang betul badan Areta lebih berisi sekarang akibat kandungannya yang sudah menginjak usia tiga bulan. Mauren yang tertarik pada omongan Anna ikut memperhatikan Areta
...“Iya Areta, kamu gemukan, kelihatan chubby… maaf kayak orang lagi hamil gitu” tutur Mauren tanpa filter...
Glek..
Areta menelan ludahnya, sementara Rivandra menahan napas
...“Husss.. Mauren, kalau ngomong dijaga, Areta itu wanita baik - baik!” Tandas Anna khawatir Areta tersinggung...
...“Eh, maaf bukan gitu maksudnya Ma, aneh aja ngeliat Areta gemukan gitu, soalnya dulu kan badannya kurus banget.. hehehe” ucap Mauren cengengesan...
...“Ya kurus lah kalau diperlakukan kayak pelayan sama Tante sendiri” sinis Rossy, baru saja datang ia berhasil membuat Mauren bungkam, sedangkan Anna menghela napas sadar kalau acara sarapan pagi ini berubah kacau, sementara Areta lebih memilih untuk pergi ke kamar Oma Mieke dengan jantung yang berdebar, sentuhan Rivandra dan perkataan Mauren membuat perasaannya tak karuan...
...“Bisa ga jangan gampang mengkritisi tubuh orang? Mungkin aja disini Areta ngerasa bebas, lepas” sewot Rossy sambil mendudukkan dirinya...
Mauren merengut, ia tak nyaman mendengar omongan Rossy, tapi mungkin benar, kata - katanya tadi tak bijak
...“Maaf Kak, aku bermaksud gitu” tutur Mauren lirih...
...“Seseorang bisa gemuk itu bukan karena hamil aja Mauren, secara batin atau asupan makanan juga bisa membuat badan berubah bentuk” tutur Rivandra, tak ada angin tak ada hujan Rivandra yang selama ini dingin, hari ini angkat bicara berdiri membela Areta, Anna dan Rossy sampai bengong, sementara Mauren semakin menyesali omongannya, kalau sampai Rivandra turut bicara sudah pasti omongannya tadi sangat menyinggung...
...“Udah - udah, makan aja yuk” tutur Anna memecah kekakuan yang baru saja terjadi, akhirnya sarapan berjalan dalam keheningan, saling bungkam, sibuk dengan pemikirannya masing - masing. ...
...****************...
Malam itu atas laporan Rossy, sidang dadakan terjadi di kamar Oma Mieke, hanya Oma, Rossy, dan Rivandra.
...“Kandungan Areta lama - lama memang akan bikin orang pada curiga, bukan hanya Mama dan Mauren, bahkan Rossy beberapa kali nangkep basah para pembantu yang lagi ngegosipin Areta Oma” tutur Rossy...
...“Oma paham, itu makanya kita harus segera bawa Areta pindah dari rumah ini” ucap Oma...
...“Dalam kondisi Oma sedang sakit gini, aku ga yakin Papa mau ngizinin, Oma” tutur Rivandra...
...“Lantas apa alasannya supaya Areta keluar dari rumah ini tanpa ada yang curiga Rivandra, satu - satunya alasan dia disini itu untuk mengurus Oma, seperti titah Tantenya” ucap Oma Mieke, Rivandra bungkam...
...“Kalau alasannya karena Oma, pasti Mama dan Papa akan sering jenguk Oma, dan ujung - ujungnya kehamilan Areta ketauan juga” tutur Rossy, “gini aja Oma, gimana kalau aku bilang Areta lagi bantu aku ngerjain pembukuan perusahaan baju aku yang baru diluar kota, masuk akal kan? Soalnya kan Papa dan Mama tau Areta itu pinter” ucap Rossy, Oma menghela napasnya, berat buatnya untuk melepas Areta ...
...“Itu berarti Oma akan susah ketemu Areta?” Tanya Oma, matanya berkaca - kaca, Rossy memburu memeluk Omanya lembut...
...“Ini semua demi Areta Oma, entah bagaimana nasibnya kalau sampai kehamilannya terbongkar, Rossy ga tega Oma, nanti kan sesekali Oma bisa jengukin Areta” tutur Rossy...
...“Aku udah beliin Areta rumah Oma, Areta bisa tinggal disana kalau Areta mau, soalnya kemarin Areta nolak mentah - mentah pas aku bawa kesana” tutur Rivandra sendu...
...“Butuh waktu buat maafin kesalahan kamu Rivan, Ibu hamil itu sensitif, butuh perhatian dan pengen dimanjain! sedangkan kamu, begitu Mauren ada terus di rumah kamu malah sibuk sama Mauren kan? Areta kamu kesampingkan” sinis Rossy, Rivandra tak bergeming.. sadar akan kesalahannya...
...“Udah udah.. kita pikirin itu nanti, yang penting untuk sekarang Areta harus segera pindah dari sini, jadi tugas kamu untuk meyakinkan Areta, Rose!” Titah Oma, Rossy mengangguk setuju...
__ADS_1
...“Dan tugas kamu Rivan, bantu yakinin Papa dan Mama kamu untuk ngelepas Areta dan mengganti dengan perawat baru, kamu bilang aja kalau Oma harus diawasi oleh orang - orang medis, kamu mengerti Rivan?” Tanya Oma, Rivan mengangguk menyanggupi...