Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Menusuk Dari Belakang


__ADS_3

Besok paginya ketegangan pun terasa saat sarapan pagi, Anna adalah pusat dari hawa dingin yang kini menyelimuti keluarga itu sekarang, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya semenjak ia mendudukkan diri di kursi makan


Untuk memecah ketegangan, Pandu sesekali melemparkan candaan yang ditimpali tawa oleh seluruh anggota keluarga, kecuali Anna, ia hening dan sibuk memainkan santapannya, meskipun hanya sedikit yang ia masukkan ke dalam mulutnya


...Saat canda tawa memenuhi ruang makan itu, Anna berdehem, “apa sudah hilang rasa kemanusiaan keluarga ini?” Sindir Anna, seluruh anggota keluarga kompak menoleh padanya...


...“Hei, ada apa lagi ini Anna?!” Sewot Oma yang memang sudah kesal dengan perilaku menantunya itu...


...Anna mendongak lalu menatapi satu per satu anggota keluarganya dengan tatapan sinis, “disana sedang ada wanita yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya, dan kalian disini sibuk tertawa - tawa untuk hal receh seperti ini?” Sengitnya...


Senyum lebar Pandu seketika meredup, agak tersinggung dengan omongan mertuanya, menyadari perubahan sikapPandu, Rossy segera menggenggam tangan suaminya itu untuk menenangkannya


...“Astaga, kamu masih juga termakan omongan Mamanya si Laura? Masih juga percaya kalau si Laura bunuh diri? Kamu itu kelewat percaya sama sahabat kamu itu atau dihipnotis sih, Anna?!” Cerocos Oma...


...“Ma, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana Laura tergolek tak berdaya karena minum banyak obat tidur! Kalau pun dia salah, dia juga masih manusia kan? Apa kalian semua bahkan ga ada yang peduli pada bagaimana kondisinya sekarang?” Tandas Anna...


Oma hanya menggelengkan kepalanya mendapati menantunya yang keras kepala


...“Mama tuh ga sadar kalau Mama dimanipulasi sama Tante Anggun dan Laura, Mama dibuat merasa bersalah agar keluarga kita terpecah belah karena misi si Laura untuk memisahkan Areta dan Rivandra kemarin gagal total! sadar dong Ma, Mama membela pihak yang salah!” Kali ini Rossy yang sewot...


Rahang Anna mengeras mendapat perlawanan anaknya, baginya sangat tak mungkin kalau Anggun yang sahabatnya selama puluhan tahun akan berbuat serendah itu apalagi memiliki niatan untuk memecah belah keluarganya


...“Kamu itu jangan suka berpikiran negatif sama orang Rossy! Apa untungnya coba buat Mba Anggun memecah belah keluarga kita? Apa yang dia dapat?” Sengit Anna...


...“Kepuasan Ma, itu yang dia dapat!” Sahut Rivandra, sebenarnya ia tak ingin ikut angkat suara, tapi melihat Mamanya yang sudah mulai terlalu dalam terdoktrinase oleh Anggun, jelas Rivandra tak bisa membiarkannya...


...Anna menjatuhkan pandangan pada anaknya itu, “kepuasan? Memangnya dia punya masalah apa sama Mama sampai dia puas kalau keluarga Mama berantakan, hah? Kamu kenapa sih Rivandra, kamu tuh biasanya objektif! Ini kamu malah ikut - ikutan nyinyir sama Tante Anggun!” Sengit Anna dengan mata yang menyalang marah, ia lalu menoleh pada Areta yang duduk di sebelah Rivandra ...


...“Areta, sebagai seorang istri harusnya kamu bisa ngingetin suami kamu untuk berbuat baik pada orang lain, bukan malah menjadikannya antipati begini! Mama tau kamu takut kehilangan Rivandra, tapi tolonglah kamu harus sadar kalau menikah dengan Rivandra kamu harus siap dengan konsekuensi ada perempuan lain yang suka sama Rivandra, seandainya kamu ga membesar - besarkan soal Laura semuanya ga akan jadi seperti ini!” Cerocos Anna pada Areta yang kini tergugu, wajah Areta tertunduk dalam...


Mendengar omongan Anna semuanya geram, terutama Oma dan Rivandra


...“Anna! Ngomong apa kamu?!” Sentak Oma...


...Rivandra menyadari badan istrinya yang gemetaran, “sayang, kita temuin Lily yuk” ajak Rivandra, sambil bangkit dan membimbing istrinya untuk ikut bangkit, keduanya lalu berjalan meninggalkan ruang makan diikuti tatapan sendu Julian, Oma, Rossy, dan Pandu...


...“Mama keterlaluan! apa salahnya Areta dalam hal ini? Dia cuma berusaha mempertahankan rumah tangganya! Apa Mama lupa kalau suamiku dulu pernah diambil pelakor? Sakit Ma! Itu yang Areta jaga, karena Areta juga punya perasaan Ma!” Sengit Rossy, ia lalu bangkit dari duduknya dengan tergesa, disusul oleh Pandu...


Julian dan Oma kini sama - sama hening, sebelum kemudian mereka berdua kompak meninggalkan Anna sendirian dengan amarah yang merajai hatinya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu Anna memandangi wajah bahagia Rivandra dan Areta yang sedang mengajari Lily berenang di kolam renang yang terletak tepat di depan ruang tengah, Anna diam - diam memperhatikan anak, menantu, dan cucunya itu dari balik gorden besar yang menjuntai di kaca pembatas ruang tengah, ada perasaan bahagia saat melihat ketiganya tertawa lepas, tapi kemarahan kembali mengusiknya

__ADS_1


...“Kamu lihat bagiamana wajah bahagia Rivandra ketika bersama Areta dan Lily? Coba kamu ingat - ingat kapan terakhir kali kamu ngeliat Rivandra tertawa lepas seperti itu?” Tanya Oma yang tiba - tiba muncul dan kini ikut menatap bahagia cucu - cucu dan cicitnya...


Anna tak menyahut, ia hanya menoleh sebentar pada Oma lalu kembali fokus pada keluarga kecil Rivandra lagi


...“Puas - puasin aja lihat mereka sekarang Anna, karena Mama yakin atas apa yang kamu lakukan tadi pagi pada Areta, Rivandra pasti sudah merencanakan untuk membawa pindah Areta dan Lily dari sini” ucap Oma yang sukses menghentak kesadaran Anna...


Deg..


Mata Anna sampai membulat, jantungnya berdegup kencang


...“Dan kalau mereka pindah, aku pun akan ikut pindah! mana bisa aku jauh dari mereka!” Tambah Oma seolah belum puas membuat menantunya shock...


...“Kalau aku pindah, sudah bisa dipastikan Rose dan Pandu juga akan pergi lagi dari rumah ini, aku tau gimana sayangnya Rose padaku dan Lily” tambah Oma lagi, ekor matanya mendelik pada Anna sedang bibirnya menyunggingkan senyum puas mendapati menantunya sedang berdiri tergugu dengan kubangan bening yang mulai menggelayut di pelupuk matanya...


...“Jangan kamu harap Julian juga akan tinggal diam saat Lily pergi dari sini, kamu tau gimana sayangnya suami kamu itu pada Lily, bahkan dia ga bisa jauh dari Lily hanya untuk beberapa jam, buktinya saja saat di kantor dia bisa video call cucunya itu lima sampai enam kali, kalau Lily pindah aku yakin Julian juga akan mengikuti Lily” ...


Badan Anna semakin gemetaran saja mendapat teror bertubi - tubi dari Oma, ia bahkan tak sanggup berkata - kata karena semuanya tertahan di tenggorokannya yang kini tercekat


...“Jadilah nanti kamu tinggal sendirian di rumah segede ini, oh kalau kamu mau kamu boleh ngajak si Anggun sama anaknya yang ular itu buat tinggal disini, berkumpulah kamu dengan ular - ular itu, tapi hati - hati kalau suatu hari kamu teracuni oleh bisanya atau malah bisa - bisa ditelan mentah - mentah sama mereka!” Tohok Oma tak juga memberi kesempatan Anna untuk sekedar bernapas lega...


...“Aku heran sama kamu Anna, bertahun - tahun kamu mendampingi Julian masa iya kamu ga bisa mengikuti pola pikirnya yang cerdas? Kamu gampang sekali terhasut omongan orang, apa kamu ga belajar dari kesalahan saat kamu keukeuh memilih Dave dan Mauren dulu?” Sinis Oma lagi...


Anna kini tertunduk sudah tak lagi memandangi anak, menantu dan cucunya, di satu sisi ia mendengar omongan Oma, tapi disisi lain ia percaya pada Anggun karena yang ia tahu Anggun adalah dewi penolongnya


...“Aku cuma bisa ngingetin, sebelum semuanya terlambat dan kamu menyesal nantinya, coba kamu cari tau dulu apa bener Anggun itu seperti dugaan kamu selama ini? Jangan asal percaya, jangan gampang dipengaruhi!” Ucap Oma sebelum kemudian Oma pergi meninggalkan Anna yang kini pikirannya sedang kalut...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah berjam - jam Anna duduk di kamarnya merenungkan semua omongan Oma, waktu yang nyaris tengah malam tak membuat matanya ingin terpejam, ia gelisah juga takut jika omongan Oma memang benar, sesekali ia memandangi wajah Julian yang telah lelap tertidur, khawatirnya muncul lagi jika suami dan seluruh keluarganya akan meninggalkannya sendirian di rumah itu, tapi otaknya seolah tak terima jika Anggun dituduh memiliki motif tak baik pada keluarganya.


Anna kemudian beringsut naik ke atas tempat tidurnya, lalu mulai merebahkan diri, meskipun pikirannya tak karuan ia memaksakan matanya untuk terpejam, karena esok paginya ada hal yang harus ia lakukan


**Pagi sekali Anna sudah beranjak dari rumahnya, bahkan tanpa sarapan bersama keluarganya di rumah, ia lebih memilih untuk sarapan diluar menghindari kecanggungan yang mungkin akan terjadi seperti kemarin, tak bisa dipungkiri omongan Oma menghantuinya, berlomba dengan perasaan kesal terhadap anak - anak dan menantunya


Anna bukannya pergi tanpa tujuan, ia kini menuju kediaman Anggun, tanpa pemberi tahuan terlebih dahulu pada sang empunya rumah, Anna membawa serta banyak kue kesukaan Anggun sebagai alibi kedatangannya yang tiba - tiba


Setibanya di kediaman Anggun, Anna bahkan tidak mengizinkan pembantu Anggun untuk memberi tahukan kedatangannya dengan alasan ingin memberi kejutan pada Anggun dan Laura, Anna hanya menanyakan keberadan keduanya, setelah mengetahui kalau mereka sedang berada di kamar Laura, Anna segera menuju kesana.


Mendekati kamar Laura yang pintunya sedikit terbuka itu, langkah kaki Anna memelan, Anna agak tertegun saat mendengar suara cekikikan dari kamar Laura itu, bahkan sayup - sayup terdengar suara Laura, tapi bukannya Laura belum sadar? Atau Laura baru saja sadar? Anna jadi semakin penasaran, setelah memastikan sekeliling kamar Laura sepi, Anna jalan mengendap - ngendap, lalu ia merapatkan dirinya pada dinding di samping pintu kamar Laura, Anna ingin memastikan kalau kecurigaan semua anggota keluarganya tidak benar


...“Sampai kapan aku harus pura - pura ga sadar Ma? Kalau sampai Tante Anna berhasil membawa dokter Rivandra atau dokter Pandu kesini, mereka pasti tahu kalau aku cuma pura - pura mau mati!” Tutur Laura tiba - tiba...


Deg..

__ADS_1


Mata Anna membola sempurna, dadanya bergemuruh hebat, apa yang Laura bicarakan? Jadi ia pura - pura?


...“Sabarlah dulu Laura, tujuan kita kan belum tercapai, kita ga bisa menggapai Rivandra, paling tidak kita buat keluarganya ga tenang, sabarlah sebentar lagi, ini si Anna udah mulai masuk dalam hasutan Mama” sahut Anggun, nada bangga terdengar jelas dalam suaranya...


...Laura menghela napasnya, “Tapi Ma, aku bingung deh, bukannya Tante Anna itu sahabat Mama dari SMA ya? Tapi kok Mama dari dulu selalu bilang sama aku kalau Mama benci sama Tante Anna? Emangnya Tante Anna pernah salah apa sama Mama?” Tanya Laura, pertanyaan yang membuat Anna tambah shock, badan Anna kini gemetaran, dadanya perih bak teriris sembilu, Anggun membencinya? Tapi kenapa? ...


...“Kamu tau ga Laura, dari dulu dia selalu lebih unggul dibanding Mama, dia selalu jadi bintang kelas, primadona kelas, sementara Mama seolah - olah hanya jadi selirnya, dan yang paling bikin Mama muak adalah gimana dia ngebanggain suaminya, memperlihatkan rumahnya yang mewah, anak - anaknya yang sukses, kehidupannya yang sempurna, Mama benci semua hal yang menyangkut Anna, dia selalu bikin hati Mama jadi kecil, seolah - olah dia lah yang paling penting, yang harus selalu jadi pusat perhatian” tutur Anggun, penuh penekanan dan kebencian yang teramat...


Jangan ditanya bagaimana perasaan Anna, bahkan lututnya kini gemetaran, dadanya semakin sesak saja, sakit bercampur mual kini melanda ulu hatinya, jadi selama ini Anggun membencinya? Karena iri? Anggun iri padanya? Ya Tuhan.. Anna nyaris saja limbung namun ia kuat - kuatkan, ia belum mau jika Anggun dan Laura mengetahui keberadaannya, masih banyak yang harus ia dengar


“Pantes aja Mama segitu bencinya sama Tante Anna, eh tapi kalau Mama benci kenapa Mama selalu bantuin Tante Anna dulu?” Tanya Laura lagi


...Anggun tersenyum miris, “itulah begonya si Anna, kalau dibantu orang pasti dia akan membalas kebaikan orang itu berkali - kali lipat, nih ya dulu Mama pernah nemenin dia saat semua orang menjauhi dia karena dia murid kesayangan guru - guru, kamu tau si Anna balas Mama pake apa? Besoknya dia ngasih Mama baju dan sepatu baru, dari situ Mama mikir kalau si Anna bisa dimanfaatin, jadi ya udah Mama baik - baikin aja dia terus, toh kebaikan Mama pasti akan dia balas” ...


Anna kini sudah tak kuat lagi, air matanya jebol sudah, tanpa ragu ia merangsek masuk ke kamar Laura, kotak kue yang ia tenteng di tangannya ia hempas begitu saja, membuat kue - kue mahal itu kini berhamburan keluar dari kotaknya


Anggun dan Laura jelas terkejut, mereka refleks berdiri, wajah mereka seketika memucat apalagi ketika melihat kilat murka di mata Anna


...“Dasar ular kalian! Tega - teganya kalian menipu saya!” Sentak Anna...


Anggun tergagap, sementara Laura ciut, ia memilih untuk berlindung dibalik punggung Ibunya


...“M - Mba, ada apa ini? Mba kenapa marah - marah?” Tanya Anggun, pura - pura polos...


...“Sudahlah Anggun, ga usah pura - pura! Saya udah denger semua pembicaraan kamu dan anak kamu tadi! Bener ternyata dugaan semua keluarga saya tentang kalian, kalian memang ular!” Sentak Anna lagi dengan berkacak pinggang...


...Anggun menelan salivanya, tak ia sangka semua dramanya selama puluhan tahun akan terbongkar, “Mba Anna, tenang dulu, Mba salah paham!” Sanggahnya...


...Tapi Anna jelas tak akan percaya lagi, “Salah paham apanya, hah? Ternyata selama ini kamu manfaatin saya kan Anggun? Semua kebaikan kamu agar kamu mendapat hal lebih dari saya begitu?” Sengit Anna dengan nada tinggi...


Laura semakin menciut saja, melihat wajah Anna pun ia tak berani


...“Tadi kamu bilang apa Anggun? Tadinya kamu berharap bisa mendapatkan Rivandra untuk Laura begitu? jangan mimpi kamu iblis betina dan anak iblis! bahkan sampai saya tutup usia nanti saya ga akan membiarkan Rivandra atau keluarga saya tersentuh kalian! jangankan tersentuh, mendengar nama kalian pun tak akan saya biarkan!” Pekik Anna membabi buta, kemarahannya ia luapkan...


Anggun tak sanggup berkata - kata menyadari hilang sudah tambang uangnya, selama ini Anna seringkali memberikannya uang atau barang mahal sebagai balas jasa atas kebaikan Anggun, kini Anna sudah tahu semuanya


...“Denger baik - baik Anggun dan kamu Laura! Mulai detik ini jangan pernah muncul lagi di depan saya atau pun keluarga saya! atau saya ga akan segan - segan membawa puluhan pengacara untuk menuntut kalian, dan saya pastikan kalian akan bangkrut dalam hitungan hari, mengerti kalian?” Pekik Anna lagi, ia lalu beranjak dari kamar Laura dengan kemarahan yang memuncak, langkahnya ia percepat agar segera bisa keluar dari sarang ular itu, namun saat melewati ruang tamu, ia melihat deretan guci - guci mahal pemberiannya pada Anggun dulu, tanpa basa basi ia mengangkat satu guci lalu membantingnya dengan sekuat tenaga, suara pecahan guci jelas mengundang perhatian Anggun, Laura, dan para pembantu disana, semuanya shock melihat apa yang Anna lakukan, apalagi ketika Anna mengangkat dua guci yang tersisa untuk ia bawa serta...


Anna menoleh tajam pada Anggun yang tengah menatap nanar guci - guci dalam embanan Anna dari balkon lantai dua, Anggun pasrah tak bisa berbuat apa - apa ketika barang yang ia banggakan itu dibawa lagi oleh orang yang memberikannya


Guci itu bukannya tak berat, tapi entah kekuatan darimana yang bisa membuat Anna membawa dua guci itu hingga keluar rumah Anggun dan masuk ke dalam mobilnya, sopir Anna sampai geleng - geleng kepala melihat kelakuan majikannya itu


Sepanjang perjalanan hati Anna tak karuan, ia sangat menyesali kebodohannya, tentang semua ucapannya pada seluruh keluarganya terutama Areta, bagaimana ia bisa menghadapi keluarganya sekarang? Anna jelas belum siap untuk bertemu anggota keluarganya, yang tadinya mobil menuju ke rumah ia minta sopir untuk merubah arah menuju ke hotel, ia butuh menenangkan diri dulu sebentar sebelum nanti ia menghadapi keluarganya untuk meminta maaf, terutama pada Areta.

__ADS_1


__ADS_2