
...“Oma, boleh ga kalau hari ini Areta izin ketemuan sama temen?” Tanya Areta ragu - ragu, ia sampai memilin - milin bajunya, wajahnya tertunduk...
...“Temen?” Tanya Oma, bingung mungkin karena ia tak pernah tahu kalau Areta punya teman, Areta tak pernah cerita...
...“Iya Oma, temen kampus, namanya April” sahut Areta, “tapi kalau ga boleh ga apa - apa kok Oma” ucap Areta, senyumnya terbit tak ingin terlihat memaksa...
...“Aih, yang ngomong ga boleh itu siapa Areta? Boleh dong, dianter sopir ya, biar Oma tenang” tutur Oma...
...“Ga usah Oma, Areta naik taksi online aja, ga jauh kok, aman juga” jawab Areta sungkan...
...“Ya sudah lah, tapi harus hati - hati ya, inget ada anak dalam kandungan kamu, dan jangan lama - lama Areta, ini sudah sore” ucap Oma lagi...
“Baik Oma, Areta ga lama kok, sekarang Oma tidur dulu, begitu Oma bangun nanti Areta udah disini lagi” tutur Areta, tangannya telaten menyelimuti Oma Mieke.
Begitu Oma sudah terlelap, Areta segera bersiap untuk menemui satu - satunya sahabat yang ia miliki, berbekal alamat cafe yang dikirimkan oleh April, Areta mantap menaiki taksi online yang ia pesan.
...“Kemana lagi itu orang?” Gumam Rivandra saat dia melihat Areta menaiki taksi online, Rivandra yang baru saja pulang dari rumah sakit urung masuk ke rumah, ia bergegas memutar balik mobilnya, mengikuti Areta...
...“Kenapa saya jadi kayak detektif gini sih, astaga Areta.. kamu bikin saya gila” gumamnya lagi...
Dengan hati - hati, mobil Rivandra mengekori mobil yang ditumpangi Areta, hatinya menduga - duga kemana Areta hendak pergi, apa ia akan menemui Fabian lagi?
Begitu turun dari taksi, langkah Areta tergesa ingin segera menemui temannya, cafe itu sepi pengunjung, tak sulit mencari April yang kini tengah berdiri menyambutnya, sementara Rivandra seperti yang sudah - sudah memakai topi dan masker medis kali ini lengkap dengan jaketnya, mencari tempat tepat di belakang Areta dan April, lalu memasang telinganya lebar - lebar, siap mendengarkan bahkan jika itu obrolan tentang wanita sekali pun, ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan Areta, harapannya agar Areta tak menceritakan apa pun yang terjadi antara mereka berdua.
...”Kamu pucet banget, Areta” ucap April prihatin melihat sahabatnya itu, ia sudah menduga ada yang tak beres dengan Areta saat Areta tiba - tiba saja mengajaknya bertemu...
...“Makasih udah mau diajak ketemu April, padahal kamu lagi sibuk” tutur Areta ...
...“Ya ampun kayak ama siapa aja kamu Ta, udah sih ga usah kaku - kaku gitu.. ahahaha” ucap April sambil tergelak, tapi tidak dengan Areta, wajahnya sendu....
April berdehem, merasa berdosa karena ia masih bisa tertawa sementara Areta terlihat sekali sedihnya
...“Kamu kenapa Ta, cerita sama aku” ucap April, tangannya terulur meraih tangan dingin Areta dan menggenggamnya, Rivandra dag dig dug khawatir Areta membuka semuanya...
...“Aku hamil, Pril” ucap Areta ...
Deg..
April melepas genggaman tangannya, mungkin rusak telinganya, mana mungkin Areta hamil, karena yang ia tahu sahabatnya itu bahkan belum menikah, sementara Rivandra yang duduk di belakang mereka memijit pelipisnya, sudah ia duga Areta akan cerita
...“Ok, gini gini, sorry telingaku kayaknya bermasalah ini Ta, soalnya tadi aku naik motor”...
__ADS_1
...“Kamu masih naik motor balap kamu April? Astaga! kamu kapan tobatnya sih, kapan kamu mau jadi cewek tulennya? Ya ampun!” cerocos Areta, lupa sudah ia dengan topik yang hendak ia bahas tadi...
...“Mana bisa aku ninggalin motor sport aku itu Areta, dia yang nemenin aku kemana - mana semenjak kita kuliah dulu, dan asal kamu tahu ya, aku udah berubah.. ini aku pake lipstick” tunjuk April pada bibirnya, sama dengan Areta, ia pun lupa sudah dengan pembahasan penting mereka...
...“Oh.. ahahaha.. sorry Pril, aku ga merhatiin, itu lipstick ya? Aku pikir bibir kamu lagi kedinginan, soalnya warnanya ungu.. ahahaha” Areta dan April tertawa terbahak, lepas tanpa beban...
Rivandra senyum - senyum sendiri, baru kali ini ia mendengar Areta tertawa sebahagia itu, merdu. Rivandra bisa tenang sebentar begitu kedua wanita itu kini malah sibuk memesan makanan dan minuman, sesekali pria itu ikut terkekeh ketika mendengar obrolan mereka berdua, ternyata di balik sikapnya yang dingin Areta adalah sosok yang ceria, bisa dibilang cerewet juga, menggemaskan.
...“Kamu kok ga makan ayamnya Areta? Bukannya itu kesukaan kamu ya?” Tanya April dengan mulut penuh makanan...
...“Ada bawangnya Pril” sahut Areta...
...“Lah emang kenapa kalau ada bawangnya?” Tanya April bingung...
...“Semenjak hamil aku ga bisa makan yang ada bawangnya” ucap Areta ...
Uhuk uhuk..
April yang tengah minum tersedak kaget, begitu pun Rivandra yang sedang menikmati tehnya
...“Areta, bisa ga kalau bercandanya ga usah bawa - bawa kata hamil, pamali!” Sewot April...
...“Aku ga bercanda Pril, aku serius” ucap Areta, matanya menatap lurus iris April...
...“Anak Kak Fabian?” Tanya April hati - hati, Areta menggeleng, dahi April mengkerut, sementara tangan Rivandra mengepal, tak sudi anaknya dikira anak Fabian...
...“Kamu udah nikah Areta?” Tanya April lagi, Areta mengangguk...
...“Astagfirullah Areta, kaget aku.. nyampe mikir macem - macem soal kamu tadi!” Ucap April lega, “tapi bentar - bentar kamu kapan nikahnya? Kamu kenapa ga ngundang? Ya ampun Areta, dzolim banget kamu sama sahabat sendiri!” Cerocosnya, marah lah sudah April, matanya sampai mendelik tajam pada Areta...
Areta menarik napasnya, kini saatnya ia bercerita, tanpa ada yang ditutupi.
April membelalakan matanya mendengar cerita Areta, ia sampai tak bisa berkata - apa, ia tiba - tiba berdiri jalan mondar - mandir, lalu duduk lagi menenggak minumannya sampai habis, sementara Rivandra lemas lah sudah, sekarang bertambah satu orang lagi yang mengetahui rahasianya dan Areta
...“Areta, maaf aku ga tau kalau selama ini kamu semenderita itu” ucap April, jika tadi ia hanya kaget dan emosi, kini mengalir juga air matanya...
...“Ga apa - apa April, kamu tau aku udah terbiasa nahan sakit, tapi kali ini masalahnya lebih rumit, aku ga tau harus ngapain” tutur Areta, April memburu memeluk Areta, tangisnya yang tadi hanya terisak kini sesenggukan, beberapa pelayan menoleh sebentar penasaran ingin tahu, setelah itu mereka sibuk kembali tak ingin mencampuri...
April mengurai pelukannya, lalu kembali lagi ke kursinya, pipinya yang basah ia usap dengan ujung lengan bajunya
...“Aku harus gimana Pril?” Tanya Areta lirih...
__ADS_1
...“Minta cerai, Areta!” tegas April, Rivandra meradang mendengar omongan April, kalau saja ia tak ingat saat ini sedang menguping, sudah pasti ia akan memarahi wanita itu habis - habisan...
...“Rencanaku juga gitu Pril, tapi setelah itu aku kemana Pril? aku ga punya siapa - siapa, Tante Susan dan Om Dani sudah pasti ga mau nerima aku lagi Pril” tutur Areta sendu...
...“Areta, ada aku! Kamu bisa tinggal sama aku di apartemen, emang sempit sih tapi masih cukup buat kita berdua dan bayi kamu nanti” ucap April lagi, Rivandra semakin marah...
Mata Areta berbinar, ia seperti menemukan oase di tengah padang pasir yang gersang, menyegarkan. Tapi setelah itu wajahnya redup kembali
...“Terus gimana sama balas budi aku untuk keluarga Kak Mauren Pril?” Tanya Areta lagi, terlihat sekali frustasinya...
...“Denger ya Ta, dengan kamu ngembaliin suami kamu ke Kak Mauren, itu udah balas budi tertinggi, setelah itu hutang budi kamu buat mereka, lunas!” Tandas April berapi - api, ia geram pada Tante dan Om Areta yang selalu memanfaatkan wanita malang itu...
Deg…
Jantung Rivandra berdebar kencang, amarahnya membuncah, apa - apaan itu temennya Areta? Mengembalikannya pada Mauren? Tidak ini tidak boleh terjadi.. batin Rivandra
Areta menimbang omongan April
...“Dan setelah kamu cerai nanti, kamu bisa nikah lagi Areta, memulai hidup baru kamu, kamu juga harus bahagia, dengan Kak Fabian misalnya” ucap April...
Jleb..
Hati Rivandra yang membara tadi, kini seperti disayat juga, pedih.
Areta tersenyum miris
...“Setelah dia tau aku istri gelap adik iparnya, bahkan hamil, aku ga yakin dia masih mau sama aku Pril” tutur Areta skeptis...
...“Disitu cara kamu nguji dia, kalau dia emang sayang tulus sama kamu, dia akan nerima kamu apa adanya, lagian dia udah berusaha dari SMA loh Ta, aku yakin sih Kak Fabian bisa nerima kamu dan anak kamu nanti” ucap April lagi, Areta diam menyimak...
Rivandra sudah tak bisa menahan kemarahannya lagi, tak ingin penyamarannya terbongkar, ia gegas meninggalkan cafe itu dengan hati yang tak karuan, sepanjang perjalanan pulang Rivandra mengulang ingatannya lagi akan setiap omongan yang ia dengar tadi, semakin ia memikirkannya, semakin ia marah.
...****************...
Jika Rivandra kini uring - uringan, maka lain halnya dengan Areta, senyumnya terus mengembang mengingat kini ia sudah punya solusi untuk polemik hidupnya, beruntungnya ia punya sahabat seperti April yang peduli pada nasibnya, April bahkan berkali - kali mengiriminya pesan untuk mengingatkan rencana mereka, seperti sekarang, padahal baru dua jam yang lalu mereka bertemu
[cepet minta cerai, jangan ditunda!] tulis April dalam pesannya pada Areta, Areta tersenyum simpul
[siap, aku cari waktu dulu buat ngomong sama Kak Rivan] balas Areta
[aku tunggu info terbarunya, ingat kamu berhak bahagia Areta!] tulis April lagi
__ADS_1
[iya] balas Areta singkat, setelah itu ia sibuk merapikan bajunya, memasukkannya ke dalam tas jinjing lusuh berbahan parasut yang ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu, setelah Rivandra mengucap talaknya, ia akan langsung pergi dari rumah itu, ia pun tak akan ragu berpamitan pada Oma dan Rossy, karena ia yakin kalau Oma dan Rossy pasti mengerti posisinya. Ini jalan terbaik untuk semuanya, untuk kebahagiaan semua orang, ia tak ingin tersiksa lagi dengan pernikahan rahasianya.