
...“Rivan, apa maksud kamu ga jadi pulang besok? Jangan bikin masalah Rivan, Mama udah toleransi satu hari kamu memperpanjang liburan sama Areta disana, kamu tau ga gara - gara itu Mama diteror terus sama Mauren dan mertua kamu, mereka curiga kalau Mama mengatur agar kalian bersama di Bali karena kamu ga bisa Mauren hubungi, dan kamu tau Mama bilang apa? Mama bilang kamu sedang diminta Papa untuk meninjau project di Batam, Mama terpaksa bohong Rivan, apa kamu mau Mama bohong lagi? Sewot Anna pada Rivandra lewat ponselnya saat anaknya itu bersikukuh belum mau pulang...
Areta yang tengah berada disamping Rivandra sekilas mendengar suara panik Anna, ia pun mendekatkan diri pada Rivandra mendengarkan di sebelah telinga Rivandra, ingin mengetahui apa yang terjadi, Rivandra menoleh pada Areta, mencoba bangkit tak ingin sampai Areta mendengar pembicaraannya
...“Sayang, sebentar saya.. “...
...“Sssstt.. Kak Rivan sendiri yang ngomong kalau ga mau ada batasan antara kita, aku mau dengar pembicaraan jika itu menyangkut aku” bisik Areta, Rivandra pasrah...
...“Halo, Rivan? Tolong lah, jangan buat suasana tambah kisruh, biarlah rumah damai sebentar, kasian Areta karena ujung - ujungnya dia yang akan jadi korban, Rivan!” Cerocos Anna...
Rivandra menarik napasnya
...“Ma, saya udah memutuskan, saya ingin berumah tangga seutuhnya dengan Areta” tandas Rivandra...
...“Kak, kamu apa - apain sih?” Bisik Areta sambil melotot tajam pada Rivandra...
...“Biar saya ambil keputusan Areta!” Tandas Rivandra...
Anna di seberang sana menghela kasar napasnya
...“Maksud kamu berumah tangga seutuhnya apa Rivan? Astaga, apa kamu mau menceraikan Mauren? Melepaskan dia karena apa? Karena dia punya masa lalu kelam dan ga bisa ngasih kamu keturunan gitu? Keluarga kita ga sekejam itu Rivan!” Sewot Anna lagi...
...“Bukan karena kekurangan Mauren Ma, saya merasa bahagia dengan Areta, saya mencintai dia dan saya ingin hidup dengannya, apa perasaan saya salah Ma? Saya bukan mencintai Areta karena dia bisa memberikan saya keturunan saja, dia bukan pengganti Mauren, tapi dia udah jadi yang utama dalam hidup saya dan satu - satunya, saya mohon mengertilah Ma” ...
Deg..
Areta tertegun mendengar penuturan Rivandra, apa itu artinya Rivandra lebih memilihnya dibanding Mauren? Apa pria itu benar menginginkannya seorang? Areta bingung entah dia harus bahagia atau dia harus sedih
...“Justru itu Rivandra, Areta datang setelah hubungan kamu dan Mauren terjalin lama, meskipun kamu menikahi Areta duluan tapi perasaan kalian terjalin belakangan, Areta tetap akan jadi orang ketiga yang akan selalu disalahkan tanpa pembenaran Rivan, apa kamu ga kasian dia yang sedang hamil tapi harus selalu mendapat kemarahan Mauren dan keluarganya? Mama mohon Rivan, pikirkan dulu semuanya sebelum bertindak!” ...
...“Saya sudah memikirkan matang - matang dan saya akan terima semua konsekuensinya Ma” Rivandra bersikukuh...
...“Rivandra, apa kamu pikir Mauren akan terima begitu saja? Lantas siapa lagi korbannya kalau bukan Areta, bahkan dari awal kehamilannya Areta tak pernah tenang, cucu Mama sudah terlalu sering mendengar kata - kata cacian dan makian, apa kamu pikir Mama tega dengan kondisi Areta?” Tanya Anna, Areta di sebelahnya hanya bisa tergugu...
...“Saya akan menyelesaikan masalahnya satu persatu Ma”...
...“Rivan, tolong mengertilah! Mama ga suka keributan, Mama benci itu Rivan!” ...
...“Mauren harus mengerti keputusan saya Ma” Rivandra kukuh pada pendiriannya...
...“Rivan, Mama mengerti, Mama paham. Tapi untuk mengambil keputusan itu dalam situasi sekarang sangat tidak memungkinkan, paling tidak biarkan Areta tenang dulu dengan kehamilannya, sampai ia melahirkan, setelah itu perjuangkan Areta! Besok pagi Mama tunggu kalian di bandara” ucap Anna sambil memutus panggilannya...
Rivandra menjatuhkan pandangannya pada Areta yang tertunduk lesu
...“Kenapa? Apa kamu ga senang dengan keputusan saya?” Tanya Rivandra ...
...“Mama benar Kak, sampai kapan pun aku cuma hanya jadi orang ketiga, ga ada pembenaran untuk orang ketiga” 'sahut Areta, wajahnya mendongak meskipun senyumnya terbit tapi tampak sekali kesedihannya...
...“Areta, kamu bukan orang ketiga, kamu saya nikahi sah meskipun dengan jalan yang tak terduga, tapi saya yakin kita dipersatukan dengan tujuan, saya ingin kamu dalam hidup saya Areta, saya juga tahu kamu begitu” tutur Rivandra meyakinkan...
Areta tersenyum miris
__ADS_1
...“Tapi rasanya aku jadi perebut Kak, hadir dalam hubungan kalian yang sudah lama, apalagi saat kondisi Kak Mauren yang punya kekurangan, aku…”...
...“Areta stop! Yakini hati kamu, yakini saya! Biarkan saya menyelesaikan semuanya satu persatu” tutur Rivandra...
...“Apa yang mau Kakak selesaikan? Apa Kakak benar akan menceraikan Kak Mauren? Kak, jangan gila!”...
...“Kamu pun menginginkannya bukan Areta? Kamu selalu bilang ga mungkin ada dua ratu dalam satu kerajaan, ini yang saya lakukan, memilih kamu untuk jadi ratu saya”...
Areta tergagap, ia seperti masuk ke perangkapnya sendiri, ia memang beberapa kali mengatakan itu pada Rivandra, tapi tak lebih dari menjalankan misinya, ia sangat yakin Rivandra tak akan memilihnya dibanding Mauren, tapi kenyataan berbunyi lain, pria itu bahkan terang - terangan mengatakan memilihnya dibanding Mauren di depan Ibunya sendiri, apa yang harus ia rasakan sekarang? Senang atau bangga karena berhasil menyingkirkan Mauren? Atau sebaliknya, merasa bersalah karena menjadi penyebab perceraian seseorang? Batin Areta berkecamuk
...“Kak, aku boleh jujur sama Kakak?” Tanya Areta, meski ragu awalnya tapi ia harus terbuka sekarang...
...“Soal kejujuran apa masih harus ditanyain?” ...
...“Kak, selama ini apa yang aku lakukan sama Kakak, semua pelayananku, semua perhatianku itu semata - mata adalah perintah dari Oma sebagai syarat agar aku bisa cerai dari Kakak”...
...Rivandra tergelak, “kamu pikir saya ga tau itu, Areta?”...
Areta terkesiap, “Kakak tau?”
...“Saya seorang dokter, saya mengerti betul psikologis seseorang, orang yang polos dan lugu seperti kamu ga akan berubah tiba - tiba menjadi seorang wanita yang agresif kalau bukan karena satu dorongan, saya diam - diam menyelidiki perubahan kamu, awalnya agak sulit karena kamu sama Oma begitu rapi merencanakan semuanya, tapi sepandai - pandainya tupai melompat suatu hari dia akan jatuh juga, dan Areta kamu sebagai si tupai lupa nutup pintu pas teleponan sama Oma di rumah kita, dari situ saya tau semuanya” ...
...“Oh astaga” sahut Areta lesu, malunya sampai ke ubun - ubun berarti selama ini Rivandra mengetahui niat dan misinya?...
...“Mengenai omonganku tentang dua ratu dalam satu kerajaan juga ga lebih dari misi supaya membuat Kakak tersiksa, di satu sisi Kak Rivan merasa kalau ada istri yang mencintai dan melayani Kak Rivan yaitu aku, tapi di sisi lain ada Kak Mauren yang Kak Rivan cintai, itu cuma balas dendamku atas apa yang pernah Kakak lakukan padaku, aku berani begitu karena aku yakin Kak Rivan lebih milih Kak Mauren”...
...“Tapi buktinya saya memilih kamu kan?” Lelaki itu dengan santainya menenggak minumnya, membiarkan istrinya kelimpungan sendiri atas keputusan yang ia ambil...
...Areta panik, “Kak, jangan gila gini, Kakak cuma kebawa perasaan, anggap aja misiku gagal tapi jangan nyampe Kakak cerai dari Kak Mauren, aku ga mau merebut Kakak dari Kak Mauren, Kak please jangan nekad gini!” ...
Areta merengut
...“Soal melayani.. “...
...Rivandra menoleh pada Areta lalu menyeringai, “Saya juga tau pada akhirnya kamu melayani saya dengan tulus karena kamu sayang sama saya, kamu jatuh hati sama saya kan?” TelisikRivandra...
...“Sudah lah, makin ngaco omongannya!” Tandas Areta sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya, Rivandra tak patah arang, ia segera menyusul Areta...
...“Ayolah, bilang kalau kamu sayang sama saya, Areta! Saya udah berkali - kali mengungkapkan perasaan saya, kamu ga pernah sekali pun!” Pinta Rivandra yang patuh mengekor di belakang Areta...
...“Bobo Kak, udah malem!” Sahut Areta...
Rivandra meraih tangan Areta membuat wanita itu menghentikan langkah dan membalik badannya
...“Ayo bilang dulu kalau kamu sayang sama saya, ungkapkan perasaan kamu, kita ga tau umur kita nyampe kapan, kalau saya tiba - tiba.. “...
...Areta cepat - cepat menempelkan telunjuknya di bibir Rivandra, “Kak, huuusss! Ngomongnya jangan macem - macem gitu, jangan bikin aku takut!”...
...“Ya udah kalau gitu, bilang perasaan kamu sama saya, ayo!”...
Areta meneguk salivanya, berat sekali untuk mengungkapkan meskipun ia merasakannya
__ADS_1
...“Heemm ya sudah lah, memang mungkin nasib saya harus mati penasaran” ...
...“Kak Rivan! Bisa ga kalo ga ngomong - ngomong soal kematian gitu? Aku nyesek Kak dengernya!” Sewot Areta...
...“Kalau gitu bilang Areta!” Titah Rivandra geregetan...
...Areta menghela napasnya, “iya iya aku sayang” gumam Areta sangat pelan nyaris tak terdengar...
...“Apa apa Areta? Saya ga bisa denger kamu ngomong apa!”...
...Areta berdecak, “Iya aku sayang” ucapnya lebih jelas...
...“Sayang sama siapa? Yang jelas!” titah Rivandra tak sabaran...
...“Sama Kakak” sahut Areta mulai malu - malu...
...Rivandra berdebar senang, “Kakak siapa? Kak Fabian?” Goda Rivandra...
...“Astaga, apa kurang banyak orang dalam rumah tangga kita nyampe orang lain dibawa - bawa?” Sewot Areta...
...“Ya udah yang jelas ngomongnya” pria itu pantang menyerah...
...“Aku sayang kamu Rivandra, I love you, puas?” ...
...Rivandra tersenyum bahagia, “Puas, puas banget” ucapnya sambil membawa Areta ke dalam pelukannya...
...“Biarkan saya menyelesaikan semuanya satu per satu, jangan merasa menjadi penyebab apa yang akan terjadi nanti, kamu bukan selingkuhan, bukan juga orang ketiga, kamu hadir tanpa sengaja dan tak ada maksud untuk menyingkirkan siapa pun, terlepas dari ada atau tidaknya kamu, hubungan saya dengan Mauren tidak baik - baik saja”...
...“Semua laki - laki akan bilang hubungan dengan istrinya sedang tidak baik - baik saja jika menginginkan wanita lain, modus!” Sinis Areta...
...“Saya manusia biasa Areta, seperti manusia lain pada umumnya saya pasti akan memilih mana yang membuat saya nyaman, membuat saya merasa dihargai dan dihormati sebagai seorang laki - laki, apa saya salah?”...
Kali ini Areta tak berucap, ia hening dalam pelukan Rivandra.
...****************...
Paginya, perpisahan yang tak diinginkan Rivandra itu terjadi juga, di bandara Rivandra memeluk erat Areta dan mencium dahinya persis di depan Anna dan Rossy, Areta jelas kikuk jangankan membalas pelukannya, yang ada ia merasa sangat tak enak pada Anna
...“Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on fligh number GA327 to Jakarta, please boarding from door A12, thank you” ...
Rivandra baru mengurai pelukannya setelah mendengar pengumuman keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Areta
...“Areta ayo” ajak Rossy sambil meraih tangan Areta dan beranjak dari situ meninggalkan Mamanya dan Rivandra berdua...
...“Mama, Rossy, sama Areta mau pulang duluan, kamu mau ga mau terbang dulu ke Batam baru pulang, agar Mauren tak curiga, ya?” Titah Anna...
...“Kenapa ga bilang terus terang aja Ma kalau memang aku sama Areta di Bali, agar semuanya jelas”...
...“Dan membiarkan Areta menjadi bulan - bulanan Mauren, gitu? Sengit Anna...
Lalu ia menghela napas untuk meredakan amarahnya
__ADS_1
...“Berikan ketenangan pada Areta sampai ia melahirkan, setelah itu terserah kamu” ucap Anna sambil menepuk - nepuk bahu Rivandra lalu beranjak meninggalkan anaknya yang menatap nanar Areta, hingga punggung istrinya itu tak terlihat lagi....
...****************...