Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Ada apa ini?


__ADS_3

Wajah Anna semakin panik saja karena begitu sampai di Jogja Rossy langsung memboyong mereka menuju rumah sakit, jantung Anna sudah tak karuan rasanya, tangan dinginnya menggenggam tangan Julian


...“Mama tenang dulu, jangan panikan gitu! Belum tentu apa yang Mama pikirkan benar” tutur Julian ...


Anna mendelik tajam pada suaminya itu


...”Papa apa ga sadar, kalau emang temennya Rossy yang lahiran kenapa kita disuruh ikut kesini Pa! Ini pasti ada hubungannya sama Rivandra, karena kalau ini menyangkut Pandu Rossy ga mungkin setenang itu, aduh Pa.. apa Rivandra punya anak yang kita ga tau ya Pa? Tapi dari perempuan yang mana?”cerocos Anna panik dengan setengah berbisik, tak ingin Oma sampai mendengar pembicaraan mereka...


Julian lembut mengelus tangan Anna


...“Sudah sudah, kita liat aja nanti apa yang sebenarnya terjadi, Papa yakin Rivandra ga seperti itu, kita mendidik dia dengan sangat baik”...


Jika Rossy mantap melangkah masuk ke ruang inap VVIP sambil mendorong Oma di kursi rodanya, maka Anna melangkah layaknya robot, ia tak sanggup menerima kenyataan jika memang pemikirannya benar


...“Ya Tuhan, Mama pengen pingsan rasanya Pa” ucap Anna gemetaran, apalagi ketika mereka masuk ke ruangan, benar saja anaknya itu tengah menimang seorang bayi, tapi entah dari perempuan yang mana karena tak terlihat disana ...


Rivandra menyambut keluarganya dengan senyum bahagia


...”Halo Grani, Granpa, Onti, Oma Buyut” sapa Rivandra ...


...Anna seketika meluruh ke lantai, untung saja Julian sigap memburunya dan mendudukannya di sofa...


...“Rivan, bayi siapa itu?” Sentak Oma yang sama terkejutnya dengan Julian dan Anna...


...Rossy mengipas - ngipas Ibunya sebentar ...


...“Haduh ini Mama ngapain pake pingsan segala sih?” Ucapnya, lalu pandangannya mulai teralihkan oleh bayi kecil yang tengah diemban Rivandra, ia membenar - benarkan posisi Mamanya, lalu tergesa ...


...memburu dan mengambil alih Lily dari embanan Rivandra dengan sangat hati - hati, senyum bahagia terukir di wajah Rossy...


Rivandra mengusap tengkuknya sambil cengar cengir melihat kilat kemarahan di netra Julian dan Oma


...“Kak! bisa minta tolong ga?” Pekik Areta tiba - tiba dari dalam kamar mandi, Areta tak mengetahui jika di luar kamar mandi keluarga Rivandra telah berkumpul...


...“Iya sayang, sebentar!” Sahut Rivandra yang lalu tergesa masuk ke kamar mandi...


Julian menatap tajam pada Rivandra dengan berkacak pinggang, kecewa tersirat di wajahnya begitu mendengar suara perempuan di kamar mandi yang entah siapa itu, benar ternyata dugaan Anna, Rivandra punya anak dari wanita lain selain Areta, batin Julian


Oma, dan Julian hening menunggu Rivandra keluar dari kamar mandi, sementara Anna masih terpejam tak sadar diri di sofa, sedang Rossy sibuk sendiri menciumi keponakannya, mungkin saking bahagianya Rossy bahkan seperti berada di dunianya sendiri, lekat - lekat memandangi wajah cantik keponakannya itu, untuk masalah Areta ia memang tak ingin membuka suara pada orang tuanya dan Oma, biar Rivandra saja yang menjelaskan


Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka, semua mata menoleh pada arah suara, Rivandra terlihat tengah membimbing seorang wanita


Deg..


Bukan hanya mata Areta yang membola, tapi juga Julian dan Oma


...“Cucu Oma! Ternyata kamu yang melahirkan? Jadi ini anak kamu Areta?” Cecar Oma, kalau menurut perhitungan Oma sudah pasti ini adalah anak Rivandra, tapi bukannya Areta keguguran? Ada apa ini?...


Lidah Areta kelu, ia masih shock dengan kedatangan keluarga Rivandra, selain itu ia pun belum menyiapkan jawaban apa - apa atau merangkai kata untuk mempermanis alasannya membohongi keluarga itu, apalagi ketika melihat Anna yang tergolek tak berdaya di sofa, sepertinya sedang tak sadarkan diri, perasaan bersalah Areta semakin menggunung


Rossy terkekeh melihat Oma dan Julian yang kebingungan,


...“Pa, Oma, jadi yang lahiran itu Areta, Rossy sengaja ga ngasih tau kalian soalnya Rossy tau berapa ratus pertanyaan yang akan kalian tanyain sama Rossy tentang Areta, jadi Rossy nunggu aja nyampe kalian ketemu langsung sama Areta dan Rivandra”...


...“Astaga! harusnya kamu bicara saja Rose! Paling tidak jangan membuat Ibumu sampai pingsan seperti itu, kasian dia! dia pikir Rivandra punya anak dari wanita lain, Rose” tandas Oma...


...Rivandra tertawa geli, “Mama kira saya punya anak dari wanita lain?” setelah membimbing Areta untuk duduk di pembaringannya, Rivandra segera memburu Ibunya yang masih tak sadarkan diri, memeriksanya sebentar...


Oma menjatuhkan pandangannya pada Areta


...”Areta, apa ini kejutan manis yang kamu siapkan untuk kami semua, Nak? Bertemu lagi dengan kamu saja sudah membuat kami sangat bahagia, apalagi setelah kami melihat anak kamu dan Rivandra yang ternyata masih ada, ya Tuhan.. terima kasih” ...


...Oma sampai meneteskan haru air matanya, tak menyangka jika cicitnya ternyata masih ada dan sekarang bahkan sudah lahir...


Julian masih saja tak mengerti dengan apa yang terjadi


...”Jadi ini anak kamu dan Areta, Rivan?”...


Rivandra mengangguk mantap diiringi senyum bangga, Julian menghela lega napasnya, setelah itu mimik mukanya berubah berseri - seri bahagia, ia tak bertanya apa pun lagi pada Rivandra maupun Areta, ia yakin betul ada alasan kuat yang membuat Areta terpaksa berbohong, pria gagah yang baru saja menyandang gelar sebagai seorang Kakek itu antusias mendekati cucunya, lalu menerima Lily yang diberikan Rossy dalam embanannya, gerakannya kaku memang karena Julian terlalu hati - hati, khawatir jika cucunya itu tak nyaman


Mata Anna perlahan terbuka, ia mengerjap - ngerjap mengumpulkan kesadarannya


...“Ma, Mama udah sadar?” Tanya Rivandra lembut sambil mengelus - elus surai Anna, Anna bergeming, ...


...tapi begitu melihat Rivandra di depannya, tangan Anna refleks memukul - mukul dada bidang anaknya itu...


...“Aduh sakit Ma, sakit” rintih Rivandra sambil meringis...


...“Tega kamu Rivan! apa kurang baik kami mendidik kamu? wanita mana lagi yang ngasih kamu anak Rivan, hah?”Sentak Anna, Rivandra cengar cengir saja mendapat tuduhan Anna...


...“Ma, tenang dulu! Liat dulu siapa yang melahirkan cucu kita!” Ucap Julian yang tengah menimang cucunya dengan bahagia...

__ADS_1


...“Emangnya siapa Pa, siapa?” Sewot Anna, lalu.....


Deg..


Anna terhenyak kaget melihat Areta yang tengah bersandar di tempat tidur perawatan, Areta tampak serba salah, ia menggigit bibir bawahnya, sebentar - sebentar menunduk, lalu mendongak menatap Anna dengan takut - takut


...“Itu Areta kan? Apa Areta yang melahirkan? Sebentar.. sebentar.. bukannya Areta keguguran jadi ga mungkin lahiran kan? Kalau Areta nikah lagi dan hamil, ga mungkin udah melahirkan secepat itu juga! Atau… ya ampun, itu anak kamu Rivan? Itu cucu Mama? Jadi Areta waktu itu ga keguguran? Berondong Anna histeris...


Rivandra mengangguk, senyum tak pudar dari wajahnya


...”Itu cucu Mama, anak saya dan Areta”...


Anna terhenyak, mulutnya menganga lebar


...”Tapi bagaimana mungkin Rivan? dokter Kartini sendiri yang waktu itu bilang kalau Areta keguguran” ...


Rivandra menarik napasnya sebelum menceritakan semuanya pada keluarganya, selama Rivandra membeberkan faktanya, perasaan Areta tak karuan, ia tak berharap dimaafkan, tapi yang ia takutkan jika keluarga Rivandra membawa anaknya dan memisahkan mereka


...“Areta, tenang lah, kami semua mengerti kenapa kamu sampai membohongi kami semua, jangan khawatir” ucap Rossy seperti mengerti ketakutan Areta...


...“Untuk apa khawatir Areta? semua Ibu di dunia ini akan melakukan apa pun untuk melindungi anaknya, yang kamu lakukan juga pasti Oma lakukan kalau Oma di posisi kamu” tambah Oma...


Anna bangkit dari duduknya dan mendekati Areta, tangannya menggenggam tangan Areta yang terasa dingin, mungkin karena saking khawatirnya


...”Kami ga akan menyalahkan kamu atas apa yang kamu lakukan, ada Mauren di rumah memang mengancam keselamatan semua orang, terutama cucu Mama! Kadang ya kalau si Mauren itu lagi ngamuk mecahin barang - barang, Mama khawatir banget kalau Oma jantungan lagi, atau Rivan kena pecahan beling - belingnya gitu! duh Areta, Mama kayak diteror terus tiap hari sama kelakuan si Mauren itu, makanya pas Rivan cerai dari dia Mama lega banget” tutur Anna yang berujung mencurahkan isi hatinya ...


Areta hanya bisa tersenyum kikuk, bingung juga mau berkomentar apa, mengiyakan seolah ikut berbahagia atas perpisahan orang lain


Anna menghela napasnya sambil mengelus sayang rambut Areta


...”Pokoknya Mama sangat berterima kasih karena kamu sudah menjaga cucu Mama, kamu membawa kebahagiaan setelah badai besar yang menimpa kami, Mama ga tau harus membalas dengan apa perjuangan dan pengorbanan kamu untuk membawa Lily ke tengah - tengah kami, sekali lagi terima kasih sayang” ...


Areta mengangguk, wajah yang tadinya ciut berubah lega, ternyata semua tak seperti yang ia sangkakan, syukur tak henti - henti ia rapalkan, apalagi melihat bagaimana kebahagiaan Rivandra dan keluarganya menyambut Lily, kekhawatirannya kalau Lily akan bernasib sepertinya hilang sudah, tak sepertinya yang tak punya siapa - siapa, Lily ia yakini akan penuh dengan kasih sayang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meskipun sudah beberapa hari di rumah sakit dan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter obgyn dan dokter anak, Julian bersikukuh agar Areta dan Lily tetap dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan agar bisa di observasi lebih lanjut oleh dokter mengingat kelahiran Lily yang prematur, Julian memang sangat posesif kalau menyangkut masalah Lily, untuk anggota keluarga yang ingin menggendong Lily saja mutlak harus steril, wajib dilapisi kain, dan tak boleh memakai parfum


Sore ini hanya ada Rivandra yang menemani Areta di rumah sakit, baru saja Rossy dan Pandu menemaninya setelah tadi pagi Julian, Anna dan Oma yang menemui Lily dan Areta. Untuk memudahkan mereka menjenguk Lily dan Areta, keluarga Rivandra menginap di hotel tak jauh dari rumah sakit.


Rivandra baru saja kembali setelah dia tadi pamit sebentar untuk membeli makanan, tak lama ia kembali, tangannya penuh menenteng banyak sekali makanan untuknya dan Areta


...“Ibu menyusui harus banyak makan, Areta, tiap dua jam kan kamu harus menyusui Lily, jadi asupan kamu harus banyak”...


Areta mengangguk samar, bibirnya kelu ingin mengucap, tapi rasa penasaran menggelitiknya


...“Kak, apa benar keluarga Kak Rivan bisa menerima aku? Maksudnya apa bukan hanya karena ada Lily saja?”...


Rivandra menghentikan gerakan tangannya, dahinya mengkerut tanda bingung


...”Kalau kamu melihat Papa yang kaku dan ga banyak bicara sama kamu itu karena Papa memang dingin, bukan tipikal ramah yang gampang ngobrol atau meluapkan perasaannya”...


...“Heemm, mengingatkanku pada seseorang” sahut Areta...


...Rivandra terkekeh, “hei, saya ga sekaku Papa, apa kamu lupa berapa kali saya mengungkapkan perasaan saya sama kamu tanpa kamu balas?” ...


Areta tersenyum malu - malu


...”waktu itu aku ga punya keberanian Kak, Kak Rivan masih suami sah Kak Mauren, rasanya salah untuk sekedar bilang kalau aku sayang sama Kakak” ...


Rivandra mendekati Areta dan duduk di sebelahnya di pinggir ranjang


...”Tapi sekarang kamu bebas mau bilang apa aja Areta, ayo bilang dulu kalau kamu sayang sama saya” ...


...“Aih, udah pernah aku bilang waktu di Bali, atas dasar pemaksaan Kakak!” ...


Rivandra tergelak


...”oke.. oke, sekarang bilang tanpa terpaksa, ayo!” Bujuk Rivandra...


...“Ya ampun, itu juga pemaksaan Kak!” ...


...“Heemm baiklah, kalau gitu gini aja.. saya mau nanya sama kamu, kamu sayang ga sama saya sama seperti saya sayang sama kamu?” Rivandra menatap lamat - lamat netra wanita pujaannya itu...


Ditanya begitu Areta malah menunduk, matanya berkaca - kaca


...“Loh kok malah nangis? Hei, lihat saya Areta, apa kamu ga sayang sama saya?” Tanya Rivandra sambil menarik dagu Areta...


Kubangan air di mata Areta pecah sudah, kini ia menangis sesenggukan, Rivandra menarik Areta ke dalam pelukannya


...”Hiks.. apa Kak Rivan ga ngerti perasaanku? Aku tersiksa Kak harus menahan perasaan sekian lama karena Kakak punya Kak Mauren, apa aku masih harus ngomong kalau aku sayang sama Kakak? Kalau aku cinta sama Kakak?” Wanita itu menenggelamkan kepalanya di dada Rivandra, tangisnya pecah disana, seolah melepas semua kerinduan dan gundahnya...

__ADS_1


...“Iya saya tau, saya denger pas kamu ngomong sama April, dan saya seneng banget kamu ngomong gitu Areta, kamu ga tau sih gimana frustasinya saya waktu kamu pergi dan saya ga bisa nemuin kamu” ...


Areta mengusap pipinya yang semakin membasah


...”Pas aku ngomong sama April? Kapan?”...


...“Sudahlah, ga usah dibahas, yang penting sekarang kamu bilang yang jelas gimana perasaan kamu sama saya”...


Areta yang masih menenggelamkan kepalanya di dada Rivandra mendongak menatap prianya itu


...”Aku cinta sama kamu Rivandra” ...


Deg..


Dada Rivandra bergemuruh dengan hebatnya, bukan kali pertama ia mendengar ini, tapi untuk yang kali ini ia mendengar Areta yang mengucap tanpa beban, tanpa penghalang apa pun lagi antara mereka, tanpa khawatir akan ada yang terluka atau murka


...“Kita akan memulai semuanya dari awal, membangun keluarga kecil kita, ada saya, kamu, dan Lily, ga perlu kita ingat - ingat lagi semua yang sudah terjadi” ...


...“Nanti dulu Kak, ada yang masih aku ingin tahu soal Kak Mauren” ...


Rivandra menghela berat napasnya, sebenarnya ia enggan mengulik lagi cerita yang membuatnya merasa menjadi orang dungu, pria itu mengecupi pucuk kepala Areta ingin meyakinkan dirinya bahwa Areta nyata ada, bukan mimpi


...“Kak Rivan kan cuma baru cerita kalau Kak Mauren bohong soal pemerkosaannya, yang nyatanya Kak Mauren selingkuh dua tahun yang lalu sampai hamil dan diaborsi, emang selingkuhnya sama siapa Kak? Terus kok bisa - bisanya seorang Kak Rivan dibohongi?”...


Rivandra mendengus kesal


...”Mauren selingkuh sama produser, mantan suaminya Kak Rossy, namanya Dave, yang fotonya pernah kamu lihat waktu di Bali” ...


...“Astaga! Dave yang pernah aku liat di rumah Kak Mauren waktu itu Kak?” ...


...“Iya” sahut Rivandra, “Oma yang pertama ngasih tau, ternyata Oma udah tau lama, Oma denger dari temennya yang sesama artis senior, itu yang menyebabkan Oma kena serangan jantung pertama, Oma shock karena kedua cucunya ditipu oleh pasangan selingkuh, hanya saja Oma ga punya bukti, beruntung ada Fabian yang membantu membuka kebusukan Mauren”...


Areta mengerutkan keningnya


...”Apa hubungannya sama Kak Fabian, Kak?” ...


...“Fabian ngerekam pembicaraan antara Mauren, orang tuanya dan manajernya, isinya pengakuan tentang perselingkuhan Mauren, tapi yang paling saya ga bisa terima tega - teganya orang tua Mauren berharap kalau kamu yang dihancurkan oleh Dave, saya sampai ga habis pikir bagaimana bisa ada orang yang ga punya hati seperti itu” ...


Areta tersenyum miris


...”Mungkin kalau aku masih di rumah Kak Mauren aku udah dijual kali Kak, aku inget banget dulu waktu aku baru lulus SMA, Tante dan Om jodohin aku sama temennya Om, duda usia empat puluh tahunan beranak tiga, gara - gara temennya itu investasi di perusahaan Om” kenang Areta...


Rivandra kembali mengecupi kepala Areta, kalau ditelusuri terus sepertinya tak akan ada habisnya kisah penderitaan Areta yang diterima dari Om dan Tantenya sendiri


...“Saya janji saya akan berusaha semampu saya untuk tidak membiarkan kamu sedih dan menderita lagi Areta, saya akan berusaha agar hari - hari kamu dilalui dengan senyuman” ...


...“Heemm.. Kakak yakin? Nanti kalau kita berantem terus aku nangis gimana?” ...


...“Saya tidak akan menjanjinkan hal yang muluk - muluk seperti nanti kita ga akan pernah berantem atau selalu bahagia, setiap pasangan pasti ada pasang surutnya, tapi selagi kita mau saling memperbaiki dan memecahkan masalah berdua, saya yakin masalah sebesar apa pun akan bisa kita lalui, yang saya minta dari kamu cuma kesetiaan dan kejujuran” ...


...“Lantas apakah seorang Rivandra bisa setia?” Goda Areta, sambil memainkan jemari Rivandra...


...“Heemm, saya ga akan berani mengambil resiko kehilangan kamu, lagian saya ga akan sanggup menghadapi murkanya Mama, Papa, Oma, dan Kak Rossy, ditambah baby princess kita kalau saya macam - macam” sahut Rivandra, ia menggenggam jemari Areta, “kamu ga tau bagaimana sedihnya keluarga saya saat kamu pergi, saya ga perlu cerita tentang Oma dan Rossy yang sangat terpukul, yang saya ingin kasih tau sama kamu itu gimana Papa tanpa menyerah tiap hari nyari info tentang kamu”...


Areta mengurai pelukannya, mendongak lagi menatap wajah tampan Rivandra


...“Masa Kak?” Tanya Areta yang terkesiap...


Pria itu mengangguk mantap


...”Papa nyampe nanyain ke temen - temennya di kedutaan, di bandara, belum lagi nyuruh beberapa orang untuk nyari kamu di kota - kota yang menurutnya mungkin jadi tujuan kamu”...


Mata Areta berkaca - kaca, hatinya menghangat


...”Belum lagi Mama, tiap hari Mama nelepon atau chat saya nanyain perkembangan kabar terbaru soal kamu, kalau di rumah Mama sering banget masuk ke kamar yang dulu kamu tempatin, keluar - keluar matanya udah sembab” tambah Rivandra yang membuat hati Areta semakin terenyuh saja, ia memang tak mendapatkan kasih sayang orang tua atau sanak keluarga, tapi ia memperolehnya sekarang dari keluarga pria yang dicintainya...


...“Terima kasih Kak, terima kasih karena ga nyerah buat nyari aku, jujur awalnya aku merasa pergi adalah keputusan terbaik, tapi setelah itu aku berharap dan berdo’a semoga Kakak menemukanku, dan entah bagaimana caranya menjemputku dan anak kita, tadinya aku ngerasa mustahil karena ada Kak Mauren disamping Kak Rivan, tapi sepertinya do’aku terkabul Kak, maaf kalau kedengarannya aku seolah mengharapkan perpisahan kalian” ...


...“Bukan hanya do’a kamu Areta, tapi do’a kita” tandas Rivandra, pria itu lalu bangkit dari duduknya, tangannya terulur membantu Areta untuk bangkit juga, pria itu berdiri sebentar sambil merogoh saku celananya, tak lama ia menekuk lututnya di depan Areta...


...“Areta, maaf karena telat melakukan ini, harusnya dari dulu saya melakukannya, karena ternyata kamu pelabuhan terakhir saya, Areta Diandra De Vries, maukah kamu menikah dengan saya?”...


Blush..


Pipi Areta memerah, apalagi ketika tiba - tiba keluarga Rivandra dengan formasi lengkap menerobos masuk, sudah direncanakan tampaknya, karena Oma yang di dorong Rossy membawa sebuket besar bunga mawar merah, belum lagi Pandu yang terlihat kerepotan membawa balon berwarna warni dan sekotak cake, tangan Julian dan Anna juga tak menganggur, masing - masing membawa sebuah kotak perhiasan, Rivandra memang telah merencanakan ini semua, dari tadi pun keluarganya sudah mengintip dibalik celah pintu, menunggu pria itu menekuk lututnya


Perempuan mana yang tak bahagia menerima kejutan semanis ini, Areta melongo sebentar sebelum kemudian air matanya merembes, senyumnya lebar sempurna


...“Iya Kak, aku mau jadi istri Kakak, aku mau kita nikah lagi” ...


Rivandra tersenyum lega, begitu pun kelurganya, haru biru menyelimuti perasaan keluarga itu, perlahan Rivandra menyematkan cincin di kedua jari manis Areta, satu cincin turun temurun dari Oma, dan satu cincin mas kawin bertahta berlian. Pria itu bangkit berdiri dan tanpa canggung memeluk Areta, keluarga itu relfeks bertepuk tangan karena bahagia, Areta mengurai pelukan Rivandra tatkala bayinya mulai menangis, sepertinya terganggu dengan suara berisik orang - orang dewasa yang sedang berbahagia itu.

__ADS_1


__ADS_2