
Rivandra dan Julian tak menunggu lagi, mereka bergerak cepat memerintahkan orang - orangnya untuk mencari tahu tentang kebenaran cerita Mauren, kalau memang benar berarti selama ini Areta telah dirugikan, hidup menderita dan serba kekurangan di istananya sendiri. Tak butuh waktu lama untuk orang - orang Julian mencari informasi tentang harta yang diwariskan Liliana untuk putrinya, setelah berhasil mendapat hasil penyelidikan, siang ini para pengacara Julian menghadap untuk melaporkan apa yang telah mereka ketahui
...“Kamu siap sayang?” Tanya Rivandra pada Areta, di ruang tengah itu sudah berkumpul seluruh anggota keluarga, menanti dengan penasaran apa yang akan disampaikan oleh pengacara Julian. Areta mengangguk, gugup memang melandanya tapi kalah oleh rasa penasaran tentang fakta apa yang di dapat oleh orang - orang Julian itu...
...“Silakan Om” ucap Rivandra pada Burhan, ketua tim pengacara Julian sekaligus orang kepercayaan dan sahabat dekat Julian ...
...“Baik, setelah kami melakukan penyelidikan secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa memang benar almarhumah Nyonya Liliana meninggalkan sejumlah aset dan uang berupa deposito untuk Areta”...
Julian mengangguk - angguk, sementara Rivandra menghela napasnya, ia prihatin pada nasib istrinya yang ternyata memang dimanfaatkan oleh Om dan Tantenya sendiri
...“Ada pun aset - asetnya yaitu berupa sebuah rumah yang sekarang ditempati oleh Tuan Dani dan keluarga, satu buah rumah dan apartment di Singapore, satu buah rumah di Belanda, dua unit villa di Bali, satu unit villa di Lombok, beberapa unit ruko di kawasan Jakarta, satu unit mobil Jaguar, satu unit mobil Mercedes, uang deposito senilai 10 Milyar, tabungan pendidikan sebesar 15 Milyar” ucap Burhan membacakan apa yang tertulis dalam sebuah kertas yang ia ambil dari tas kerjanya tadi...
Areta melongo, jadi sebanyak itu warisan yang ditinggalkan oleh Ibunya? Sebanyak itu? Selama ini Areta berpikir kalau Ibunya tak meninggalkan apa pun untuknya hingga ia harus hidup menumpang dan penuh kekurangan, ya Tuhan.. ternyata Ibunya begitu menyayanginya, menyiapkan masa depannya dengan sebaik - baiknya
...“Apa aset - aset itu masih ada Om?” Tanya Rossy...
Burhan menghela napasnya
...”Setelah kami melakukan penyelidikan lebih dalam, semua aset sudah dijual kecuali rumah yang Pak Dani tempati sekarang, bahkan semua deposito pun sudah dikuras habis oleh Pak Dani”...
Areta menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, wajahnya berubah sendu, ternyata omongan Mauren benar, jahat sekali Om dan Tantenya itu
...“Burhan apa kau ga bisa minta pertanggung jawaban pada si Dani itu? Yang dia pake selama ini itu adalah hartanya Areta, haknya Areta, tapi lihatlah dia selama ini.. dia hidup susah terus selama tinggal sama si Dani itu!” Ucap Oma penuh emosi...
...“Itu betul Mas Burhan, minta Pak Dani itu untuk ganti rugi semua dan penjarakan dia, udah terlalu banyak kejahatan yang dia lakukan!” Tambah Anna...
...“Satu - satunya peninggalan Nyonya Liliana yang masih ada adalah rumah yang Pak Dani tempati, tim kita sedang berupaya untuk mengambil kembali rumah itu agar jatuh pada ahli waris yang sah, untuk masalah apakah Pak Dani akan diperkarakan atau itu tidak itu kami kembalikan pada Areta” ...
Rivandra meraih istrinya ke dalam rengkuhannya, ia tahu betul hancurnya perasaan Areta sekarang
...”astaga Kak, selama ini aku hidup kekuarangan, aku banting tulang jadi pelayan mereka dari aku kecil dulu, aku tidur di kamar pelayan, aku makan sisa - sisa mereka, dan ternyata aku jadi budak di rumahku sendiri, tega banget mereka, jahat banget Kak!” Ucap Areta lirih, kubangan air matanya mulai merembes jatuh ke pipinya...
...“Tenang sayang, kami semua akan berupaya supaya kamu mendapatkan semua hak kamu lagi, dan kami akan pastikan Om Dani mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya” hibur Rivandra ...
Air mata Areta semakin luruh, hatinya begitu sakit, mengenang bagaimana perlakuan Dani dan Susan padanya saja sudah membuat dia sering meneteskan air mata, sekarang ditambah lagi kenyataan yang menghancurkan hatinya dan sisa rasa hormat pada Om dan Tantenya itu
...Julian menatap prihatin menantunya itu, “Burhan, tolong minta seluruh tim untuk konsentrasi dulu mengurus hal ini, segera selesaikan masalah pengambil alihan rumah milik menantu saya, jangan sampai dia kehilangan itu juga!” Titah Julian...
Burhan mengangguk - angguk paham, ia lalu mengeluarkan sebuah kertas lagi dari dalam tas kerjanya, “ada satu lagi yang perlu diketahui, salah satu mantan notaris kepercayaan Nyonya Liliana bilang bahwa surat wasiat untuk Areta dibuat oleh Nyonya Liliana dan suaminya, surat wasiat itu sudah diberikan pada Pak Dani dan Bu Susan saat ditunjuk menjadi wali yang sah untuk Areta, beruntung beliau mau memberikan salinannya pada saya”
Deg..
Jantung Areta semakin berdebar saja ketika Burhan menyinggung tentang Ayahnya, artinya ia benar anak hasil pernikahan bukan? Dia bukan anak haram seperti yang selama ini di dengung - dengungkan Dani dan Susan,
...“Kamu ga apa - apa sayang?” Rivandra mengerti kegelisahan istrinya yang tiba - tiba mengurai dekapan Rivandra, Areta menggenggam erat tangan Rivandra sebagai pertanda kalau ia butuh dikuatkan ...
...“Om Burhan, apa di kertas itu tertulis siapa nama Ayahnya Areta?” Tanya Rivandra penasaran, anggota keluarga yang lain ikut menatap Burhan menunggu jawabannya, tak dapat dipungkiri mereka pun ingin tahu siapa Ayah dari Areta...
Burhan agak lama menjawab pertanyaan orang - orang yang sedang fokus menatapnya, Burhan lalu memindai lagi kertas ditangannya, membaca lagi perlahan
...“Ayah kandung Areta bernama Tuan Agatha Bramantyo, menurut mantan notarisnya, Tuan Agatha dan Nyonya Liliana menikah secara agama karena penolakan keras dari keluarga Tuan Agatha”...
...“Jadi benar Areta anak hasil pernikahan?” Tanya Oma memastikan ...
...“Benar sekali Oma, sudah dipastikan” sahut Burhan...
...“Sudah Oma duga, Oma sudah yakin kalau Areta itu anak hasil pernikahan yang sah, makanya ia tumbuh jadi anak yang baik, karena pasti Ibu dan Ayahnya juga orang baik” tandas Oma, Anna mengangguk mengamini omongan Oma Mieke...
__ADS_1
Seperti tersadar karena omongan Oma Mieke, Areta yang tadi masih meyakinkan hatinya sendiri bahwa semua yang ia dengar bukan mimpi melengkungkan senyumnya, hatinya terasa sangat lega, bebannya selama ini seolah terangkat begitu saja, statusnya jelas sudah, “Lalu dimana Ayah saya sekarang, Pak?” Tanya Areta antusias, berharap ia bisa bertemu dengan ayah kandungnya
Burhan menghembuskan napasnya, terlihat sekali keraguan menjawab pertanyaan Areta, “Maaf Nak, Tuan Agatha sudah meninggal beberapa bulan sebelum Nyonya Liliana meninggal”
Areta semakin terpuruk saja, selama ini ia selalu berpegangan pada secercah harap bahwa Ayahnya masih ada, dan suatu hari ia bisa menemukannya, tapi sekarang sudah dipastikan bahwa ia memang yatim piatu
...“Maaf” ucap Rivandra sambil membawa Areta yang kembali terisak ke dalam pelukannya...
...“Bagaimana dengan keluarga Areta yang lain Om? Apa Areta masih punya keluarga dari ayah kandungnya?” Tanya Rossy...
Areta yang sedang tenggelam di dada suaminya kembali menjatuhkan pandangannya pada Burhan, begitu banyak yang ingin ia tanyakan tapi setiap jawabannya tidak sesuai dengan harapan Areta, ia seperti tak ingin lagi berharap ada jawaban yang sesuai keinginannya
...“Tuan Agatha menikah lagi setelah berpisah dari Nyonya Liliana, dikarunia seorang putra, setelah kepergian Tuan Agatha, istri dan anak Tuan Agatha pindah ke luar negeri, apa Nak Areta mau kami mencari alamat istri Almarhum dan anaknya?” Tanya Burhan...
Areta menimang sebentar, ia lalu menggeleng pelan dengan wajah sendu
...“Loh kenapa ga mau dicari Areta? Mereka keluarga kamu yang tersisa selain Dani dan Susan” Tanya Anna bingung...
...Areta tersenyum miris, “mungkin mereka ga pernah tau kalau Areta ada Ma, mungkin Papa memang ga mau keluarga barunya tau tentang Areta, Areta ga mau ganggu kehidupan mereka, lebih baik tetap seperti itu, yang paling penting buat Areta adalah fakta bahwa Areta bukan anak haram, itu saja sudah cukup”...
Rivandra sebenarnya ingin protes, ia ingin sekali Areta bertemu dengan keluarganya yang lain, siapa tahu ada anggota keluarga yang memang mencintainya dengan tulus, bisa ia bayangkan betapa Areta akan bahagia mendapat kasih sayang dari keluarganya sendiri, tapi Rivandra tak ingin memaksakan kehendaknya dan membuat Areta tak nyaman
...“Apa Susan dan Dani ga tau soal Ayahnya Areta? Perasaanku bilang mereka sebenarnya tau, tapi mereka menutupinya agar Areta tak mencari tau dan akhirnya menuntut haknya” selidik Oma...
Julian mencerna sebentar omongan Ibunya, ia lalu mengangguk - angguk sependapat dengan Ibunya itu, “Apa ada bukti kalau selama ini Susan dan Dani mengetahui tentang Ayahnya Areta?” Tanyanya
...“Jelas mereka tahu, mereka menanda tangani surat perjanjian dengan Ibu dan Ayahnya Areta untuk penyerahan warisan apabila Areta menginjak usia 18 tahun” sahut Burhan...
Brak..
Rossy refleks menggebrak meja di depannya begitu mendengar kecurangan Dani dan Susan, emosinya tersulut apalagi ketika melihat wajah Areta yang berlinang air mata di pelukan Rivandra, sangat memilukan
...“Tega sekali mereka ya ampun! kok bisa - bisanya mereka sejahat itu pada keponakannya sendiri?” Sewot Anna, sampai mengelus - elus dadanya...
...“Burhan, pastikan rumah itu jatuh ke tangan Areta lagi, dan pastikan si Dani itu mengganti rugi semua yang hak Areta yang sudah hilang, ga boleh ada sepeser pun yang dia ga ganti!” Titah Oma lagi...
...“Maaf Oma, sepertinya itu ga mungkin. Keuangan Dani dan Susan sudah defisit, perusahaan mereka sudah dipastikan pailit” sahut Burhan ...
Suasana kemudian hening, semuanya hanyut pada pemikirannya sendiri, campuran antara rasa marah yang teramat pada Dani dan Susan, prihatin pada nasib Areta, dan memikirkan solusi terbaik agar Areta bisa mendapatkan keadilan
...“Kak, bisa tolong anterin aku ketemu Om dan Tante sekarang?” Pinta Areta pada suaminya yang mengerutkan keningnya karena bingung...
“Untuk apa Areta?” Tanya Rivandra
...“Aku tau betul karakter Om dan Tante, sekarang mereka pasti sedang merencanakan untuk kabur, atau malah sudah kabur, mereka tau kita akan mengetahui semua rahasia yang mereka simpan selama ini” celoteh Areta...
...Rivandra mengangguk, mengerti kekhawatiran Areta, “kita berangkat sekarang” ajaknya...
Ternyata bukan hanya Areta dan Rivandra yang ingin menemui Dani dan Susan, keluarga Rivandra full formasi pun ikut serta, Julian sigap memerintahkan Burhan untuk melaporkan kejahatan Dani dan Susan berbekal bukti - bukti yang sudah mereka kantongi pada kepolisian, lantas meminta Burhan dan pihak berwajib untuk menyusul mereka ke rumah Dani dan Susan
Benar saja dugaan Areta, saat sampai disana, rumah itu nyaris kosong, satpam rumah yang biasa berjaga di pos depan pun sudah tak ada, ketika mereka mengetuk pintu hanya ada seorang pembantu yang gemetaran ketika ditanya tentang keberadaan Susan dan Dani, nasib baik masih berpihak pada Areta, Dani dan Susan ternyata masih berada di rumah, sedang sibuk mengemasi barangnya dan berencana untuk kabur
...“Mau kemana Om, Tante?” Tohok Areta pada keduanya yang sibuk memindahkan perhiasan milik Susan dari dalam brankas, di kamar mereka, keduanya sangat kaget, apalagi ketika melihat bukan hanya Areta dengan wajah yang meradang yang kini berdiri di depan mereka, tapi juga Rivandra plus keluarganya...
...“A-Areta.. ngapain kamu disini?” Tanya Susan, tangannya yang masih menggenggam perhiasannya ia sembunyikan ke belakang punggungnya...
...Areta menyeringai, puas melihat bagaimana kedua orang itu bergetar ketakutan sekarang, “harusnya saya yang nanya, ngapain kalian ada di rumah saya?!” Lantang Areta ...
__ADS_1
Dani menelan ludahnya, sedang Susan tergagap mendapat sentakan Areta, sudah dipastikan Areta telah mengetahui semuanya
...“A - apa maksud kamu, Areta? Rumah kamu? Apa kamu lagi mimpi? Ini rumah Tante dan Om, apa kamu lupa?” Elak Susan pura - pura bodoh, itu jalan terbaik untuknya saat ini...
...Rivandra mendengus kesal, “sudahlah Tante, kami sudah tahu semua rahasia yang Om dan Tante kubur selama puluhan tahun, dan sekarang saatnya Om dan Tante mengganti setiap sen yang kalian pakai dari hak Areta, atau kalian harus mempertanggung jawabkannya pada pihak berwajib” tandas Rivandra berapi - api...
...Dani dan Susan saling pandang, kemudian sejurus dengan istrinya Dani pun pura - pura linglung, “ini maksudnya apa Nak Rivandra? Ada apa ini?”...
...Anna sudah tak tahan melihat muka tebal keduanya, “ada apa ada apa! ga usah pura - pura bodoh ya kalian! kalau kalian belum tau apa yang terjadi, ngapain kalian sibuk berkemas gini, kalian mau kabur kan?” Sengit Anna sambil berkacak pinggang...
...“Benar! Sudahi kepura - puraan kalian, semua rahasia kalian sudah terbongkar, kalian benar - benar ga punya moral, kalian merampok harta seorang yatim piatu, parahnya itu keponakan kalian sendiri, saya pastikan kalian akan membayar semuanya!” Sengit Julian geram...
...”Pak Julian punya bukti apa menuduh kami seperti itu? Kalau hanya karena omongan Mauren, itu omongan kosong anak kami yang sedang stress, terlalu berlebihan jika menanggapinya” sangkal Dani lagi...
...“Apa Pak Dani pikir saya orang bodoh yang menuduh orang tanpa bukti? Tim pengacara saya sudah mengantongi bukti - bukti kuat terkait kecurangan kalian” sentak Julian lagi...
Kalau sudah begitu Dani dan Susan tak bisa berkata apa - apalagi, mereka hanya bisa menundukkan kepalanya, sekujur tubuh mereka gemetaran, keringat membasahi pelipis mereka, jantung mereka berdebar kencang
...“Kenapa Om? Kenapa?!” Sentak Areta lantang, suaranya bergetar mengeluarkan amarah, “apa kalian ga punya hati? Tega - teganya kalian membohongiku selama ini soal Papa, kalian bilang aku anak haram, padahal kalian tahu siapa Papaku! kalian juga mengambil semua warisan dari orang tuaku, kenapa?!” Pekik Areta berapi - api...
Susan mulai terpancing, ia mendelik tajam pada Areta, “semua karena Mama kamu, Areta! Liliana yang super sempurna kebanggaan semua orang, dia cantik, pintar, semua laki - laki yang yang kusuka justru mengejarnya, orang tuaku pun lebih menyayangi Mamamu dibanding aku! Padahal aku yang mati - matian berjuang agar aku bisa dibanggakan, tapi selalu dia yang jadi pusat perhatian, selalu dia!!” Teriak Susan frustasi, ia lalu menangis sesenggukan
...Areta menatap tak percaya pada Tantenya itu, “jadi ini semua terjadi hanya karena Tante iri pada Mama?” ...
...Susan mengeraskan rahangnya, menatap bengis pada Areta, “Iya aku iri pada Mamamu! Dia punya semua yang aku inginkan, termasuk Agatha! Papamu yang juga sempurna itu! Agatha mendekatiku, membuatku jatuh cinta padanya, tapi ternyata dia hanya menjadikanku jembatan untuk mendekati Liliana, Agatha bertekuk lutut pada Liliana, ia bahkan rela menentang orang tuanya untuk Mamamu! Apa salah kalau aku iri pada Mamamu, hah?”...
...Mendengar pernyataan istrinya Dani mendelik kesal, “Mama apa maksud kamu? Jadi dulu kau mencintai Agatha, begitu?” Sentak Dani dengan wajah merah padam...
...“Iya, aku memang jatuh cinta padanya! Siapa yang tidak, hah? Dia punya segalanya, tapi karena Liliana aku terpaksa gigit jari dan mau saja dijodohkan pada laki - laki ga berguna seperti kamu Dani!” Sahut Susan sinis...
Dani mengepalkan tangannya, tak ia sangka wanita yang selama ini ia cintai dan ia perjuangkan sedemikian rupa sampai ia rela berbuat apa saja ternyata menyimpan hati pada musuh bebuyutannya dulu, saingannya dari bangku kuliah hingga saingannya berbisnis
Rivandra memeluk Areta yang menangis terisak, ia tak kuat lagi rasanya mendengar drama menjijikkan di depannya, semakin terkuak fakta yang terbuka semakin membuatnya mual
...“Kalian benar - benar menjijikkan!” Sentak Oma...
Tak lama Burhan datang, di dampingi beberapa petugas kepolisian, kehadiran mereka sontak membuat Dani dan Susan semakin ciut saja
...“Sekarang pertanggung jawabkan semua perbuatan kamu, Dani! Ganti semua hak Areta yang telah kalian ambil dengan curang, atau kalian akan mendekam di penjara!” Sengit Julian ...
Dani dan Susan kompak menggigil ketakutan, menghabiskan sisa masa tua di penjara tak ada dalam bayangan mereka, mungkin benar kata orang, sebanyak apa pun harta yang dirampas dari orang lain tak akan membuat mereka bahagia di hari tua seperti bayangan mereka saat menggelapkan harta warisan untuk Areta dulu, lihatlah mereka sekarang, harta tak ada, anak pun entah kemana, bahkan sekarang pintu penjara terbuka lebar untuk mereka
Susan tak hilang akal, ia segera menghampiri Areta, menekuk lututnya, lalu menengadah dengan wajah yang memelas, “Areta, tolong, maafin Tante dan Om, bagaimana pun kita keluarga Areta, apa kamu tega kalau Om dan Tante yang sudah tua ini mendekam di penjara?” Susan memohon meminta belas kasih
Areta melepas pelukan Rivandra, menatap tajam pada Susan yang tengah meminta pengampunannya, “Tante baru ingat sekarang kalau kita keluarga? Kemana aja Tante selama ini? Apa Tante lupa kalau kita keluarga saat Tante mengambil semua harta peninggalan Papa dan Mama? Tante juga lupa kalau aku keponakan Tante saat Tante jadiin aku budak di rumah ini? Ga Tante, saya ga akan pernah maafin Om dan Tante!” Tandas Areta, biarlah ia disebut pendendam, untuk kali ini pintu maafnya tertutup sudah
Melihat Susan yang tak mempan membujuk Areta, Dani turun tangan, senada dengan istrinya, ia bertekuk lutut di depan Areta yang berdiri mematung
...“Om mohon ampun Areta, ampun! Om janji Om akan mengganti semua yang pernah Om ambil dari kamu, tolong kasih Om waktu Areta, sebentar saja” ucap Dani memohon dengan tangan tertangkup di depan dadanya...
Areta seperti tak kenal belas kasih, ia menatap keduanya sambil tersenyum penuh cemooh, “saya ga peduli soal hartanya, yang saya pedulikan adalah gara - gara kalian saya beranggapan kalau orang tua saya tidak menyayangi saya karena mereka meninggalkan saya tanpa apa pun, dan parahnya saya ditinggalkan pada orang - orang seperti kalian! Jadi saya ga berniat memaafkan kalian sedikit pun, sudah waktunya kalian merasakan hasil perbuatan kalian sendiri!” Tandas Areta
Julian sudah menangkap keinginan Areta, ia lalu memberikan pertanda pada Burhan agar petugas kepolisian membawa Dani dan Susan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, Susan berteriak histeris tatkala seorang petugas meminta dirinya dan Dani untuk berdiri
...“Areta, tolong Areta, Tante mohon!” Ucap Susan histeris sambil berderai air mata, apalagi ketika tangannya di borgol, Susan memberontak minta dilepaskan, ia lalu memaki dan menyumpahi Areta, sedang Dani lebih memilih menerima nasibnya, ia pasrah saja ketika gelang besi dipakaikan di kedua pergelangan tangannya, lalu tanpa ampun mereka digiring oleh para petugas kepolisian ...
Sedang Areta terduduk lemas di tepi tempat tidur, matanya lalu mengedar ke seluruh kamar yang selama ini Susan tempati, kamar yang harusnya Areta huni sebagai pemilik rumah
__ADS_1
...”Terima kasih Mama, Papa, kalian udah meninggalkan kenang - kenangan untuk Areta, terima kasih” ucapnya lirih namun senyum bahagia terbit di wajah cantiknya. ...