Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Titik Lelah Rivandra


__ADS_3

“Praaang!” Entah apalagi yang dibanting Mauren di kamarnya sekarang


...“Astagfirullah, apalagi itu yang pecah?” Panik Bi Jum, kepalanya celingukan ke lantai dua tempat kamar Mauren berada...


Rossy yang dari tadi memilih tak peduli akhirnya keluar kamar juga, tak sanggup mendengar keributan lagi


...“Bi, masih ngamuk dia?” Tanya Rossy pada Bi Jum...


...“Masih Non, ga tau apalagi yang dipecahin sekarang, udah habis kayaknya itu barang pecah belah di kamar Tuan Rivandra” sahut Bi Jum sambil meringis...


...“Hadeuuhh pawang singa ganasnya kemana sih ini?” Gumam Rossy sambil berkacak pinggang, “Rivandra belum pulang ya Bi?” Tanya Rossy lagi...


...“Belum Non, motor gedenya belum keliatan” sahut Bi Jum...


Rossy mengedarkan pandangannya


...“Mama sama Papa mana?” Tanya Rossy yang tak melihat wajah panik Mamanya atau wajah dingin Papanya...


...“Praaaaak” suara pecahan terdengar lagi, lebih membahana dibanding sebelumnya...


Rossy berjengit, tak sanggup membayangkan seperti apa rupa kamar Rivandra sekarang, Bi Jum sampai menutup telinga dengan tangannya


...“Tuan sama Nyonya baru aja berangkat ke hotel Non, mau tidur di hotel aja katanya” sahut Bi Jum...


...“Ya sudah lah biar mereka istirahat di hotel aja, di rumah udah kayak lagi perang gini” tutur Rossy frustasi ...


Tak lama Rivandra datang, ia masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai, tapi senyumnya mengembang


...“Nah tuh pawangnya!” Seru Rossy...


Bi Jum menengadahkan tangannya ke atas mengucap syukur


...“Alhamdulillah datang juga Tuan Rivan, mudah - mudahan masih ada barang yang bisa diselamatkan di kamar” ucap Bi Jum...


...“Rivan, urusin tuh si Mauren.. udah dari tadi ngamuk pecahin barang! Kamu sih main ngilang gitu aja, bikin perkara tau ga?! Papa sama Mama nyampe ngungsi ke hotel” Cerocos Rossy...

__ADS_1


Rivandra menghela kasar napasnya, ia paham kenapa keluarganya di rumah sampai panik ketika Mauren mengamuk, selama ini memang Mauren tak pernah menunjukkan sisi temperamennya di depan keluarga Rivandra, hanya Rivandra yang tahu dan dulu ia memilih bungkam karena rasa cintanya yang besar mengalahkan logikanya


...“Saya ke kamar dulu” ucap Rivandra, Rossy dan Bi Jum saling pandang, heran karena Rivandra terlihat tenang - tenang saja...


Rivandra mengetuk pintu kamarnya dengan enggan, suara pekikan dan makian yang samar masih terdengar seketika berhenti, tak lama pintu kamar itu dibuka dengan kasar, sementara sang pelaku keributan menyambut Rivandra dengan mata yang nyalang, rambutnya acak - acakan, wajahnya nyaris tanpa make up karena luntur oleh air mata dan keringat


...“Darimana kamu Rivan?!” Sentak Mauren sekuat tenaganya, Rivandra yakin bahkan para pembantu yang sudah terlelap pun bisa mendengar teriakan Mauren...


Rivandra menghela kasar napasnya


...“Kan udah dibilang saya habis kumpul sama temen - temen klub moge” sahut Rivandra sambil beranjak masuk ke kamarnya, ia melangkah sehati - hati mungkin, menghindari pecahan beling yang berserakan dimana - mana, beberapa berasal dari botol parfum mahal miliknya, lampu tidur dan vas bunga juga tak luput dari keganasan Mauren, belum lagi cermin rias yang sudah hancur sebagian...


Rivandra tersenyum miris melihat kondisi kamarnya sekarang, tempat tidur sudah tak jelas lagi bentuknya, beberapa baju juga sudah teronggok di lantai, belum lagi buku - buku koleksi Rivandra yang juga sudah menjadi penghias lantai.


...“Rivan, jujur sama aku, kamu habis dari rumah si Areta kan?” Sentak Mauren lagi, jarinya menunjuk ke sembarang arah seolah Areta ada di tempat yang ditunjuknya...


Rivandra mendudukan dirinya di tepi ranjang yang tanpa seprai itu


...“Saya udah bilang kan kalau tadi habis ketemu sama temen - temen, Mauren” sahut Rivandra dingin, ia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya bahwa ia memang bersama Areta tadi, kalau saja ia tak mengingat kekacauan apalagi yang mungkin akan dilakukan oleh Mauren...


...“Kalau emang kamu lagi sama temen - temen kamu, kenapa kamu ga angkat telepon aku atau bales chat aku, hah?” Nyalang Mauren...


...“Kamu tau saya ga terus - terusan megang ponsel kan Mauren?” Sahut Rivandra santai...


Mauren berdecih


...“Apa buktinya kalau kamu sama temen - temen kamu tadi?” Tantang Mauren, wajahnya mendongak pongah...


Rivandra meraih ponsel di saku celananya, jarinya menari sebentar di atas layar ponselnya, setelah itu ia menyodorkan ponselnya pada Mauren, Mauren meraihnya dengan tak sabar, penasaran apa yang ingin ditunjukkan Rivandra


Dahi Mauren mengkerut ketika melihat foto - foto Rivandra bersama teman - teman di klub mogenya, kemarahan Mauren mulai mereda karena merasa kalau dia telah salah sangka pada Rivandra


Mauren mengusap sisa air mata di wajahnya, senyumnya terbit kembali, ia lalu mendudukkan diri di sebelah Rivandra


^^^“Jadi tadi kamu beneran ketemuan sama temen - temen kamu ya?” Tanya Mauren ^^^

__ADS_1


Rivandra mengangguk, padahal sebenarnya sebelum Rivandra pulang ke rumah tadi ia menyempatkan diri dulu untuk bertemu teman - temannya, hanya sekedar menyapa dan berfoto bersama sebagai alibi untuk Mauren


Wajah Mauren memerah, malunya hingga ke ubun - ubun, ia sudah membuat keributan sedemikian rupa karena mengira Rivandra bersama Areta tadi


...“Makanya lain kali ponsel tuh dipegang terus, biar istri ga curiga” Tandas Mauren, tangannya bersedekap...


...“Maaf saja udah cukup pada keluarga saya karena udah membuat keributan malem - malem gini” sindir Rivandra sambil bangkit dari duduknya...


...“Kamu mau kemana Rivan?” Tanya Mauren...


Rivandra menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Mauren


...“Saya mau istirahat, dan ga mungkin saya istirahat di kamar kayak kapal pecah gini” tandas Rivandra lalu melangkah hendak beranjak dari kamarnya yang porak poranda...


...“Kamu mau tidur dimana?” Tanya Mauren langkahnya tergesa menghampiri Rivandra...


...“Dimana saja, yang penting bukan diantara pecahan beling disini” sindir Rivandra lagi sambil tersenyum singkat ...


Mauren merengut manja


...“Aku ikut” rengek Mauren sambil bergelayut di lengan kekar suaminya...


Rivandra menatap dingin istrinya itu


...“Saya lelah Mauren, lagipula sudah cukup satu kamar yang kamu hancurkan, jangan hancurkan kamar yang lain” tandas Rivandra sambil berlalu dari situ meninggalkan Mauren yang menekuk wajahnya ...


Rivandra mengunci pintu kamar tamu yang ia huni, ia tak ingin jika Mauren sampai ikut masuk, apa yang Mauren lakukan tadi membuat Rivandra jengah untuk bertemu dengannya, ia lelah menghadapi isttinya itu, kalau pun ia salah apa tidak ada dalam kamus Mauren untuk menyelesaikan masalah dengan cara baik - baik?


Pria itu duduk sebentar di tempat tidur sebelum kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Guyuran air dari shower perlahan membasahi rambut Rivandra lalu mengalir ke setiap senti tubuh atletisnya, badannya masih terasa lengket karena peluh bekas percintaan panasnya tadi dengan Areta


Ah Areta… mengingat wanita itu membuatnya serasa masuk ke dunia lain, dunia yang teduh penuh kedamaian, harapan, gairah, dan cinta. Areta selalu bisa membuatnya tersenyum memahami rajukannya, dan tertawa lepas pada saat wanita itu menggembungkan pipinya karena ngambek, tak ada yang tak menyenangkan jika menyangkut Areta, hal - hal kecil seperti nonton berdua di kamar mereka saja rasanya sudah seperti kencan mewah yang romantis, Areta selalu bisa membuat semuanya istimewa, dia ajaib.


Sepanjang ritual membersihkan dirinya tadi, tak sedikit pun pikirannya beranjak dari Areta, rindu kembali melandanya padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu, Rivandra meraih ponselnya untuk menghubungi Areta, ia menunggu dengan tak sabar wanitanya itu untuk menjawab panggilannya, sayang Areta tak juga menjawab ponselnya.


Rivandra menghela napasnya, sedikit kecewa karena ia tak dapat mendengar suara Areta sebelum ia memejamkan mata, mungkin Areta sudah terlelap mengingat waktu sudah menginjak tengah malam, tak apa.. masih ada banyak waktu untuknya dan Areta, batin Rivandra.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2