Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Lamaran


__ADS_3

...“Selamat pagi sayang” ucap Areta sumringah pada Rivandra sambil membantu suaminya itu menyimpul dasinya...


...“Selamat pagi sayang, Lily udah siap - siap juga? Hari ini jadwal kalian nganterin saya ke rumah sakit kan?” Tanya Rivandra antusias, senang karena hari ini ia akan di temani istri dan anaknya ke kantor...


...Areta cengengesan, “Maaf sayang, Lily udah berangkat sama Papa dan Mama ke kantor, bawa dua pengasuh juga tadi”...


...Senyum Rivandra memudar, bibirnya mengerucut, “diajak Papa? Lagi? Sayang udah hampir seminggu Papa ngajak Lily ke kantornya, kapan giliran saya?” Protesnya...


...Areta menggaruk tak gatal kepalanya, “Kata Papa rumah sakit ga aman buat Lily sayang” ...


...“Terus lebih aman kalau dibawa ke kantor Papa gitu? Kasian Lily, pasti bosen banget di kantor Papa” ucap Rivandra masih saja protes...


...“Kayaknya ga bakalan bosen deh sayang, banyak temen - temen Lily disana, Papa juga udah beliin banyak mainan untuk Lily, khusus untuk Lily kalau Lily lagi ke kantor, coba kamu main ke kantor Papa deh, ruangan istirahat Papa udah kayak kamar anak TK sekarang” tutur Areta sambil tergelak...


...“Temen - temen Lily?” Tanya Rivandra bingung, mana mungkin di gedung pencakar langit itu ada anak- anak seusia Lily...


...“Iya, para staf disana, kata Mama mereka gemes sama Lily, jadi kalau pas Papa dan Mama lagi rapat atau lagi ada klien para sekretaris atau resepsionis yang heboh nemenin Lily main” sahut Areta sambil memakaikan jas yang kini pas melekat di tubuh tegap Rivandra ...


...Areta mengerti sih perasaan Rivandra, sambil membantu suaminya itu merapi - rapikan jasnya senyum malu - malu Areta terbit, “sayang, mungkin udah saatnya Lily punya adik, jadi kalau nanti Lily sibuk sama Papa Mama, masih ada adiknya Lily yang bisa nemenin kita”...


...Wajah cemberut Rivandra sontak berubah bahagia, “Memang harusnya begitu” ucapnya sambil mulai membuka kembali jas yang tadinya sudah rapi, lalu gerak cepat membuka dasinya, tak berhenti sampai disitu tangan Rivandra pun perlahan membuka kancing kemejanya satu per satu bersamaan dengan langkahnya yang terus saja mendekati Areta, mendesaknya ke arah tempat tidur mereka...


...Areta mundur teratur, tahu betul niat suaminya yang kini menyeringai lebar, “T - tadi malam kan udah Kak, tiga kali loh! Maksudnya aku kita berdo’a semoga Lily cepet - cepet punya adik, kalau usaha kan udah maksimal Kak!” Ucap Areta terbata, ia sibuk menelan salivanya sendiri, meski sudah bertahun - tahun menikah tapi kegiatan panas mereka selalu terasa yang pertama baginya, gugup dan dag dig dug masih di rasakannya, bagaimana tidak sih jika pria yang berstatus suaminya itu selalu berhasil membuatnya terpesona, dibalik ekspresinya yang dingin, wajah tampan Rivandra menghinoptisnya, belum lagi perut datar kotak - kotak miliknya, dan jangan lupa bahu tegapnya dan tangan yang berotot, ya sudah lah Areta manut saja saat suaminya itu mulai mendorongnya pelan ke tempat tidur dan menindihnya...


Areta mulai terhanyut dengan buaian Rivandra di bibirnya, dikecup, dihisap, dilumat dinikmatinya betul, mengikuti impuls ia pun membalas sentuhan bibir Rivandra, membiarkan suara decapan memenuhi kamar mereka


Entah sejak kapan Rivandra berhasil membuat tubuh Areta polos tak terbungkus sehelai benang pun, mungkin saat tadi Rivandra bermain - main dengan leher dan dadanya, Areta pun tak paham tepatnya tak sadar, Rivandra berhasil membuatnya mabuk kepayang. Saat istrinya itu sedang melayang, Rivandra sigap memposisikan dirinya untuk memasuki pelan namun pasti, Areta tak ragu mengeluarkan desahannya pertanda ia menikmati setiap serangan Rivandra, membiarkan prianya itu menubrukinya pelan dan terkadang cepat


Areta jelas tak tahan ketika Rivandra merajainya dengan intens, setiap ******* Areta menjadi pemicu Rivandra mempercepat gerakannya, seolah tak ada hari esok, Rivandra totalitas membuat dirinya dan Areta mencapai puncak mereka yang membuat keduanya sama - sama memekik. Sebagai bonus Rivandra memberikan banyak kecupan di bibir dan pipi Areta, sebelum ia menarik bed cover tebal untuk menutupi tubuh polos keduanya.


...“Kak Rivan jadi telat ke kantor!” Ucap Areta dengan napas terengah...


...“Apa kamu ga lihat hujan deras diluar sayang? Mana bisa saya ke kantor dalam cuaca seperti ini?” Sanggah Rivandra, alasan saja sebenarnya, karena sejujurnya hari ini ia ingin bersama Areta saja...


...“Heemm alasan! Padahal biasanya mau hujan badai pun Kak Rivan tetep aja berangkat ke rumah sakit, bilang aja kalau Kak Rivan lagi ga pengen jauh dari aku, pasti mau lagi kan?” Todong Areta tanpa basa - basi, dengan senyum menghiasi wajahnya yang bersemu merah karena malu...


...“Pinter!” Sahut Rivandra singkat, tapi cukup mewakili gambaran apa yang akan terjadi seharian di kamar itu, hujan deras diluar seolah mendukung dua sejoli itu untuk menikmati kebersamaan mereka, tak apalah Rivandra bolos dari rumah sakitnya hari ini, memanfaatkan waktu saat tak ada pasien yang urgent harus ia tangani...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Radit dan Amel, keluarga angkat Areta itu tengah menikmati jamuan sarapan mereka, hangat seperti biasa diiringi canda dan tawa, hanya Raja yang pagi itu terlihat bermuram durja


...Sang Mama menatapi wajah gusar putranya itu, “kamu kenapa Raja?” Tanya Amel dengan lembut...


...Raja meletakkan sendok yang sedari tadi ia pakai untuk memainkan makanannya, ia lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, “aku kemarin ngelamar April, Ma” sahut Raja lemas...

__ADS_1


Amel dan Radit terhenyak, Pandu yang tengah minum pun tersedak kaget


...“Pelan - pelan minumnya, yang” ucap Rossy sambil mengelus - elus punggung suaminya...


...“Bagus dong Raja! terus kapan Mama sama Papa bisa datang ke keluarganya April?” Tanya Amel antusias, yang lain tak kalah senang mendengar Raja akhirnya akan memiliki pendamping...


...“Apaan sih Ma, boro - boro nikah, lamaranku ditolak sama April!” Ujar Raja Sendu...


...“Hah? Ditolak? Kok bisa?” Kali ini Rossy yang menimpali, tak percaya akan keputusan April mengingat selama ini hubungan April dan Raja sepertinya baik - baik saja...


...“Iya Raja, kok bisa? Masa anak Papa ditolak?” Tanya Radit...


...“Kamu ngelamar April dimana? Kalau kamu ngelamarnya di tempat parkir jelas dia nolak lah, itu ga ada romantis - romantisnya!” Cerocos Radit lagi ...


...“Kamu ngelamarnya pake cincin ga Raja? Ngasih bunga juga kan?” Selidik Amel...


...“Ma, Pa, Raja ngelamar April di resto tempat Mas Pandu ngelamar Mba Rossy dulu, terus pake cincin berlian, buket bunga mawarnya juga yang super besar!” Jelas Raja...


...“Lah, terus kok kamu bisa ditolak?” Tanya Pandu heran...


...“April bilang kami ga sepadan Mas, aku terlalu sempurna buatnya yang anak broken home plus miskin” sahut Raja semakin lirih saja...


...Amel dan Radit saling pandang...


...“Apa April beneran ngomong gitu Raja? Ya Tuhan kasian banget dia” ucap Amel sendu...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih pagi ketika April setengah sadar mendengar suara gorden dikamarnya dibuka, perlahan cahaya matahari masuk lewat celah - celah jendela


...“Duh siapa sih yang buka jendela, ini hari Sabtu woy, aku perlu tidur!” Gumam April tak jelas sambil menggulung lagi selimutnya, namun baru beberapa detik April langsung terhenyak kaget, sadar kalau ia hanya tinggal sendiri...


April tambah shock saja ketika mendapati Areta di depannya


...“Bangun Pril, udah jam 7! Mandi terus siap - siap!” Titah Areta...


...“Areta, kamu sleep walking nyampe kesini apa ngimpi sih?! Ngapain kamu disini pagi - pagi, kurang sibuk apa ngurusin suami sama anak di rumah?” Protes April tak terima hari liburnya diganggu Areta...


Areta tak mendengar keluhan April, ia malah sengaja menarik selimutnya


...“Cepet siap - siap April, bentar lagi pada nyampe!” ...


...“Siapa Ta? Aku ga janjian sama siapa pun, sana pulang! aku mau tidur!” Sanggah April sambil menutupi kepalanya dengan bantal...


...“Rombongan lamaran Mas Raja Pril, cepet bangun habis itu siap - siap!” Titah Areta pada sahabatnya itu...

__ADS_1


Deg…


...April sontak bangun terduduk, “L - lamaran?” Tanya April dengan mata membola sempurna...


...“Iya Pril, 3 jam lagi rombongan nyampe, kamu cepetan mandi, siap - siap, habis itu di make up, Kak Rossy sama make up artist udah nunggu di depan, Mama Anna, Papa Julian, Oma, Kak Rivan dan orang - orangnya lagi ngatur dekor dan makanan, pokoknya kamu turun ke bawah semuanya udah beres” cerocos Areta...


April yakin dirinya bermimpi, tak mungkin ini terjadi, April mencubit dirinya sendiri, lalu meringis saat merasakan sakit yang nyata


...“Ta, ini beneran? Tapi kemarin aku udah nolak Mas Raja Ta, dan kamu tau alasannya kan?” Tanya April bingung...


...“Karena kamu anak broken home? Miskin?” Tanya Areta, ia lalu duduk di tempat tidur, di samping April, “percaya lah Pril, tadinya aku mikir gitu, tapi setelah peristiwa sama Mama Anna kemarin semuanya jadi jelas kalau keluarga Kak Rivan maupun Mama Amel ga seperti itu, dua hari yang lalu Mama Amel dan Papa Radit udah cerita semua sama Papa Julian dan Mama Anna, intinya mereka ga pernah mempermasalahkan soal strata sosial, karena Mama Amel pun dulunya seperti kita Pril” jelas Areta panjang lebar...


...“Yang bener Ta?” Tanya April masih belum yakin...


...“Untungnya aku boong sama kamu itu apa sih Pril? Ya ampun!” Tandas Areta...


...April termenung sebentar, senyumnya lalu terbit, “Ok Ta, aku mandi dulu!” Ucap April antusias sambil beringsut bangun dari duduknya dan sigap beranjak ke kamar mandi, namun langkahnya tiba - tiba terhenti...


...“Tapi orang tua dan Abangku gimana, Ta? Apa mereka setuju? Aku belum ngabarin” ucap April sendu, mengingat ia seperti benar - benar ditinggalkan oleh orang tua dan Abangnya sendiri, bahkan orang tuanya yang telah bercerai dan sudah kembali sama - sama menikah pun nyaris tak pernah bertanya tentang kabar April, begitu juga Abangnya, nasib April benar - benar memprihatinkan, beruntung ada Areta yang membuatnya merasa masih memiliki keluarga...


...“Semua udah diurus Papa Julian, Papa udah menghubungi orang tua dan Abang kamu soal lamaran Mas Raja, mereka ga keberatan dan menyerahkan semuanya pada keluarga Papa Julian, yang pasti pada saat nikah nanti Papa kamu bersedia menjadi wali” jelas Areta, ia pun prihatin pada nasib sahabatnya itu, itu makanya ia meminta pertolongan keluarga mertuanya mewakili keluarga April untuk menerima lamaran keluarga Raja, beruntung dengan senang hati Papa Julian dan Mama Anna siap membantu April...


April mengangguk mantap, senyum kembali terbit di wajahnya yang manis


...****************...


Tepat seperti yang disampaikan Areta pada April tadi, rombongan keluarga Raja sampai di rumah April pemberian dari Areta itu tepat jam 10 pagi, rombongan berbahagia itu disambut suka cita oleh keluarga Julian, niat baik keluarga Raja terwakilkan dengan banyaknya barang hantaran dan senyum sumringah di wajah Raja beserta keluarga


Senyum mereka semakin lebar tatkala masuk ke dalam rumah April, dalam rumah sudah di dekor penuh dengan bunga cantik, makanan pun sudah tersaji dalam bentuk prasmanan mewah lengkap dengan para pelayan yang siap melayani.


Sementara Julian dan Radit tengah berbasa - basi, Raja menunggu dengan tak sabar menanti kedatangan sang pujaan hati untuk turun dari kamarnya, ia ingin segera menyematkan cincin yang ia bawa di jari manis April


Raja tersenyum lega dan bahagia tatkala April meniti anak tangga untuk turun, April terlihat cantik dengan kebaya modern dan make up tipisnya, digandeng oleh Areta dan Rossy yang juga sama - sama berkebaya dan tampil cantik, membuat Rivandra dan Pandu terkesima melihat tampilan istri mereka hari ini.


...“Nah karena sang pujaan hati Raja sudah datang, maka kami ingin mengutarakan niat baik kami kepada keluarga Pak Julian sebagai wakil untuk Nak April” tutur Radit saat calon menantunya duduk malu - malu di kursi berhadapan dengan Raja, kedua sejoli itu saling tatap sebentar lalu sama - sama tertunduk malu...


...“Silakan!” Sahut Julian dengan wajah bahagia...


...“Jadi kedatangan kami kesini bermaksud ingin meminang April untuk menjadi calon istri untuk anak kami, Raja” tutur Radit penuh semangat...


...“Baik, kami terima itikad baik dari keluarga Pak Radit, tapi sebelumnya izinkan kami bertanya pada anak kami April mengenai kesediaannya menerima lamaran Nak Raja” tutur Julian, sambil menoleh pada April yang duduk di sebelahnya, bersamaan dengan tatapan semua orang, menunggu jawaban April...


...April menggigit bibir bawahnya, dengan masih tertunduk April mengangguk malu - malu mengiyakan lamaran April...


...“Sayang, jawab yang jelas ih! Bilang iya saya terima gitu!” Sewot Raja tak sabaran, membuat Amel mencubit sayang pinggang anaknya, sementara yang lain tergelak melihat kelakuan sang calon mempelai pria...

__ADS_1


...“Iya Mas, aku terima pinanganmu” sahut April tenang dan jelas...


Raja menghela lega napasnya, diiringi do’a panjat syukur dari semua keluarga yang hadir saat itu, kebahagiaan terpancar di wajah April dan Raja, begitu pun semua anggota keluarga, terutama Areta, titik air mata bahagia campur haru menetes di pipinya, ia dan April bak Cinderella, sama - sama pernah merasakan pahitnya hidup namun berujung dengan menjadi pasangan hidup seorang pangeran, siapa sangka?


__ADS_2