Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Pesona Istri Pertama


__ADS_3

...“Halo Areta, apa Rivandra masih disitu sekarang?” Tanya Oma pada Areta lewat ponselnya...


Areta menghela napasnya


...“Masih Oma, apa Areta suruh pulang aja?” Tanya Areta...


Oma berdecak


...“Jangan Areta, biarin nginep disitu, urusan disini nanti biar Oma yang urus” sahut Oma...


...“Tadi Kak Rivandra nonjok kaca Oma, tangannya sampai berdarah, kayaknya dia marah pas Areta bilang mau minta cerai setelah anak ini lahir” tutur Areta sendu...


Oma di seberang sana terdengar menghela kasar napasnya,


...“Rawat dia sebaik mungkin, Areta! Inget perjanjian kita, Oma akan ngizinin kamu cerai dari Rivandra asal selama sisa waktu pernikahan kalian kamu melayani Rivandra dengan sebaik - baiknya layaknya seorang istri, karena bagaimana pun itu kewajiban kamu Areta” tandas Oma...


Areta merengut, sulit buatnya tapi ia tak punya pilihan, demi perceraiannya dengan Rivandra dengan sangat terpaksa ia menyetujui syarat yang diajukan oleh Oma


...“Iya Oma, baik.. Oma tenang aja, Areta akan memenuhi syarat yang Oma ajukan” tutur Areta meskipun ia enggan...


...“Bagus, sekarang temui suamimu, bahagiakan dia sebagai seorang istri sebelum nanti kalian berpisah, Oma percaya kamu akan menepati janji kamu sama Oma, Areta” ucap Oma lalu menutup sambungan ponselnya...


Rossy yang berada di samping Omanya terheran - heran karena begitu menutup sambungan ponselnya Oma malah tersenyum bahagia


...“Mereka mau cerai kok Oma malah seneng gitu? Lagian Oma kenapa nyampe ngizinin Areta sama Rivan cerai sih?” Protes Rossy, dahinya yang licin sampai mengkerut...


...“Belajar lah dari Oma kamu ini, Rose! Mengiyakan bukan berarti menyetujui, Oma cuma membantu Areta untuk menyiksa perasaan Rivandra, semakin dia ketergantungan pada Areta, maka dia akan semakin merasa kehilangan” tutur Oma sambil menyesap tehnya dengan anggun...


Rossy awalnya masih tak mengerti, namun matanya membulat begitu paham apa yang direncanakan oleh Omanya


...“Rossy ngerti sekarang Oma, mampus tuh si Rivandra, biar tau rasa dia!” Tutur Rossy girang, senang mengetahui adiknya itu akan tersiksa...


...“Kamu inget pas si Rivan ngomong ‘bagaimana pun ada hati yang harus dijaga’, kan? Oma kasian betul melihat bagaimana wajah Areta, dia terluka Rose tapi ga ada yang peduli, jadi pada saat dia minta izin sama Oma buat cerai sama Rivandra, Oma menyetujui, tapi sebelum itu dia harus bisa menyiksa perasaan Rivandra dulu” tutur Oma panjang lebar, matanya jauh menerawang ...


...Oma meraih cangkir tehnya lagi, menyesapnya perlahan “setelah itu jika mereka tetap mau cerai, Oma ga bisa apa - apalagi Rose, bagaimana pun Areta berhak buat bahagia” tandas Oma...


Rossy mendekatkan duduknya dan memeluk Oma Mieke “semoga saja mereka ga sampai cerai, Oma” tutur Rossy


...****************...


Areta menghirup oksigen banyak - banyak lalu mengeluarkannya


...“Waktunya beraksi” ucapnya, lalu bangkit dan beranjak menuju kamar yang Rivandra huni...


Areta ragu mengetuk pintu kamar Rivandra, ketukannya pelan saja, berharap agar Rivandra sudah tidur, tapi keberuntungan sedang tak berpihak pada Areta, lelaki itu membuka pintu kamarnya


...“Areta, ada apa?” Tanya Rivandra terheran karena tak biasanya Areta sampai mau mengetuk pintu kamarnya...


Areta menunduk malu - malu, membuat Rivandra memandanginya dengan penuh selidik


...“Kenapa lagi nih anak?” Gumam Rivandra pelan...


...“Gimana tangannya, Kak?” Tanya Areta...


Kening Rivandra mengernyit sambil memiringkan kepalanya, semakin bingung dengan sikap Areta yang tiba - tiba berubah


...“Masih berdarah, mau ganti perban tapi susah kalau sendiri, nanti saya minta Bi Parni bantuin” sahut Rivandra sambil memperlihatkan tangannya...


...“Boleh ga kalau aku aja yang bantuin ganti perbannya?” Tanya Areta...


Rivandra kaget sebentar, tapi setelah itu tersenyum sumringah


...“Serius?” Tanya Rivandra antusias...


...“Iya serius, tapi kalau Kakak maunya sama Bi Parni, ntar aku panggilin Bi Parni aja kalau gitu” sahut Areta...


...“Eh jangan - jangan, kamu aja yang gantiin, masuk yuk” ucap Rivandra, bahagia campur gugup, Areta mengekori Rivandra yang beranjak masuk ke dalam kamarnya, mata Areta mengedar ke seluruh kamar, kamar yang dihuni oleh Rivandra itu tampak tertata rapi, wangi parfum khas Rivandra menguar di seluruh kamar, nyaman. Areta memang tak pernah memasuki kamar Rivandra, pamali buatnya....


Rivandra mendudukkan dirinya di sofa, disusul Areta yang duduk di sampingnya


...“Sebenarnya aku ga tau cara ganti - ganti perban gini, jadi kasih tau aja ya Kak kalau aku salah” ucap Areta sambil membuka perban yang membalut tangan Rivandra...

__ADS_1


...“Kamu udah pinter kok, kayaknya banyak pengalaman ngobatin luka ya?” Goda Rivandra...


Areta tersenyum sinis


...“Lebih banyak pengalaman dilukain sih Kak” sindir Areta...


Jleb..


Sindirian halus Areta itu membuat Rivandra merasa bersalah, pria itu jadi salah tingkah dibuatnya


...“Kakak udah makan?” Tanya Areta, dengan mata fokus mengobati buku tangan Rivandra...


...“Belum” jawab Rivandra, ia memang lupa pada jadwal makan malamnya, semenjak tadi ia sibuk merenungkan masalah Mauren dan keinginan Areta untuk bercerai...


...“Beres” ucap Areta puas melihat hasil pekerjaannya yang terbilang cukup rapi, Rivandra membolak balik tangannya, memperhatikan balutan perban hasil karya perawat dadakan ...


...“lumayan” ucapnya, meredupkan senyum bangga di wajah Areta, wanita itu mendengus kesal...


...“Tau gitu mending Bi Parni aja yang gantiin, boro - boro bilang terima kasih, ngasih pujian aja pelit banget, dasar tirani” cerocos Areta bersungut - sungut, pelan sih suaranya tapi mampu terdengar oleh Rivandra...


...“Ahahaha.. maaf maaf, terima kasih ya, balutan perbannya juga bagus kok, imut” tutur Rivandra sambil tergelak...


...“Nah tuh bisa bilang terima kasih, muji dikit, susahnya apa sih? Heran.. “ tutur Areta masih saja bersungut - sungut sambil bangkit dari duduknya...


...“Loh mau kemana?” Protes Rivandra begitu melihat Areta hendak melangkah keluar...


Areta berbalik dan menoleh pada Rivandra


...“Mau ambilin makan dulu, bentar ya” ucap Areta sambil mengukir senyumnya, manis....


Deg..


dag dig dug itu terasa kembali di dada Rivandra, senyum Areta menghanyutkan. Rivandra menunggu Areta tak sabaran, sebentar duduk lalu berdiri lagi, tak lama wanita cantik itu kembali, tangannya penuh membawa nampan yang berisi makanan


...“Makan dulu ya” tutur Areta sambil menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya...


Dada Rivandra berdesir, “Terima kasih” ucapnya gemetaran, diperhatikan Areta sedikit saja bisa membuatnya mabuk kepayang, ingatannya ketika ia dan Areta pernah mereguk asmara berdua kembali berputar


...“Kak, kamu ga boleh makan pake tangan kiri, dosa tau” ucap Areta mengingatkan begitu melihat Rivandra menyendok nasi dengan tangan kirinya...


...“Sini aku suapin” ucap Areta sambil menarik piring dari depan Rivandra...


...“K-kamu mau nyuapin?” Tanya Rivandra tak percaya...


...Areta mengangguk, “Kak Rivandra keberatan?” Tanya Areta ...


...“Ga sama sekali, maaf saya jadi ngerepotin” ucap Rivandra kaku, tiba - tiba saja lidahnya terasa kelu...


Areta menarik napasnya dalam - dalam, meskipun apa yang akan ia lakukan bertentangan dengan hatinya, tapi demi perceraiannya ia akan melakukan apa saja, mengingat kandungannya yang sudah menginjak empat bulan, berarti tinggal lima bulan lagi ia bersama pria itu, pria yang ia cintai sekaligus ia benci, lima bulan bukanlah waktu yang lama, ia akan menikmati sisa waktunya bersama suaminya, mencurahkan semua rasanya sesuai dengan perintah Oma, sebelum ia bergelar mantan istri Rivandra.


...”buka mulutnya ya” ucap Areta lembut, tangannya menyendok makanan lalu mengarahkannya ke depan mulut Rivandra...


...“I-iya” sahut Rivandra, makanannya saja belum sampai di mulutnya tapi ia sudah menelan salivanya beberapa kali...


Areta menyuapi Rivandra dengan sangat pelan dan penuh kasih, layaknya seorang istri yang merawat suaminya yang sedang sakit. Sedang Rivandra, ia terhipnotis pada perhatian Areta, lupa sudah ia akan masalah Mauren yang meluluh lantakkan hatinya


...“Udah kenyang?” Tanya Areta, Rivandra mengangguk. Areta sigap menyodorkan air minum pada Rivandra, membantu suaminya itu untuk minum...


...“Terima kasih” ucap Rivandra lagi...


...“Iya, sama - sama Kak” ucap Areta, sambil tersenyum lagi, malam ini ia begitu murah senyum...


...“Kamu mau kemana?” Tanya Rivandra, tak rela melihat Areta yang beranjak pergi...


...”Mau nyimpen piring kotor ini di dapur, lagian Kak Rivan juga harus istirahat, udah malem” tutur Areta ...


Rivandra bangkit dari duduknya, ia lalu berjalan mendekati Areta, wajahnya memancarkan kebahagiaan


...“Terima kasih atas bantuannya, Areta” ucapnya, Areta mengangguk, ia lalu menimbang sebentar...


...“Aku lagi pengen nonton film horor Kak, mau nemenin ga?” Tanya Areta, kejutan lain untuk Rivandra yang saat ini melongo tak percaya...

__ADS_1


...“B-boleh Areta, nanti saya nyusul ke ruang tengah ya” sahut Rivandra...


...“ Di kamarku Kak, bukan di ruang tengah, aku tunggu” ucap Areta sambil memacu langkahnya malu - malu...


Blush..


Sekali lagi Rivandra menelan salivanya, desiran itu semakin terasa, jantungnya berdebar kencang, wajahnya memanas, perasaan apa ini? Ia bahkan tak pernah merasakannya pada Mauren


Rivandra mengetuk pintu kamar Areta dengan tangan kirinya, hanya dua kali ketukan saja dan wanita itu sudah membuka pintunya, senyum menyambut kedatangan Rivandra


...“Masuk yuk Kak” ajak Areta, Rivandra patuh mengikuti Areta yang berjalan di depannya...


...“Lampunya dimatiin aja ya Kak, biar tambah serem” ucap Areta lagi...


...“Emangnya kamu ga takut?” Tanya Rivandra sambil mendudukkan dirinya di sofa, Areta mendengus lalu mendekati Rivandra, tangan Rivandra di raihnya lalu ia tuntun menuju tempat tidur, Rivandra antara sadar dan terbang ketika tangan itu menyentuh lembut lengannya...


...“Duduknya di kasur aja, kan tivinya pas depan kasur, kalau duduk di sofa entar lehernya pegel” ucap Areta, kakinya lincah berjalan kesana kesini menyiapkan bioskop kecil di kamarnya...


“Trek” kamar itu seketika temaram, hanya ada cahaya terang dari tivi yang menyala, Areta sumringah ketika duduk bersila di samping Rivandra


...“Aku udah lama pengen nonton film ini, tapi ga ada yang nemenin, kemarin ngajak Bi Parni tapi baru liat pocongnya muncul sekali udah ngibrit lari keluar, payah” keluh Areta...


...Rivandra tertawa renyah mendengar gerutuan Areta, “Ya udah saya temenin, jangan khawatir” tutur Rivandra antusias....


...Keduanya lalu larut menonton film horor dengan serius, film yang gagal membuat mereka menjerit takut atau sembunyi di balik bantal, jangankan membuat mereka ketakutan, keduanya anteng - anteng saja, Rivandra malah sampai beberapa kali menguap...


...“Ngantuk ya Kak?” Tanya Areta, ...


...Rivandra menipiskan bibirnya, “Maaf” ucapnya...


...“Sini tidur Kak” ucap Areta sambil menepuk - nepuk pahanya...


Mata Rivandra membulat tak percaya, wanita galak dan jutek itu berubah sangat baik dan lembut, Rivandra mencubit tangannya sendiri, “aw” ucapnya ketika nyeri terasa, jelas ini bukan mimpi


...“Ini bukan mimpi kan Areta?” Tanyanya...


...“Bukan Kak, ayo sini nonton sambil tiduran” ucap Areta lagi...


Rivandra ragu, tapi dorongan dari dirinya dan ajakan Areta tak bisa ia tolak, perlahan ia menjatuhkan badan dan kepalanya di pangkuan Areta


Deg..


Detak Jantung Rivandra sudah tak karuan begitu tangan Areta mengelus - elus rambutnya, entah refleks atau ia memang sengaja membuai Rivandra, yang pasti ia menyerah pasrah terbawa perasaan, baru kali ini ia merasa dimanja, diperhatikan, dispesialkan bahkan hanya hal sekecil dielus Areta bisa membuatnya terbang melayang, ia jatuh cinta pada Areta, sungguh jatuh cinta.


Rivandra meraih jemari Areta yang sedang membelainya, menciumi jari - jari lentik Areta, membuat si empunya jari meremang. Meskipun mata keduanya terpaku pada televisi, tapi pikiran dan hati mereka melayang entah kemana


...“Kak Rivandra lagi banyak pikiran ya?” Tanya Areta, jarinya ia bawa lagi ke kepala Rivandra, mengelus lagi rambutnya...


Rivandra hening sebentar, menimbang antara ia ingin cerita atau tidak tentang masalah Mauren, dalam buaian Areta ia seolah ingin mencurahkan semuanya, rasa sedihnya, senangnya, masalah yang dihadapinya, semuanya.


...“Areta, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu dibohongi sama orang yang bener - bener kamu percayai?” Tanya Rivandra, matanya nanar menatap tivi di depannya, ia ingin sekali bercerita tentang kenyataan getir mengenai Mauren, entah kenapa ia merasa bisa mempercayai Areta...


Jari Areta yang tengah menjelajahi rambut Rivandra berhenti


...“Kalau ini tentang Kak Mauren, aku ga mau ikut campur Kak, aku ga mau dianggap memanfaatkan situasi menjelek - jelekkan maduku, bener - bener kayak pelakor” tandas Areta tak suka...


Rivandra mendengus


...“Kamu bukan pelakor Areta, saya sah menikahi kamu, bahkan sebelum saya menikahi Mauren, stop ngerasa jadi orang ketiga dalam rumah tangga saya” ucap Rivandra, tak rela elusannya berhenti Rivandra meraih jari Areta mengkode minta dibelai lagi...


...“Nyatanya memang orang ketiga kan Kak? Pelakor, aib yang harus disembunyikan” tandas Areta, jarinya bergerak mengelus surai Rivandra lagi...


...“Apa pun sebutan kamu untuk diri kamu sendiri, nyatanya kamu yang terbaik di mata saya” tutur Rivandra...


Blush..


Omongan apa itu, apakah Rivandra dalam sadar mengatakan itu padanya? Batin Areta


...“Semua laki - laki yang menginginkan perempuan lain pasti ngomong hal yang sama” tandas Areta, menampik harapannya sendiri, ia tak ingin terbang terbawa perasaan lalu nantinya jatuh kembali...


...“Terima kasih atas semua yang kamu udah lakukan untuk saya Areta, terima kasih sudah bertahan menghadapi saya yang tak bisa mengambil sikap, sekali lagi untuk saya kamu yang terbaik” tutur Rivandra, matanya memejam merasakan ketenangan dalam lindungan Areta...

__ADS_1


Bibir Areta memulas senyum puas melihat Rivandra yang mulai tidur nyaman di pangkuannya


...“Berhasil” gumamnya pelan....


__ADS_2