
...“Apa kamu sudah ga waras Rivandra?” Suara Julian yang sedang murka terdengar nyaring dan menyeramkan, ketiganya saling pandang, apa yang telah dilakukan oleh Rivandra?...
Anna segera bangkit dan memacu langkahnya menuju kamar tamu yang sedang dihuni Rivandra, Rossy dan Oma sigap mengekorinya
...“Saya tau saya salah Pa, tapi saya sedang mempertanggung jawabkan kewajiban saya, dalam hal ini Areta ga salah” tutur Rivandra sambil menunduk sendu...
...“Areta ga salah apa Rivan?” Tanya Anna yang merangsek masuk dengan napas terengah, merasa tak dapat jawaban dari Rivandra, Anna menjatuhkan pandangannya pada Julian ...
...“Ini ada apa Pa? Kenapa nama Areta dibawa - bawa? Cecar Anna, Rossy dan Oma hanya terdiam, menyiapkan diri mereka masing - masing untuk menjadi saksi jika ditanyai oleh Julian...
Julian menghela napasnya, sebelah tangannya terkepal dan menumpu pada meja, sedang sebelah tangannya lagi memijit pelipisnya. Semakin penasaran, Anna menghambur dan duduk di depan Rivandra, anaknya itu tampaknya baru saja selesai sholat, karena ia masih menggunakan sarung dan peci. Lantas ada pembicaraan apa diantara Julian dan Rivandra sehingga mampu membuat Julian terbakar murka?
...“Ada apa Rivan?” Selidik Anna, Rivandra perlahan mendongak dan menatap Ibu tercintanya dengan sendu...
...“Saya dan Areta sudah menikah Ma” sahut Rivandra, mata Anna membulat, mulutnya yang menganga ia tutup dengan kedua tangannya, kepalanya menggeleng - geleng tak ingin percaya apa yang di dengarnya...
...“Sejak kapan kalian selingkuh Rivan, sejak kapan?” Sentak Julian lagi dengan rahang yang mengeras...
...“Dia istri pertama saya Pa, kami ga selingkuh” sahut Rivandra...
Julian membuka kaca matanya, ia lantas memburu ke depan Rivandra, tangannya sigap meraih kerah baju Rivandra membuat Rivandra yang sedang terduduk berdiri bangkit
...“Kapan saya pernah ngajarin kamu jadi laki - laki bajingan, hah?” Sentak Julian lagi, tangannya sudah mengepal ingin melayangkan tinju pada Rivandra...
...“Julian, cukup!” Sentak Oma, “dengarkan dulu penjelasan Rivandra!” Titah Oma, Julian mengendurkan pegangannya pada kerah baju Rivandra, lalu menghempasnya begitu saja, ia lalu berjalan mendekati istrinya dan duduk di sebelahnya...
...“Jelasin Rivan!” Titah Oma pada Rivandra, Rivandra mengangguk lalu mendudukkan dirinya, menghirup oksigen banyak - banyak, lalu menceritakan semua yang terjadi pada Areta dan dirinya, hingga akhirnya Areta kini mengandung anaknya, dan kemarin nyaris saja keguguran, penyebab ia dua hari tak pulang ke rumah ...
Julian mengusap wajahnya, sementara Anna menangis terisak, sudah ia duga ada yang terjadi antara Rivandra dan Areta, tapi tentu dugaannya tak sejauh ini
Tak ingin membuang waktu, semua anggota keluarga itu berangkat menuju rumah Rivandra dan Areta.
...****************...
Rumah minimalis itu sudah tampak sepi, lampu di dalam rumah bahkan beberapa sudah dimatikan, hanya lolongan anjing milik tetangga jauh yang terdengar membahana
Bi Parni membukakan pintu dengan tergesa setelah diketuk beberapa kali, rambutnya berantakan, matanya pun merah, sudah terlelap tampaknya. Ia lalu terbengong melihat rombongan yang datang tengah malam buta
...“Ibu mana Bi?” Tanta Rivandra tanpa basa basi...
...“A-ada di dalam Pak” jawab Bi Parni terbata, nyawanya belum terkumpul semua...
__ADS_1
...“Silakan” ucap Bi Parni lalu tergupuh memimpin masuk ke dalam, awalnya Rivandra mengekori tapi kemudian ia bingung karena Bi Parni berbelok ke kamarnya...
...“Loh Ibu dimana Bi? Dia di kamarnya kan?” Tanya Rivandra bingung, Bi Parni yang hendak membuka pintu kamarnya mematung sebentar...
...“Maaf Pak, Ibu tidur di dalam sama saya” sahut Bi Parni tak enak...
...“Loh kenapa?” Tanya Rivandra bingungsambil membuka pintu kamar lalu merangsek masuk, diikuti orang tuanya, Rossy, dan Oma ...
Wanita itu tengah tidur meringkuk di ranjang, badannya diselimuti oleh kain batik milik Bi Parni, wajahnya tampak pucat dengan mata yang sembab, sementara Bi Parni tidur di kasur lantai, setia menjaganya
...“Dari semenjak Bapak berangkat, Ibu kesakitan lagi Pak, sampai ga bisa istirahat sama sekali, terus Ibu minta tidur di kamar saya, katanya pengen ditemani Pak” jelas Bi Parni...
Rivandra terhenyak
...“Kenapa Bibi ga hubungin saya?” Sewot Rivandra...
...”Maaf Pak, Ibu yang melarang, katanya apa pun yang terjadi saya ga boleh hubungi Bapak, jadi saya langsung hubungi dokter Kartini, dokter nyuruh Ibu untuk minum obat lagi, makanya sekarang Ibu bisa isirahat Pak” ucap Bi Parni sambil tertunduk takut pada amukan Rivandra...
Rivandra menghela gusar napasnya, matanya menatap tubuh ringkih Areta yang meringkuk tak berdaya
Mendengar keributan di kamar Areta mengerjap - ngerjapkan matanya yang terasa lengket karena terlalu banyak menangis, ia lalu mengelus - elus perutnya yang masih nyeri, perlahan ia beringsut untuk duduk dengan mata yang masih setengah tertutup, matanya ia kerjap - kerjapkan lagi beberapa kali, samar terihat banyak orang di kamar itu, tapi siapa mereka? Bukankah itu Rivandra? Mata Areta yang memicing tiba - tiba membulat tatkala mendapati bukan hanya Rivandra yang berada disana, Anna dan Julian, serta Oma dan Rossy tengah menatapnya sekarang
...“T- Tante, Om?” Tutur Areta terbata, jantungnya berdebar hebat, badannya yang sudah basah karena keringat kini gemetaran, rasa takut mengalahkan rasa sakit yang kini menderanya melihat pandangan mata tajam Anna dan Julian yang menghujam padanya, Areta menunduk sambil meremas kain batik yang menyelimutinya, ia tahu inilah hari yang paling ia takutkan, hari dimana Anna dan Julian mengetahui semua rahasia yang selama ini tersimpan rapat - rapat, meskipun ada Rossy dan Oma disana, tapi ia tahu hari ini tak ada siapa pun yang bisa menyelamatkannya dari penghakiman Anna dan Julian...
...“Tante udah tau semua yang terjadi antara kamu sama Rivandra” tutur Anna...
Deg..
Areta memejamkan matanya, remasan pada kain batik itu semakin kuat entah sudah seperti apa bentuknya jika itu adalah kertas
...“S-saya minta maaf Tante” tutur Areta lirih, “T-tapi saya sudah bilang sama Kak Rivandra, Kak Rivandra ga perlu tanggung jawab, saya sudah minta cerai Tante, biar saya sama anak saya pergi asal saya di talak dan Oma mengizinkan” tutur Areta lagi tanpa berani sedikit pun menatap mertuanya itu...
...“Apa? Cerai? Pergi?” Sengit Julian, dadanya kembang kempis menahan marah...
...“Julian” tutur Oma mengingatkan...
...“Areta, berani - beraninya kamu berpikir untuk membawa cucu Tante pergi?” Giliran Anna yang mencecar Areta...
...“Saya mohon Tante, cuma anak ini yang saya punya, saya mohon jangan ambil anak ini dari saya, saya janji saya ga akan minta apa pun, saya ga akan pernah muncul lagi di kehidupan Kak Rivandra atau keluarga Tante, saya mohon belas kasih Tante, tolong” lirih Areta sambil terisak menangisi ketidak berdayaannya melawan Anna dan Julian, tapi setidaknya ia punya jurus terakhir yaitu memohon agar bisa mempertahankan anaknya, demi apa pun ia begitu takut kehilangan anaknya...
Anna menarik dagu Areta
__ADS_1
...“Gampang sekali kamu minta cerai dari anak Tante dan membawa cucu Tante ya, kamu menantu pertama Tante, anak yang kamu kandung adalah cucu Tante, kalian ga boleh kemana - mana, titik...
...“Tante saya mohon, saya.. “ Areta tak melanjutkan, ia mencerna baik - baik omongan Anna...
Anna duduk di depan Areta, matanya menatap wajah Areta yang pucat pasi karena nyeri dan takut
...“Panggil Mama, Nak” titah Anna...
...“Mama minta maaf atas apa yang terjadi sama kamu karena anak Mama, tapi percayalah Rivandra pasti akan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan Ayah, dan Mama seneng pas tau kalau ternyata kamu juga menantu Mama, Areta” tutur Anna dengan wajah berseri, satu tangan Anna mengelus lembut perut Areta...
Kening Areta yang berpeluh mengkerut
...“T - Tante ga marah?” Tanya Areta bingung, Anna menghela kasar napasnya...
...“Jelas Mama marah, bisa - bisanya kalian semua merahasiakan semua ini dari Papa dan Mama, apa kalian ga tau kalau Papa dan Mama sangat mengharapkan seorang cucu? Dan begitu Mama dan Papa punya cucu tega - teganya kalian menyenyembunyikannya dari Papa dan Mama! Tega!” Cerocos Anna, wajah kesalnya berubah sumringah lagi ketika melihat perut Areta, tangannya kembali mengelus perut Areta ...
...“Betul itu Ma, emang tega mereka sama kita” tambah Julian...
...“Rossy ga ikutan ya Pa, itu salah si Rivan sendiri tuh pake main rahasia - rahasiaan” cerocos Rossy, Rivandra menggaruk tak gatal kepalanya ...
Areta bingung, bola matanya mengekori siapa pun yang sedang angkat bicara, ia tak mengerti, apakah orang tua Rivandra marah padanya atau tidak? Tapi melihat tak ada yang hendak memakinya atau menamparnya atau memberikan label pelakor membuat ia sedikit bernapas lega
...“Papa minta maaf Areta, karena kondisi kamu harus melewati semua ini, tapi Papa pastikan sama kamu, Papa yang akan mengawasi langsung untuk memastikan kamu dan cucu Papa hidup dengan sangat baik dan nyaman” tutur Julian pada Areta...
...“Saya juga minta maaf Areta, karena meskipun orang tua saya sudah tau status kita, tapi kita tetap harus merahasiakannya, karena bagaimana pun ada hati yang harus dijaga, tapi saya janji di depan orang tua saya dan kamu bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai seorang suami dan seorang Ayah, saya juga akan berbuat adil pada kamu dan Mauren” tutur Rivandra...
Areta terdiam, rasa leganya hanya sebentar saja, ternyata ini semua hanya sebatas tanggung jawab saja, karena ia terlanjur berstatus istri dan tengah mengandung penerus Rivandra, dalam hati Rivandra hanya Mauren seorang, selamanya ia hanya akan jadi selir yang disembunyikan ibarat aib, hati Areta perih.
...“Besok Papa akan ngutus sekretaris Papa kesini untuk mendata apa saja yang kamu dan cucu Papa butuhkan selama tinggal disini agar kalian tak kekurangan apa pun” tambah Julian...
...“Loh Pa, saya suaminya Pa, dia dan anak yang di kandungnya adalah tanggung jawab saya, Papa ga perlu repot - repot” protes Rivandra...
...“Anak yang dikandung Areta adalah cucu pertama Mama dan Papa, jadi Papa akan mastiian cucu Papa dapat yang terbaik” tandas Julian tak mau kalah...
...“Ga bisa gitu dong Pak, tanpa bantuan Papa saya tetap bisa menafkahi mereka kok” sanggah Rivandra...
Julian seperti tak mau mendengar, ia malah memindai sekeliling rumah Areta dan Rivandra
...“Astaga Rivan, kamu nempatin menantu dan cucu Papa di rumah sekecil ini?” Sewot Julian, entah sebesar apa rumah besar menurut perspektif Julian, karena rumah minimalis dua lantai itu cukup besar untuk keluarga kecil Areta dan Rivandra, tak mau membantah Rivandra hanya cengengesan...
...“Besok Papa beliin rumah yang jauh lebih besar untuk cucu Papa ya, Areta” tambah Julian pada Areta, Areta hanya tersenyum kikuk...
__ADS_1
...“Saya bukannya ga mampu beliin sebesar yang Papa maksud, tapi kami keluarga kecil Pak, untuk apa yang besar - besar jika nanti malah banyak ruangan yang jadi sarang jin karena jarang ditempati” sanggah Rivandra penuh perlawanan...
Dan perdebatan antara Ayah dan anak itu berlanjut, tanpa mereka sadari ada hati yang sedang terluka perih, bagaimana pun Areta adalah seorang perempuan, jika ia menikah tentu ia ingin diakui, dan Rivandra menegaskan bahkan di depan orang tuanya sendiri bahwa hati Mauren lah yang harus dijaga, lantas bagaimana dengan hatinya? Batin Areta, hanya Oma yang sedang memperhatikan Areta dalam diam yang paham betul apa yang Areta rasakan sekarang.