
...“Selamat pagi Tante, apa ada yang bisa Areta bantu?” Ucap Areta sopan pada Anna, Anna mendekat matanya memandangi lekat Areta, masih teringat kejadian kemarin siang, bagaimana gadis malang itu dipermalukan dan dihina oleh Tantenya sendiri, orang yang harusnya menyayangi anak yatim piatu itu...
Tangan Anna terulur mengelus surai Areta, lembut
...“Kamu ga apa - apa nak?” Tanya Anna...
Areta tersenyum, seperti yang sudah - sudah menutupi kesedihannya, hati dan harga diri yang hancur tak berbentuk
...“Areta baik - baik saja Tante, terima kasih” ucap Areta, sangat sopan, ia sungkan sungguh tak enak hati pada kebaikan Anna, seandainya Anna tahu ia tengah mengandung anak Rivandra, sudah pasti Anna tak akan sebaik ini, besar kemungkinan ia akan dilabeli pelakor...
...“Kalau perlu apa - apa cerita ya sama Tante” ucap Anna tulus...
...“Baik Tante, Tante.. terima kasih karena Tante mau menampung Areta disini, maaf karena Areta membuat kisruh, Areta janji ga akan merepotkan dan membuat malu Tante” ucap Areta, matanya tertunduk tak sanggup melihat Anna...
...“Astaga, kenapa kamu ngomong gitu Areta?” Suara Anna bergetar menahan tangis, ia lekas memeluk Areta ingin memberikan kasih sayang seorang Ibu pada gadis malang yang bahkan mungkin tak pernah melihat wajah Ibunya...
Areta mematung, ingin membalas pelukan tapi ia sungkan, sementara itu langkah Rivandra yang hendak menuju dapur terhenti melihat Ibunya sedang memeluk Areta, hatinya menghangat entah kenapa
Anna mengurai pelukannya
...“Semoga kamu bahagia nak, seandainya Rivandra.. ah sudah lah” ucap Anna, hatinya sedih membayangkan nasib Areta, semalaman ia sampai gelisah tak bisa tidur, “Ya udah, kamu tolong ke kamar Oma ya, tanyain Oma mau sarapan apa pagi ini” tuturnya lagi...
...“Baik Tante, saya permisi” ucap Areta sopan, ia sampai membungkukan badannya, buatnya sekarang keluarga ini adalah tempat ia akan membalas budi...
Saat Areta memacu langkah, ia terhenti, netranya menatap netra Rivandra yang tengah menatapnya, sendu.
...“Selamat pagi Kak Rivandra” ucapnya sopan, membungkukan badan pula. Rivandra memejamkan mata, tak tega, sungguh. Ia ingin memeluk tubuh ringkih itu, minta maaf karena ia tak mampu membelanya kemarin siang karena kecemburuannya pada Fabian, tapi saat hendak berucap Areta sudah beranjak menjauh...
Anna mendekati Rivandra yang mematung, membimbing anak tercintanya itu untuk duduk
...“Mama ga tega Rivan, kok bisa - bisanya mertua kamu memperlakukan Areta seperti itu, untung saja Oma sama Rossy ga ada, kalau ada sudah pasti perang kemarin di meja makan” ucap Anna, Rivandra hening, setali tiga uang dengan Mamanya ia pun tak dapat memejamkan matanya...
...“Semoga dia dapat jodoh yang baik, yang bisa membahagiakannya, sudah cukup lah ia menderita begitu” tutur Anna lagi...
Hati Rivandra seolah di remas, kepalanya mendadak sakit, dilema melandanya, di satu sisi ia ingin melindungi Areta dengan segenap hatinya, disisi lain ia pun tak tega pada Mauren.
...****************...
Areta membaringkan dirinya di tempat tidur, baru saja ia memuntahkan semua isi perutnya, beruntung semua urusan Oma sudah selesai ia tuntaskan. Matanya lelah, nyaris semalaman ia tak dapat tidur, kepalanya berdenyut sakit, pusing, badannya lemas, seandainya bukan karena tanggung jawab ia lebih memilih untuk tidur.
Baru saja ia ingin memejamkan matanya ketika ponsel yang tak jauh dari jangkauannya berbunyi nyaring, entah siapa yang menghubunginya, malas sekali ia untuk menjawab, tapi ponselnya terus saja berbunyi tak mau tahu, tangannya merayap meraih ponselnya, setelah tahu siapa yang menghubunginya, ia letakkan kembali, hatinya luka lagi ketika melihat nama Fabian disitu, ia tak ingin dipermalukan dan dihina lagi, cukuplah sudah.
Tak lama suara pesan bertubi - tubi masuk, Areta acuhkan, matanya tak kuat, ia terlelap.
...“Areta, kamu di dalam?” Panggil Rossy sambil mengetuk pintu kamar Areta untuk kesekian kalinya, aneh bahkan sudah hampir sore Areta tak juga keluar dari kamarnya, karena penasaran Rossy segera menerobos masuk, kamar itu sepi dan gelap, meski masih sore mendung menggelayut butuh penerangan untuk bisa melihat...
...“Trek” Rossy menghidupkan lampu kamar itu, langkahnya tergesa mencari Areta khawatir ia kenapa - kenapa, mata Rossy membelalak tatkala melihat Areta tengah meringkuk, badannya menggigil....
...“Kamu kenapa Areta” tanya Rossy, Areta tak bergeming, matanya terpejam sementara badannya menggigil, keringat mengucur deras di dahinya, Rossy menempelkan punggung tangannya...
...“Ya ampun, panas banget badan kamu” ucap Rossy panik, ia sampai bingung apa yang harus dilakukan, mondar mandir tak jelas, hingga tangannya meraih ponsel di dalam saku bajunya...
...“Rivan, kamu ke kamar Areta sekarang, cepetan!” Ujarnya, setelah itu Rossy menyelimuti badan Areta, membenar - benarkan bantalnya, setengah berlari ia memburu menuju kamar mandi, meraih handuk kecil dan membawa segayung air bersamanya, untuk mengompres Areta...
Tak lama Rivandra datang dengan tergesa, sudah Rossy duga Mauren pun turut serta
...“Ada apa Kak?” Tanya Rivandra panik ...
...“Areta sakit Kak?” Tanya Mauren setelah ia melihat Areta yang masih menggigil, dengan kompresan di dahinya...
Rossy mengangguk, tak tega ia melihat Areta, Rivandra segera mendekati Areta, mengangkat kompresannya, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Areta
__ADS_1
...“Panas banget” gumamnya, wajahnya lebih panik dibanding Rossy...
...“Mauren, tolong ambil peralatan saya di kamar” ucapnya, Mauren menggangguk patuh lalu bergegas menuju kamarnya...
Rossy mendudukkan dirinya di samping Areta, tangannya sigap membereskan anak rambut Areta
...“Kasian Areta” ucap Rossy, siang tadi Mamanya menceritakan kejadian kemarin padanya, penyesalan terbit di hati Rossy, seandainya saja kemarin ia ikut makan siang, tentu ia akan bisa membela Areta...
...“Seandainya aku ada kemarin, pasti aku bakalan belain dia, meskipun aku harus perang sama orang tuanya Mauren, aku ga takut, ga seperti kamu Rivandra” sinis Rossy...
Rivandra menghela nafasnya, bukan saatnya ia berdebat dengan Rossy, sekarang ia hanya ingin fokus merawat Areta, tak lama Mauren kembali membawa tas perlengkapan Rivandra, Rivandra sigap mengeluarkan peralatannya, setelah itu ia sibuk memeriksa Areta
...”gimana?” Tanya Rossy tak sabaran, tapi Rivandra tak menyahut, masih sibuk memeriksa Areta dengan teliti, Tak lama Areta membuka pelan matanya, bersamaan dengan air matanya yang lolos, ia mimpi bertemu Ibunya, berpegangan tangan, tapi harus lepas lagi bahkan sebelum ia bisa melihat wajah Ibunya....
...“Mama” gumamnya pelan, ia belum sadar ada Rivandra, Rossy, dan Mauren yang tengah menatap iba padanya...
...“Areta, apa yang kamu rasain?” Orang pertama yang bertanya dan menyentuh tangannya adalah Rossy, Areta menoleh pada Rossy yang duduk di sampingnya menatapnya sebentar, kemudian mengedarkan pandangannya, melihat Rivandra dan Mauren yang berdiri di tepi ranjang, ketika tersadar ia membulatkan mata, seketika beringsut duduk, kepalanya bak dihujam, telinganya berdenging, badannya remuk redam...
...“Plek” handuk kecil kompresan jatuh tepat di tangannya, barulah ia mengerti apa yang terjadi, ia merutuki dirinya yang merepotkan keluarga itu lagi, harusnya ia tak jatuh sakit, ia tak boleh sakit....
...“Areta kamu jangan bangun dulu, kamu lagi demam” ucap Rivandra ...
Wajah pucat pasi dengan pipi memerah itu menyunggingkan senyum
...“Ini sudah jam berapa ya?” Tanya Areta, tidak sinkron...
...“Ini udah sore, dari tadi pagi kamu ga keluar kamar, Kakak khawatir! Pas Kakak susulin kesini kamu ternyata lagi ngeringkuk, badan kamu menggigil” tutur Rossy ...
Areta terbelalak
...“Sudah sore Kak? ya ampun maaf ya Kak Areta ketiduran, Oma gimana Kak, udah makan belum?” Ucapnya panik, tangannya sibuk menyingkap selimutnya, hendak bangun, Rossy sigap menahan tangannya...
...“Istirahat Areta, Oma udah selesai ditangani, sekarang kamu istirahat aja, fokus sama kesehatan kamu dan.. “ Rossy membungkam mulutnya begitu ingat ada Mauren disana, hampir saja ia keceplosan, bukan hanya Areta yang ia khawatirkan, tapi bayi dalam kandungan Areta juga...
...“Ahahaha.. ga perlu segitunya kali Kak, aku ga apa - apa kok, masuk angin biasa, ini udah enakan, apalagi kalau nanti minum ramuan tolak angin buatan Mbok Jum, pasti langsung fit lagi” kukuh Areta meskipun suara sengau tak bisa menutupi kondisinya...
...“Apa kamu lupa kalau saya dokter Areta? Saya tau kondisi pasien saya!” Sewot Rivandra...
...“Yang, sudah” ucap Mauren menenangkan suaminya...
...“Kamu dengerin apa kata Rivandra ya, kamu istirahat dulu, jangan keras kepala” tutur Rossy, tangannya membelai lembut rambut Areta ...
Areta mengangguk pelan, mengalah dulu, ia tak ada tenaga untuk berdebat
...“Kamu udah makan?” Tanya Rivandra...
Areta hening sejenak, yang ia ingat saat akan melahap tempe goreng dan nasi hangat di dapur, Anna keburu datang, ah tempe goreng enak itu entah bagaimana nasibnya sekarang.
...“Areta, kamu udah makan atau belum?” Giliran Rossy yang bertanya...
Areta menggeleng
...“Astaga Areta ini udah jam berapa dan kamu belum makan?” Sewot Rivandra lagi, bukan hanya Areta tapi ia juga mengkhawatirkan bayinya....
...“Udah udah, aku ambilin makan dulu buat Areta ya” ucap Mauren, ia lalu keluar dari kamar Areta menuju dapur...
...“Areta apa kamu ga mikirin gimana kandungan kamu?” Tanya Rivandra berapi - api...
...“Rivan, bisa ga kalau kamu ngomong baik - baik?” Sengit Rossy...
...“Kak Rivandra, bisa tidak kalau dokter yang lain aja yang meriksa saya?” Tanya Areta, matanya dingin menatap Rivandra...
__ADS_1
Rivandra mengerutkan keningnya
...“Emangnya kenapa kalau saya yang meriksa? Saya juga dokter, selain itu saya suami kamu kan, tugas saya untuk ngerawat kamu” Tutur Rivandra tak mau kalah...
Areta tersenyum sinis
...“Tolong Kak, saya mau dokter lain saja” pintanya pada Rossy, tak berhasil meyakinkan Rivandra ia memohon pada Rossy...
...“Tapi kalau kamu diperiksa dokter lain, resikonya kehamilan kamu terbongkar Areta” ucap Rossy ...
Glek..
Sudah lah Areta mengalah
...“Tapi Kak Rossy nemenin disini juga ya, jangan biarin kami berduaan, please Kak” pinta Areta, tangannya sampai tertangkup, Rossy hanya bisa menghela napasnya...
...“Astaga Areta, kita suami istri, ga ada salahnya kita berduaan di kamar!” Protes Rivandra...
Wanita berstatus istri gelapnya itu menoleh padanya, menatap Rivandra dingin, tak ada kehangatan seperti hari - hari sebelumnya pada saat mereka mereguk asmara berdua, hati Rivandra mencelos
...“Hubungan kita hanya sebatas status karena terikat oleh anak di kandungan saya, Kak Rivandra suaminya Kak Mauren” tuturnya datar...
...“Areta, tolong… “ ucapan Rivandra terhenti begitu Mauren menerobos masuk, diikuti seorang pembantu yang membawa makanan untuk Areta...
...“Makan dulu” ucap Mauren, pembantu itu sigap menyodorkan tray penuh berisi makanan, Areta menerimanya dengan perasaan tak karuan, ia sungguh tak enak pada Mauren, hatinya bertekad kuat untuk menjauhi Rivandra, kekecewaannya pada pria itu, kebaikan Mauren dan Anna membuatnya merasa untuk mengubur harapan dan rasanya pada Rivandra, kini mereka hanya terikat karena anak, tak lebih. ...
Rivandra menatap lekat Areta yang tengah mengunyah makanannya dalam diam, matanya kosong, wajahnya pucat, hati Rivandra sakit.
...“Habis makan minum obat ini ya, ucap Rivandra sambil menyodorkan beberapa obat yang ia ambil dari tas perlengkapannya, tangannya yang terulur gemetaran, sikap dingin Areta padanya membuat hatinya hampa....
Karena paksaan Rossy dan Rivandra, Areta kembali memejamkan matanya, pengaruh obat mungkin, wanita itu tidur dengan lelapnya. Melihat Areta yang sudah bisa beristirahat, ketiganya kemudian kembali ke kamar mereka masing - masing, Rossy bolak - balik melihat kondisi Areta Oma pun ikut serta, begitu juga Rivandra.
Areta mengerjap - ngerjapkan matanya, menatap langit - langit kamar yang membias putih dari cahaya lampu, sudah malam tampaknya, ia lalu beringsut duduk, memijat kepalanya yang berdenyut ngilu sebentar, matanya mengedar ke sekeliling sepertinya semua orang sudah beristirahat di kamar masing - masing. Ia menoleh ke samping tempat tidur, tampak segelas susu, buah - buahan segar, dan roti - rotian yang di siapkan untuknya, meski perutnya keroncongan ia sungguh tak selera melihatnya. Ia memang lemas, tapi perutnya minta diisi, mau tak mau ia melangkah menuju dapur, meraih sebutir telur ayam, telur ceplok makanan yang ia idamkan saat ini.
Mungkin karena lidahnya yang sedang tak bersahabat, telur itu tak berasa apa - apa, Areta meminggirkan piringnya. Pikirannya tertuju pada mi instan, tanpa ragu ia segera memasak makanan kegemarannya itu.
Memang tak seenak biasanya, tapi kuahnya hangat masuk ke perutnya, nikmat.
...“Sudah saya duga kamu pasti disini, dan lagi - lagi makan mi instan” ucap pria tinggi tegap yang mendudukkan diri di depan Areta, Areta memutar malas bola matanya, jengah melihat Rivandra...
...“Jangan makan mi, kan udah dibilangin” tutur Rivandra, tangannya menarik mangkuk mi Areta, tapi kali ini Areta sigap mengambil mangkuknya kembali, menyendok mi banyak - banyak dan memasukkan ke mulutnya, ia tak peduli dengan mata Rivandra yang menatapnya tajam...
...“Areta, kamu jangan keras kepala!” Tutur Rivandra...
Areta menghentikan makannya, tatapannya menghujam
...“Bukan urusan Kak Rivandra saya makan apa, kalau soal bayi ini saya selalu minum susu dan vitamin, jangan khawatir” tandas Areta datar...
...“Areta ayolah, jangan gini” ucap Areta, tangannya terulur hendak meraih tangan Areta...
...“Triiingg” Areta setengah membanting sendoknya ke mangkuk...
...“Bisa biarin hidup saya tenang sebentar ga?” Sengit Areta, mata yang biasanya menatap Rivandra penuh cinta dan damba itu kini berapi - api, benci....
Rivandra menghela napasnya yang memburu, ia paham akan kekecawaan Areta padanya
...“Areta, saya.. “...
...“Saya udah ga laper, permisi!” Tutur Areta, badan ringkihnya bangkit meninggalkan Rivandra....
Areta berjalan cepat menuju kamar, ingin segera sampai dan mengunci diri di kamarnya, ia tahu Rivandra pasti akan menyusulnya dan menemuinya.
__ADS_1
...“Blam”, “klik” pintu itu terkunci dengan aman, dan benar saja Rivandra mengetuk pintu itu beberapa kali, mencoba membuka pintunya, lalu menyerah begitu tahu Areta tak menghendakinya masuk....
Jika pintu itu terkunci rapat, begitu pun dengan hati Areta, baik Rivandra maupun Fabian sudah tak mungkin masuk lagi ke hatinya.