Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Rumah Kita


__ADS_3

...“Areta, makan yang banyak, perhatikan kandungan kamu ya sayang, dan jangan ngerjain kerjaan rumah, kan disana nanti ada pembantu, fokus pada kesehatan kamu dan cicitnya Oma, ya?” Oma bertutur sambil meneteskan air mata, tak sanggup berpisah dengan wanita malang di depannya, kini mereka berdua tengah berada di kamar Oma untuk saling melepas, setelah menunggu beberapa hari, akhirnya hari dimana Areta akan pergi dari rumah itu datang juga...


...“Apa Areta harus pindah Oma? Apa Areta ga bisa disini aja nemenin Oma? Maaf kalau Areta lancang Oma, tapi Oma yang membuat Areta merasakan kasih sayang keluarga untuk pertama kalinya, Oma juga orang pertama yang membela Areta, yang menghibur Areta, kalau Areta jauh dari Oma gimana Areta bisa liat kondisi Oma, nyuapin Oma, dengerin Oma nanyi?! Tanya Areta dengan bercucur air mata, berpisah dengan orang yang membuatnya merasakan kasih sayang tulus untuk pertama kalinya terasa sangat sulit untuk Areta...


...“Ini untuk kebaikan kamu sayang, nanti sesekali Oma akan berkunjung nemuin kamu, Rossy juga pasti bolak balik ngunjungin kamu, kamu jangan khawatir” hibur Oma, sekaligus menghibur dirinya sendiri, sungguh tak tega hatinya melihat tatapan mata yang penuh luka itu seolah memohon agar tetap tinggal, tak ingin kehilangan perlindungan dan kasih sayang, tapi kini ia lagi - lagi diasingkan karena kondisi, tersisih kembali. ...


Bukan hanya Oma yang berderai air mata, Anna pun begitu, melihat punggung Areta yang semakin menjauh setelah berpamitan mengingatkannya akan bagaimana tubuh ringkih itu harus siap pergi kemana saja sesuai dengan perintah orang, Areta seolah tak punya hak atas nasibnya sendiri, tanpa tujuan atau tempat ia pulang untuk melepas rasa lelahnya, atau sekedar untuk bermanja.


...“Mama titip Areta ya Rose, anggaplah dia adikmu sendiri, kasian dia Rose” tutur Anna lirih, Julian merangkul istrinya, menenangkan...


...“Jaga dia Rose, dia anak baik dan pintar, Papa yakin perusahaan kamu aman kalau Areta yang menangani masalah keuangannya” tambah Julian...


...“Iya, Papa sama Mama tenang aja, selama disana aku akan jaga Areta baik - baik, nanti pas waktunya aku pulang, aku akan titipin dia ke orang kepercayaanku disana” ucap Rossy...


...“Makasih ya Kak Rossy” ucap Mauren, ia ikut senang karena Areta dipercaya oleh Rossy untuk ikut menangani perusahaannya, harapan Mauren semoga Areta bisa sukses dan kelak lepas dari bayang - bayang hutang budi untuk keluarganya...


Hanya Rivandra yang tak ada saat itu, pria itu sibuk mengurus pasien dan rumah sakitnya, meskipun pikiran dan hatinya sudah tak sabaran ingin segera menemui Areta di rumah mereka berdua, dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan seorang Ayah.


...****************...


Areta memasuki rumah itu dengan ragu - ragu, jika saja Oma tidak membuatnya berjanji ketika kondisinya kritis kemarin, sudah barang tentu ia tak akan pernah sudi masuk ke rumah itu, dan saat ini ia pasti sudah bersama April, memulai hidup barunya. Tapi ia teringat kembali masalah lain yang kini muncul yaitu Fabian yang sudah mengetahui kehamilannya, hanya tinggal menghitung hari sampai Fabian akan datang kembali dan memastikan kehamilannya, kepergian Areta adalah jalan yang tepat untuk menghindari semua masalah.


...“Areta ayo” ajak Rossy pada Areta yang masih berdiri di depan pintu masuk, enggan melangkah ke dalam...


Areta menghela napasnya, kakinya gontai masuk ke dalam rumah, rumah yang terakhir kali ia lihat masih kosong di beberapa ruangan kini sudah lengkap dengan furnitur berwarna senada dan barang - barang elektronik, Rivandra sepertinya mempersiapkan kepindahannya dengan sangat baik, jelas saja karena mulai sekarang ia akan bebas menemui Areta kapan saja yang dia mau, lantas menunaikan hasratnya, dan setelah itu kembali pada Mauren, batin Areta.


Meskipun Rivandra menyiapkan kamar utama untuk Areta, nyatanya wanita itu lebih memilih kamar tamu dengan alasan kamar itu menghadap langsung ke taman, padahal yang pasti ia enggan harus sekamar dengan Rivandra yang bisa datang kapan saja.


Areta memejamkan matanya, lagi - lagi nasib membawa ke tempat yang tak diinginkannya, ia ingin lari tapi resiko jika Oma akan drop lagi kini menjadi penghalangnya, bagaimana pun ia tak tega menyakiti Oma apalagi kalau sampai membahayakan keselamatan Oma Mieke.


...“Areta” suara merdu mendayu itu sedikit mengusik tidur Areta yang lelap, bergeming sedikit, lalu wanita cantik itu terlelap lagi, terlalu lelah tampaknya...


Rivandra memandang wajah istrinya yang polos, senyumnya terbit, gemas melihat bagaimana nyenyaknya wanita cantik itu hingga tak menyadari jika tangan Rivandra tengah mengelus pelipisnya


...“Cantik” gumam Rivandra pelan, sepelan ia membaringkan dirinya disamping Areta, hidungnya mengendus wangi sampo di rambut lembut istrinya, begitu memabukkan, tangannya terulur kini melingkar di perut Areta yang sudah semakin membuncit, sejenak ia memejamkan matanya, ia merasakan ketenangan yang teramat hingga akhirnya ia ikut terlelap....


...****************...

__ADS_1


...“Aaaaaaa” Pekik Areta membahana, Rivandra yang sedang nyenyak - nyenyaknya tidur terbangun, ia seketika duduk dengan mata yang setengah terbuka...


...“Ada apa?” Tanya Rivandra panik, matanya mengerjap - ngerjap mencerna apa yang sedang terjadi, sementara rambutnya acak - acakan khas bangun tidur...


...“Kak Rivan ngapain disini, hah?” Sentak Areta penuh amarah, Rivandra yang sudah sepenuhnya sadar seketika bangkit berdiri ketika menyadari bahwa ia tadi tertidur di samping Areta, pantas saja wanita berteriak ...


...“Maaf tadi saya ketiduran, saya capek banget” tutur Rivandra memelas, minta dimengerti...


...“Di rumah ini ada empat kamar Kak, masih ada dua kamar yang kosong, kenapa Kakak malah milih kamar ini, apa tadi Kak Rivandra ga liat ada aku disini?” Cerocos Areta, tak sudi betul ia tidur berduaan dengan laki - laki yang sudah menyakiti hatinya...


...“Maaf Areta, tadi saya kangen banget sama anak saya, cuma pengen megang bentar, eh malah ketiduran” tutur Rivandra lagi, membela diri...


Areta melotot, tangannya berkacak pinggang


...“Kak Rivandra megang aku tadi? Apa aja yang Kakak pegang, hah?” Sentak Areta, wajahnya memerah penuh emosi...


Rivandra gelagapan, Areta bak singa yang siap menerkam sekarang


...“Anu, itu.. cuma megang perut kok” ucap Rivandra takut - takut...


Rivandra menggeleng pelan


...“Beneran kok” ucapnya ...


...“Kalau cuma perut, terus kenapa kancing atas bajuku kebuka, hah?” Sentak Areta, ia baru saja menyadari ketika ia memindai tampilannya sendiri...


...“Aih” gumam Rivandra pelan, ia merutuki dirinya sendiri yang lupa membetulkan kancing baju Areta kembali, tadi ia memang membantu melonggarkan baju Areta yang terlihat sesak akibat bulatan menonjol yang kian membesar karena kehamilannya...


...“Jawab!” Sentak Areta lagi, tak sabaran dan penuh selidik...


...“Saya ga tau Areta” bohong Rivandra, habislah ia jika ia berkata jujur...


Areta menggeram, pria itu jelas - jelas berbohong padanya


...“Keluar Kak, keluar!” Pekik Areta...


Rivandra tergugu, secepat kilat ia keluar dari kamar macan betina yang tengah mengamuk itu sekarang

__ADS_1


...“Blam” suara pintu itu ditutup, lalu “klek klek” dikunci hingga dua kali oleh Areta...


Rivandra hendak terkekeh melihat kelakuan Areta, meskipun penuh emosi tapi wanita itu tetap menggemaskan, Rivandra semakin penasaran dibuatnya. Pria tampan itu menghela napasnya, lalu kakinya melangkah menuju ruang makan, perutnya terasa keroncongan, lapar melandanya.


...“Belum pulang? Nanti Mauren nyariin loh!” Tutur Rossy begitu melihat adiknya itu muncul, lalu mendudukkan dirinya di depan Rossy...


...“Bi Parni masak apa Kak?” Tanya Rivandra, enggan menjawab pertanyaan Rossy...


...“Lagi masak gurame asam manis, tunggu aja, entar lagi mateng kok” sahut Rossy sambil menyesap tehnya...


...“Mauren ga nyariin?” Tanya Rossy lagi, belum puas sampai Rivandra menjawab pertanyaannya...


...“Aku udah bilang ada operasi tengah malam, jadi ga bisa pulang” jawab Rivandra, memenuhi keingin tahuan Rossy...


Rossy mengangguk - angguk, senyumnya terbit


...“Kamu pasti berharap malam ini bisa tidur bareng Areta ya Rivan?” Tanya Rossy lagi...


Rivandra berdehem, apa niatnya begitu kentara di mata Rossy? Batinnya


...“Areta butuh waktu Rivandra, kita berdua harus memberikan waktu untuknya, biarkan dia tidur sepuasnya, makan sekenyangnya dengan makanan apa pun yang dia mau, biarkan dia teriak - teriak kayak tadi, atau nyanyi - nyanyi, hal - hal yang ga pernah ia lakukan seumur hidupnya Rivan, karena selama ini ia selalu numpang” tutur Rossy...


...“Bentar - bentar, Kakak tadi denger Areta teriak - teriak? Artinya Kakak denger semua omongan Areta?” Tanya Rivandra ...


...“Iya, semuanya” sahut Rossy santai...


Blush..


Malunya Rivandra hingga ke ubun - ubun, habis lah sudah gelarnya sebagai pria dingin yang disegani, toh di depan istrinya ia bagai seekor anak kucing, tak berdaya


...“Biarkan dia merasa di rumahnya sendiri Rivan, berikan dia waktu untuk beradaptasi sama kehidupan barunya, sama rumah barunya, sampai pada akhirnya dia akan menyebut rumah ini sebagai rumah kita” cerocos Rossy lagi...


...“Iya Kak” sahut Rivandra menyetujui...


...“Jadi jangan terlalu memaksakan kehendak dulu Rivandra, Kakak khawatir kalau dia ga kuat banget, nanti dia malah kabur!” Tutur Rossy penuh kekhawatiran...


Rivandra seketika membulatkan matanya, sungguh ia tak ingin kalau Areta kabur apalagi sambil membawa anaknya, tak ada jalan lain kecuali bergerak sepelan mungkin untuk membuktikan pertanggung jawabannya sebagai seorang suami dan seorang Ayah yang baik.

__ADS_1


__ADS_2