Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Akal Bulus


__ADS_3

[Kak, kita harus bicara] tulis Areta dalam pesannya untuk Rivandra, ia menunggu beberapa saat sampai pria itu membalas pesannya


[tumben… Kangen ya?] balas Rivandra, Areta menggeram, urat malu pria itu memang sudah putus tampaknya


[aku serius Kak] balas Areta, sepanjang ia mengetik pesannya giginya gemeretak, kalau saja ponsel itu wajah Rivandra, sudah pasti ia acak - acak muka mesum suaminya itu


[Oke, nanti malam ya.. di kamar kamu] balas Rivandra, Areta nyaris melempar ponselnya, tingkat kurang ajar pria itu semakin hari semakin meningkat


...“Ya Allah nak, jangan nyampe kamu kayak Bapak kamu ya” ucapnya, sambil mengelus - elus perutnya...


Areta menarik napas, lalu mengeluarkannya


[bisa serius tidak? Kita ketemu di luar aja] balasnya pada Rivandra, lalu menunggu balasan Rivandra sebentar


[oke, pengen kencan diluar ya? Sip] balas Rivandra lagi, dada Areta kembang kempis menahan marah


...“Rivandra gila!” Pekiknya frustasi, kalau saja ia tak ingat tujuannya untuk meminta cerai pada Rivandra, jangankan bertemu berdua, bahkan mengirim pesan untuk pria itu saja ia enggan...


[mau ketemu dimana nanti?] tulis Areta dalam pesannya lagi, ia mengalah dulu agar semuanya bisa cepat selesai


[sore nanti sepulang saya dari rumah sakit, tunggu saya di gerbang perumahan] balas Rivandra


Areta menimang sebentar


[bisa tidak kalau kita ketemu di cafe atau di restoran aja langsung?] balas Areta, ia tak mau jika ia harus berduaan di dalam mobil dengan pria itu, Areta menunggu balasan dari Rivandra dengan tak sabaran


[ya sudah kalau gitu kita ketemunya di kamar kamu aja] balas pria itu lagi, Areta ingin marah tapi urung, ia harus fokus pada rencananya


[oke] balas Areta, biarlah Rivandra merasa menang sekarang, yang penting status janda harus segera di sandangnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak sulit meminta izin pada Rossy maupun Oma, dengan alasan mau bertemu April lagi mereka langsung mengiyakan dengan syarat harus hati - hati. Langkahnya cepat menuju gerbang peruamahan, semakin cepat selesai maka semakin cepat ia bisa pergi dari rumah itu. Areta menghela napasnya tatkala melihat mobil Rivandra yang telah terparkir di depan gerbang perumahan


...“Hei” sapa Rivandra ramah pada Areta yang masuk ke dalam mobilnya, wajahnya berseri, berbanding terbalik dengan wajah Areta yang ditekuk...


...“Udah makan?” Tanya Rivandra lagi...


...“Kak, aku mau.. “...


...“Bentar, ada telepon masuk” ucap Rivandra, setelah itu ia sibuk berbincang di ponselnya menggunakan earphone sambil mengemudi, sesekali Rivandra menoleh pada Areta yang kelihatan sudah tak sabar...


Areta menghela napasnya, kakinya ia goyang - goyangkan, sudah sekian lama tapi Rivandra masih saja berbincang dengan bawahannya sepertinya, karena dari yang Areta dengar pria itu beberapa kali menyuruh ini dan itu, tak lama mobil Rivandra berhenti, tapi dari yang Areta lihat sepertinya toko perhiasan mewah, Areta tak ambil pusing.. mungkin ada cafe di dalamnya, pikirnya.


...“Yuk” ucap Rivandra lembut, Areta mengangguk pelan lantas ikut turun...


Tak seperti yang Areta duga, begitu masuk jelas tak ada cafe di dalamnya, sepertinya itu adalah toko perhiasan untuk kalangan tertentu saja, entah untuk apa Rivandra mengajaknya kesana, yang pasti para pramuniaga menyambutnya dengan sangat ramah, tahu betul jika Rivandra adalah orang kaya hanya karena melihat tampilannya.


...“Sayang, sini!” Seru Rivandra pada Areta yang mematung di ambang pintu masuk, “itu istri saya” ucapnya bangga pada pramuniaga di depannya, Areta melongo, entah apa lagi rencana pria dingin itu. Tak ingin memperpanjang masalah, Areta mendekat...


...“Mana yang bagus menurut kamu?” Tanya Rivandra menunjuk jejeran kalung dengan berbagai bandul di depannya, Areta asal tunjuk saja, tak ingin berlama - lama....


...“Pilihan kamu bagus sayang” ucap Rivandra senang, tak lama pramuniaga itu mengeluarkan kalung yang dimaksud dan memberikannya pada Rivandra...


...“Sini aku pakein” ucap Rivandra lagi, tangannya sigap memakaikan kalung itu di leher Areta...


...“Eh Kak, apa - apaan ini?” Tanya Areta tak suka...


...“Pas kita nikah dulu mas kawinnya kan cuma cincin turun menurun dari Oma yang ga mungkin kamu pake juga, kalung ini mas kawin buat kamu, nanti saya akan kasih kamu cincin nikah ketika kamu sudah bebas memakainya” ucap Rivandra...


Areta bingung, ini tak sesuai dugaannya


...“Kak, ini ga perlu!” Ucapnya sambil berusaha membuka kalungnya, Rivandra sigap meraih tangan Areta lalu menciumnya “cup”, wajah Areta semerah tomat sekarang, karena semua orang memperhatikan mereka, senang melihat afeksi pasangan serasi...


...“Kamu masih marah ya karena saya kurang perhatian sama kamu?” Tanya Rivandra, memanfaatkan momen Areta yang masih terbengong, dan banyaknya orang yang memperhatikan mereka, Rivandra memeluknya, ia tahu betul Areta tak mungkin berontak dan mempermalukan dirinya sendiri...


Blush..

__ADS_1


Entah sudah bagaimana wajah Areta sekarang, antara kaget dan marah campur aduk.


...“Maaf, saya akan tebus semua kesalahan saya” ucapnya pada Areta...


...“Jangan macem - macem kamu Kak, lepas” bisik Areta...


Rivandra mengurai pelukannya, senyumnya mengembang, senang. Setelah mengurus pembayaran, Rivandra menggandeng mesra Areta, mengantarkannya hingga duduk manis di kursi mobilnya, setelah itu ia menutup pintu mobil sepelan mungkin, Rivandra sendiri tak juga masuk ke dalam mobil, sibuk berbincang di ponselnya dan tak berhenti sampai ia masuk ke mobil kembali dan kemudian mengemudi, entah akan dibawa kemana Areta sekarang, yang pasti tidak ada kesempatan buat Areta untuk menyampaikan niatnya


Rivandra memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua


...“Turun yuk, kita ngobrol di dalam” ucap Rivandra...


Areta menghela kasar napasnya, ia sebenarnya sudah jengah, tapi ini sudah setengah jalan ia tak mungkin mundur sekarang


Senyum Rivandra lebar selebar ia membuka pintu rumah itu


...“Ini rumah kita” ucap Rivandra, senyumnya awet terlihat sekali bahagianya...


Kejutan kedua ini semakin membuat Areta melongo tak percaya, jika ini mimpi ia ingin segera terbangun, karena buatnya ini mimpi buruk, tak mungkin juga pria dingin itu sampai memberikan rumah padanya


...“Dah lah, aku pulang aja Kak” ucap Areta kesal, jelas tak mungkin ia melanjutkan rencananya hari ini, ia melangkah tergesa sampai tangan Rivandra meraihnya...


...“Saya baru beli rumah ini tadi pagi, buat kamu, masa kamu liat isinya aja ga mau? Eh kamu pasti suka deh sama ruangan lantai dua, lihat dulu sebentar ya” bujuk Rivandra...


...“Kak udah lah” Sengit Areta ia tak ingin masuk ke dalam permainan Rivandra lagi, ia tetap kukuh melaju ke pintu keluar, tapi Rivandra tak pantang menyerah, ia kembali meraih tangan Areta...


...“Areta, sebentar aja” Rivandra tak mau kalah...


Beradu keras dengan pria ini jelas hanya akan membuat kebersamaan mereka bertambah panjang, harapan Areta semoga masih ada kesempatan untuk menyampaikan keinginannya pada Rivandra.


...“Ga lama - lama kan? Ada orang lain yang bisa nemenin kita ga? Takutnya jadi fitnah” cerocos Areta, lupa mungkin kalau mereka suami istri...


...“Kita suami istri Areta, ya ampun” sahut Rivandra...


...”Oke Kak kebetulan, kalau gitu aku mau..”...


Rivandra tersenyum puas saat Areta akhirnya pasrah mengikutinya.


...“Ini kamar kita” ucap Rivandra begitu pintu kamar bercat warna putih terbuka, “brak” suara pintu yang menabrak dinding belakangnya itu sama mengagetkannya dengan apa yang baru saja Rivandra sampaikan...


...“Kamar kita?” Gumam Areta pelan, masih terasa mimpi, tak mungkin buatnya...


...“Suka?” Tanya Rivandra, “trek” ia menghidupkan saklar lampunya, memperjelas keindahan kamar, sudah lengkap dengan furnitur yang berwarna senada...


Dulu sekali Areta pernah memimpikan punya rumah dengan kamar yang ia bisa tata sendiri sesuai keinginan hatinya, tak perlu rumah mewah atau di perumahan bergengsi, rumah sangat biasa pun tak apa yang penting ia bisa bebas bangun tidur kapan saja tanpa khawatir dimaki oleh Tante Susan karena kesiangan, makan kapan saja tanpa harus minta izin dulu dengan menu sesuka hatinya, sesederhana itu impiannya.


Rivandra mendekati Areta yang berdiri tak bergeming, hendak menyentuh tapi ia ragu, wanita cantik itu seperti siap meledak kapan pun jika ia salah sedikit saja.


...“Areta, kamu suka ga?” Tanya Rivandra, wanita itu menoleh dengan wajah sendu...


...“Bisa ga kalau Kak Rivandra ga berbuat aneh - aneh begini? Ini beban buatku Kak” ucap Areta lirih...


Rivandra tersenyum, tangannya terulur hendak membelai rambut Areta, tapi Areta refleks menghindar


...“Apa salah kalau seorang suami memberikan rumah buat istrinya? saya sudah membelikan rumah juga buat Mauren sesuai seleranya, tapi saya ga tau selera kamu, jadi saya cuma menduga - duga, semoga kamu suka” tutur Rivandra...


...“Kak, tujuanku ngajak Kakak ketemu bukan untuk itu, ada yang harus aku omongin Kak, tolong dengerin dulu” pinta Areta...


...“Bentar - bentar, ada satu ruangan lagi yang belum kamu lihat, ayo ikut” ucap Rivandra, tanpa menggandeng Areta.. tapi kali ini ia mendorong pelan punggung Areta mengarahkan menuju ruangan sebelah...


...“Trek”, begitu lampu di ruangan itu menyala Areta tak melihat apa - apa selain ruangan yang masih kosong melompong...


...“Ini kamar buat anak kita nanti” ucap Rivandra...


Deg…


Sebagai seorang istri dan calon Ibu pasti Areta ingin menikmati ini, saat dimana ia mempersiapkan keperluan anaknya bersama sang suami, tapi nasibnya tak seberuntung itu, statusnya memang istri dan Ibu, tapi suaminya bukan miliknya, dan tak akan pernah jadi miliknya. Ia hanya diperlakukan istimewa ketika Rivandra sedang membutuhkan dan menginginkan Areta, sedangkan hati dan pengakuan Rivandra hanya milik Mauren seorang.

__ADS_1


...“Kalau anaknya laki - laki nanti kamarnya bisa di cat warna biru, kalau perempuan di cat merah jambu aja gimana?” Rivandra tak berhenti menebar madunya, manis dan memabukkan, jika saja Areta tak mendengar omongan Mauren tempo hari sudah tentu ia akan terjerat pada mimpi yang Rivandra tawarkan...


...“Kita pulang aja” ucap Areta, ia menyerah.. rencananya tak akan mungkin terlaksana hari ini...


...“Kenapa pulang?” Protes Rivandra...


...“Karena aku mau pulang Kak!” Sentak Areta menutupi kesedihannya, bohong kalau ia bilang tak senang dan terharu dengan semua kejutan yang Rivandra berikan untuknya hari ini, tapi ia tahu itu hanyalah harapan palsu, sekedar mimpi semu berdurasi pendek...


...“Ya udah kalau kamu maunya begitu” ucap Rivandra lembut, tatapannya menyejukkan. Tak ingin terhanyut Areta memilih untuk mendahului Rivandra keluar dari rumah itu, rumah yang Rivandra sebut sebagai rumah mereka berdua....


Sepanjang perjalanan Areta tak berani membuka mulut, ia tahu rencananya tak akan mungkin terlaksana malam itu


...“Ini kunci rumahnya, masing - masing kita megang satu, kamu simpan baik - baik ya” tutur Rivandra sambil menggenggamkan kunci rumah dengan gantungan berbentuk hati di tangan Areta, Areta memandangi kunci itu sebentar, ia ingin sekali percaya bahwa Rivandra memang sedang berperan sebagai suaminya sekarang, tapi omongan Mauren tempo hari menjadi alarm buatnya untuk tahu diri....


Areta sigap mengembalikan kuncinya pada Rivandra, meletakkannya begitu saja di dashboard mobil


...“Ga perlu” tutur Areta...


...“Ambil Areta, sebentar lagi perut kamu akan membuncit, ga mungkin kamu tinggal di rumah saya terus, lama kelamaan semua orang akan curiga dengan perubahan bentuk badan kamu” ...


Omongan Rivandra barusan bagai angin segar untuk Areta, ini saatnya ia mengutarakan keinginannya


...“Itu makanya Kak, ayo kita cerai sebelum perutku membesar, aku janji Kak aku akan hilang dari hidup Kakak, Kak Rivandra bisa ngelanjutin hidup sama Kak Mauren” tutur Areta penuh harap...


...“Dan kamu ngelanjutin hidup sama Fabian atau sama laki - laki lain gitu?” Sinis Rivandra, mata yang tadinya penuh kelembutan itu berubah dingin lagi...


Areta terhenyak kaget, bagaimana Rivandra bisa berpikir kesana? Tapi ya sudah lah, ia tak mau tahu, yang penting buatnya sekarang adalah kata cerai dari Rivandra


...“Iya Kak, biar kita bisa sama- sama ngelanjutin hidup” ...


Rivandra yang mulai terbakar amarah menepikan mobilnya tanpa aba - aba, membuat mobil di belakangnya menghujani suara klakson yang nyaring dan panjang, kaget dan marah sepertinya.


...“Kamu gila Areta? Bagaimana kamu bisa berpikir untuk membawa anak saya dan hidup dengan laki - laki lain?” Sentak Rivandra, kali ini terlihat sekali emosinya. Tapi Areta tak pantang mundur, ia tak akan menyerah sampai Rivandra menjatuhkan talaknya, kunci kebebasannya...


...“Kak, nanti Kak Mauren bisa hamil, kalian akan punya keluarga yang sempurna, pernikahan kita ini hanya akan menyakiti banyak orang Kak, terutama Kak Mauren, dia wanita yang baik Kak, aku ga tega sama Kak Mauren” tutur Areta, ia berusaha keras untuk meyakinkan Rivandra...


...“Tapi kamu tega sama anak yang kamu kandung Areta? Apa kamu tega membiarkannya tanpa sosok seorang Ayah? Apa kamu pengen nasibnya seperti kamu Areta?” Tanya Rivandra, tatapannya menghujam hati Areta yang saat ini mencelos ...


Ada betulnya omongan Rivandra, apa salah anaknya sampai ia kehilangan hak untuk tahu siapa Ayah kandungnya, apakah anaknya harus bernasib sama sepertinya? Areta berperang dengan batinnya sendiri


...“Kamu pikir saya ga tersiksa dengan kondisi ini Areta? Saya juga berkorban perasaan, saya juga merasa bersalah pada Mauren, ini bukan keinginan kita Areta, kondisi yang membuat kita terpaksa menjalani ini semua” tutur Rivandra lagi, Areta diam mendengarkan...


...“Saya berusaha untuk menunaikan kewajiban saya sebagai seorang suami buat kamu, saya ingin membahagiakan kamu, membuat kamu menikmati masa kehamilan kamu, agar anak kita sehat dan ga kekurangan apa pun nantinya termasuk status dan kasih sayang” tambah Rivandra lagi...


Areta membatin… Status? Hal yang tak pernah Areta miliki seumur hidupnya, ia tak memiliki status yang jelas sebagai seorang anak, ia pun hanya berstatus istri gelap, hidupnya abu - abu, semua serba tak jelas. Apa ia akan tega membiarkan anaknya bernasib sepertinya?


Tapi hidup sebagai istri gelap Rivandra pun terlalu menyakitkan, ia awalnya membenci pria itu, lalu pria itu membuatnya nyaman dengan memberikannya perhatian, memperlakukannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya dan membuatnya jatuh cinta, tapi itu hanya sekejap karena pria itu menyadarkannya kembali bahwa hati Rivandra hanya milik Mauren seorang.


...“Areta, biarkan semuanya mengalir seperti apa adanya, paling tidak lakukan demi anak kita” bukan hanya berucap, Rivandra kini mengelus perut Areta, membuat badan Areta seketika meremang, entah kapan tangan itu mendarat disana...


...“Ya?” Tanya Rivandra lagi, ia mencodongkan badannya, membuat wajahnya semakin mendekati Areta, Areta refleks memalingkan mukanya, tak ingin terjebak pada situasi yang sama...


...“Tring” suara kunci yang diraih oleh Rivandra dari dashboard beradu dengan gantungannya...


...“Ambil ini Areta, pertimbangkan lagi! ini pernikahan yang suci, anak kita ga bersalah dalam hal ini jadi jangan jadikan dia korban” tutur Rivandra lagi, kali ini ia langsung memasukkan kunci itu ke dalam tas Areta, tak ingin menerima penolakan lagi...


Merasa Areta tak bereaksi apa pun, Rivandra tersenyum, ia tahu Areta sedang mempertimbangkan semua omongannya, jujur saja ia ingin sekali mencium bibir manis dan memeluk wanita itu, tapi ia tahu Areta pasti menolaknya.


...“Kita pulang ya” ucapnya, tak bisa menyentuh tubuhnya, Rivandra mengacak pucuk kepala Areta yang wajahnya masih berpaling darinya...


Jika tadinya Areta berapi - api hendak menuntut cerai, kini ia sedikit ragu karena mempertimbangkan anak dalam kandungannya.


Namun keputusannya bulat kembali saat malam harinya ia melihat Mauren yang tengah bercengkrama dengan Rivandra dan kedua orang tuanya, bagaimana ia bisa tega menghancurkan hati Om Julian dan Tante Anna, terutama Mauren dengan mempertahankan rumah tangganya bersama Rivandra.


Areta duduk melantai di kamarnya, kakinya ia selonjorkan, sementara tangannya mengelus - elus perutnya


...“Mama harus gimana nak?” gumamnya lirih, “Mama ga mau kamu hidup terhina seperti Mama karena ga tau siapa ayah kandung kamu sendiri, tapi… “ ucapannya terputus, terjeda dengan isak tangisnya....

__ADS_1


__ADS_2