
...“Kak, pulang sana, Kak Mauren pasti udah nungguin” tutur Areta pada Rivandra yang duduk di sebelahnya, pria itu benar - benar tak meninggalkannya, semua kegiatannya dilakukan di kamar Areta, parahnya Areta juga tak dibiarkan bergerak sedikit pun selain untuk mandi dan sholat, makan pun ia harus di kasur, benar - benar menyiksa...
Rivandra merengut sambil memajukan bibirnya, tangannya terulur memegang perut Areta
...“Yaaahhh, Papa diusir Nak” rajuk Rivandra sambil mengelus - elus perut Areta...
...“Bukan ngusir Nak, tapi Papa kamu belum pulang - pulang ke rumahnya, udah terlalu lama bertamu disini” tutur Areta sambil memandangi perutnya tak mau kalah ...
^^^“Ya ampun padahal rumah Papa disini, sama kamu, sama Mama” ucap Rivandra^^^
...“Dih, maunya” gumam Areta bersungut - sungut, Rivandra nyengir kuda saja saat Areta manyun padanya ...
...“Ayolah Kak, kapan kamu pulang? Nanti di rumah bisa heboh kalau Kakak ga pulang - pulang” sewot Areta, mulai kesal...
...“Jangan ngusir suami kamu depan anak kita dong Areta, ga bagus” protes Rivandra...
...“Terus aku harus nutupin perutku dulu gitu supaya bayi aku ga denger aku ngusir Kakak?” Tanya Areta...
...“Ya jangan diusir” tandas Rivandra...
Areta berkacak pinggang
...“Terus kapan Kakak pulangnya kalau ga diusir?” Tohok Areta...
Rivandra tersenyum, sejujurnya ia enggan pulang, ia tiba - tiba merasa dunianya sudah sangat sempurna sekarang, niatnya untuk memenuhi tanggung jawab berbuah rasa ketergantungan untuk dekat dengan Areta dan anaknya, inginnya ia tinggal saja disana selamanya.
Tapi Mauren, mengingat Mauren wajahnya berubah bingung, ia pun tak bisa serta merta meninggalkannya, masih ada cinta yang bertengger diantara mereka, ada buku nikah, ada dua keluarga besar. Ya, Rivandra memang pengecut, serakah, bajingan, atau nama jelek apa pun boleh disematkan padanya, ia pun tak sengaja memilih untuk berada dalam situasi seperti ini, dua istri dan satu suami bukanlah hal yang mudah untuknya, tapi melepas salah satunya jauh lebih susah.
...“Kak, pulang lah, jangan bikin masalah baru!” Pengusiran Areta membuyarkan lamunannya, ...
...“Lantas kamu gimana Areta? saya ga mungkin ninggalin kamu dalam kondisi gini, Kak Rossy juga lagi ga bisa kesini karena harus nemenin Oma check up rutin” ucap Rivandra enggan...
...“Aku udah biasa ngurus diri aku sendiri, udah sana pulang” kukuh Areta...
Rivandra terdiam, ia ragu meninggalkan Areta yang nyaris saja keguguran, tapi kalau tidak segera pulang sudah bisa dipastikan masalah baru akan muncul
Areta mengamati wajah Rivandra yang tampak ragu, sepertinya pria itu berat meninggalkannya karena merasa masih harus bertanggung jawab merawat Areta sampai Areta sembuh
...“Kak, udah ga apa - apa, pulang aja! Kak Rivandra udah menunaikan tanggung jawab dengan baik, aku sangat berterima kasih, sekarang lebih baik Kakak pulang, istri dan keluarga Kak Rivandra pasti udah nungguin di rumah” tutur Areta meyakinkan...
Apa yang diucapkan Areta memang betul, ia ada disitu sebagai bentuk pertanggung jawabannya, tapi apa Areta tak melihat ada cinta juga disana? Ada keinginan tuk selalu bersama? Batin Rivandra
...“Ya udah, saya pergi dulu kalau begitu” sahut Rivandra, buatnya kembali ke rumah itu adalah pergi, karena tempatnya pulang adalah rumah dimana ada Areta dan anaknya...
...****************...
Rivandra membunyikan klakson mobilnya beberapa kali meminta agar satpam membukakan gerbang rumah, seorang satpam tergupuh membukakan gerbang sambil mengangguk hormat pada Rivandra
...“Selamat siang Tuan Rivan, anda sudah pulang?” Tanya seorang satpam dengan ramah ketika Rivandra membuka kaca mobilnya...
...“Selamat siang, hari ini ga ada yang keluar rumah ya?” Tanya Rivandra begitu melihat mobil berjejer lengkap ...
Satpam tersebut mengikuti arah pandangan mata Rivandra
__ADS_1
...“Tidak ada Tuan, semuanya masih ada di dalam rumah” jawab satpam tersebut...
Rivandra menghela napasnya, entah kehebohan apa yang akan terjadi di rumah sebentar lagi mengingat semua anggota keluarganya lengkap berkumpul di rumah. Rivandra menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan, bersiap dengan sejuta pertanyaan yang mungkin akan diajukan keluarganya terutama Mauren. Dan benar saja, saat Rivandra menginjakkan kakinya ke dalam rumah, tatapan horor menghujaninya
...“Kamu darimana aja Rivan?” Serang Mauren yang langsung bangkit dari duduknya begitu melihat Rivandra masuk...
...“Dari rumah sakit” sahut Rivandra sambil mendudukkan dirinya di sofa...
...“Bohong, kamu bohong!” Sengit Mauren sambil menunjuk - nunjuk wajah Rivandra, Anna yang melihat adegan itu segera menghampiri Mauren, mengusap ngusap punggungnya agar tenang, sementara Julian hanya duduk diam, tak ingin ikut campur...
...“Mauren, saya baru pulang, capek banget” sahut Rivandra sambil memijit kepalanya, ia memang nyaris tak dapat memejamkan mata, hampir setiap saat ia memeriksa kondisi Areta. Tapi Mauren tak mau tahu, ia memburu duduk di samping Rivandra, mencari - cari kebenaran di wajah Rivandra...
...“Kamu habis darimana Rivan? Jawab!” Sengit Mauren lagi...
...“Saya dari rumah sakit Mauren, ada pasien yang harus ditangani” jawab Rivandra lagi...
Mauren meradang, dadanya kembang kempis
...“Kamu bohong Rivandra! Aku kemarin dari rumah sakit, dan kamu tau apa yang asisten kamu bilang? Dia bilang kamu ga pernah ada jadwal operasi tengah malam, semuanya dilakukan oleh dokter bedah lain atas perintah kamu, kamu darimana Rivandra, darimana?!” Sentak Mauren...
...“Mauren, sabar dulu, Rivandra baru pulang” gumam Anna ...
...“Kamu meriksa saya di rumah sakit Mauren?” Tanya Rivandra, tak percaya apa yang ia dengar...
...“Iya, aku meriksa kamu ke rumah sakit, dan ternyata kamu ga ada disana dua malam ini, jawab Rivan dengan perempuan ****** mana kamu tidur dua malam ini, hah?” Sentak Mauren lagi...
...“Mauren, cukup!” Sentak Rivandra sambil bangkit berdiri dengan mata memerah, tuduhan Mauren sudah keterlaluan buatnya, ia memang bersama perempuan lain dan itu adalah Areta, mereka pun tak tidur bersama, Rivandra disana untuk merawat Areta...
Baik Mauren maupun Anna terkesiap melihat kilat kemarahan di mata Rivandra, sementara Julian menggeleng - gelengkan kepalanya, mulai terusik dengan drama di depannya
Mauren tergugu, matanya berkaca - kaca hendak menangis, sedangkan Anna mendudukkan diri dengan kesal, ia pun tak suka dengan tuduhan Mauren pada Rivandra, ternyata seperti itulah Mauren jika marah
...“Saya seorang dokter Mauren, pasien saya tidak selalu di rumah sakit, urusan saya juga bukan hanya di rumah sakit itu, saya harus siap kapan pun dan dimana pun pasien membutuhkan saya” tutur Rivandra, suaranya tak setinggi tadi tapi penuh penekanan...
...“Dan masalah ga pulang ke rumah, bukan saya satu - satunya yang ga pulang ke rumah karena pekerjaan, bukannya kamujauh lebih sering nginap di tempat syuting?” Tohok Rivandra, keluar semua unek - uneknya selama ini...
Mauren terdiam, sementara Anna berbalik kesal pada Mauren, omongan Rivandra memang betul adanya, selama ini Mauren lah yang lebih sering tidak pulang ke rumah karena urusan pekerjaan, dan Rivandra menerimanya dengan lapang dada, ia tak pernah sekali pun menuduh Mauren macam - macam.
...“Rivan, sana masuk kamar, istirahat!” Ucap Rossy yang baru saja datang, ia mengerti betul bagaimana lelahnya Rivandra setelah dua hari full merawat Areta ...
...“Iya Kak, saya permisi istirahat dulu semuanya, maaf sudah membuat keributan” tutur Rivandra lalu bangkit dari duduknya tanpa mempedulikan Mauren yang kini duduk tergugu...
Rossy menghela napasnya
...“Lain kali tanya dulu baik - baik Mauren, tunggu sampai suami kamu hilang capek ya, jangan main asal tuduh gitu aja!” Tutur Rossy, lalu beranjak lagi dari situ ...
...“Bukannya nanya suami baik - baik dulu” gumam Anna pelan sambil bangkit berdiri menyusul suaminya yang melangkah menuju kamar...
Mauren semakin meradang, ia merasa tak ada satu pun orang di rumah itu yang mendukungnya, padahal jelas - jelas Rivandra salah karena selama dua hari ini menghilang begitu saja.
...“Aaaarrggghhhhhh” teriak Mauren frustasi sambil melempar bantal sofa di dekatnya...
...***************...
__ADS_1
Merasa tak ada satu pun di rumah Rivandra yang mendukungnya, Mauren memilih untuk mencurahkan semua keluh kesah pada orang tuanya, dan mendengar curahan hati anaknya, tanpa diminta Dani dan Susan datang ke rumah besannya
...“Ini ada apa ya Jeng? Kok mendadak datang kesini?” Tanya Anna pada Susan yang kini duduk di depannya dengan wajah tak senang, sementara Dani dan Julian hanya bersalaman hangat setelah itu mereka sama - sama duduk diam...
...“Maaf ya Jeng, tadi saya denger dari Mauren kalau Nak Rivandra dua hari kemarin tidak pulang tanpa kabar, apa betul?” Tanya Susan menyelidik, Anna sampai membelalakkan matanya, tak menyangka berita seperti itu akan sampai di telinga orang tua Mauren...
...“Jadi Mauren cerita Jeng?” Tanya Anna, keningnya berkerut, jelas tak senang sang besan sampai ikut campur...
...Susan menghindari pandangan mata Anna yang menghujam, ia lalu berdehem memecah kegugupannya...
...“Wajar saja jika Mauren sampai cerita, di rumah ini ia seperti tak punya siapa - siapa, tak ada yang membelanya bahkan ketika suaminya berbuat salah” sinis Susan...
...“Rivandra memang ga pulang Jeng, tapi itu karena dia merawat pasien, selama dia menikah baru kali pertama dia tidur diluar rumah karena pekerjaannya, saya rasa Mauren harusnya mengerti karena Mauren lebih sering tidur diluar rumah dengan alasan syutingnya” sengit Anna, bagaimana pun ia tak rela jika anaknya disudutkan begitu saja...
Susan terkesiap, mulutnya membuka hendak berucap lalu menutup kembali karena bingung menyanggah omongan Anna
...“Lagian urusan anak kok ikut campur segala” seloroh Oma tiba - tiba, Oma yang baru saja datang bersama Rossy memandang tak suka pada Susan...
...“Maaf Oma, bukannya saya mau ikut campur, tapi di rumah ini ga ada yang peduli pada perasaan Mauren” sahut Susan...
Anna mendengus kesal
...“Yang ga peduli sama Mauren itu siapa Jeng? Kami semua disini justru selalu memprioritaskan perasaan Mauren, kami ga pernah mempermasalahkan Mauren yang terkadang pulang pagi, atau sama sekali ga pulang karena syuting tanpa mempedulikan kebutuhan suaminya” tutur Anna mulai tersulut...
...“Kalau peduli ya harusnya Rivandra itu ditegur, jangan seenaknya gitu” tambah Susan tak mau kalah...
Anna hendak meledak, kalau menegur jelas Mauren dulu yang harus ditegur, dia yang paling sering melalaikan kewajibannya
...“Kalau Rivandra ditegur karena melakukan sekali kesalahan, lantas berapa kali kami harus menegur Mauren karena sikap dia yang seenaknya sendiri, pulang dan pergi tak tahu waktu sampai melalaikan kewajibannya?” Sinis Oma, kali ini Anna setuju pada Omongan Oma...
Baru saja Mauren turun dari kamarnya ketika mendengar omongan pedas Oma, ia yang awalnya percaya diri karena merasa mendapat pembelaan orang tuanya kini mengkerut, wajahnya tertunduk ketika ia duduk di sebelah Ibunya tak berani menatap siapa pun
...“Saya permisi” ucap Julian, ia lebih memilih untuk undur diri dari situ untuk menemui Rivandra, ada yang harus anaknya itu jelaskan, mata Dani mengekori punggung Julian yang semakin menjauh, rasa tak nyaman mulai menghinggapinya, tak seharusnya mereka langsung menyeruduk masuk dan mencampuri urusan pernikahan anak mereka yang baru seumur jagung...
...“Besan, saya dan istri minta maaf, kami sudah lancang datang dan ikut campur urusan anak - anak, harusnya kami menasihati anak kami dulu sebelum mengkoreksi menantu, sekali lagi kami minta maaf” tutur Dani bijak, membuat perselisihan dengan keluarga itu jelas akan merugikannya, tak menutup kemungkinan jika huru hara memuncak maka Julian akan menarik semua investasi di perusahaan yang kini dipimpin Fabian...
Mengerti kondisi dan kode yang diberikan suaminya, Susan yang tadinya garang berubah cengengesan
...“Duh maaf ya Jeng, maaf sekali, tadi saya terbawa emosi, Jeng juga pasti paham bagaimana perasaan seorang Ibu kan?” Tutur Susan sambil menggenggam tangan Anna...
Anna hanya tersenyum tipis, ia jelas masih merasa kesal, tiba - tiba di datangi dengan maksud untuk menyudutkan anaknya, Ibu yang mana yang akan terima?
...“Kalau gitu kami permisi dulu ya besan, sekalian kami bawa dulu Mauren untuk kami nasehati, agar hal - hal seperti ini tidak terjadi lagi” tutur Dani, ia lalu bangkit disusul oleh Susan dan Mauren, setelah berpamitan pada semua yang ada disitu ketiganya kemudian beranjak meninggalkan rumah Rivandra dengan tergesa...
...“Besan ga tau diri” sinis Oma, masih memendam marah...
...“Oma udah, inget Oma ga boleh stress” tutur Rossy menenangkan Omanya...
Anna memindai sekelilingnya, ia tak menyadari jika Julian sudah tak ada disana
...“Brak” suara meja yang digebrak kuat terdengar membahana, Anna, Oma, dan Rossy terhenyak kaget, siapa yang tengah meradang sekarang?...
...“Apa kamu sudah ga waras Rivandra?” Suara Julian yang sedang murka terdengar nyaring dan menyeramkan, ketiganya saling pandang, apa yang telah dilakukan oleh Rivandra?...
__ADS_1
(Bersambung)
.