Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Lamaran Dave Untuk Mauren


__ADS_3

...“Kamu hebat” puji Rivandra pada istrinya begitu sampai di Jogja, ia yang kemarin terkonsentrasi di meja operasi baru mengetahui soal drama Mauren dan pembalasan dari Areta begitu ia selesai melaksanakan tugasnya, sekitar dini hari sebelum ia pulang ke Jogja...


...“Heemm.. Kak Rivan telat sekali pulangnya, aku telepon dan chat juga ga diangkat” sahut Areta bermanja - manja di dada suaminya...


...“Ada enam orang korban kecelakaan, semua dalam kondisi parah, semua dokter bedah di kerahkan karena kondisi pasien kritis semua, maaf saya ga ada pada saat kamu memerlukan saya” pria itu mengecup sayang kepala istrinya, menyesal tak hadir pada saat Areta memerlukannya...


...Jari telunjuk Areta menempel di bibir Rivandra “Ssssttt.. ga apa - apa Kak, Kak Rivan jauh lebih diperlukan disana karena menyangkut nyawa orang, yang penting masalahnya udah selesai” Areta semakin menenggelamkan kepalanya di dada Rivandra, lelah dan marahnya terbayar sudah...


...“Saya merasa bangga tapi juga sedih tadi” tutur Rivandra, senyum lalu berganti menipiskan bibirnya...


...“Aku ngerti bagian bangganya, tapi harus sedih kenapa?” Areta mendongak penasran melihat wajah Rivandra ...


Pria tampan itu menatap lurus ke depan dengan senyuman


...“Saya bangga karena seisi rumah sakit memuji kamu, tapi saya sedih karena yang disamping kamu saat konferensi pers itu bukan saya, melainkan Fabian, pria yang saya tau menyimpan hati sama kamu”...


Areta tersenyum simpul, tangannya menangkup rahang tegas Rivandra


...”cemburu?”...


Rivandra memalingkan muka, menghembuskan gusar napasnya, Areta yang merasakan gelagat tak nyaman suaminya bergerak cepat meraih tangannya, menggenggamnya erat - erat


...”Kak Fabian cuma masa laluku Kak, aku minta tolong karena Mauren itu adiknya, dan Kak Fabian yang pertama kali ngasih bukti”...


Rivandra melepas genggaman Areta


...”Sudah dua kali dia jadi pahlawan dalam hidup kamu” ...


Areta gemas, meraih dagu suaminya agar melihatnya


...”Lantas Kak Rivan sudah berapa kali? Dulu Kak Rivan mempertaruhkan nyawa melepaskan aku dari begal yang mau memperkosaku nyampe Kak Rivan hampir ketembak, aku ga perlu nyebutin jasa Kak Rivan yang lain kan?”...


Rivandra tersenyum manis, Areta selalu saja bisa membuatnya berharga, pria itu merengkuh istrinya, damai memeluknya


...”Saya kaget liat kamu berani muncul depan wartawan, terima kasih” ...


...“Untuk?” Tanya Areta...


...“Udah menyelamatkan nama keluarga” ucap Rivandra, rasanya terima kasih saja tak cukup untuk mengungkapkan kalau dirinya sangat bersyukur mendapatkan Areta sebagai istrinya, wanita yang rela melakukan apa saja demi keluarganya...


...“Sudah tugasku kan? Mauren salah pilih musuh, aku dulu ga melawan saat mereka terus - terusan menjadikanku budak, menindasku karena aku ga punya tempat buat pergi, sekarang aku ga akan tinggal diam kalau Mauren macem - macem apalagi kalau itu menyangkut Kak Rivan dan Lily”...


Rivandra ceria membenar - benarkan anak rambut Areta, setelah itu jarinya merambat membelai pipi istrinya


...”istri pemberani” pujinya, “dua minggu lagi kita adakan resepsi ya, temen - temen di rumah sakit udah pada nanyain kapan ada pesta pernikahan kita” ...


...”harus ada resepsi ya Kak? Dan.. dua minggu lagi? Apa ga terlalu cepat?”...


...“Sudah terlambat malah yang, harusnya dari dulu” sahut Rivandra ...


Areta berubah lesu, ia rasanya belum siap menemui teman - teman Rivandra atau relasi Julian dan Anna, ia jelas gugup dan takut, khawatir mendengar omongan kalau Areta tak sepadan dengan Rivandra, atau nanti akan ada yang mempertanyakan siapa orang tuanya atau dimana keluarganya saat ia harus berdiri tanpa pendampingan keluarganya di kursi pelaminan


...“Mikirin apa?” Tanya Rivandra dengan tatapan menyelidik...


...“Mikirin mungkin aku jadi bahan omongan saat resepsi nanti, karena aku berdiri tanpa keluarga pendamping” jawab Areta lirih...


...“Apa kamu pikir saya ga berpikir sampai sana Areta?” Rivandra mendekap Areta lagi, kadar cintanya bertambah berkali lipat pada wanitanya itu, Areta ibarat oase di tengah padang pasir buatnya, keberadaannya menyenangkan dan menenangkan, “Saya sudah bicara soal rencana ini pada Kak Rossy dan Pandu saat saya menjenguk Pandu sebelum berangkat kesini, ada orang tuanya Pandu juga disana, dan kamu tau? mereka bilang dengan senang hati akan mendampingi kamu di kursi pelaminan nanti”...


Areta menatap Rivandra tak percaya


...”hah? Gimana mungkin Kak? Emang mereka mau? Kami bahkan ga pernah ketemu”...


...“Mereka jatuh hati saat melihat kamu di tivi, ingin menjadikan kamu sebagai anak perempuan mereka, maklumlah Pandu hanya memiliki seorang adik laki - laki, itu pun masih kuliah di luar negeri”...


Mata Areta berkaca - kaca, senyumnya lebar, dianggap seorang anak oleh seseorang membuat hatinya penuh dan menghangat, artinya ia bisa merasa punya keluarga, meskipun tak bertalian darah


...“Beneran Kak?” ...


...“Iya sayang, siapa yang ga mau punya anak perempuan seperti kamu coba? cantik, cerdas, pemberani” sanjung Rivandra, bibirnya agresif mengecup - ngecup bibir Areta...


...“Apa mereka benar bilang begitu Kak? Kalau mereka ingin menjadikan aku sebagai putri mereka? Aku?” Ulang Areta antusias seolah tak percaya ...


...“Apa saya harus minta mereka mengadopsi kamu?” Goda Rivandra, gemas mencubit sayang pipi Areta...


Areta semakin masuk ke dalam pusaran harapannya

__ADS_1


...“Bisa kah, Kak?” Tanyanya penuh semangat...


...“Saya sudah adopsi kamu duluan jadi teman hidup saya, apa masih kurang kasih sayang dari saya?” Protes Rivandra ...


Areta tergelak


...“Ahahaha.. Bukan begitu, tapi akan lebih menyenangkan saja kalau Lily punya dua nenek dan dua kakek bukan?” ...


...“Saya yakin orang tuanya Pandu ga akan keberatan dipanggil Nenek dan Kakek oleh Lily, juga dipanggil Mama dan Papa sama kamu”...


Mata Areta berbinar


...”Mama? Papa?”...


Anggukan mantap dari Rivandra membuat Areta semakin senang saja


...“Kalau gitu resepsinya minggu depan aja Kak, dua minggu lagi kelamaan”...


...“Ahahaha.. seingat saya tadi ada yang protes ga mau resepsi, kenapa sekarang malah minta dipercepat?”...


...“Heemmm… ayolah Papa, Mamanya Lily pengen cepet - cepet bersanding di pelaminan, berdandan cantik, dapet kado” rayu Areta manja mendudukkan dirinya di pangkuan Rivandra, lalu mengalungkan lengannya di leher kokoh suaminya itu...


...“Mama, bisakah kamu ga merayu menggoda begini? Puasanya masih lama sayang, kenapa senang sekali menyiksa saya?” ...


...“Aku bisa memberikan jalan alternatif Kak, seperti kemarin kalau Kakak mau” mata Areta mengerling menggoda...


...“Ahahaha… kemana perginya Areta yang polos dan lugu dulu?”...


...“Hm.. apa Kak Rivan ga suka?”...


...“Suka” bisik Rivandra seduktif...


...Areta memainkan jarinya di dada Rivandra, “Mau mulai sekarang?” Tanyanya sensual...


...“Saya aja yang mulai!” tandas Rivandra, tangan berototnya dengan gampang mengemban tubuh sintal Areta, membawanya ke tempat peraduan mereka, lalu tak sabaran meremas bagian - bagian menonjol di tubuh Areta, ******* pertama Areta lolos sudah...


...“Boleh dimerahin?” Tanya Rivandra sambil meneguk ludahnya, laki - laki mana yang tak tergoda dengan lekuk tubuh Areta, apalagi dadanya yang semakin membusung semenjak menyusui Lily...


...“B-boleh, tapi jangan…… eh” belum selesai Areta mengucap Rivandra agresif menginvansi leher Areta, mengecupi pelan, lalu berubah liar mendengar lenguhan Areta lagi, bercak kemerahan timbul akibat isapan kuat di leher istrinya itu...


...“Kak, pelan pelan saja.. yang lembut”...


Areta sudah tak kuasa, apalagi ketika tangan hangat Rivandra mulai menyentuh dadanya, tangan wanita itu mencari - cari kancing kemeja Rivandra, lalu membukanya satu persatu, bibirnya profesional membalas pagutan Rivandra, Areta pasrah ketika tangan kuat Rivandra mulai menggerayangi lagi dadanya


...“Jangan keras - keras ya sayang megangnya, nanti bocor” ricau Areta, sekian detik kemudian ia menggigit bibirnya ketika bibir Rivandra mulai menjelajahi dadanya, Areta menyadarkan dirinya yang sedang terlena hampir lupa dengan tugas utamanya...


Areta beringsut duduk, diikuti badan suaminya yang fleksibel memposisikan diri agar tetap bisa bermain di dada Areta


...“Giliranku Kak” desis Areta menggoda, Rivandra mendongak dengan mata yang sayu merayu, senyumnya sexy mempersilahkan Areta untuk menjelajahi dirinya, ia pasrah menjatuhkan punggungnya di tempat tidur, diiringi sentuh lembut Areta di dadanya...


Areta menyampirkan rambut panjangnya ke samping, seolah ingin membalas perbuatan Rivandra tadi padanya, Areta yang duduk di atas Rivandra mulai mengecupi leher suaminya itu


...“Boleh dimerahin?” Tanyanya tepat di telinga suaminya yang tak luput dari sentuhan bibir dan lidahnya, Areta bisa merasakan Rivandra menggeram resah...


...“Sebanyak yang kamu mau” sahut pria itu serak, tak membuang waktu lagi Areta menyunggingkan senyum sebelum mencecapi leher Rivandra dan meninggalkan beberapa jejak kepemilikan disana, puas bermain - main di leher prianya, bibir Areta turun berkelana di dada pria itu, sejenak ia menempelkan telinga mendengar degup jantung Rivandra yang cepat, lalu melanjutkan aksi bibir dan lidahnya, jejak merah tanda cinta Areta lebih banyak ia tinggalkan di dada suaminya, pria itu mendesah lalu melenguh gusar...


Mendapati suaminya yang sudah tak karuan, bibir Areta melorot hingga ke perut sixpack Rivandra, favorit Areta. Lidahnya liar bermain disana, sementara tangannya sibuk membuka gesper, pria itu mengerti mengangkat pinggul agar memudahkan istrinya membuka semua celana yang melekat padanya


...“Areta… ah” ricau Rivandra tak karuan saat Areta mulai melancarkan aksinya dibawah sana...


...****************...


Jika Areta dan Rivandra sedang sibuk memadu kasih mereka, maka Dave sedang merasa masuk ke ambang penderitaannya. Sesuai dengan permintaan Papanya, Dave gerak cepat mendatangi Mauren untuk melamar dengan sangat berat hati, seandainya saja bukan karena Papanya sudah pasti ia tidak akan sudi memperistri Mauren


Ibarat seorang Raja, Dave duduk dengan angkuhnya di sofa, jangankan bertata krama atau sekedar menyunggingkan senyum pada calon mertuanya seperti normalnya seorang pria yang hendak menyunting seorang wanita, Dave justru datang dengan wajah memerah marah, napasnya memburu, tatapannya tajam menusuk


...“Silakan diminum Nak Dave” ucap Susan dengan sungkannya, ia gupuh menyajikan sendiri minuman untuk calon menantunya, penyelamatnya dari rasa malu dan kesulitan keuangan yang sedang melilitnya...


Tak hanya Susan yang bahagia, Dani berbinar saat mengetahui kedatangan Dave bertujuan untuk melamar putrinya


...“Mauren sedang bersiap untuk menemui calon suaminya, maaf agak lama.. maklumlah, dia katanya ingin tampil cantik untuk Nak Dave”...


Dave berdecih


...”Kalian pikir saya punya banyak waktu? cepat panggilkan! ga usah pake dandan dandan segala, saya kesini bukan buat liat mukanya dia!” Sengit Dave...

__ADS_1


Dani menghela napas, gelagatnya Dave sudah tak mengenakan, tapi pernikahan itu harus tetap berlanjut apa pun yang terjadi


...“Cepat panggilkan Mauren Ma!” Titah Dani pada istrinya, wanita yang masih memegang nampan itu mengangguk patuh lalu tergesa beranjak untuk menyusul Mauren...


Dave menunggu dengan tak sabaran, bukan ingin segera bertemu dengan Mauren, tapi agar urusannya segera tuntas, demi apa pun ia enggan berlama - lama di rumah Dani itu


Tak lama, Mauren datang dengan wajah tertunduk, entah karena malu - malu atau memang karena ia tak ingin melihat wajah Dave


...“Duduk Mauren” Titah Dani pada anaknya, Mauren duduk gugup di depan Dave, entah benar atau tidak pendengarannya saat Ibunya bilang kalau Dave datang untuk melamarnya...


Dave menatap benci pada Mauren


...“Saya akan nikahin kamu, pernikahan kita harus dirayakan besar besaran secepatnya” ucapnya tanpa basa basi...


Mauren meneguk salivanya, pipinya berangsur bersemu malu, secercah harap timbul di hatinya bahwa Dave akan menjadi pelipur lara dalam hidupnya yang sudah porak poranda, Mauren pelan mendongak, ingin melihat wajah calon suaminya


Dave menyeringai, lalu tertawa keras


...“Kau pikir saya menikahimu karena saya yang mau Mauren?”...


Mauren tercekat, wajahnya tampak bingung


...“M-Maksudnya?” Tanya Mauren terbata, ia lalu menoleh pada orang tuanya yang kini tertunduk...


...“Papa yang nyuruh saya buat nikahin kamu untuk menepis isu yang berkembang, kamu jangan mimpi kalau saya yang menginginkan pernikahan ini, ngaca kamu, Mauren! Siapa yang mau nikah sama wanita sampah kayak kamu, hah?”...


Deg..


Mauren mematung, tanpa dikomando air matanya mulai menggenang, jadi seperti itu Mauren di mata Dave? Apa Dave lupa kalau dia yang pertama kali mengambil kehormatan Mauren, dan terjadi berulang kali karena Dave mengaku ketagihan, hingga Mauren mengandung anaknya Dave, dan sekarang Dave mengatai dia sampah?


...“Kalau begitu sebaiknya kita ga usah nikah, aku ga mau punya suami yang menganggapku sampah” tandas Mauren...


Dani begitu kagetnya mendengar penolakan Mauren


...”Mauren! Apa maksud kamu, hah? Sudah bagus Nak Dave mau bertanggung jawab untuk menikahi kamu, kamu pikir masih ada laki - laki yang mau sama kamu diluaran sana setelah aib kamu terbongkar?” Panik Dani setengah berbisik pada Mauren yang duduk di sebelahnya...


...“Tapi Pa, dia sudah menghinaku Pa, apa jadinya pernikahan kami kalau dia menganggap istrinya sampah?”...


...“Mauren!” Sentak Dani tak mau dengar...


Dave tersenyum sinis melihat Mauren yang berlinang air mata


...”Kalau kamu ga mau, saya tinggal bilang sama Papa, saya ga rugi sama sekali, justru sebaliknya, jujur saja jangankan untuk bersanding sama kamu, ngeliat kamu aja saja jijik!”...


...“Cukup Dave!” Sentak Mauren sambil berdiri...


...“Duduk kamu Mauren!” Bentak Susan lantang sambil menarik kasar tangan anaknya hingga terduduk, Mauren semakin down saja mengetahui kalau Ibunya pun tak berbelas kasih membelanya, kini ia hanya bisa terduduk lesu menerima nasib buruknya...


Dave tertawa bahagia melihat Mauren yang tergugu tak berdaya, tangannya lalu merogoh kocek jasnya, meraih kotak cincin disana, tanpa sopan santun pria itu melempar kotak cincinnya ke pangkuan Mauren


...”cincin pertunangan, pake sendiri! Harusnya Mama saya yang pakein, tapi jangankan makein cincin ke jari kamu, ngeliat muka kamu aja Mama udah ga mau, kalau bukan karena paksaan Papa, Mama ga sudi punya menantu wanita murahan seperti kamu Mauren!” Tutur Dave sambil bangkit dari duduknya, tatapannya penuh cemooh merendahkan...


Dani membenar - benarkan ekspresinya, berbaik - baik dan beramah tamah pada calon menantunya


...”eh begini Nak Dave, maaf.. ini maaf sekali loh kalau Om nanyain ini, untuk mas kawinnya gimana? Apa sesuai kesepakatan kita tadi?” ...


Dave menatap jijik calon mertuanya itu


...”ahahhaha.. lihatlah Mauren, bahkan Papa kamu sendiri ga masalah ketika saya menginjak - injak kamu depan matanya sendiri, dia lebih tertarik pada uang, menjijikan!” ...


Senyum Dani memudar, Susan duduk tak tenang, sedang Mauren semakin hancur lebur saja perasaannya


...“Tenang saja, setelah akad nikah saya akan langsung kirimkan uangnya, nikmatilah hasil penjualan anak kalian nanti” tutur Dave dengan tatapan merendahkan dan tawa menggelegar, ia lalu beranjak meninggalkan rumah Dani tanpa pamit...


Sepeninggal Dave Mauren terduduk lemas, lantas menangis terisak


...”Papa tega menjualku? Papa membiarkan harga diriku diinjak - injak Pa?” Sengit Mauren...


Dani menatap tajam anaknya


...”Harga diri kata kamu? Harga diri? Harga diri yang mana, hah? Harga diri kamu hancur gara - gara kelakuan kamu sendiri Mauren!” Sentak Dani...


Mauren lalu menjatuhkan pandangannya pada Susan


...”Mama juga sama? Mau menyalahkanku? Mau bilang kalau aku yang salah, iya?” Sengit Mauren pada Ibunya...

__ADS_1


...“Memang kamu yang salah! Kamu yang menghancurkan hidup kamu sendiri! Udah susah susah dapetin Rivandra, dengan begonya kamu nurutin si Adrian buat jadi pemuas nafsunya Dave supaya bisa jadi artis terkenal, apa sepadan gelar artismu itu dengan kehilangan Rivandra dan apa yang terjadi sekarang hah? Sudahlah, jangan banyak protes! Masih untung keluarganya Dave mau bantu perusahaan Papa kamu dari krisis!” Cerorocos Susan...


Mauren sudah tak dapat berkata apa - apa selain tangis yang makin sedu sedan, sudah jelas keputusan orang tuanya, ia kini tinggal menanti detik - detik dirinya masuk ke dalam nerakanya Dave


__ADS_2