
...“Aaaaaaaa” suara teriakan itu membahana, semua pembantu dan anggota keluarga yang di rumah memburu ke arah suara termasuk Areta yang baru saja keluar dari kamar mandi karena morning sicknessnya...
Semua kaget melihat Mauren yang tampak meringis kesakitan, tangannya memerah, sementara kuah sup plus semua bahannya tumpah ruah di bawah kakinya
...“Ya ampun, kamu kenapa Mauren?” Tanya Rossy khawatir...
...“Aku ga sengaja numpahin isi panci Kak” sahutnya, “panas banget” Mauren meringis menahan sakit ...
...“Rose, cepet hubungi Rivandra, suruh pulang sekarang!” Titah Oma, meskipun ia sinis pada Mauren tapi Oma tak tega melihat kondisinya sekarang, Rossy mengangguk patuh, setengah berlari ia menuju ruang tengah untuk mengambil ponselnya...
...“Di dinginin pakai air mengalir dulu ya Kak!” ucap Areta panik sambil membimbing Mauren menuju wastafel, sementara dua orang pembantu sigap mengambil kain pel dan membersihkan tumpahan sup di lantai, merasa sudah teratasi yang lain kembali ke tempat mereka beraktivitas sebelumnya...
Areta menghela napasnya
...“Kak Mauren mau ngapain tadi?” Tanya Areta...
...“Aku mau ngangkat pancinya Areta, eh ternyata pegangannya licin” ucap Mauren sambil meringis saat merasakan kulitnya yang sedang terbakar tersiram air dingin...
...“Kakak harusnya nungguin aku, Kakak kan belum terbiasa masak” ucap Areta bersungut - sungut...
...“Duh kamu ini, Kakak kena musibah malah kamu omelin” rajuk Mauren...
...“Makanya jangan sok tau jadi orang, gini kan akibatnya” sewot Oma, Mauren hanya nyengir kuda...
...“Rivandra sudah di jalan Ren, entar lagi nyampe, sebaiknya kamu sekarang istirahat di kamar, ya?!” Ucap Rose, Mauren mengangguk patuh...
Rossy dan Areta kemudian mengantar Mauren menuju kamarnya, sementara Oma lebih memilih kembali ke ruang tengah. Baru pertama kali Areta masuk ke kamar Rivandra dan Mauren, dada Areta sesak melihat kamar mewah dan luas itu, kamar tempat Mauren dan Rivandra menghabiskan waktu mereka belakangan ini, hatinya sakit, sungguh sakit.
Areta dengan lembut mendudukkan Mauren di tempat tidurnya, sesaat matanya menatap pada foto pernikahan yang tergantung di dinding kamar, mereka terlihat serasi dengan senyum mengembang bahagia, sempurna. Areta tersenyum miris mengenang nasibnya yang jangankan foto pernikahan, buku nikah pun ia tak punya
...“Areta, makasih ya” ucap Mauren, tangannya menggenggam tangan Areta lembut...
...“Untuk apa Kak?” Tanya Areta...
...“Udah ngajarin Kakak masak, semenjak Kakak lebih sering di rumah dan merhatiin Rivandra hubungan kami membaik. Kakak baru sadar sekarang, dia berubah dingin belakangan sama Kakak itu cuma karena dia marah, soalnya Kak Mauren terlalu sibuk diluar” tutur Mauren, Areta hanya mampu tersenyum, sementara Rossy hanya mematung sesekali ia menghela napasnya...
...“Kakak sampai sempet mikir kalau Rivandra itu selingkuh loh kemarin.. hehehe” ucap Mauren lagi...
__ADS_1
Areta dan Rossy saling pandang, mereka sama - sama terhenyak dengan penuturan Mauren, rasa takut jika Mauren tahu yang sebenarnya pun hinggap
...“Tapi kalau misalnya selingkuh, kasian juga selingkuhannya, ternyata hanya jadi pelarian Rivandra selama Kakak ga ada” tutur Mauren lagi sambil tergelak, Areta mencerna omongan Mauren, ia lalu menghirup napas menahan air mata yang nyaris keluar, sumpah serapah ia lontarkan pada dirinya sendiri, bagaimana ia bisa dengan bodohnya menganggap Rivandra memiliki hati untuknya, nyatanya ia hanya tempat persinggahan ketika suami gelapnya itu perlu pelampiasan, itu pun jika sedang dibutuhkan. Pantas saja semenjak ada Mauren, jangankan menemuinya bahkan sekedar mengirimkan pesan pun Rivandra enggan. ...
...“Areta, kamu istirahat di kamar aja, kamu lagi kurang sehat kan?” Ucap Rossy tak ingin Areta semakin sakit hati, Areta mengangguk hendak keluar dari kamar itu ketika Rivandra datang dengan tergesa...
...“Mauren, gimana kondisi kamu?” Tanya Rivandra yang baru saja sampai, ia memburu Mauren, lalu memindai tangan Mauren yang semakin memerah...
...“Udah ga terlalu panas sih Rivan, cuma makin perih” ucapnya...
...“Kok bisa gini?” Tanya Rivandra panik...
...“Tadi aku mau ngangkat panci isi sup eh malah tumpah kena tangan” sahut Mauren...
...“Kamu masak? Astaga!” Tanya Rivandra, lalu ia menoleh pada Areta yang berdiri tergugu di sebelah Rossy...
...“Areta kenapa kamu biarin Mauren masak sendiri, bukannya kamu yang harusnya ngajarin dia masak?” Sentak Rivandra...
Deg..
...“Rivandra, kenapa kamu jadi nyalahin Areta?” Sengit Rossy...
...“Rivan, Areta ga salah tadi dia lagi di kamar mandi, muntah - muntah gara - gara masuk angin, akunya aja yang ga sabaran” Tutur Mauren, tangannya mengelus - elus lengan kekar Rivandra mencoba menenangkannya...
...“Denger Rivandra, Areta tadi di kamar mandi gara - gara muntah - muntah” sinis Rossy menekankan suaranya ketika menyebut muntah - muntah, Rivandra tertunduk, ia menyesali ucapannya sendiri pada wanita yang ia tahu saat ini sedang sarat akan luka, tapi ia pun tak tega pada Mauren yang beberapa hari ini berjuang keras untuk mendapat perhatiannya lagi...
...“Kita keluar Areta, kamu juga perlu istirahat” ucap Rossy sambil menggiring Areta keluar dari kamar itu...
...****************...
...“Kamu ga apa - apa?” Tanya Rossy khawatir pada Areta...
Areta mendongak lalu menerbitkan senyum terbaiknya
...“Ga apa - apa Kak” ucapnya...
...“Emang dasar tuh si buaya buntung, bisa - bisanya dia bentak istrinya yang lagi hamil” ucap Rossy, dadanya kembang kempis menahan marah...
__ADS_1
...“Tunggu aja sampai Oma denger kelakuannya dia, bakalan habis dia di acak - acak Oma!” Serunya lagi penuh amarah...
...“Ahahaha.. udah Kak, ga usah bilang sama Oma, aku ga apa - apa! Lagian kan yang istri benerannya Kak Mauren, hubungan kami cuma status Kak, jadi kalau di bentak - bentak gitu ga apa - apa Kak, ga ngaruh buat aku” tutur Areta tenang...
Rossy membulatkan matanya, ia lalu memegang kedua bahu Areta menatap iris mata Areta dalam - dalam
...“Jangan suka mendem kalau sakit hati, pura - pura kuat, padahal Kak Rossy juga tau hati kamu hancur kan sekarang?” Tanya Rossy...
...“Ahahaha.. aduh Kak, dibilangin juga hubungan kami cuma status, dan ya karena ada anak ini aja Kak” tutur Areta sambil mengelus perutnya...
...“Areta, Kakak tau banget perasaan kamu, ga apa - apa kok kalau kamu mau nangis, nangis itu bukan berarti kamu lemah!” Bujuk Rossy...
...“Aku ga apa - apa Kak, hubungan kami cuma sebatas status suami istri dan adanya anak ini, setelah anak ini lahir kami bisa pisah Kak, sesuai dengan rencana awal” ucap Areta lagi, senyum terukir di wajahnya yang pucat...
...“Areta kamu ga boleh ngomong gitu!” Seru Rossy...
...“Itu kenyataannya Kak, Kak Rivandra cuma milik Kak Mauren, aku dan anakku cuma hasil kecelakaan” ucap Areta tenang, namun Rossy yang nyaris menangis, wanita cantik itu memburu memeluk Areta...
...“Ya ampun Areta, kasian banget nasib kamu” tuturnya lirih, bulir air matanya keluar ...
...“Ga apa - apa Kak, aku kan masih punya Kak Rossy sama Oma, jadi aku akan baik - baik saja” tandasnya...
Rossy mengurai pelukannya
...“Kakak janji, apa pun yang terjadi nanti Kakak dan Oma pasti akan ngedukung kamu” ucapnya...
...“Makasih Kak” ucap Areta bahagia, di balik peristiwa yang mematahkan hatinya, ia tetap bersyukur karena bisa bertemu dengan orang baik seperti Oma dan Rossy yang tak memandang ia siapa dan apa yang ia tak punya. ...
...****************...
Semenjak insiden yang menimpa Mauren, Rivandra fokus merawat istri keduanya itu, ia sampai cuti beberapa hari dari rumah sakitnya, Mauren pun serupa, cedera yang menimpanya membuta Adrian mau tak mau memberikannya hari libur meskipun sambil bersungut - sungut. Keduanya kini tak terpisahkan, Rivandra semakin tak tega pada Mauren, semua usaha yang dilakukan oleh Mauren untuknya membuatnya kembali terjerat pada cintanya untuk istrinya itu, meskipun tak munafik bayangan Areta tak bisa lepas dari pikirannya.
Sementara setelah mendengar laporan dari Rossy mengenai apa yang menimpa Areta, Oma memutuskan untuk tak sering - sering mempertemukan Areta dan Rivandra, jika biasanya Oma makan di meja makan bersama anggota keluarga yang lain, maka mulai sarapan pagi tadi Oma memilih untuk bersantap di taman belakang bersama Areta. Disana Oma menyenandungkan lagu kesukaannya, atau menceritakan tentang filmnya yang dulu pada Areta, ia ingin menghibur wanita malang itu, karena meskipun senyum terbit di wajahnya tapi Oma tahu betul kalau hati Areta remuk redam.
Keabsenan Areta membuat Rivandra mulai merasa kehilangan, meskipun Mauren bergelayut di tangannya, tapi pikirannya seringkali terpusat pada Areta, pada senyum tulusnya, perhatiannya, masakannya, sentuhannya. Ah, Areta seolah punya mantra untuk terus bergentayangan di kepala Rivandra
Sedangkan Areta, hatinya memang remuk redam, tapi ia tak ingin berlama - lama tenggelam dalam dukanya, ia bangkit dan sigap sedikit demi sedikit membangun tembok untuk pria bernama Rivandra. Ia memfokuskan diri untuk mengurus diri dan kandungannya, ia akan bertahan dan tegar seperti yang sudah - sudah, demi anaknya, satu - satunya yang ia miliki mutlak di dunia ini.
__ADS_1