
...“Selamat malam Oma, gimana kabar Oma sekarang?” Tanya Fabian sopan pada Oma Mieke, tangannya menyodorkan sebuket besar bunga mawar berwarna merah, Oma menerimanya dengan suka cita...
...“Oma sudah membaik Bian, terima kasih atas bunganya.. kamu masih inget aja sama bunga kesukaan Oma” sahut Oma sumringah, pada Fabian Oma memang sangat ramah, dari dulu ia sudah menganggap Fabian sebagai cucunya sendiri, seringnya Fabian datang ke rumah sahabatnya itu juga membuat Fabian merasa punya seorang Nenek, maklumlah kedua Neneknya sudah meninggal sejak ia kecil dulu...
...“Maaf Bian baru datang ya Oma, dan maaf karena Papa dan Mama ga bisa jengukin Oma, mereka sedang ada di luar negeri sekarang” tutur Fabian...
...“Ga apa - apa, bilangin ga usah datang jengukin Oma, Oma lebih senang kalau kamu aja yang datang” ucap Oma lagi - lagi tanpa filter...
...“Ih Oma, ga boleh gitu” bisik Rossy mengingatkan...
...“Ahahaha.. ga apa - apa Kak Rossy, saya ngerti kok” Fabian tergelak, ia memang mengerti betul kenapa Oma tidak menyukai Mama dan Papanya, sifat Mama dan Papanya yang sombong serta sering semena - mena tentu bertentangan dengan sifat Oma yang baik dan rendah hati...
...“Ngomong - ngomong Areta dimana ya? Bukannya dia biasanya nemenin Oma?” Tanya Fabian, dari kedatangannya tadi ia tak melihat batang hidung wanita dambaannya itu...
...“Areta lagi di kamarnya, dia lagi mandi sama sholat” sahut Oma ringan, baik Oma maupun Rossy memang tidak tahu kalau Fabian punya hati pada Areta, yang mereka tahu adalah keduanya punya masa lalu, namun harus berakhir bahkan sebelum dimulai karena terhalang restu orang tua Fabian, jadi bagi mereka Fabian bukan ancaman untuk rumah tangga Rivandra dan Areta...
...“Kak makan dulu yuk, Rivandra udah nungguin di meja makan” tutur Mauren ketika masuk ke kamar Oma Mieke, begitu melihat Mauren wajah Oma yang tadinya ramah langsung melengos penuh kebencian...
...“Iya, kamu makan dulu sana Fabian, ini udah waktunya makan malam kan?” Tutur Rossy...
...“Oke Kak, kalau gitu saya permisi dulu ya Oma, Kak Rossy” ucap Fabian sopan, lalu beranjak mengekori Mauren. Sepanjang perjalanan menuju ruang makan mata Fabian awas memindai seluruh rumah, mencari sosok Areta yang begitu ia rindukan...
...“Yang makan cuma kita bertiga?” Tanya Fabian begitu mendudukkan dirinya di meja makan, besar harapannya agar Areta ikut serta, memang Areta lah tujuan utamanya datang kesini...
Rivandra yang menyadari tujuan Fabian menghela napasnya, dalam hatinya ia merapal do’a agar Areta tak keluar lagi dari kamarnya
...“Berempat Kak” sahut Mauren, ia paham betul maksud Kakaknya, dan untuk soal asmara ia tak ingin ikut campur di dalamnya, “Areta, sini!” Seru Mauren pada Areta yang tanpa sengaja melintasi meja ketika hendak ke kamar Oma Mieke...
Deg..
Jika jantung Areta berdebar karena kaget, maka jantung Fabian berdebar karena menahan kerinduan yang membuncah, sementara Rivandra frustasi karena do’anya tak terkabul
...“Cobaan apalagi ini?” Gumam Areta pelan, sungguh ia tak mengharapkan kehadiran Fabian, salahnya juga sih karena mengacuhkan semua panggilan dan pesan dari Fabian untuknya, ia lupa kalau pria itu bisa sangat nekad...
...“Selamat malam Kak” ucap Areta sopan pada Fabian begitu itu berdiri di depan meja makan, Fabian refleks berdiri, lelaki tampan itu menatap Areta penuh damba, kalau saja tak ada orang lain disana sudah pasti ia akan memeluk wanita cantik itu...
...“Duduk yuk, makan” ucap Mauren memecah adegan saling pandang antara Fabian dan Areta, sementara tinju Rivandra mengepal, ingin sekali ia memberikan bogem mentah di wajah Fabian. Areta pasrah, ia lalu mendudukkan dirinya di samping Mauren, berhadapan dengan Fabian. ...
...“Kamu makin cantik” tutur Fabian pada Areta tanpa sadar ...
...“Terima kasih” jawab Areta enggan...
Rivandra berdehem, tak nyaman melihat afeksi keduanya
...“Bener kan Kak? Areta makin cantik, soalnya dia makin berisi” ucap Mauren mendukung Kakaknya...
...“Maaf ya Areta soal omonganku tadi pagi, pasti kamu tersinggung pas aku bilang kamu kayak orang lagi hamil” ucap Mauren, ia teringat kembali pada kesalahannya pagi tadi...
Fabian mengerutkan keningnya, ia mencerna omongan adiknya sambil menganalisa perubahan badan Areta
Deg..
Fabian mematung, pikirannya melayang pada penolakan Areta, dan kata - kata “terlambat” yang Areta sampaikan tempo hari, mungkinkah Areta hamil? Tidak.. ia tahu betul Areta, wanita itu sangat menjaga harga dirinya, batin Fabian
__ADS_1
...“Ga apa - apa Kak, udah lupain aja” sahut Areta pada Mauren, tak ingin mengingat kejadian tadi...
Tak lama, para pembantu sigap menyediakan berbagai macam hidangan sesuai permintaan Mauren, dan semuanya tanpa bawang menyesuaikan dengan selera Rivandra dan Areta
...“Makanannya semuanya tanpa bawang, sesuai sama selera kamu dan Areta, Rivan” tutur Mauren sambil menyendok makanan dan meletakkannya di piring Rivandra, Rivandra pasrah saja.. ia sebenarnya tak ada masalah dengan bawang, tapi ia mengikuti keterbatasan Areta sekarang...
Mata tajam Fabian menatap Areta lekat - lekat, otak pintarnya terus berputar menyusun kepingan - kepingan misteri di depannya, satu fakta lagi baru saja muncul, ia tahu betul Areta tak ada masalah dengan bawang, jika sekarang Areta tak menyukainya, bukankah terlalu mencurigakan? Tak mungkin selera orang berubah tiba - tiba kecuali ada penyebabnya
Ya, Fabian yakin.. wanita di depannya itu hamil, tapi siapa Ayah dari anak itu? Fabian yakin Areta tak akan dengan mudahnya memberikan kehormatannya pada laki - laki manapun, artinya Areta hamil karena terpaksa, apa yang terjadi dengan Areta? Siapa yang tega menodai gadis polos di depannya itu? Batin Fabian, hatinya seketika hancur lebur, dadanya bergemuruh, ia ingin marah tapi pada siapa?
...“Kak, ayo makan, jangan liatin Areta terus!” Goda Mauren, Areta yang dari tadi tertunduk mendongak, netranya kini menatap netra Fabian yang menatapnya nanar, sulit diartikan...
Areta salah tingkah dibuatnya, tak nyaman dengan tatapan Fabian
...“Makan Areta, kamu harus jaga kondisi badan kamu” ucap Fabian suaranya gemetaran menahan sesak di dadanya, pertanyaan tak habis melintas di kepalanya, jika Areta memang hamil, kenapa ia tak pergi dari rumah itu? Selama apa ia bisa menyembunyikan kehamilannya dari keluarga itu? Bagaimana selama ini ia bertahan sendirian menjalani kehamilannya? ...
...“Astaga” gumam Fabian lirih sambil mengusap air matanya yang hendak menetes...
...“Kak, kok nangis?” Tanya Mauren heran ...
Rivandra dan Areta seketika menatap Fabian
...“Kelilipan Mauren, ya ampun.. masa aku nangis” sanggah Fabian...
...“Oh” sahut Mauren singkat, setelah itu ia kembali menyantap makanannya, jika Mauren makan dengan lahapnya, maka tidak dengan ketiga orang yang lain, mereka makan dengan enggan, sibuk pada beban yang menggelayut di kepala masing - masing...
...“Eh aku punya makanan pencuci mulut, bentar ya” tutur Mauren, “yang bantu bawain yuk” ajak Mauren pada Rivandra, sebenarnya Mauren ingin memberikan kesempatan pada Kakaknya untuk berdua an bersama Areta...
...“Ya udah deh” tutur Mauren, lalu beranjak menuju dapur...
Fabian paham maksud Mauren, meskipun ada Rivandra.. tak apalah ia tahu betul Rivandra si kutub itu tak akan ikut campur urusannya
...“Kamu kemana aja Areta? Saya telepon sama chat kamu tapi ga satu pun kamu respon” tanya Fabian...
Areta mendongak, ia hening sejenak.. memikirkan alasan terbaik
...“Lagi repot ngurusin Oma Kak, Oma kan drop, butuh perhatian ekstra” sahut Areta tenang, Rivandra jengah duduknya sudah mulai tak nyaman...
Fabian tahu betul alasan Areta tak sepenuhnya benar
...“Jangan capek - capek Areta, jaga kondisi kamu” ucap Fabian, suaranya gemetaran.. ia sebenarnya mengingatkan Areta untuk menjaga diri dan kandungannya, tapi disitu ada Rivandra, ia tak mungkin mengatakannya dengan gamblang ...
...“Iya Kak, makasih.. disini aku ga pernah capek kok Kak” sanggah Areta, tak ingin Fabian salah paham...
Fabian menjatuhkan pandangannya pada Rivandra
...“Rivan, ga apa - apa kan kalau saya ngajak ngobrol Areta bentar? Tanya Fabian, basa basi saja sebenarnya, agar adik iparnya itu tak tersinggung karena ia hanya fokus pada Areta...
...“Silakan Fab, silakan.. “ sahut Rivandra dengan gigi gemeretak menahan marah...
Fabian lalu menoleh lagi pada Areta yang tertunduk
...“Areta, kamu tau kan kalau ada apa - apa kamu bisa cerita sama saya?” Tutur Fabian, memberikan kode pada Areta, ia ingin sekali wanita itu menceritakan semuanya pada dirinya...
__ADS_1
Areta mendongak lesu, bingung hendak berucap, yang ada sekarang perutnya mual, stress melandanya, kedatangan Fabian membuatnya makin tertekan
...“Iya Kak” sahut Areta asal, tak ingin berdebat, tapi jawaban Areta jelas membuat Rivandra semakin terbakar amarah...
...“Bagus, ingat apa pun yang terjadi, ada saya, kamu ga sendirian” tambah Fabian lagi, meyakinkan Areta ...
...“Iya Kak” jawab Areta lesu, ia tak tahu bahwa efek jawabannya membuat suaminya itu kini meradang...
Tak lama Mauren datang membawa hidangan pencuci mulut, sejenak Fabian menghentikan pembicaraannya dengan Areta, lalu terlibat obrolan ringan dengan Mauren, sesekali Rivandra menimpali dengan terpaksa
...“Kalau gitu saya pamit ya, udah malem banget, Areta perlu istirahat” ucap Fabian sambil bangkit, ia mengerti kondisi Ibu hamil seperti apa dari buku - buku yang ia pelajari...
...“Makasih udah jengukin Oma Fab” tutur Rivandra lega, ia senang betul karena Fabian akan pulang...
...“Areta tolong anterin Kak Fabian ke depan ya” titah Mauren pada Areta, seketika itu senyum senang Rivandra sirna tak berbekas...
...“Iya Kak” Areta patuh, ingin semua segera selesai, kini dirinya berjalan berdampingan bersama Fabian, menuju pintu keluar diiringi tatapan tajam dari Rivandra yang tak rela Areta berduaan dengan Fabian...
Fabian memindai sekelilingnya, memastikan tak ada orang, setelah itu ia gegas meraih tangan Areta, menggiringnya menuju tempat yang terlindung dari pandangan orang lain, menghimpit badan Areta, menahan dengan tangannya
...“Kak, apa - apaan ini? Jangan gini Kak, lepas!” Sewot Areta, ia risih...
...“Areta, tatap saya!” Titah Fabian, matanya menatap iris mata coklat milik Areta yang kini juga menatapnya, lelaki tampan bertubuh tinggi tegap, dengan otot kekar yang terbalut kemeja ketat makin memperkokoh tampilannya, laki - laki menawan yang pernah sangat Areta cintai itu, kini tepat di depannya...
Tangan Fabian perlahan turun mengelus singkat perut Areta yang sudah agak membuncit
...“Sudah besar, Areta” ucapnya lirih, hatinya remuk redam...
Deg..
Mata Areta membulat sempurna, badannya gemetaran, ketakutannya muncul, apa Fabian tahu kalau ia sedang hamil? Batin Areta
...“M - Maksud Kakak apa?” Tanya Areta terbata...
...“Kenapa kamu ga cerita kalau kamu nolak saya karena kamu lagi hamil Areta?” Tanya Fabian sendu...
Deg..
Badan Areta nyaris melorot jatuh, dengkulnya lemas, badannya gemetaran
...“Maksud Kakak apa?” Tanya Areta lemas, matanya sudah berkaca - kaca hendak menangis...
...“Siapa Ayah anak yang kamu kandung Areta?” Cecar Fabian, matanya tak lepas dari wajah panik Areta...
...“Kak Fabian jangan asal ngomong, siapa yang hamil, Kak?” Sewot Areta, ingin memperlihatkan kemarahannya seolah ia tersinggung, tapi air mata kesedihan mengkhianatinya, kini pipinya basah karena air mata yang tak berhenti menetes...
...“Ga apa - apa kalau kamu ga mau cerita bagaimana kejadiannya atau siapa Ayahnya, asal kamu tau Areta, saya akan menerima kamu apa adanya, saya juga akan menerima anak kamu” tutur Fabian, ia bertekad untuk menerima Areta apa adanya, toh ia pun bukan makhluk sempurna, ia pernah terlibat dengan obat - obatan terlarang meskipun tak ada yang mengetahuinya, beruntung ia segera dapat mengatasinya dengan mengikuti konseling...
Areta memejamkan matanya, sungguh apa yang Fabian tawarkan terdengar sangat indah, seandainya saja bukan Rivandra Ayah dari anak itu, tapi Areta yakin Fabian akan berubah pikiran jika mengetahui siapa yang sudah menghamili Areta
...“Kak, aku ga hamil, tolong jangan punya pikiran aneh seperti itu” sentak Areta, lalu tangannya sekuat tenaga mendorong badan kekar Fabian, lantas ia memacu langkahnya dengan tergesa untuk masuk ke kamarnya...
Fabian tak berusaha mengejar Areta, ia paham apa yang Areta rasakan, mendesaknya hanya akan menambah penderitaannya, Fabian bertekad untuk mencari tahu Ayah dari anak yang dikandung Areta sendiri, tanpa melibatkan wanita malang itu. Tapi yang pasti, siapa pun Ayahnya, ia akan siap menggantikan posisinya, keinginannya untuk segera meninahi Areta pun semakin besar untuk menutupi aib wanita itu, sebelum ada yang menyadari kehamilannya, batin Fabian.
__ADS_1