
Dua minggu sudah Areta mulai menjalani pekerjaannya di kantor Radit, awalnya sih semua berjalan lancar - lancar saja, Areta berangkat setelah Rivandra pergi ke kantor, pulang pun lebih cepat dibanding suaminya jadi ia tetap bisa menyambut Rivandra ketika pulang, Areta juga selalu mempergunakan waktu istirahatnya pulang ke rumah untuk menemui Lily, sekedar bermain atau menyuapi anaknya itu makan.
Hingga di minggu ketiga, kesibukan Areta bertambah, ia memang meminta tanggung jawab lebih dari Radit karena ingin segera menunjukkan kalau ia mampu mengemban posisi sebagai manager keuangan, alhasil untuk pertama kalinya Areta pulang lebih lama dibanding Rivandra, saat Rivandra sampai di rumah dari kantornya, pria itu celingukan mencari istrinya yang tak nampak di teras rumah seperti biasanya, justru Ibunya yang menyambut sambil mengemban Lily
Senyum Rivandra terbit melihat anaknya yang sibuk memanggil - manggil dirinya tak sabar untuk digendong, lelahnya seolah terbayar saat Lily dalam embanannya, berceloteh kecil dengan bahasanya yang belum jelas
...“Selamat sore anak Papa, heeemm.. wangi banget, udah mandi ya?” Tanya Rivandra sambil menciumi pipi anaknya itu...
Anna tersenyum melihat interaksi Rivandra dan Lily, hatinya penuh melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah lelah Rivandra, namun senyum Anna memudar saat mengingat kalau Areta belum pulang, tak seperti janjinya di awal pada dirinya dan Oma bahwa dia akan tetap memprioritaskan Rivandra dan Lily, nyatanya hari ini menantunya itu bahkan pulang lebih lama dibanding suaminya, Anna tahu saat ini Rivandra pasti dilanda kecewa, tapi mungkin Rivandra tahan - tahan karena ingin memberi Areta kesempatan untuk meraih keinginannya.
...“Areta belum pulang, Ma?” Tanya Rivandra ...
...Anna menggeleng, “Mama tadi udah hubungi, katanya lagi rapat, apa Areta ga ngabarin kamu?” ...
Rivandra tak menyahut, hanya menghela berat napasnya, terakhir Areta menghubunginya saat siang hari tadi, setelah itu Rivandra tak mendengar lagi kabar darinya, bahkan pesan terakhir Rivandra belum Areta balas sampai sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rivandra baru selesai berganti baju ketika Areta merangsek masuk ke dalam kamarnya, Areta dengan wajah letih dan khawatir menghambur menuju suaminya
...”Sayang, maaf, maaf banget aku pulang telat hari ini, di kantor banyak rapat tadi, terus ada audit juga” cerocos Areta dengan napas terengah, wajahnya berpeluh, blouse yang ia pakai pun sedikit berantakan, bagaimana tidak, Areta berlari dari depan rumah sampai ke kamarnya, Areta tahu Rivandra pasti menunggunya...
...“Udah makan?” Tanya Rivandra, sejujurnya ia marah, tapi ia tak tega melihat kepayahan di wajah istrinya...
...Areta menggeleng, “belum sempet, tadi dibawain makanan sama Papa Radit, tapi akunya ga sempet makan Kak”...
...“Makan dulu” titah Rivandra...
...“Aku ga laper Kak, mau mandi terus langsung istirahat aja, aku capek banget, terus besok pagi ada rapat lagi sama direktur keuangan” sahut Areta sambil meletakkan tas tangannya, lalu mendudukkan dirinya yang lelah di sofa...
Rivandra mengangguk, tak ingin berkomentar apa pun, sungguh bukan rumah tangga seperti ini yang ia harapkan, ia menginginkan Areta seperti dulu, fokus hanya untuknya dan Lily. Pria itu menyabarkan hatinya, tak ingin bicara apa pun yang membuat mereka akhirnya bertengkar, Rivandra lebih memilih untuk beringsut ke tempat tidurnya, dan memejamkan matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya suasana di meja makan terasa canggung, sikap Rivandra dingin, sedang Areta terlihat sekali salah tingkah menghadapi suaminya itu. Interaksi keduanya tak lepas dari pantauan Anna dan Julian, begitu pun Oma. Sebenarnya mereka paham apa yang membuat Rivandra bersikap seperti itu, mereka pun sebenarnya ingin protes pada Areta yang telah mengingkari janjinya untuk selalu memprioritaskan Rivandra dan Lily, tapi sekarang baru menginjak dua minggu bekerja Areta sudah mulai melupakan janjinya, Areta lebih memprioritaskan karirnya dibanding suami dan anaknya, entah apa maunya Areta, padahal Rivandra memberikan nafkah yang berlimpah, semua fasilitas pun diberikannya pada Areta, lalu untuk apalagi Areta bekerja.
Melihat gelagat rumah tangga Rivandra dan Areta yang sedang tidak baik, Anna gerak cepat menghubungi Rossy, meminta bantuannya agar bicara dengan Areta, Anna tahu kalau selama ini Rossy lah tempat Areta mencurahkan semua masalahnya. Mendengar cerita dari Ibunya, Rossy pun ikut khawatir, ia tahu betul kalau Rivandra tak ingin memiliki istri yang aktif bekerja, dan dulu Areta pun dengan senang hati memilih untuk fokus pada anak dan suaminya, lantas apa yang membuat Areta tiba - tiba berubah?
Siang itu juga Rossy mendatangi kantor mertuanya, tadi ia sudah janjian dengan Areta untuk makan siang di cafe kantor, Rossy sengaja memilih tempat yang santai untuk bicara, ia bukan ingin menginterogasi atau mencecar Areta, justru sebaliknya ia ingin mendengar apa alasan Areta memutuskan untuk bekerja
Rossy menatap kasihan pada Areta yang tampak lelah, punggungnya ia hempas ke sandaran sofa, tangannya sibuk memijit - mijit pelipisnya
“Kamu kenapa kerja, Areta?” Tanya Rossy
...Areta menghela napasnya, lalu menyeruput minumannya, “emangnya salah ya Kak kalau aku kerja? Kak Rossy dan April juga pada kerja” Sahut Areta...
...“Apa Rivandra ngizinin kamu kerja?” Selidik Rossy...
...Areta mengangguk pelan, “dengan syarat aku harus tetap memprioritaskan Kak Rivan dan Lily, Kak”...
...“Tapi yang Kakak denger kamu belakangan ini sibuk banget di kantor, lembur terus!” Selidik Rossy...
...“Iya Kak, banyak yang harus aku pelajari dan kerjakan, aku ga mau nyampe ngecewain Papa Radit Kak, aku juga ingin berprestasi, ingin dianggap berkualitas, aku ga mau cuma diem di rumah nerima uang dari suami” ...
__ADS_1
...“Kamu ga mau jadi Ibu rumah tangga, begitu? Areta, apa yang terjadi sama kamu, kenapa kamu tiba - tiba berubah?”...
...Ditanya seperti itu wajah Areta berubah sendu, matanya menerawang, lalu tersenyum miris, “kemarin aku dikatain sama dokter wanita baru di rumah sakit Kak Rivan, Kak. Dia bilang aku ga pantes buat dapetin Kak Rivan, kami ga setara. Kak Rivan punya segalanya, sementara aku cuma Ibu rumah tangga, aku jadi kepikiran apa suatu hari Kak Rivandra ga akan berpikir hal yang sama, mengingat di sekitar Kak Rivandra banyak perempuan yang berkualitas tinggi”...
...“Astaga Areta! Jadi kamu mau kerja cuma gara - gara dengerin omongan wanita gila? Kamu sadar ga Areta kalau kamu sudah mempertaruhkan rumah tangga kamu hanya gara - gara omongan orang lain? Siapa wanita gila yang ngomong sama kamu itu, hah? Biar Kak Rossy hajar tuh perempuan sinting!” Sewot Rossy...
...“dokter Laura Kak, anaknya Tante Laras, sahabatnya Mama Anna, beberapa minggu yang lalu Laura dan Ibunya makan malam di rumah, Mama Anna dan Oma muji - muji Laura atas kesuksesan dan prestasinya di depanku Kak, terus aku harus mikir apa? Aku down Kak, aku jadi ga percaya diri buat jadi pendamping Kak Rivandra, apa prestasiku Kak selain ngurusin anak dan suami?” Cerocos Areta mencurahkan semua isi hatinya...
...“Areta, Mama dan Oma muji - muji perempuan itu bukan berarti mereka merendahkan kamu, bagi kami kamu perempuan hebat yang paling pantas mendampingi Rivandra, ga usah mikirin omongan orang Areta, kamu yang terbaik buat Rivandra!” Tandas Rossy...
Areta tak bergeming, sampai saat ini pendiriannya tetap kuat untuk berkarir, ia pun ingin berprestasi dan dibanggakan oleh suami dan keluarganya, mungkin mereka belum bisa menerima keputusannya untuk bekerja, tapi Areta yakin setelah ia menunjukkan prestasinya Rivandra dan keluarganya pun akan bangga padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu Rivandra panik bukan main, tiba - tiba saja Anna menghubunginya dan memberi kabar kalau Lily panas tinggi, Rivandra sudah tak berpikir apa - apalagi, semua pekerjaannya ia tinggalkan begitu saja, dengan mengajak salah satu dokter anak dari rumah sakitnya, Rivandra segera menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah kekhawatiran Rivandra bertambah tatkala melihat buah hatinya itu sedang menangis sedu sedan dengan wajah merah dalam gendongan Anna, tanpa basa basi lagi Rivandra mengambil alih anaknya, lalu bersama dokter anak yang ia bawa segera memeriksa Lily, sepanjang pemeriksaan bayi mungil itu memanggil - manggil Mamanya
...“Areta mana Ma? Apa belum pulang?” Tanya Rivandra, kepanikan jelas terlihat di wajahnya mengetahui jika Lili demam tinggi...
...Anna menggeleng, wajah Anna pun terlihat sekali khawatirnya, “Mama tadi udah hubungi dia, tapi ponselnya ga aktif, terus Mama hubungi kantornya, katanya lagi meeting penting, siang tadi dia juga ga pulang ke rumah Rivan, jadi Areta belum tau kalau Lily sakit”...
Rivandra mengeraskan rahangnya, kali ini Areta benar - benar keterlaluan, ia masih bisa mentoleransi ketika Areta mulai tak mengurusinya lagi akibat kesibukannya di kantor, tapi kalau ia sampai tidak mengurus Lily juga itu udah diluar batas namanya.
Selesai diperiksa dan diberikan obat, Rivandra kemudian menggendong Lily, membuai anak tercintanya itu agar bisa tidur, tak sebentar pun Rivandra melepaskan gendongannya meskipun Lily sudah terlelap, ia ingin memastikan Lily nyaman dan kondisinya membaik.
Seperti kemarin, Areta pun hari ini pulang terlambat, bahkan nyaris jam sembilan malam, ia tergesa masuk ke rumah dengan panik setelah membaca pesan bahwa Lily sakit dari mertuanya di jalan tadi. Areta langsung merangsek masuk menuju kamar Lily, kondisi rumah yang sepi membuatnya yakin bahwa semua anggota keluarga sedang berada di kamar Lily sekarang
...“Maafin Mama, Nak” ucapnya dengan isakan, tangannya membelai - belai rambut Lily...
...“Panasnya sudah dari tadi sore, Areta.. Mama udah nyoba hubungin kamu dari tadi tapi ponsel kamu ga aktif, Mama telepon ke kantor katanya kamu lagi meeting penting” ...
...Areta mengusap air matanya, ia lalu menoleh pada mertuanya, “maaf Ma, tadi Areta meeting sama Papa Radit dan direktur keuangan, ponsel Areta mati karena low bat, gimana kondisi Lily Ma?”...
...“Tadi udah diperiksa sama Rivan dan dokter anak, katanya gejala flu berat, dari tadi Lily nangis manggil - manggil kamu” tambah Anna...
Semakin menyesal saja Areta, kali pertama ia tak ada saat Lily sedang sakit, dan hatinya terasa sangat sakit, ia merasa tak berguna sebagai seorang Ibu
...“Rivandra ada di kamar kalian, Areta, sebaiknya kamu temui dia dulu! titah Oma ...
Areta mengangguk pelan, ia yakin Rivandra kini marah padanya, tapi mau bagaimana pun ia harus menghadapi suaminya itu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Areta pelan membuka pintu kamarnya, ia lalu melangkah lunglai menuju tempat dimana Rivandra duduk di sofa dengan wajah yang menggelap
...“Untuk apa kamu pulang? Kenapa kamu ga tidur aja di kantor kamu atau sekalian aja tinggal disana!” Sengit Rivandra, tatapannya tajam menusuk...
Badan Areta gemetaran, baru kali ini ia melihat kemurkaan Rivandra padanya, dengan sisa keberanian yang ada Areta maju mendekati Rivandra, lalu duduk di depan suaminya itu
...“Maaf Kak, aku ga tau kalau Lily sakit, tadi aku sibuk banget di kantor, baterai ponselku juga low, aku lupa ga charge tadi” sahut Areta penuh sesal...
...Rivandra tersenyum sinis, “itu makanya saya bilang untuk apa kamu pulang? Anggap saja kantor kamu itu sebagai rumah kamu, lupakan kalau kamu punya suami, punya anak!” Suara Rivandra gemetaran menahan amarah yang teramat...
__ADS_1
...Areta tersentak mendengar omongan Rivandra, ia tak menyangka Rivandra akan bereaksi seperti itu, “Kak Rivan keterlaluan! apa Kak Rivan harus bicara seperti itu? Aku kerja Kak, bukan kelayapan atau nongkrong di mall!” Sanggah Areta...
...“Lantas untuk apa kamu kerja Areta, hah? Apa kurang uang yang saya kasih sama kamu?! sebut berapa uang yang kamu inginkan dari saya agar kamu berhenti bekerja, atau sebut apa syarat yang bisa membuat kamu agar berhenti bekerja dan fokus lagi pada saya dan Lily!” Cecar Rivandra ...
...“Ini bukan masalah uang Kak, uang dari Kak Rivan berlimpah, aku ga perlu tambahan lagi! Dan ga ada syarat apa pun yang bisa membuat aku berhenti kerja, Kak!” Tandas Areta...
...“Kalau begitu katakan, apa alasan kamu kerja sampai kamu menentang saya, Areta?! Sentak Rivandra sambil bangkit berdiri dengan napas yang terengah dan mata memerah nyalang...
...Dibentak Rivandra tentu saja membuat Areta tak terima, “Karena aku ingin berprestasi Kak! aku ingin membangun karir, aku ingin dianggap pantas mendampingi Kak Rivan! aku ingin keluarga Kak Rivan muji - muji pencapaianku bukan pencapaian wanita lain!” Sengit Areta mengeluarkan semua unek - uneknya dengan air mata yang mulai merembes membasahi pipinya...
Rivandra terhenyak mendengar penuturan Areta, pria itu kini mengerti kenapa Areta ngotot untuk membangun karirnya, Rivandra menghela napasnya, amarahnya memudar, ia lalu mendekati istrinya yang berdiri dengan badan gemetaran dan air mata yang membasahi pipinya, kedua tangan Rivandra terulur memegang kedua pipi Areta, mengusap - usap air matanya
...“Saya ga perlu istri yang berprestasi, Areta, saya ga peduli dengan keberhasilan dalam karir atau apa pun itu, bagi saya kamu selalu jadi yang terbaik, di mata saya kamu sempurna, kamu jelmaan imajinasi dan impian - impian saya tentang wanita ideal” tutur Rivandra ...
...“Tapi sampai kapan, Kak? Apa Kak Rivan bisa menjamin kalau Kak Rivan ga akan berubah pikiran? Apa Kak Rivan bisa menjamin kalau suatu hari Kak Rivan ga akan membanding - bandingkan aku dengan wanita - wanita sukses di sekeliling Kak Rivan seperti dokter Laura?” ...
...“Saya bisa jamin, Areta! Apa kamu pikir saya lelaki picik dan berengsek yang akan mengganti kamu dengan perempuan lain hanya karena perempuan itu lebih sukses dibanding kamu? Apa kamu ga liat foto besar kita di lobby rumah sakit Areta? Saya punya tujuan memasang foto kita disana, agar semua orang di rumah sakit tahu kalau saya sudah punya kamu, saya bangga punya istri kamu Areta!” ...
Areta tertunduk, terharu bercampur sedih
...“Kamu ingat saat saya dan Mauren masih menikah dulu? Saya sama sekali ga bangga karena dia artis terkenal! saya tersiksa saat dia sibuk diluar sana tanpa mempedulikan bagaimana saya, dia selalu ga ada di rumah ketika saya pulang, bukan rumah tangga seperti itu yang saya inginkan, Areta!” ...
...Areta mendongak, sayu menatap Rivandra, “Jadi Kak Rivan bangga meskipun aku hanya Ibu rumah tangga?” ...
...“Hanya? Hanya Ibu rumah tangga? Justru itu pekerjaan paling sulit untuk seorang wanita, Areta! Saya selalu bangga ketika mendengar sesama dokter yang saling cerita kalau mereka jarang bertemu dengan istrinya yang juga bekerja, saya bangga karena istri saya akan ada di rumah untuk menyambut saya dengan senyuman, ada di rumah untuk merawat dan membesarkan anak kita, rumah tangga seperti itu yang saya dambakan” ...
Areta tak lagi menahan air matanya, ia biarkan pipinya basah, tapi ia labuhkan kepalanya di dada Rivandra, dengan suara pilu dan penuh sesal Areta meminta maaf pada suaminya,
...Rivandra membelai - belai rambut Areta, menenangkan istrinya itu, “saya mohon Areta, jadilah Areta yang kembali fokus pada saya dan Lily, jangan pernah berpikir untuk menukar kebahagiaan keluarga kita selama ini dengan kesuksesan karir, asal kamu tau Areta saya lah yang harus berjuang agar terus berprestasi dan dianggap layak untuk mendampingi kamu”...
...“Maksud Kak Rivan?” Tanya Areta bingung...
...“Kamu tau ada berapa dokter yang muji - muji kamu depan saya? Belum lagi pasien - pasien yang saya temui, semuanya bilang saya beruntung bisa mendapatkan kamu, apa itu bukan berarti saya harus berusaha mati - matian agar tetap dianggap pantas buat kamu?”...
...“Heemmm.. aku ga bakal kemana - mana Kak, aku akan setia dampingin Kak Rivan jangan khawatir, dan ga usah berusaha terlalu keras, buatku Kak Rivan yang terbaik” tandas Areta...
...“Yakinlah kalau saya juga ga akan kemana - mana, saya akan tetap bersama kamu apa pun yang terjadi” ucap Rivandra, pelukannya semakin erat...
...“Meskipun wanitanya dokter Laura?” Selidik Areta...
“Iya, meskipun itu Laura!” Sahut Rivandra
...“Kak Rivan tau ga kalau dia suka sama Kak Rivan?”...
...“Heemm.. apa kamu meragukan otak saya Areta? Saya bahkan sudah tau kalau dia menyimpan perasaan sama saya sejak hari pertama dia bekerja”...
...“Kalau sudah tau kenapa Kak Rivan ga jauhin dia?” Cecar Areta lagi...
...“Selama dia tidak mengganggu saya atau kamu, saya belum akan bertindak, atau apa dia pernah melakukan sesuatu pada kamu, Areta?” Selidik Rivandra ...
Areta tak menjawab, ia belum ingin membahasnya dengan Rivandra, malam ini ia ingin fokus mengurus Lily dan menghangatkan hubungan mereka kembali, sudah ada Rossy yang Areta yakini akan segera mengurus Laura dengan caranya sendiri.
Malam itu hubungan Areta dan Rivandra kembali menghangat, keduanya bahu membahu merawat Lily yang rewel nyaris semalaman, tak ada satu pun dari mereka yang memejamkan matanya, keduanya fokus merawat dan memperhatikan Lily.
__ADS_1