Satu Suami Dua Istri

Satu Suami Dua Istri
Mengusik Akan Terusik


__ADS_3

...“Kak Mauren ngapain lagi, Ma?” Areta sudah mulai sepanik Anna, tapi mertuanya itu tak menjawab, ia malah menggandeng tangan Areta yang kemudian tergupuh mengekorinya hingga ke ruang tengah, disana sudah ada Oma dengan wajah murka dan para pelayan mereka yang memperlihatkan wajah prihatin tengah menyaksikan tayangan di televisi besar, Areta terkejut ketika melihat Mauren dan Susan di layar kaca, apalagi yang mereka coba lakukan sekarang?...


Anna, Oma, dan Areta mencerna baik - baik setiap omongan yang disampaikan oleh Mauren di konferensi pers depan puluhan wartawan itu, Mauren dengan segenap kemampuan aktingnya berderai air mata menceritakan kisah tragis kehidupan rumah tangganya yang hancur karena adanya pelakor, tanpa sensor Mauren menyebutkan nama Areta lengkap dengan fotonya sebagai perebut suaminya, tanpa ragu Mauren juga bercerita kalau Areta adalah sepupu yang dianggap sebagai anak sendiri oleh orang tuanya, diperlakukan dengan sangat baik dan sebagai balasannya Areta malah mengambil suaminya, sontak saja para wartawan memburunya dengan banyak pertanyaan seiring dengan blitz dari jepretan foto entah berapa banyak kamera


Akting Mauren tampak meyakinkan, lengkap dengan penampilan Susan yang juga menangis sedu sedan, jejeran foto Areta dan Rivandra mereka tampilkan, termasuk foto saat Areta sedang hamil yang Mauren sebut sebagai kehamilan anak haram hasil perselingkuhan, Mauren tak lupa menampilkan foto buku nikah yang tadi Areta kirimkan, ternyata itu dijadikan senjata pamungkas pendukung kebohongannya


Areta bukan lagi meradang, amarah bergemuruh nyaring di dadanya


Oma apalagi, sampai semua sumpah serapah keluar setiap kali Mauren berucap


...”Dasar wanita iblis! Seharusnya dari awal aku bongkar saja semua kelakuannya pada temanku yang wartawan, benar - benar ga tau diri dia, bisa - bisanya dia memutar balikan semua fakta” wajah Oma berubah merah ...


Anna menonton tayangan itu dengan mata melotot nyaris keluar, ia pikir perceraian Rivandra dan Mauren akan mengakhiri semua drama, tapi ternyata tidak, kini ia harus bersiap dengan penghakiman banyak orang yang ia yakini akan menyudutkan keluarga mereka terutama Areta dan Rivandra, baru tadi sore ia menerima kabar buruk dari Rossy soal Pandu, kini ada lagi serangan dari masa lalu putranya, anak - anaknya sama - sama memilih orang yang salah dalam pernikahan pertama mereka


Anna menjatuhkan pandangannya pada Areta yang berdiri mematung, wajah menantunya itu menggelap karena amarah, Anna semakin panik saja, sebentar - sebentar ia memindai ponselnya berharap kalau suaminya balik menghubunginya untuk menyelesaikan konflik yang sedang terjadi, ini sangat bahaya karena menyangkut nama baik keluarga


Areta hanyut dalam putaran otaknya, ia sungguh tak menyangka kalau Mauren akan berbuat sejauh itu, wanita itu kemudian membuka ponsel yang ia genggam di tangannya, jarinya cepat membuka aplikasi media sosial, akun yang dituju adalah akun Mauren, dan seperti yang Areta duga, salah satu foto Mauren yang menampilkan foto hati terbelah dua banjir komentar, hampir semua berupa dukungan pada Mauren dan kutukan pada Areta dan Rivandra, beberapa bahkan ada yang menyumpahinya, Rivandra dan bahkan Lily. Gigi Areta gemeretak menahan marah yang teramat, bahkan anaknya yang suci tanpa dosa pun dihakimi


...“Areta, apa yang akan kita lakukan? Sebentar lagi pasti wartawan mencari - cari keberadaan kita dimana pun, Mama bingung harus gimana Areta, Papa lagi di luar negeri sampai sekarang belum bisa dihubungi, coba kamu minta pertimbangan Rivandra, Nak” tutur Anna panik, bicaranya saja sampai gemetaran...


...“Ga perlu melibatkan Kak Rivan, Ma! Areta yang akan menyelesaikannya sendiri” tandas Areta ...


Oma menoleh pada Areta


...”Apa yang akan kamu lakukan Areta? Jangan gegabah, Oma ga mau terjadi apa - apa sama kamu nantinya” ...


...“Apa pun konsekuensinya akan Areta tanggung Oma, dia sudah memfitnah Areta, Kak Rivan, dan bahkan menjadikan Lily sebagai bahan sumpah serapah banyak orang”...


Anna memandang Areta dengan khawatir


...”Diskusikan dulu dengan Rivandra Areta, biarkan dia memutuskan apa yang harus dilakukan” ...


Areta menggeleng


...”Terlalu lama Ma, Kak Rivan harus fokus pada pasiennya, masalah ini biar Areta yang urus, tolong percaya padaku Ma” ...


...“Sudah Anna, percayakan saja semua pada Areta, Oma yakin dia akan menyelesaikan masalah ini”...


Dengan berat hati Anna mengangguk menyetujui, entah apa pun rencana Areta ia hanya bisa berdo’a semoga semua akan baik - baik saja


Malam itu baik Oma, dan Anna dibuat tak tenang, berita tentang Mauren menjadi topik hangat yang dibicarakan di seantero negeri menghiasi setiap tayangan layar kaca, bukan hanya karena Mauren seorang artis saja, tapi latar belakang keluarga Rivandra yang bukan orang sembarangan menjadi sasaran empuk pemberitaan, rumah Rivandra di Jakarta bahkan sudah dikepung oleh para wartawan.


Beberapa ada yang nekad ke perusahaan Julian, ada juga yang inisiatif datang ke rumah sakit. Rivandra belum mengetahui itu semua, ia tengah sibuk di ruang operasi, berjuang menyelamatkan nyawa beberapa korban kecelakaan yang dibawa ke rumah sakitnya beberapa jam yang lalu, jangankan untuk menonton televisi atau mendapat laporan tentang keberadaan wartawan di depan rumah sakit, ia bahkan lupa akan janjinya untuk menghubungi Areta sebelum istrinya itu terlelap.


Sedang Areta sedang sibuk menghubungi beberapa orang, ia tak ingin membiarkan masalah ini berlarut - larut apalagi kalau ia sampai terlanjur dicap sebagai pelakor, ia tahu betul bagaimana nasib seorang pelakor di tengah masyarakat. Setelah tadi ia menghubungi Rossy, ia lalu menghubungi kenalannya Oma, dan terakhir ia menghubungi Fabian


Pria yang sedang makan malam dengan kliennya itu sontak kaget menerima panggilan dari Areta, ia spontan berdiri dan melipir meninggalkan kliennya tanpa basa basi


...“Areta? Ada apa?” Tanya Fabian to the point, ia tahu tak mungkin Areta menghubunginya tanpa sebab...


...“Kak Fabian kemarin bilang kalau aku perlu apa - apa aku bisa hubungi Kak Fabian, kan?” Tanya Areta...


Pria itu bisa menebak kalau Areta sedang dalam masalah


...”Kamu berantem sama Rivandra? Apa kamu udah memutuskan untuk pergi sama saya?” Godanya, meskipun harapnya Areta akan mengiyakan, jika itu benar terjadi, ia akan membawa Areta dan Lily jauh - jauh dari Rivandra, kalau perlu ke kutub selatan sekalian agar Rivandra tak bisa menemukan mereka, secinta itu ia pada Areta...


Areta menghembuskan napasnya jengkel, beratus kali Fabian menawarkan hal yang sama, tapi Areta mantap menolak tak pernah tergoda


...”Aku perlu bantuan Kak, adik Kak Fabian udah menabuh genderang perang, aku harus membela diri karena itu menyangkut kehormatanku dan nasib Lily ke depan Kak” ...


Fabian mulai khawatir mendengar nada bicara Areta yang sarat emosi


...”Apalagi yang dilakukan Mauren, Areta?”...


Areta dengan berapi - api menceritakan apa yang dilakukan Mauren dan Susan, ia tak canggung sama sekali menceritakan kelakuan adik dan Ibu Fabian itu, ia tahu Fabian menyimpan dendam pada keluarganya sendiri karena merasa mereka lah yang telah membuatnya terpisah dari Areta


Fabian manggut - manggut dengan satu tangan memegang ponsel di telinganya, dan satu tangan masuk ke saku jasnya, ia keluarkan sebentar tangannya untuk melambai pertanda meminta waktu pada kliennya yang mulai resah karena ditinggal cukup lama


...“Kak Fabian mau kan bantuin aku?” Tanya Areta penuh harap sesaat setelah ia menceritakan semua yang Mauren lakukan dan apa yang ia rencanakan...


Fabian tak langsung menyetujui, ia menatap jam tangan mewah yang melingkar di tangannya, seperti tengah menghitung waktu


...”Baiklah, saya berangkat malam ini juga kesana, nanti saya info tempatnya dimana, besok kita ketemu disana”...

__ADS_1


Senyum Areta merekah, ada harapan untuk menyelesaikan polemik ini secepatnya sebelum apinya meluas dan berkobar besar. Selesai menghubungi Fabian, ia lalu menghubungi Rivandra, tapi suaminya itu tak juga menjawab panggilannya, Areta paham dan berasumsi kalau suaminya sekarang sedang sibuk di meja operasi. Artinya ia benar - benar harus melakukan ini tanpa Rivandra, dan bahkan mungkin tanpa sepengetahuannya.


...----------------...


Keesokan harinya pada siang hari, Rossy sudah datang dengan wajah lelah dan panik, ia terpaksa meninggalkan Pandu untuk membantu Areta menyelesaikan masalah besar yang sedang melanda keluarga mereka, sedang Areta sudah bersiap, ia mengenakan baju mahal, riasan tipis, tak lupa pad penutup dada agar ASInya tak merembes di saat - saat moment penting nanti. Ia lalu menitipkan penjagaan Lily pada seorang pengasuh dan Anna, Lily sudah dibekali banyak sekali stock ASI yang Areta pompa semalaman dan ia simpan di lemari es kamarnya


Anna dan Oma tak banyak protes, hanya berharap Areta dan Rossy bisa menyelesaikan semua masalahnya. Sepanjang perjalanannya yang diantar supir pribadi badan hingga bibir Areta gemetaran karena gugup, apalagi ketika mereka telah sampai di sebuah restoran yang Fabian kirimkan alamatnya


Areta merapal do’a, lalu menguat - nguatkan hatinya, ia lalu membuka tasnya memastikan jika ia membawa semua barang bukti yang ia ambil dari brangkas kamarnya tadi


...”Kamu tenang aja Areta, bukan kita yang memulai peperangan, tapi mereka! Mereka sudah mengusik ketenangan kita, jadi mereka juga harus siap terusik” tandas Rossy, setali tiga uang dengan Areta Rossy pun geram luar biasa pada Maurean terutama pada Dave, hari ini akan ia balas semua perbuatan pria itu dan Mauren....


Areta mengangguk, menarik dan mengeluarkan napasnya untuk menghilangkan kegugupannya, kakinya lalu melangkah mantap turun dari mobil, ia bergandengan erat dengan Rossy, duo putri Julian yang sedang berjuang menyelamatkan nama baik keiuarga


Kegugupan kembali menyelimuti Areta tatkala ia masuk ke dalam resto, disana ternyata sudah banyak wartawan yang duduk manis di tempatnya lalu berlomba berdiri tatkala melihat kedatangan Areta dan Rossy, tampak beberapa wartawan senior yang merupakan kenalannya Oma, sebagian wartawan lagi adalah wartawan yang diundang oleh teman - temannya Oma, wartawan mana yang akan melewatkan konferensi pers dari Areta yang sedang menjadi topik pembicaraan sebagai perebut suami artis papan atas itu


Areta memicingkan mata dan menutupnya dengan tas jinjing yang ia bawa, tatkala lampu blitz dari puluhan kamera tertuju padanya, sedang Rossy melenggang anggun, entah karena ia terbiasa atau karena memang ia sedang menggunakan kacamata hitam


Seorang berjas rapi yang merupakan asisten Fabian menunjukkan tampat untuk Areta dan Rossy duduk, tak lama Fabian ikut bergabung, duduk tegap di sebelah Areta


Jepretan kamera menyerang mereka lagi, pemandangan langka ketika putri dari seorang Julian, pengusaha sukses yang juga Kakak dari Mauren, dan istri dari Rivandra duduk dalam satu meja untuk bicara di depan banyak wartawan


Fabian tak membuang waktu, langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka mengadakan konferensi pers, memperkenalkan diri sebagai kakak Mauren sekaligus sepupu dari Areta, dan orang yang merekam bukti perselingkuhan Mauren, penyebab perceraian Mauren dan Rivandra


Para wartawan terperangah, lalu menghujani berbagai pertanyaan dan meminta bukti yang Fabian sebutkan, giliran Areta yang buka suara, wanita itu anggun memperkenalkan diri, menceritakan sedikit tentang dirinya hingga pernikahannya dengan Rivandra, kemudian tanpa ragu memutar bukti percakapan keluarga Mauren


Semua hening, semua merekam isi pembicaraan itu, wajah - wajah kaget tampak terlihat meskipun tak bersuara, baru setelah rekaman pembicaraan itu diputar mereka menghujani Fabian dan Areta pertanyaan, terutama tentang siapa sosok Dave yang dimaksud dalam rekaman


...Fabian memegang microphone, mantap menjawab, “Dave Sahid, seorang produser, dan putra dari keluarga Sahid” ...


Baru setelah itu keriuhan terjadi, semua terkejut lalu saling berbisik memastikan, saat wartawan ricuh itulah Rossy angkat bicara, mengakui diri sebagai mantan istri Dave Sahid, lengkap membawa bukti foto pernikahan yang dulu tertutup dari media dan tak lupa akta perceraian mereka


Pusat perhatian kini tertuju pada Rossy, Rossy dengan gamblang menceritakan pernikahannya dengan Dave yang hanya seumur jagung karena pengkhianatan Dave dengan sekretarisnya, mendukung asumsi bahwa perselingkuhan Dave dan Mauren benar adanya karena Dave memang pria berengsek, belum lagi foto - foto ketika Dave dan Mauren sedang mesra bersama yang diberikan oleh Areta, lengkap sudah fakta akurat yang mereka sajikan. Susah untuk menyangkal kebenarannya, sumber informasi dan bukti sangat bisa dipercaya. Konferensi pers tersebut otomatis menyangkal pernyataan Mauren kemarin, perceraian Rivandra dan Mauren bukan karena Areta, melainkan karena perselingkuhan Mauren sendiri.


Berita itu cepat tersebar, esoknya media televisi ramai - ramai memberitakannya, di media sosial pun sudah ramai dibicarakan, dukungan yang tadinya untuk Mauren berubah menjadi sumpah serapah dan cacian, arah dukungan berubah pada Areta dan Rivandra. Senasib dengan Mauren, Dave pun menjadi sasaran cacian, Dave yang selama ini selalu bersembunyi, kini fotonya wara wiri di semua media dengan cap pria berengsek.


...“Berengsek! Berengsek!” Dave memaki sambil melempar televisi besarnya, “panggil Adrian kemari, seret dia kesini, sekarang!” Bentak Adrian pada anak buahnya...


Lama Dave menunggu Adrian, hingga kemudian manager Adrian itu datang dengan gupuh, badannya gemetaran, ia sudah tahu kenapa Dave memanggilnya


Praaanng..


Dave melempar gelas yang sedang ia pegang ke tembok, nyaris saja kena kepala Adrian


...“Bajingan kau Adrian! apa kau ga bisa mengurus si Mauren itu? Untuk apa dia gembar gembor di depan wartawan tentang perceraiannya, hah? Kau pikir keluarga Julian itu akan tinggal diam?!” Sentak Dave pada Adrian yang berdiri tertunduk...


...“M-maaf Bos, saya sudah memperingatkan Mauren kemarin saat mengutarakan rencananya, tapi saya ga tau kalau Mauren akan senekad dan seceroboh itu” tutur Adrian gemetaran, dalam hatinya ia mengutuk perbuatan Mauren dan Ibunya, padahal kemarin ia sudah mewanti - wanti agar Mauren tak melakukannya...


...“Maaf katamu? Maaf? Kau pikir maaf akan bisa memperbaiki namaku yang sudah tercoreng, hah? Kau pikir maaf kau itu akan membungkam mulut - mulut orang diluar sana tentang aku, hah?!” Sentak Dave dengan mata yang menyalang merah...


Adrian semakin mengkerut saja


...”B-Bos, kasih saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya” Adrian berlutut meminta pengampunan Dave, nyalinya ciut melihat murkanya Dave, apalagi Dave dikelilingi orang dengan badan - badan yang kekar tinggi tegap siap menghajarnya...


...“Kesempatan apa, hah? Tamat sudah riwayatku gara - gara kegoblokan kau Adrian, kau pikir orang tuaku ga akan murka gara - gara ini, hah? Entah apa yang akan mereka lakukan padaku setelah ini, dan ini gara - gara kau dan si berengsek Mauren itu!” Dave semakin berapi - api saja, pria itu lalu mengangkat tangannya, rambu untuk para bodyguardnya maju mendekati Adrian yang tergugu...


Bug.. Bug..


Suara bogeman mentah, rintihan, dan minta ampun mengudara di ruangan itu


...****************...


Mauren menangis histeris ketika menonton tayangan konferensi pers Areta, Fabian, dan Rossy di layar kaca


Braaakk..


Suara pintu kamar yang ditendang keras oleh Dani tak mengagetkannya, serangan balik dari Areta hari ini membuat jantungnya serasa sudah copot, ia tak menyangka jika Areta berani buka suara


...“Anak sialan! Kamu liat akibat perbuatan kamu dan Ibu kamu kemarin kan? Dimana otak kamu Mauren? Kenapa kamu ga minta pertimbangan Papa dulu sebelum melakukan kebodohan itu?” Sentak Dani dengan wajah merah, rahangnya mengeras...


Mauren tak menimpali, ia hanya bisa meringkuk sambil terisak, hancur sudah karirnya, nama baiknya, harga dirinya


Susan yang melihat kemarahan Dani memburu suaminya itu, mencoba menyentuh suaminya dengan tangan gemetaran

__ADS_1


...”Pa, maafin Mama Pa, Mama ga tau kalau mereka ternyata berani membeberkan bukti, dan Mama juga ga nyangka kalau Fabian akan mendukung mereka” ...


Dani menoleh murka pada istrinya


...”Apa kau otak dari rencana perbuatan bego Mauren kemarin, hah?” Sentaknya...


Susan langsung menunduk takut, lalu mengangguk pelan


Plak..


Satu tamparan mendarat di pipi Susan hingga wanita itu terhuyung dan jatuh ke lantai


...“Kau tau, gara - gara perbuatan kalian bukan nama kalian saja yang akan hancur, aku juga, perusahaan juga! Bos Dave murka, semua investasinya batal dan itu semua gara - gara otak kalian yang ga dipake!” sentak Dani membahana...


Mauren sudah tak bisa merasakan apa - apa selain kehancurannya, ia bahkan tak bisa mencerna omongan Dani, dunia seakan menimpanya sekarang


Belum hilang kemarahan Dani, Adrian yang babak belur datang merangsek masuk, Dani dan Susan menoleh kaget melihat Adrian yang penuh luka pukulan


...“Puas kamu Mauren? Puas?” Sentak Adrian tanpa mempedulikan Dani dan Susan yang berada disitu...


Mauren masih saja meringkuk, air matanya tumpah ruah disana


...“Hancur kamu Mauren! ga ada tempat lagi buatmu di panggung hiburan, hancur sudah nama kamu! Hancur juga namaku! Dan itu gara - gara ulahmu sendiri! Kamu lihat apa yang bos Dave perbuat padaku Mauren!? Lihat!” Sentak Adrian ...


Mauren semakin remuk redam saja, bernapas pun serasa sulit untuknya, bagaimana ia bisa menghadapi semua orang sekarang?


...“Jangan cari aku lagi Mauren, urusan kita selesai sampai disini! Dasar perempuan murahan! Bego!” Adrian seolah tak puas mencabik - cabik hati Mauren...


Tangis Susan pecah meraung - raung meratapi nasib anaknya dan masa depan keluarganya, sementara Dani terduduk lemas di kursi dengan wajah yang sudah tak karuan frustasinya, entah bagaimana nasib masa depan Mauren ke depannya, begitu pun nasib keuangan mereka, Fabian jelas sudah tak bisa diharapkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Plak…


Sahid menggampar keras pipi anaknya, diiringi jerit histeris Ibunya Dave


...“Saya susah payah membangun citra keluarga kita, dan kamu merusaknya dengan hobby kamu main perempuan, dasar anak ga berguna kamu Dave!” sentak Sahid...


Dave gemetaran sambil memegang pipinya yang merah bekas gamparan


...“Kamu sadar siapa yang kamu hadapi sekarang, hah? Apa kamu ga tau siapa keluarga Julian? Kamu udah membuat putrinya kecewa, dan sekarang kamu mengibarkan bendera perang pada mereka dengan perselingkuhan kamu bersama mantan istri Rivandra, apa kamu gila, Dave?” Sentak Sahid lagi...


Dave tak bersuara, ia tergugu, ia memang tak punya kekuatan menghadapi Papanya itu


Sahid dengan dada yang turun naik duduk di kursi kebesarannya, matanya tajam menatap putranya itu, sedang Ibu Julian hanya bisa menangis sendu melihat murka suaminya


...“Semua orang sedang mengorek aib kita sekarang, hancur sudah reputasi kita, tinggal menunggu waktu sampai mereka menemukan aib kita yang lain” sengit Sahid frustasi, “apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasi masalah ini, hah?”...


Dave hanya diam tak bergeming, ia pun tak tahu apa yang harus dilakukan, kedua tangannya tak akan mampu menutup mulut semua orang agar berhenti menggunjing keluarganya


Sahid memutar keras otaknya


...”Ga ada jalan lain, nikahi Mauren!” Titah Sahid...


Dave dan Ibunya jelas kaget


...”Tapi Pa, aku ga mau nikah sama Mauren Pa, dia wanita ga bener!” Protes Dave...


...”Sayang, apa kamu ga salah? Mauren itu udah jadi sampah sekarang, dan kamu mau Mauren menjadi menantu kita, iya?” Sentak Ibunya Dave histeris...


Braaak..


Sahid menggebrak meja di sampingnya


...”Turuti perintahku! Ini demi menyelamatkan nama baik kita, setidaknya kamu dan keluarga kita akan dianggap bertanggung jawab” sengit Sahid...


...“Tapi Pa..”...


...”Papa ga peduli kamu mau cerai lagi setelah kalian nikah nanti! Papa juga ga peduli kalau kamu masih sama perempuan lain selama nikah sama si Mauren, yang pasti Papa mau kita membungkam omongan orang - orang tentang keluarga kita secepatnya!” ...


Dave tertunduk, dalam hati ia menyumpahi Mauren, gara - gara dia semua ini terjadi, bahkan harapannya untuk bisa meraih Rossy kembali pupus sudah, sia - sia saja usahanya untuk mencelakai calon suami Rossy kemarin


Dave mengeraskan rahangnya, dendamnya kesumat terhadap Mauren, dalam hatinya ia berjanji untuk membuat Mauren menderita.

__ADS_1


__ADS_2