
Bug…
Tanpa basa basi satu tinju mendarat di pipi Fabian
Areta terhenyak, begitu dengan penjual mi ayam, ia sampai berteriak karena kaget, beruntung tak ada pengunjung lain selain Areta disana, kalau tidak sudah bisa dipastikan akan ada kehebohan lain
Fabian sedikit terhuyung, ia lalu mengusap darah di ujung bibirnya, tak ada balasan untuk Rivandra, ia paham pria itu tengah tersulut emosi
...“Kak Rivan, apa - apaan sih?!” Protes Areta sambil bangkit berdiri...
...“Areta, ayo pulang!” Ucap Rivandra, tangannya sigap menggandeng tangan Areta posesif, Fabian getir melihat wanita dambaannya diambil paksa...
...“Pembicaraan kita belum selesai Areta” ucap Fabian, tangannya berupaya meraih Areta kembali, tapi tatapan dingin Rivandra menghentikannya...
Rivandra menggandeng erat tangan Areta berjalan dari sana, diiringi tatapan bengis Fabian
...“Kak bentar” ucap Areta ...
...“Apalagi?” Sahut Rivandra dingin sambil terus melangkah...
...“Kak, aku belum bayar, aku lupa dompet sama ponselku ketinggalan di ruangan dokter Kartini tadi” tutur Areta ...
Rivandra menghentikan langkahnya, ia lalu menoleh pada Areta
...“Astaga Areta, kenapa ga bilang dari tadi? bentar.. Kamu tunggu disini aja!” ucap Rivandra lalu berjalan kembali ke warung mi ayam, ketika sampai disana ia melihat Fabian tengah mengeluarkan dompetnya, hendak membayar tampaknya, Rivandra tak mau kalah cepat, ia sigap mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan dari dompetnya...
...“Tadi istri saya lupa bayar, Pak” ucapnya sambil menyodorkan uang pada pedagang mi ayam namun matanya menatap tajam pada Fabian, Rivandra lalu beranjak dari situ meninggalkan Fabian yang tersenyum sinis padanya...
Sampai di depan Areta pria itu kembali menggandengnya
...“Kakak kenapa ngasih uangnya banyak banget ke tukang mi ayamnya, padahal lima puluh ribu juga cukup, masih ada kembalian malah, dasar orang kaya!” protes Areta, Rivandra tak menjawab gandengannya tak lepas menggiring Areta ke koridor yang sepi...
Begitu sampai di ujung koridor, Rivandra mendorong pelan Areta, menghimpit badan istrinya itu ke tembok
...“Kamu kenapa bisa nyampe ama Fabian tadi, apa yang kamu bicarain sama dia?” Cecar Rivandra...
...“Menurut Kakak?” Tantang Areta...
...“Jangan macam - macam Areta!” Sengit Rivandra, “apa yang kalian bicarakan? Apa kamu berencana lari dari saya?” Selidik Rivandra...
Areta tersenyum
...“Bisa jadi” sahut Areta santai...
...“Areta!” sengit Rivandra tak terima...
...“Aku mungkin pengen kabur sama Kak Fabian, Kak! Udah cukup lah hidupku yang ga jelas” sahut Areta asal...
Rivandra mengeraskan rahangnya
...“Jangan harap kamu bisa lari dari saya Areta!” Tandas Rivandra...
...“Atau apa?” Tantang Areta lagi...
...“Saya akan nyari kamu dan anak kita kemana pun” tukas Rivandra ...
__ADS_1
Areta menegakkan badannya, ia lalu melangkah maju, mengikis jarak antara mereka, wajahnya yang mendongak menatap Rivandra membuatnya bisa merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya
Rivandra menelan salivanya, jarak mereka yang begitu dekat membuat jantungnya berdebar kencang
...“Kamu minta aku bertahan di neraka Kak? Apa kamu ga denger bagaimana penghinaan terhadapku tadi?” Tanya Areta retorik...
...“Saya akan membela kamu terus, Areta” ucap Rivandra lembut mendayu...
...“Berarti akan ada kemungkinan aku dihinba lagi Kak? Ahahaha.. Kak, tubuh aja perlu istirahat, apalagi hati yang gampang rapuh, dan hatiku udah capek Kak” sahut Areta sambil tergelak...
...“Apa yang saya harus lakukan agar kamu bertahan Areta?” Tanya Rivandra...
...“Kakak ga bisa memiliki dua hal sekaligus” tutur Areta sambil tersenyum menggoda, tangannya terulur, jarinya mengelus rahang Rivandra...
...“Maksud kamu?” Tanya Rivandra, pikirannya bukan tak mengerti, hanya saja dia butuh ketegasan, apa Areta menginginkannya dan Mauren bercerai? ...
...“Areta…. Areta!” Suara Rossy yang mencari Areta membahana di sepanjang koridor...
...“Kak Rossy, Kak” ucap Areta, tangannya refleks mendorong pelan badan Rivandra, sebelum pria itu meraih tangannya Areta sudah terlanjur melangkah, menampakkan dirinya pada Rossy meninggalkan Rivandra....
Rivandra meninju beberapa kali dinding di depannya, ia merutuki dirinya sendiri yang bahkan belum sempat memeluk Areta, padahal sangat sulit ia mendapatkan kesempatan untuk berduaan kembali dengan istrinya itu, rasa rindunya saja masih menyiksa, sekarang ditambah dengan kekhawatiran Areta akan benar pergi bersama Fabian yang terlihat sekali obsesinya pada Areta
...****************...
Rumah keluarga Rivandra pagi itu terlihat sekali kesibukannya, Anna dadakan diminta berangkat menemui suaminya di Bali, sekalian saja ia mengajak Areta dan Rossy, mengingat banyak hal yang terjadi pada Areta belakangan ini, Areta jelas butuh refreshing agar ia tak stress yang bisa berimbas pada kehamilannya. Anna bukannya tak mengajak Mauren, tapi menantunya itu menolak mentah - mentah dengan alasan ada jadwal shooting, Anna sebenarnya bersyukur, kehadiran Mauren di acara liburannya sudah pasti membuat tak nyaman
...“Bi Jum, nanti tolong bikinin air jahe juga buat Areta di perjalanan ya, dia masih suka mual - mual, kasian” tutur Anna sumringah, antusias dengan acara liburannya ...
...“Baik Nyonya”, sahut Bi Jum patuh, “Nya saya seneng deh Nyonya ngajak Non Areta, kasian kalau di rumah, dimarahin sama Nyonya Mauren terus” tutur Bi Jum, salah satu yang tak suka dengan sikap Mauren ...
Di kamarnya, Rivandra tengah sibuk bersiap, Mauren tiba - tiba saja merangsek masuk, ia lalu mendudukkan dirinya di tempat tidur, wajahnya lagi - lagi tak bersahabat, tangannya bersedekap
...“Lihat tuh Mama sekarang!” Ucap Mauren sewot...
...“Masih terlalu pagi untuk memulai keributan, Mauren” sahut Rivandra acuh, ia sibuk saja menyimpul dasinya di depan cermin rias...
...“Aku bener - bener udah ga dianggap di rumah ini, semuanya sekarang serba ke - Areta - Aretaan, aku bener - bener dibuang” cerocos Mauren lagi...
...“Apalagi masalahnya Mauren?” Tanya Rivandra jengah...
...“Lihatlah siapa menantu kesayangan Mama sekarang, hanya menantu gelap pun tapi dia yang Mama ajak liburan!” Ucap Mauren berapi - api, ia lalu bangkit dan berjalan mondar - mandir, gelisah...
...“Mama udah ngajakin kamu tapi kamu nolak dengan alasan ada shooting kan, Mauren?” Tandas Rivandra...
Mauren menoleh pada Rivandra,
...“Loh kalau aku nolak harusnya Mama bujukin dong, bukannya mengiyakan gitu aja!” Protes Mauren ...
...“Astaga Mauren, apa kamu anak - anak yang masih harus dibujuk?” Tanya Rivandra tak mengerti...
...“Aku jelas harus dibujuk karena aku ga mau liburan sama istri sementara kamu itu!” Sengit Mauren ...
Rivandra membalik badannya, kini menatap Mauren di depannya, matanya memicing, memandang sinis Mauren
...“Jadi kamu yang harus liburan dan Areta enggak gitu?” Tanya Rivandra ...
__ADS_1
...“Wow.. wow … wow, liat siapa yang protes sekarang, bahkan suamiku sendiri pun membela wanita itu hanya karena dia mengandung anak kamu, gitu?” ...
...“Kamu berlebihan Mauren, saya harus ke airport sekarang, mungkin bisa dua sampai tiga hari saya di Singapore, saya sudah kirimkan foto tiket ke ponsel kamu sesuai permintaan kamu, kalau kamu masih ga percaya kamu bisa ikut saya, tapi pasti ga mau karena kamu ada syuting kan?” tandas Rivandra...
...Mauren mendengus, “kamu membuat aku terdengar seperti istri yang posesif Rivan” ucap Mauren ...
Rivandra memilih tak membalas, ia sibuk memakai jasnya
...“Hati - hati” ucap Mauren sambil memeluk suaminya, “Kamu kesana buat kerja kan, Rivan?” Tanya Mauren...
...“Saya berangkat Mauren” ucap Rivandra enggan berdebat, ia lalu beranjak meninggalkan kamarnya...
...****************...
Sudah sore ketika Anna, Rossy, dan Areta mendarat di Bali. Areta dan Rossy memilih untuk mendudukkan diri mereka di lounge ketika Ibu mereka menerima panggilan dari Rivandra di tempat lain
...“Aduh Mama ga berani ah Rivan kalau begitu, kalau Mauren tau gimana? Bisa habis Areta nanti” ucap Anna gugup pada Rivandra lewat ponselnya...
...“Ma, tolong lah, cuma ini kesempatan saya buat deket sama anak saya, Mama pasti paham bagaimana perasaan antusias seorang Ayah ketika mendapatkan anak pertama kan Ma?” Rengek Rivandra memelas ...
...“Tapi Aretanya juga kayak ga mau sama kamu Rivan, Mama khawatir kamu cuma bertepuk sebelah tangan, Nak” tutur Anna...
...“Ma ayolah, saya mohon, saya udah di airport Bali sekarang” ucap Rivandra lagi...
Anna menghela napasnya,
...“Ya udah, tapi inget dua hari lagi balikin Areta sama Mama. Rivan” ucap Anna sambil memutus pembicaraannya dengan Rivandra...
Anna menimbang sebentar sebelum kemudian jarinya menari mengirim pesan pada Rossy, Rossy yang saat itu tengah makan bersama Areta nyaris terkekeh membaca pesan dari Ibunya
...“Areta, Kak Rossy ke toilet dulu ya” ucap Rossy pada Areta, Areta mengangguk tanpa menaruh curiga...
Hingga nyaris setengah jam Areta menunggu di lounge, tapi Anna maupun Rossy tak juga kembali, hatinya sudah mulai tak tenang, tangannya merogoh tasnya mencari ponsel
...“Astaga, ponselnya kan di Kak Rossy tadi” ucap Areta lesu, ia lalu memindai sekelilingnya, tak ada tanda - tanda Rossy atau Anna di sekitar situ, Areta lalu memutuskan untuk mencari toilet dengan perasaan tak karuan, dan ia semakin menciut ketika tak menemukan Rossy mau pun Anna disana...
Areta setengah berlari mencari Anna dan Rossy, wajahnya sudah memerah karena panik, pertama kalinya ia sendirian di kota lain, di bandara pula. Areta bertanya pada hampir semua bagian informasi dan security di bandara, tapi sampai sekarang tak ada hasil
...Areta bersandar di dinding salah satu spot yang sepi, “‘Mama, Kak Rossy, kenapa ninggalin Areta disini” ucap Areta sambil terisak, tangannya ia pakai untuk menutup wajahnya yang berderai air mata, tak ingin menjadi pusat perhatian...
...“Jangan nangis” suara berat itu, suara yang Areta sangat kenal itu, kenapa suara itu bahkan terngiang seolah Rivandra ada di depannya...
...“Areta, jangan nangis” ucap Rivandra sambil mengelus lembut rambut Areta...
Areta mendongak, matanya yang blur karena air mata ia usap memastikan jika penglihatannya benar
...“Kak Rivan!” Ucap Areta sambil memeluk tubuh kekar Rivandra, pria itu ibarat pahlawan penyelamatnya hari ini...
...Rivandra membalas pelukan Areta dengan wajah berseri, “happy honeymoon sayang” ucapnya...
Areta mengurai pelukannya, wajahnya mendongak menatap Rivandra
...“Hah?” Tanyanya tak mengerti...
(Bersambung)
__ADS_1